Sanctuaria

Sanctuaria
A Whole New World


__ADS_3

Para perajin punya kualitas yang kurang lebih sama tentang sesuatu yang mereka buat atau ciptakan, yaitu kesempurnaan. Itu adalah bagian dari jiwa seorang perajin yang menginginkan ciptaannya jadi dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Mereka akan menghabiskan waktu sebanyak apa pun asal kesempurnaan itu bisa tercapai. Hal itu yang biasanya akan membawa mereka pada sebuah titik kepuasan, apalagi kalau sampai dapat apresiasi dari orang-orang di sekitar sang perajin.


Hanya saja, sering sekali para perajin lupa dengan sebuah kode alam yang tak akan pernah terbantahkan.


Tak ada yang sempurna, termasuk tempat tidurku yang rupanya dibuat oleh ayah. Saat ibu menyusuiku, ia pernah bercerita sedikit tentang tempat tidur yang dibuat ayah khusus untukku. Katanya tempat tidur itu adalah karya ayah yang pertama sejak ia mewujudkan cita-citanya menjadi tukang kayu. Meski ibu tahu kalau bayi mungkin tak akan mengerti apa yang ia bicarakan, tapi ibu tetap berbicara padaku dengan lembut. Ia tak suka sepi dan lebih suka mengajakku mengobrol dan membacakan cerita daripada melantunkan nada dan nyanyian, padahal suaranya sangat indah.


Seorang ayah, seperti ayah lainnya pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Semua yang dibuatnya di tempat tidur ini beserta pagar pelindungnya dibuat agar tidak melukaiku. Kayu-kayu yang digunakannya sengaja dibuat tanpa sudut yang tajam, sehingga tetap berbentuk persegi tanpa menjadi tabung. Dilihat dari keadaan rumah di mana aku tinggal dan lahir, ayah sepertinya tak punya alat yang terbaik untuk mengolah bentuk kayu yang kompleks. Selain bentuk kayu yang sengaja dibuat untuk menghindarkan aku dari luka, ia juga memasang semacam tuas yang bisa ditarik untuk menjatuhkan satu bagian sisi dinding. Itu untuk memudahkan ibu jika ia mau mengambilku dan membersihkan tempat tidur.


Tuas itu sengaja ditempatkan di tempat paling tinggi. Ini pasti adalah idenya agar aku tak main-main dengan tuas itu, maka dari itu aku segera menumpuk beberapa bantal untuk meraih tuas itu. Menumpuk bantal saja, aku sudah melakukannya dengan susah payah, bagaimana dengan menaiki tumpukan bantal yang bagiku sekarang tampak seperti bukit yang tinggi?


Perlahan tapi pasti aku merangkak dan menempatkan tubuhku di atas bantalnya, bahan isian bantal yang terbuat dari bulu-bulu membuatnya tak menggembung sehingga tetap rata ketika aku injak. Pijakanku aman, tak perlu khawatir goyah. Pun jatuh, aku masih akan mendarat di kasur yang empuk. Aman.


Setelah meraih tuasnya, yang tanpa aku menyangka cukup ringan dengan menariknya sedikit, aku langsung menyadari keselamatanku saat dinding benar-benar terbuka. Karena refleksku yang belum sepenuhnya berkembang, tuas itu berhasil kutarik penuh sehingga dinding di depanku terbuka lebar dan menghasilkan suara benturan yang cukup keras.


Pijakanku goyah.


Aku pasti jatuh!


Namun, saat aku mendarat di lantai kayu, rupanya bantal-bantal yang tadi kutumpuk terbawa dan mencegahku jatuh langsung ke lantai.


Tak ada rasa sakit! Hore!


Aku benar-benar tak ingin kisahku di dunia ini berakhir konyol.


Ini sama sekali bukan saatnya untuk berbahagia, suara yang tadi bisa saja membangunkan ayah dan ibu. Namun, rupanya mereka sama sekali tidak terganggu karena itu.


Ayah dan Ibu pasti sudah bekerja keras seharian.


Sejujurnya aku tak tahu apa pekerjaan mereka sampai saat ini. Sesaat, aku pernah mendengar mereka bicara tentang sesuatu yang begitu asing bagiku di luar kamar ini. Nada mereka selalu serius dan tak ada ruang untuk canda tawa. Itu semua berubah ketika kaki mereka sudah menginjak kamar ini, atau melihat wajahku. Ketegangan itu hilang sempurna.


Tapi hari ini sedikit berbeda. Biasanya mereka akan ‘main’ denganku hingga mereka benar-benar lelah dan aku tertidur lelap. Itu pun sebenarnya aku sering berpura-pura tidur agar kedua orang tuaku bisa beristirahat. Belum cukup dengan perhatian yang begitu dalam, mereka juga akan selalu langsung bangun jika mendengar suara dariku sedikit saja.


Hari ini, aku sempat mendengar kalau mereka sedang membangun sesuatu yang besar, sehingga mereka langsung tidur lelap, ibu dan ayah juga tidak bermain-main denganku lama.


Sekarang, aku akan lanjut ke tujuan utamaku.


Sebuah sudut perpustakaan kecil milik ibu... yang ada di tengah rumah, dan pintu kamar ini tertutup rapat. Bagiku yang masih balita, tak mungkin bisa mencapai gagang pintu itu. Tapi ayahku bisa.


Seharusnya saat ini ayah sudah bangun dan...


“Hoaaaammmhh...” Ayah menguap lebar-lebar dan membangunkan badannya dengan mata masih tertutup. Setengah tidur, ayah pergi ke toilet untuk menjalankan ‘ritual’ malamnya. Buang air besar.


Pintu terbuka lebar, Ayah sama sekali tak melihatku karena dia berjalan sambil tidur. Aku keluar dari kamar dengan merangkak, meski aku sudah bisa berdiri dan berjalan tapi masih terlalu tidak stabil.


Sudut perpustakaan tempat ibu biasa membaca tidak terlalu jauh dari kamar sehingga aku langsung berhadapan dengan lemari penuh buku.


Ada kebiasaan lain orang tuaku yang kalau kebiasaan itu tidak ada, maka aku tak akan repot-repot melakukan ini semua.


Ibuku benci kegelapan.


Sumber cahaya berupa bola cahaya di dalam lentera duduk di atas lemari yang tingginya setinggi kaki ayahku. Di dalam cahaya itu terpatri simbol aneh yang bisa kulihat dengan jelas. Ibu menyebutnya rune dan ia bisa mengendalikannya sesuka hati. Meski cahaya itu tak membuat semua ruangan menjadi terang, tapi cukup untuk membaca malam hari dan membantuku merangkak sampai ke tempat ini. Ibu sering membiarkan lampu tersebut menyala.


Dari semua buku yang ada di lemari itu, kuambil sebuah buku yang isinya kurang lebih pengetahuan umum tentang duniaku yang baru. Bukunya ada dalam jangkauanku juga bukan kebetulan, ini bagian dari rencanaku.


Perlu kukatakan bahwa aku sudah mengenal huruf dan cara membacanya di dunia ini, terima kasih ibu karena setiap hari selalu menyempatkan untuk membacakan cerita di depanku.


Di dalam buku tersebut dijelaskan bahwa dunia disebut dengan Edelsphere, sebuah istilah yang menggabungkan keabadian dengan bentuk bola yang berarti tempat tinggal. Keabadian yang diwakilkan dengan kata Edel adalah kata lain dari sebuah lingkaran tanpa batas. Energi tak terbatas itu langsung dikaitkan pada kehadiran sebuah dungeon magis yang disebut dengan Sanctuaria, dungeon yang bisa mengambil bentuk apa pun dan akan membawa orang yang masuk ke dalamnya ke sebuah dimensi terpisah yang terdiri dari banyak level. Di dalamnya terdapat banyak harta, material, sumber daya, dan berbagai benda magis, namun di sisi lain menyimpan ancaman monster, jebakan, dan bermacam-macam mara bahaya di dalamnya sesuai dengan proporsi kelebihan yang bisa didapat darinya.

__ADS_1


Edelsphere dan Sanctuaria.


Dua hal ini jelas berbeda dari duniaku sebelumnya.


Ada banyak makhluk hidup yang hidup di dalam Edelsphere yang luasnya belum terhitung hingga saat buku yang kubaca ditulis, di antaranya ada tiga ras utama yaitu Hume, Alder, dan Kava. Masing-masing ras utama memiliki sub-ras yang jumlahnya juga... tak terhitung.


Sementara di duniaku sebelumnya tak banyak ras, hanya ada ras Devi dan ras Human.


Aku tak tahu apakah penulis dari buku ini sama sekali tak berniat menulis buku ini atau dunia ini memang terlalu luas untuk didata isinya.


Semakin jauh lembaran buku itu kugali, semakin banyak hal menarik yang kutemukan. Di antaranya yang paling menarik adalah kehadiran wisekraft, sebuah kekuatan untuk mengendalikan dan memanfaatkan berbagai macam energi murni, juga untuk menciptakan berbagai fenomena. Magikraft adalah satu dari sekian banyak wisekraft, dan pengendalinya disebut dengan Magi. Di dalam buku ini tidak dijelaskan dengan detail wisekraft jenis lain mau pun sebutan pengendalinya.


Tidak semua orang bisa mengendalikan wisekraft, hanya mereka yang punya fondasi alami yang bisa menggunakannya. Namun tetap saja, tak semua orang yang punya bakat wisekraft bisa benar-benar menguasainya.


Perlu aku simpulkan kalau wisekraft yang disebutkan di sini serupa magic yang ada di duniaku. Yang membuatnya berbeda adalah, di dunia ini akses pada magic atau wisekraft tidak terbatas pada satu ras seperti di duniaku. Magic hanya terbatas pada mereka para Devi.


Perlu waku lama, perlu perjuangan yang sangat gigih sehingga akhirnya para Demon bisa musnah. Kami sebagai ras manusia bisa menciptakan banyak teknologi meski serba dalam keterbatasan, namun itu hanya cukup untuk bertahan hidup, tanpa bisa menghilangkan masalah utamanya. Kelahiranku di dunia itu disebut berkah keselamatan, hingga akhirnya duniaku selamat.


Tapi... dengan mengorbankan apa saja? Nyawa yang hilang, keputusasaan yang berlarut-larut, dan kehancuran yang ditinggalkan para Devi.


Saat ini, aku terus bertanya-tanya apa tujuanku hidup di dunia ini. Tak ada jawaban, tak ada petunjuk, dan tak ada tanda-tanda. Seakan aku sedang berjalan di atas jalan setapak yang sempit, dan ketika aku melihat ke belakang jalan itu hilang. Tak ada jalan kembali. Yang jelas, aku tak akan kehilangan jalan hidupku. Jika aku bisa mempelajari wisekraft, maka aku bisa mendapat kekuatan yang besar. Jika saatnya tiba, akan kumanfaatkan kekuatan itu untuk membela mereka yang lemah dan tersiksa.


Bagaimana cara memulainya? Atau bagaimana cara mengetahui apakah seseorang punya bakat wisekraft?


Aku tak tahu, buku ini tak menjelaskan apa pun. Niat baik tak selalu diikuti dengan takdir yang menguntungkan memang, aku seperti sedang menabrak sebuah dinding. Tapi, aku yakin suatu saat bisa melampauinya.


Semua yang ada di lemari ini berisi berbagai macam informasi dan pengetahuan yang kuperlukan untuk bertahan di duniaku yang baru.


Membaca semua informasi itu dengan tubuhku yang balita ternyata membuat lelah, selain rasa lapar rasa kantuk adalah musuh terbesar seorang balita. Tanpa kusadari, sudah kuhela napas besar.


Bagaimana aku akan kembali ke tempat tidurku? Oh Oswald, apakah kamu akan menggunakan alasan tubuh balita sebagai alasan karena tidak merencanakan sejauh itu?


Kuakui itu memang salahku, tapi tentu saja harapan tidak semuanya hilang.


Dari ujung ruangan, terdengar suara pintu terbuka. Ayah sudah selesai dengan ritual malamnya. Kupanggil-panggil ayahku dengan kata-kata apa pun yang bisa keluar dari mulut seorang balita.


Ayah merespons.


“Ooh, Oz kecil. Apa yang kamu lakukan di sini? Hmm? Uuh, lucu sekali anak ayah.” Ucapnya setengah tertidur.


Kemudian aku mencoba mengucapkan “aku ingin kembali ke tempat tidurku!”, yang pastinya akan terdengar di telinganya seperti “aaa aaahhh iiih uuu aaa uuuh”


“Mau kembali ke tempat tidurmu? Baiklah. Sini ayah gendong.” Ucapnya santai, masih setengah tidur, sambil merangkulku.


“Dia mengerti ucapanku?!” Batinku berteriak.


Keesokan harinya...


“Selby istriku, aku baru ingat. Kemarin Oswald ada di perpustakaan kecilmu.” Kata Ayah sebelum makanan masuk ke dalam mulutnya.


“Kamu masih melindur?”


“Eh? Kamu mau bilang aku cuma bermimpi?” protes ayah yang kali bicara sambil mengunyah makanannya.


“Bicara apa kamu, sayang. Anak kita mana bisa sampai ke rak buku koleksiku kalau tanpa bantuan?”


“Hmmmm...”

__ADS_1


“Eh, aku juga baru ingat... tadi ada buku terbuka di lantai.”


“Itu kan.”


“Terus kamu mau tetap bilang itu ulah anak kita?”


“Di tempat kita ini enggak ada tikus, Selby istriku yang rambutnya indah.”


“Ulrik suamiku yang pemberani, kamu bicara tikus. Padahal kalau ada tikus yang sering mengusirnya aku.”


“Ugh.”


“Ahahaha.” Aku menggelak tawa yang tak bisa kutahan. Ibu pernah bilang kalau ayah adalah ksatria yang pemberani, tapi tak tahan dengan tikus.


“Hihihi, Iya kan Oswald?”


“Kalian enak sekali ya menertawakan aku. Hmm, yasudah, kalau begitu anggap saja aku cuma bermimpi.”


“Kamu tiap hari begitu. Syukur-syukur enggak tidur di toilet. Ya kan Oz?” Ejek ibu pada ayah yang sedang menyantap sarapannya, sementara ibu menyiapkan sebuah bubur yang bisa kumakan. “Buka mulutnya lebar-lebar, aaaaamm.”


“Tapi, bagaimana dengan bukunya?”


“Sudah ih, jangan keras kepala.” Tegur ibu pada ayah. “Pun itu Oswald, tidak apa-apa. Hihi.”


“Santai sekali kamu, padahal dulu kamu yang terkejut karena perkembangan Oswald kecil begitu pesat.”


“Apakah ada hari saat aku tak patuh pada pemimpin keluarga ini suamiku?” Tanya ibu lembut sambil mengelap sekitar mulutku.


“Ada, apalagi ketika kamu lebih suka baca buku daripada memasa-”


“...” Ibu tak mengatakan apa pun, tapi dari dirinya terasa sekali aura yang berbeda. Menyeramkan.


“Um, tidak ada istriku.” Kata ayah langsung.


“Nah, sekarang ini aku sedang menuruti suamiku.”


“Hmm?”


“Langkah kecil, Ulrik yang pemberani. Langkah kecil.”


Ayah sempat kehilangan kata-kata, lalu kemudian ia berkata lembut.


“Langkah kecil, Selby istriku yang rambutnya indah. Langkah kecil.”


Seperti itulah rutinitas pagi keluarga Sol, tentu saja dengan berbagai variasinya. Semakin hari, aku semakin mengenal siapa orang tuaku. Begitu pula dengan orang-orang desa yang sering mengunjungi rumahku. Mulai dari siapa saja penduduknya, desa apa tempatku tinggal, apa yang mereka lakukan sehari-hari, hingga sebuah fakta bahwa ternyata keluargaku memegang posisi tertinggi di desa ini. Meski begitu, ada hal lain yang masih menggangguku.


Tiap kali seorang dari masyarakat desa yang datang ke rumah dan membahas masalah keluarga ayah sebelum ini, ia akan langsung menghentikan percakapan apa pun meski sangat penting.


Entah kenapa semua hal tentang keluarga ayah yang sepertinya ia tinggalkan begitu tabu untuk dibicarakan.


Mungkin suatu saat aku akan mengetahui alasannya.


Hal yang perlu aku syukuri setelah kejadian itu adalah Ibu yang semakin bersemangat untuk mengajari dan membacakan banyak cerita untukku.


Dengan begini, aku jadi bisa mengenal dunia baruku sedikit demi sedikit.


Ini semua, agar aku mengerti apa tujuanku hidup di dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2