Sanctuaria

Sanctuaria
Starting Point


__ADS_3

Oswald anakku yang tampan dan pemberani, aku harap saat kamu mendapatkan pesan ini, hatimu sudah bisa merelakan kepergian Ibu dan Ayahmu.


Ibu sesungguhnya tak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu saat ini. Apakah kamu sekarang sedang bersedih? Apakah kamu sekarang sedang kehilangan arah? Jangan sampai kamu menutup hatimu untuk harapan anakku. Sungguh, Ayah dan Ibumu tak menginginkan itu.


Anakku yang sangat kusayangi, tolong maafkan Ibu dan Ayahmu yang meninggalkamu tiba-tiba. Kamu juga pasti sudah merasakan ada yang aneh, ketika kami memberimu hadiah ulang tahun lebih awal. Terlebih lagi, setelah itu mengucapkan kata-kata yang lebih pantas diucapkan orang-orang dalam sebuah pertemuan terakhir.


Saat ini, mungkin kamu berpikir kalau Aku dan Ayahmu sangat-sangat egois. Meninggalkan seorang anak yang masih belia dengan sejuta pertanyaan. Ibu selalu ingat bagaimana murungnya wajahmu ketika kamu bertanya tentang keluarga kita, tapi ayahmu dan aku tak kunjung menjawabnya juga.


Maka dari itu, Oswald… bersama dengan pesan ini, Ibu akan jelaskan semuanya tentang keluarga kita, tentang siapa Ayah dan Ibu, dan … kematian kami yang sebenarnya sudah Ibu prediksi sejak dulu.


Apakah kamu terkejut, Oswald, anakku sayang?


Kamu tidak sedang salah mendengar.


Aku sudah lama memprediksikan kematian ini.


Ibu berjanji akan menjelaskan semuanya. Namun, sebelum itu Ibu akan menjelaskan tentang keluarga kita yang sebenarnya.


Hehe, apakah kamu siap?


Anggukan kepalamu sekali jika kamu siap.


Coba sekali lagi.


Ehehe, bagus. Kalau begitu kita mulai.


Di bagian utara Edelsphere, ada sebuah benua yang disebut dengan Norden. Benua yang sangat dingin dan dipenuhi dengan berbagai kerasnya dunia. Tanah itu dikuasai oleh beberapa kerajaan yang masing-masing dikuasai oleh sebuah keluarga besar.


Di antara keluarga besar itu, Admuni adalah satu di antaranya. Keluarga legendaris yang sebenarnya pernah menyelamatkan tanah Norden dari kehancuran di masa lampau. Namun, seiring berjalannya waktu, kekuatan keluarga Admuni berkurang sedikit demi sedikit sehingga mereka bisa disaingi oleh keluarga jottnar dan keluarga vanir.


Satu-satunya alasan kenapa keluarga Admuni bisa bertahan, adalah karena kepiawaian ayahmu memimpin bahkan sejak usianya masih belia. Dengan kejeniusan dan keberaniannya, dia berhasil mempertahankan batas terluar keluarga Admuni dari serangan pasukan jottnar yang jumlahnya 3000, hanya dengan 500 orang.


Bukankah ayahmu hebat, Oswald?


Saat itu juga aku berpikir begitu. Ibumu, Selby adalah seorang volva dari keluarga vanir yang ditakdirkan untuk memiliki kemampuan runekraft. Karena itu, aku bisa menjaga banyak vanir tetap hidup.


Saat itu tak semua orang bisa mengingat sudah selama apa perang berlanjut di antara tiga keluarga besar itu. Hingga pada sebuah masa, Jottnar tiba-tiba bisa memukul mundur Vanir dan Admuni. Mereka tidak lagi menyebut diri sebagai sebuah keluarga, melainkan sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh seorang ratu yang sama sekali tak tampak seperti seorang Jottnar.


Saat itu, Admuni dan Vanir mengenyampingkan perbedaan dan permusuhan yang ada selama ini. Dua keluarga besar memutuskan untuk melakukan pertemuan dengan tujuan membentuk sebuah aliansi.


Saat itulah pertama kalinya Ibu bertemu dengan Ayahmu.


Hari itulah untuk pertama kalinya seumur hidupku merasakan jatuh cinta. Hehe, iya. Ibu jatuh cinta pada pandangan pertama pada ayahmu. Ulrik pernah bilang padaku kalau itu juga pertama kalinya ia jatuh cinta, sayangnya aku tidak percaya, karena Ulrik saat itu dikelilingi banyak perempuan cantik.


Ah… ehem! Kenapa Ibu malah curhat ya? Ehehe.


Aliansi antara Admuni dan Vanir telah membawa harapan besar bagi perlawanan terhadap Jottnar yang sudah menganggap mereka sebagai kerajaan di atas kerajaan. Dalam waktu yang cepat, kami bisa memukul mundur dan mengikis kekuatan Jottnar. Tanpa kami sangka, saat itu ratu Jottnar datang dan menawarkan perdamaian.


Karena kerugian dan moral semua pihak yang sudah lemah, para pemimpin akhirnya memutuskan untuk mengesahkan perjanjian perdamaian. Aku dan Ulrik percaya kalau itu adalah satu-satunya jalan agar peperangan yang melelahkan itu bisa berakhir.


Ratu Jottnar itu kemudian dianggap sebagai sosok yang berhasil menyatukan semuanya. Aku diangkat sebagai penasihat kerajaannya, dan Ulrik diangkat sebagai jendral perang tanpa tanding. Aku dan ayahmu juga menikah segera setelah perang berakhir.


Kehidupan saat itu berlangsung damai.


Namun, begitu naifnya kami…

__ADS_1


Sebagian besar keluarga kami dibunuh oleh Jottnar di banyak tempat tanpa kami tahu. Dia berhasil menipu kami berdua. Ulrik dan Aku kemudian bertarung melawannya yang tanpa kami sangka sangat kuat, hingga akhirnya Ulrik berhasil membunuhnya.


Apa hasil dari pertarungan itu?


Ayahmu dianggap sebagai pembunuh dan Ibumu dianggap sebagai pengkhianat. Kami diburu oleh orang-orang Jottnar dan mereka siap kapan saja untuk menghakimi kami atas apa yang kami lakukan pada ratu yang begitu mereka puja.


Lalu kami berhasil kembali ke keluarga kami untuk mencari perlindungan. Sialnya, daripada perlindungan yang kami dapat, justru petaka lain yang menunggu kami. Sisa dari Admuni dan Vanir yang masih hidup berebut hak akan dirimu.


Iya, mereka menginginkanmu Oswald.


Kamu adalah seseorang yang terlahir dari Admuni terkuat dan Vanir yang memiliki runekraft. Mereka berharap bahwa kamu akan memiliki kekuatan dahsyat, sehingga bisa membalaskan dendam mereka pada Jottnar.


Aku dan Ulrik memutuskan agar kamu tak terlibat di dalam pertempuran berdarah itu. Meski itu harus berarti menempatkan posisi Admuni dan Vanir di tanah Norden semakin terpuruk.


Hati dan pikiranku belum juga tenang, karena setelah itu aku mendapat pencerahan bahwa aku dan ayahmu akan mengembuskan napas terakhir kami di tempat di mana kamu lahir.


Oswald, aku tahu ini semua pasti membingungkan untukmu. Janganlah risau dan jangan jadikan apa yang sudah kamu ketahui ini sebuah beban besar untukmu.


Tapi, Ibu tahu betul sifatmu anakku… kamu sudah sangat dewasa untuk usiamu. Hatimu sama baik dan lembutnya dengan ayahmu. Saat ini kamu pasti sudah memantapkan hati untuk pergi ke luar untuk melihat dunia, agar kamu tidak bersedih… karena kamu tahu, kalau aku dan ayahmu tak ingin kamu bersedih.


Ingatlah pesanku dan pesan ayahmu yang terakhir… meski dunia ini begitu sulit, tetaplah tersenyum, balas semua keburukan dengan kebaikan terbaik, dan janganlah mendendam. Di sudut hatimu yang paling dalam, ibu tahu ada niat untuk membalas dendam… hentikan itu Oswald, Ibu tak ingin kamu menderita.


Sang Pencipta telah menganugerahkanku seorang anak yang baik diantara yang terbaik. Aku tak bisa lebih bersyukur dari ini. Oswald, kamu adalah hal terindah yang hadir di antara ayah dan ibu.


Terima kasih, Oz.


Jaga dirimu baik-baik.


 


 


 


 


Aku terbangun dari tidur lelap. Rasanya segar sekali, seakan seluruh bagian tubuhku diganti yang baru. Kulihat ke sekitarku, ada pemandangan dari garis pandang yang tidak biasa. Jauh lebih tinggi dari biasanya.


Perlahan kepalaku mengingatkan kalau aku sengaja naik ke atas pohon dengan niat untuk beristirahat sejenak karena sudah berjalan jauh, yang terjadi malah aku tertidur lelap.


Semua pesan ibu yang masuk ke kepalaku itu terulang kembali dalam bentuk sebuah mimpi Indah. Ibu seakan berbicara padaku seperti biasa. Ingin sekali rasanya agar mimpi itu tetap ada, namun jika begitu aku pasti akan larut dalam duka.


“Tidak, ini bukan saatnya bersedih.” Kuyakinkan diriku sendiri dengan menepuk kedua pipiku.


Aku berdiri di batang pohon untuk memperjelas penglihatanku akan apa yang tersedia di horison sana.


Kupastikan sekali lagi kalau di sana ada sebuah kota, tampak dari menara yang menjembul.


“Mungkin itu bagian dari sebuah kastil.”


Akan tetapi itu belum tentu mengungkapkan kalau di sana ada kehidupan, sampai aku memastikan lagi kalau di sana ada asap mengepul dari beberapa titik. Maka kemungkinan besar kalau di sana ada rumah penduduk biasa dengan aktivitas sehari-hari. Lalu, dilihat dari tinggi kastil yang ada di sana, sepertinya itu bukan kota yang kecil. Akan lebih pasti lagi jika aku bisa melihat ada dinding besar di sana. Sayangnya aku belum cukup dekat untuk memastikannya.


Sudah lima hari aku berjalan ke arah sini. Menentukan arah pun karena ada mentari terbit. Aku benar-benar tak tahu apa-apa. Kehidupanku selama sepuluh tahun terisolasi, meski aku berkata begitu sama sekali aku menyesalinya. Justru dengan adanya semua ini, aku bisa merasakan sebuah pengalaman baru dalam petualangan.


Sebelum aku turun dari pohon yang kutaksir tingginya lebih dari 3 melie ini, aku duduk bersila dan mengingat kembali apa yang kumiliki sekarang.

__ADS_1


Kufokuskan pikiranku pada endogram.


Seketika pikiranku yang termanifestasi menjadi sebuah tubuh melayang-layang di dalam dimensi lain. Dimensi ini tak lain adalah endogram. Sementara itu, tubuhku sedang duduk diam bersila.


Ibu tak pernah memberitahuku tentang ini, tapi entah kenapa aku bisa melakukannya begitu saja. Mungkin karena benda ini khusus untukku? Entahlah.


Yang jelas, dengan ini aku bisa melihat apa saja yang kumiliki sekarang.


Ada puluhan kilo berbagai macam buah-buahan, pemberian penduduk desa. Berkat ini, aku bisa bertahan lima hari tanpa harus berburu. Itu pun bukan karena aku tak ingin makan daging, tapi memang selama ini monster atau hewan yang kutemui adalah hewan bertaring. Sepengalamanku memakan daging pemakan daging, sungguh sangat tidak mengenakan. Dagingnya bau dan saat dicerna membuat tubuhku panas bukan main, kalau bukan karena tubuhku yang kuat mungkin aku sudah terkena penyakit saat itu. Singkat cerita, memakan daging pemakan daging adalah sebuah kerugian.


Selain buah-buahan, seorang dari penduduk desa memberiku sebuah kirbat(kantong air dari kulit) yang meski ukurannya kecil, dapat menampung berpuluh liter air. Saat menerimanya aku sangat terkejut karena beratnya tidak seperti penampilannya. Kukira endogram tak bisa menyimpan benda magis seperti ini… hmm, atau mungkin ini tidak termasuk benda artefak? Entah. Kuharap aku bisa menemukan jawabannya sesegera mungkin.


Makanan dan air bersih, cukup untuk membuatku bertahan hidup tanpa aku kesulitan.


Kalau diingat lagi, ini tak ubahnya dengan aku sedang dimanja oleh penduduk desa.


“Terima kasih banyak.” Kataku tidak pada siapa-siapa.


Aku jadi ingat bagaimana di duniaku sebelumnya, ketika tak ada kendaraan untuk pergi dari tempat ke tempat, pergi jauh dengan kaki seperti ini bisa jadi sulit lagi berbahaya. Pasalnya air di duniaku banyak yang tercemar karena para demon, belum lagi makanan yang juga sulit didapat. Bertahan hidup saja sulit, apalagi kalau bertemu demon saat perut lapar atau tenggorokan kering. Benar-benar pengalaman yang mengerikan. Akhirnya semua orang harus menggunakan apa saja dan bagaimana pun caranya untuk bertahan hidup.


Sungguh keras.


Bahan konsumsi yang kumiliki sekarang cukup untukku bertahan selama tiga bulan tanpa aku melakukan apa-apa. Selain itu, tak tampak adanya pembusukan pada makanan yang ada di dalam endogram.


Biar kukatakan sekali lagi, aku benar-benar dimanjakan.


Tak perlu khawatir soal barang konsumsi, mataku langsung teralihkan pada perkakas yang melayang-layang di sisi lain endogram. Perkakas-perkakas itu adalah tidak lain untuk bercocok tanam. Mungkin, para penduduk desa berpikir ini akan berguna jika suatu hari aku memutuskan untuk menetap di suatu tempat.


Dibalik perkakas-perkakas itu, ada yang menarik perhatianku. Sepasang pelindung kaki, lutut dan sepatu. Dari ukurannya, jelas aku belum bisa menggunakannya karena terlalu besar. Sebenarnya aku tak sabar untuk segera menggunakannya, karena kata penduduk desa yang memberikannya padaku, apa yang dia berikan bukanlah perlengkapan biasa. Aku tak tahu apa yang tak biasa dari pemberiannya, bagiku bentuk dan desainnya sangat menarik. Tak lupa juga sarung tangan besi dan pelindung pundak hanya untuk sisi kanan saja. Pelindung kaki dan sarung tangan ini tergolong berat dan keras, mungkin mereka tak ingin memberiku zirah badan karena akan jadi terlalu berat.


Akan tetapi… Mereka memberiku zirah, mungkin karena mereka berpikir kalau suatu saat mau tidak mau aku akan terlibat dalam pertarungan atau bahkan peperangan. Yang mana pun itu, aku bersyukur karena mereka peduli.


Bicara soal pertempuran, ada senjata dengan jumlah yang sangat banyak tersimpan di dalam endogramku saat ini. Semuanya bermacam-macam jenis, tapi yang tidak bermacam-macam adalah kualitasnya. Semua berkualitas sangat tinggi. Semua senjata ini kubawa dari bengkel ayah, tepatnya di ruang bawah tanah yang tidak pernah ayah sebutkan padaku. Dia sering keluar di tengah malam, untuk membuat senjata. Senjata-senjata yang selesai itu, semua disimpannya ke dalam ruang bawah tanah.


Setelah mendengar cerita ibu tentang ayah, aku jadi mengerti kenapa ia melakukan itu.


Saat membuat senjata-senjata ini, ada kepahitan di wajahnya. Di sisi lain, ada juga tersirat harapan dan kekuatan untuk masa depan.


Dia mengkhawatirkan semua orang yang ada di desa. Semua pemikiran itu terakumulasi dan ia limpahkan pada pembuatan senjata-senjata ini.


Sebut saja pisau, pedang panjang, pedang pendek, rantai, busur, ribuan anak panah, sabit besar, kapak, dan masih banyak lagi. Sengaja kubawa semua senjata itu, untuk melindungi diriku sendiri. Aku yakin ayah tak akan mempermasalahkan jika aku mengambil karya-karyanya.


Ayah, aku akan memanfaatkan mereka dengan baik.


Makanan, minuman, zirah, dan senjata, serta masih banyak barang-barang lain pemberian penduduk desa. Setelah mengecek lagi semua barang-barangku di dalam endogram, kubuka lagi kedua mataku.


“Kurang lebih dua hari lagi baru sampai ke kota itu dengan berjalan, tapi aku harus melewati hutan itu kalau mau tepat dua hari.” Aku sengaja naik lagi ke puncak pohon. “Di sana ada jalan yang tidak melewati hutan, ah tidak. Terlalu berputar, akan memakan waktu lebih lama.”


Dengan demikian, aku memutuskan…


Untuk mengambil jalan hutan.


Bisa jadi lebih berbahaya, tapi aku siap. Karena ini adalah permulaan dari petualanganku.


 

__ADS_1


 


__ADS_2