
Ibu baru saja menghilangkan cahaya rune yang menerangi kamarku ketika Ibu sudah memastikan kalau aku terlelap.
“Selamat tidur, sayang.” Ucap ibu setelah kecupan lembut di dahiku.
Tentu saja, aku tak akan mengetahui itu jika aku tak benar-benar tidur. Mataku langsung terbuka ketika suara pintu menutup terdengar, masih terdengar langkah kaki ibu di atas lantai kayu yang langsung diakhiri suara pintu menutup lainnya yang teredam. Kamarku terletak di seberang kamar ayah dan ibu, dipisah oleh ruang keluarga dan perpustakaan Ibu.
Ayah memutuskan bahwa aku harus punya kamarku sendiri saat aku berumur 4 tahun. Tentu saja, dengan jiwa seorang dewasa di duniaku sebelumnya, itu jelas bukan masalah. Seiring berjalannya waktu tubuhku juga berkembang selayaknya anak normal. Penampilanku juga tak jauh berbeda dengan bagaimana penampilanku di dunia sebelumnya, rambutku hitam kebiruan dan warna mataku biru langit cerah. Perlahan tubuhku meninggi dan aku bisa melakukan banyak hal. Sejujurnya normal bukanlah sebuah tolak ukur yang bisa kugunakan seenaknya saat ini, setidaknya jika aku menggunakan kata ukuran itu dengan perbandingan bagaimana anak-anak di duniaku sebelumnya.
Bisa kurasakan dan kualami sendiri bagaimana kuatnya tubuhku, jauh melebihi apa yang anak-anak di duniaku sebelumnya bisa lakukan. Kecepatan, tenaga, stamina adalah sebagian contoh dari banyak kelebihan yang kumiliki.
Diterangi sinar bulan yang malam ini nyaris purnama, kulihat kedua telapak tanganku.
“Aku berbeda.” Bisikku tak pada siapa pun.
Sembilan tahun telah berlalu sejak aku ingat bagaimana aku terlahir, berbagai cara telah kulakukan untuk mengetahui tentang dunia ini sebisaku. Melalui buku, bertanya pada orang tuaku, dan mengobrol dengan para penduduk desa, banyak sekali informasi yang kudapat sampai-sampai aku merasa percaya diri kalau aku punya banyak pengetahuan, kecuali satu... tentang keluargaku sendiri. Selama nyaris satu dekade, tak satu pun informasi tentang itu berhasil kudapatkan.
Beberapa kali aku berusaha berdamai dengan diriku sendiri dan mengikuti apa yang kedua orang tuaku inginkan dariku—meski mereka tak memintaku sama sekali—yaitu untuk tidak mempermasalahkan kenapa nama keluargaku diganti jadi Sol atau siapa kami sebenarnya.
Sayang sekali, itulah yang membuatku terjaga. Aku tak bisa tidur, meski ibu sudah membacakan dongeng malam sebelum tidur.
Esok adalah tepat satu dekade aku hidup di dunia ini. Pikiran itu tiba-tiba saja menghantui.
Ada yang namanya pertanda, sebuah tanda-tanda yang hanya bisa dirasakan oleh naluri makhluk hidup yang cukup sensitif atau mau mendengarnya. Pertanda bisa jadi awal sebuah kebaikan, pun sebaliknya.
Wahai para dewa yang mengutusku kemari, perasaan apa ini? Sungguh aku merasakan sebuah firasat buruk.
...
Mataku sudah terbuka sebelum matahari terbit, segera aku bangkit dan kusiapkan diriku dengan semua perlengkapan yang kuperlukan hari ini. Sebuah busur dan beberapa anak panah, juga sebuah belati yang sudah kuasah kemarin sore.
Saat aku keluar kamar, Ayah sudah ada di ruang tengah bersama dengan Ibu. Mereka tampak sedang membicarakan hal penting, karena raut wajah mereka berbeda dari biasanya.
“Oz, kamu sudah bangun? Hmm? Kamu mau pergi ke mana?”
“Hari ini kita tidak akan berburu Rusa abu-abu?”
Ayah dan Ibu langsung menatap satu sama lain, ekspresi tegang itu langsung berganti menjadi gelak tawa.
“Selby, lihat anak kita. Rupanya yang selama ini kita khawatirkan itu tidak benar. Hahaha.”
“Oswald anakku, ternyata meski kamu suka bersikap seperti orang dewasa, kamu ini masih anak kecil ya.” Lanjut Ibu sambil menghapus air matanya.
“Ayah dan Ibu sedang membicarakan apa?” protesku.
“Jangan marah anakku yang pemberani.” Kata Ibu lembut. “Duduklah di sini.” Pinta Ibu untuk duduk di sebelahnya.
Sesaat aku duduk, Ibu langsung memelukku erat.
“Ya ampun, anak Ibu lucu sekali.”
“Apa-apaan ini?”
“Hehehe, lihat Selby, anakmu malu karena dipeluk Ibunya sendiri.”
“Aaw, kamu tidak perlu malu dipeluk Ibumu sendiri. Bukankah kamu lahir dariku?”
“Ih, bukan itu masalahnya.” Balasku pada Ibu sambil berusaha melepas pelukannya. Sayang sekali, aku baru ingat kalau Ibu sudah memeluk, sangat sulit untuk melepaskannya.
Aku tidak bercanda, dia bisa dengan mudah memelukku selama dua jam tanpa henti.
“Kamu kalau marah, makin lucu Oswald.” Peluk Ibu semakin erat.
“Ugh, aaah. Ibu, lepaskan aku. Aku enggak bisa napas!”
“Benar-benar, seperti ayahnya saja. Hahaha.”
Aku yang meronta dan Ibu yang terus mengeratkan pelukannya berhenti sejenak setelah mendengar ucapan ayah.
Hening.
“Anak ibu yang lucuuu.”
“Aaaaaa, Ibu hentikan!”
“Kalian kenapa jahat sekali padaku.” Kata ayah merajuk.
Beberapa saat kemudian...
“Ehem, Rusa abu-abu menurut tradisi di keluarga Sol adalah sebuah tanda keberuntungan dan kesehatan. Jadi, kalau ada yang berulang tahun, kita akan selalu berburu rusa itu. Iya kan Ulrik, suamiku?”
“Betul, dagingnya akan dibagikan ke semua penduduk desa, agar mereka semua merasakan manfaatnya.”
Ya, aku sudah mendengar itu tahun lalu.
“Tapi, karena kamu saat ini berumur sepuluh tahun... kamu harus berburu rusa itu sendirian.”
“Oh?”
“Haha, tentu saja kamu tidak takut Oz.” Lanjut ayah melihat reaksiku yang biasa saja. “Meski aku dan Ibumu tahu kalau kamu bisa melakukannya sendiri, kamu tidak bisa pergi sendirian.”
“Betul, pergilah dengan Freya.”
“Egh.”
“Jangan begitu, kamu tahu sendiri kalau kalian sebaya. Lebih dari itu, tanggal lahir kalian sama. Hihihi, lucu sekali.”
“Tapi, Freya ka-”
Baru saja aku mau memberi sebuah alasan yang sebenarnya sangat sepele dan kekanakan. Rupanya, aku sudah terlalu terbiasa pada tubuh ini juga statusku sebagai anak-anak. Biar bagaimana pun, aku anak-anak kan? Hehe.
“Oswald,” kata ayah memotong kalimatku, “sebagai laki-laki kamu harus bisa menghormati perempuan.” Kata ayah dengan nada yang sangat bijak, matanya pun seakan bersinar-sinar saat mengucapkannya.
Sementara itu, Ibu di belakang Ayah mengangguk-angguk
“Meskipun kadang mereka selalu cerewet, menyebalkan, dan seringkali menyera-”
“EHEM!” Ibu berdehem sangat keras. “Ulrik suamiku yang pemberani, kita harus bicara.”
“P-pokoknya, biar bagaimana pun kita sebagai lelaki haruslah bisa melindungi dan menghormati perempuan. Apakah kamu mengerti Oz?”
“Tentu saja ayah.”
Sesaat kemudian, Ibu menjewer telinga ayah sekeras mungkin. Aku hanya bisa menonton dan menertawakan ayah yang tidak berdaya. Meski begitu, aku tetap menghormati ayah. Dia adalah orang yang paling dulu maju ketika ada penduduk desa yang kesulitan, lalu menjadi orang paling terakhir pulang ketika masalahnya sudah benar-benar selesai. Julukannya adalah sang pemberani. Semua tindakannya selama ini telah memberiku teladan yang baik. Semua teladan yang diperlihatkan olehnya padaku sejujurnya adalah hal yang baru bagiku.
Di duniaku sebelumnya, aku tak pernah merasakan bagaimana rasanya punya seorang ayah sebagai inspirasi.
Ibuku meski seperti yang ayah bilang, menyeramkan, ia adalah orang yang paling peduli terhadap sekitarnya. Kasih sayang dan kelembutan terpancar di setiap tindakannya. Setidaknya ibu hanya bisa bersikap begitu di depan ayah. Aku juga yakin, ayah mengerti tindakan dan apa yang dirasakan istrinya. Dari ibu, aku belajar bagaimana caranya menyayangi, jujur, dan tanpa pamrih.
“Ada apa Oz?”
“Tidak apa-apa Ibu, bisakah hari ini aku tak perlu memburu apa pun? Aku ingin mengobrol lama dengan Ayah dan Ibu.”
“Ada apa anakku?” Kata ayah yang telinganya masih dijewer Ibu.
“Semalam aku merasakan firasat buruk.”
Ucapanku langsung membuat Ibu berhenti menjewer telinga Ayah.
“Ceritakanlah.” Ujar Ibu pelan.
“Aku tak tahu bagaimana menceritakannya. Bahkan, aku tak bermimpi atau apa pun. Firasat ini tiba-tiba saja muncul.”
Hening memenuhi ruangan, aku tak bisa menatap mereka. Saat ini yang kulakukan hanya mencoba menerka apa yang sedang aku rasakan.
“Oswald, hati kecil adalah keberadaan dalam jiwa kita yang paling dekat dengan Sang Pencipta.”
“Firasatmu itu adalah pertanda bahwa engkau sedang dilindungi.” Kata ayah sambil menyentuh kepalaku. “Selalu dengarkan kata hatimu, maka setiap langkahmu akan selalu terjaga.”
Kata-kata mereka bisa membuatku tenang, tapi firasat itu masih saja belum hilang.
“Bagaimana kalau kita berikan saja sekarang, sayang?”
“Benar juga, aku tak tahan kalau harus melihat anakku murung.” Ayah langsung bergegas keluar rumah.
“Ayah mau pergi ke mana Ibu?”
__ADS_1
“Mau mengambil sesuatu yang spesial. Hehe, kamu tahu kan, Ayahmu akhir-akhir ini sangat sibuk di bengkel pandai besinya?”
“Hmm, iya. Tapi, ayah ini benar-benar bisa apa saja ya, Bu?”
“Kalau soal menciptakan sesuatu, ayah kamu bisa apa saja. Tapi, yang sejak dulu ayahmu adalah pandai besi. Jadi, kamu pasti dapat sesuatu yang spesial.”
“Jadi, ayah sedang membawakan hadiah ulang tahunku?”
“Betul, kamu mau?”
“Tentu saja aku tidak akan menolak, Ibu.”
“Ya ampun, dasar kamu. Bersikap seperti anak kecil sekali-kali dong.”
“Tadi ayah dan ibu mengejekku begitu.”
“Hehehe, maaf ya. Habis kamu sikapnya dewasa melulu sih, Ibu dan Ayah jadi khawatir enggak ada yang bisa kami ajarkan sama sekali padamu.”
“Tidak usah khawatir Ibu, aku belajar banyak dari teladan Ibu dan Ayah. Hehehe.”
“Syukurlah kalau begitu.” Kata Ibu dengan senyum terkembang. “Oh iya, karena ini hari ulang tahunmu, apakah ada yang ingin kamu minta anakku sayang? Tahun ini spesial, kamu boleh minta apa pun yang kamu mau.”
“Ummm...”
“Tidak apa-apa, katakan saja.”
“Apakah ibu bisa mengajariku wisekraft yang biasa ibu gunakan?” tanyaku pelan pada Ibu.
Wisekraft yang biasa ibu gunakan ia sebut dengan runekraft, sebuah cabang dari wisekraft yang sejauh ini hanya ibu yang menggunakannya. Ibu sama sekali enggan membicarakan tentang runekraft, sama seperti saat aku bertanya kepada ayah atau siapa pun yang ada di desa tentang asal-usul keluargaku. Ini juga rahasia yang besar. Karena kali ini Ibu sendiri yang berkata kalau aku boleh meminta apa saja, maka aku mencoba keberuntunganku.
“Tentu saja Ibu bisa... tapi, ibu tak mau.”
“Bukankah Ibu sendiri yang bilang, aku boleh minta apa saja?”
“Dengan membahayakan nyawamu sendiri? Apakah aku tega memberimu sebuah pisau yang tak bisa kamu gunakan?” Desak Ibu dengan ekspresi serius yang tak memberi sedikit pun ruang untuk berkompromi.
“Apakah karena aku tak punya bakat untuk wisekraft?”
“lebih dari itu, Oswald. Kamu bisa menggunakan runekraft. Sebuah kekuatan yang jauh melebihi wisekraft yang lainnya.”
“Lalu kenapa?”
“Runekraft sama sekali berbeda dari apa yang kamu bayangkan, anakku...”
“Tapi, aku ingin menjadi kuat, Bu!”
“Untuk apa?”
“Agar aku bisa melindungi Ayah dan Ibu!” kataku tanpa ragu, karena itu bukanlah kata-kata kosong.
Aku tak ingin menjadi seseorang yang sama seperti diriku yang dulu. Tak punya kuasa untuk melindungi siapa pun, hanya karena setelah aku kehilangan maka aku bisa mendorong diriku lebih jauh hingga merusak diriku sendiri. Itu tak boleh terjadi lagi.
Ibu sempat tersentak mendengarnya dan untuk beberapa saat tak mengatakan apa pun.
“Terima kasih, anakku. Tapi, dengarkanlah baik-baik. Kekuatan datang bersama dengan sebuah tanggung jawab yang akan terus mendampinginya, lalu kemudian ada takdir yang cepat atau lambat menghampiri. Tanpa pamrih, tanpa tahu apa yang sedang kamu rasakan.” Ujarnya tenang. “Jika kamu berkata bahwa kamu ingin melindungi Ibu, maka aku dan ayahmu juga sama. Kami ingin melindungimu dari segala mara bahaya. Termasuk takdir pilu yang tak terhindarkan.”
“Ibu...”
Keheningan memenuhi ruang, diikuti sinar mentari pagi yang masuk lewat jendela dan membasuh wajah Ibu yang sudah penuh air mata.
“Apakah kamu mau memaafkan Ibu dan Ayahmu?” tanya Ibu dengan suara pelan.
Segera kuhapus air matanya, dibarengi dengan sebuah anggukan kecil. Ibu hanya mengulas senyum lega karenanya. Itu cukup, aku mengerti apa yang ia katakan. Seluruhnya.
Beberapa saat setelah Ibu meraih ketenangannya kembali...
“Aku membawa hadiahnya!” gelak ayah sembari masuk ke dalam rumah terburu-buru. “Oz, kemarilah!”
Di tangannya ada sebilah pedang pendek di dalam sarungnya yang tersambung dengan sebuah tali merah serupa tali tambang yang diikatkan pada sebuah ring dengan diameter seukuran kepalan tangan orang dewasa. Ayah langsung mengenakannya pada bagian atas tubuhku, sehingga pedang pendek itu sekarang bertengger di belakang punggungku.
“Cocok sekali, tak sia-sia aku membuatnya.” Ujarnya puas.
“Wah, aku tak menyangka akan sebagus ini.”
“Tentu saja, Selby istriku yang rambutnya indah. Semua bahannya dibuat dari bahan yang tak ada di tanah ini.”
“Mana mungkin aku tak memberi Oswald sesuatu yang spesial, di hari ulang tahunnya yang ke 10?”
“Ya ampun...” Ibu menghela napas panjang. “Benar juga.”
“Nah, Oz. Bagaimana menurutmu?”
Kuambil pedang dari punggungku dan kulihat dengan seksama. Panjang bilahnya seukuran lengan orang dewasa, gagangnya pun hanya bisa dipegang oleh satu tangan orang dewasa. Bagiku yang masih 10 tahun ini, gagangnya cukup untuk kedua tanganku. Warna bilahnya perak disusul dengan warna gagang yang dililit dengan bahan kulit berwarna hitam kebiruan, yang membuatnya menarik adalah batang silang yang digantikan dengan sebuah ring keemasan yang diameternya sedikit lebih besar dari lebar bilahnya.
Cukup dengan deskripsi pedangnya, hal lain yang langsung membuatku mengabaikan bentuk fisiknya adalah betapa ringannya pedang ini, begitu mudahnya digenggam, dan ketajaman yang terasa meski aku hanya melihat bilahnya yang berkilau saja.
“Sol Sword, ini adalah karya terbaikku, Oz.” Ujarnya penuh bangga. “Pedang ini adalah... hmm, mereka menyebutnya apa di tanah ini? Oh, Artefact Weapon. Pedang ini akan bersinar di kegelapan saat kamu menginginkannya, sinarnya sangat cemerlang sehingga kamu tak akan bisa membandingkan siang dan malam.”
“Astaga.., Ulrik.”
“Lebih dari itu, senjata ini hanya kamu yang bisa menggunakannya, Oz. Dengan sebuah kontrak kecil berupa darah penggunanya, maka pedang ini akan tumpul dan sangat berat jika orang lain menggunakannya. Jika kamu, pemilik kontraknya yang menggunakan pedang ini, maka ia akan menjadi sangat tajam, ringan, dan kuat. Semakin kamu berkembang, maka pedang ini akan semakin kuat.”
“Bolehkah aku menerima pemberian seperti ini?” tanyaku pada Ayah.
“Tentu saja anakku, suatu saat kamu akan menjadi dewasa dan harus bisa menjaga dirimu sendiri. Aku tahu kamu kuat, tapi sebagai ayah aku juga ingin melakukan sesuatu untukmu.”
Kulakukan apa yang Ayah baru saja katakan, sebuah goresan kecil tercipta di ujung jariku kala kugesekkan pada salah satu sisi bilahnya. Pedang itu langsung bercahaya.
“Silau sekali.” Begitu terangnya, Ibuku sampai harus menutup mata.
Anehnya, aku sama sekali tak merasa silau. Apa yang kulihat justru berupa simbol-simbol rune yang sering ibu kendalikan.
“Ulrik!” Ibu berteriak pada suaminya.
Ayah di sisi lain hanya tersenyum diam.
“Aku berdoa kepada Sang Pencipta.” Ayah memulai do’a dengan khidmat. “semoga suatu saat, pemberian ini bisa menjadi penerang yang baik untukmu, atas izin-Nya.”
Kulekatkan pedang itu pada dadaku. Hawa yang hangat langsung menyusup ke dadaku. Jelas, hawa hangat itu berasal dari pedangnya. Seakan ada sebuah kekuatan baru yang masuk ke dalam diriku.
“Terima kasih pemberiannya Ayah, semoga do’a Ayah terkabul.”
“Ulrik.., senjata macam apa yang kamu buat untuk anak kita?” Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
“Aku melakukan ini justru karena kamu, Selby istriku yang cantik.”
“Kenapa aku yang disalahkan?”
“Memangnya aku enggak tahu, hadiah apa yang kamu siapkan untuk Oswald?”
“Ugh...” Sekarang Ekspresi Ibu seperti orang baru ketahuan sedang mencuri. “Tapi, apa yang kamu lakukan itu berle... ah, lupakan.”
“Menyerah saja, kamu enggak bisa cari-cari alasan lagi.”
“Kamu tahu enggak itu si-”
“Sifatku yang paling enggak kamu suka. Ya, aku tahu itu. Tapi, biar begitu, kamu tetap cinta aku kan?”
“Huh! Siapa bilang?!”
“Ayolaah, jangan marah begitu Istriku Selby yang rambutnya lebih indah dari mentari pagi.”
“Memuji pun, kamu enggak akan dapat apa-apa. Tapi, kamu bisa teruskan pujiannya.”
Ayah dan Ibu tiba-tiba saja masuk ke dalam sebuah atmosfer aneh yang kusebut, Mesra Tanpa Pamrih. Kenapa aku sebut begitu? Karena mereka, meski bertanggung jawab, teladan yang baik, dan sangat peduli pada sekitarnya, juga punya sisi yang membuat orang di sekitar mereka kebingungan.
Mesra Tanpa Pamrih adalah sebuah keadaan ketika sebuah obrolan sedang berjalan seperti biasa, lalu ada saja kata-kata yang membuat mereka bisa masuk dalam atmosfer kemesraan yang romantis, keadaan ini bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Kukatakan sekali lagi, kapan saja dan di mana saja. Bahkan di saat keadaan genting sekali pun. Orang tuaku adalah yang disebut individu hebat. Mungkin mereka bisa santai seperti ini, karena mereka bisa dengan mudah mengendalikan keadaan seburuk apa pun itu.
“Ehem!” kali ini giliranku berdehem, diikuti hancurnya atmosfer mesra tanpa pamrih itu.
“Eeh.., emm... sampai mana kita tadi? Oh ya, hadiah yang mau ibu berikan untuk Oswald. Kemarilah Oz.” Ibu berjalan ke tengah ruang kosong, sekaligus menunjuk sebuah tempat yang mengisyaratkan padaku bahwa aku harus berdiri di tempat itu.
Sesaat setelah aku menginjakkan kaki di tempat itu. Ibu langsung mengucapkan mantra dengan sangat cepat dan tak bisa kumengerti. Sebuah lingkaran bercahaya muncul di bawah kakiku, diikuti dengan simbol-simbol rune yang tadi kulihat pada pedang pemberian ayah. Lingkaran bercahaya itu perlahan hilang, Ibu juga berhenti mengucapkan mantranya.
“Oswald anakku, ulurkan tanganmu.” Kuulurkan tangan kiriku, kemudian ibu memasangkan sebuah gelang. “berikan aku juga yang satu lagi.” Untuk yang kanan ibu hanya mengelilinginya dengan telunjuk, meninggalkan jejak garis cahaya yang perlahan hilang setelah ibu melepaskan tangannya dariku.
Gelang yang diberikan ibu terdiri dari sebuah lempengan material berbentuk lingkaran dengan sebuah simbol di tengahnya diikat oleh sebuah tali yang dianyam sedemikian rupa yang mengelilingi pergelangan tanganku, diikuti dua bilah lempengan material berbentuk persegi di kedua sisi setelah lempengan lingkaran.
“Ini apa, Bu?”
__ADS_1
“Kuberi nama gelang ini, Endogram. Artefak yang... sama seperti Sol Sword, hanya akan berfungsi jika kamu yang menggunakan.”
“Benda artefak, berarti dia punya fungsi tersendiri ya, Bu?”
“Penyimpanan dimensi.” Kata Ibu riang.
“Selby, istriku yang rambutnya indah. Apa yang kamu berikan pada anak kita?”
“Hehe, aku juga menyayangi anakku Ulrik. Memang aku tak boleh memberinya sesuatu yang spesial?”
“Penyimpanan dimensi itu apa, Bu?”
“Sederhananya, kamu bisa menyimpan apa pun di dalamnya. Jadi, kamu tak perlu repot-repot membawa tas atau apa pun. Cukup ayunkan saja tanganmu dan pikirkan apa yang mau kamu simpan atau mau kamu keluarkan dari dalamnya. Langsung saja, busur dan belati itu. Coba saja.”
Kulakukan apa yang Ibu instruksikan dan begitu saja, kedua senjata itu masuk ke dalam gelangku. Saat mengeluarkannya pun semudah apa yang ibu katakan.
“Bagaimana? Mudah kan? Hehe, kamu bisa pergi ke mana saja tanpa repot membawa banyak barang dan tanpa berat di punggungmu.”
Pergi? Pergi ke mana? Bukankah selama ini mereka melarangku pergi jauh dari desa? Aku bahkan tak pernah bertemu dengan orang lain selain orang-orang di desaku.
“Yang seperti ini..., luar biasa sekali. Tapi, apakah enggak ada kelemahannya, Bu?”
“Kelemahan? Hmm, Ibu enggak akan bilang itu sebuah kelemahan sih. Tapi, kamu enggak akan pernah bisa melepaskannya.”
“EH?! Ibu bercanda kan?”
“Enggak dong. Hehehe.”
“T-tapi, nanti bagaimana kalau kotor?”
“Bagus Oswald, kamu ingat dengan kebersihan! Tenang saja, gelang itu akan menghilang saat kamu berniat untuk membersihkan diri dan tidur.”
“Praktis sekali.”
“Iya dong, Ibu enggak akan memberimu sesuatu yang setengah-setengah. Oh, kamu juga enggak bisa menyimpan artefact item apa pun di dalamnya.”
Tidak bisa menyimpan benda-benda artefak ya. Sesungguhnya aku tak tahu sejauh apa kekuatan benda artefak, tapi kalau memang kuat, bisa menyimpan dan mengumpulkan benda magis di dalam dimensi yang hanya aku bisa mengaksesnya... itu adalah kekuatan yang berbahaya.
“Beginilah seorang Ibu, pasti memanjakan anaknya terlalu jauh.” Kata ayah sambil menghela napas, persis seperti yang Ibu katakan pada Ayah.
“Aku enggak mau dengar itu dari kamu ya!”
“Hehehe, Iya sih.”
“Ayah, Ibu, terima kasih hadiahnya. Ini luar biasa!” Sahutku disertai perasaan gembira yang sejujurnya belum pernah kurasakan di duniaku sebelumnya.
Aku jadi ingat tentang hak istimewa yang dimiliki oleh mereka yang memiliki orang tua, terlebih mereka yang punya kekayaan. Mereka bisa maju lebih dulu dan lebih jauh, mereka bisa melakukan apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan oleh mereka yang tidak punya. Bisa dibilang, itu adalah permulaan yang baik dalam hidup untuk menjadi seorang pemenang.
Akan tetapi, banyak pula yang punya hak istimewa itu dan tidak memanfaatkannya dengan baik. Itu membuat mereka terlena dan terbuai dalam hidup yang mereka anggap mudah.
“Ayah, Ibu, aku akan menggunakan hak istimewa ini dengan baik.” Ucapku semangat.
“Satu dari sekian banyak alasan kenapa kami berani memberikan ini padamu adalah...” Ayah mengucapkannya sembari meratakan matanya dengan mataku. “...karena kedewasaanmu dalam bersikap. Jika kamu adalah anak manja yang lemah, tak akan pernah kami berikan ini padamu.”
“Betul. Ibu yakin, kamu sudah siap, Oswald.”
Ucapan mereka yang barusan memberiku sebuah keyakinan bahwa mereka benar-benar mempercayaiku.
Aku amat bersyukur untuk itu.
“Terlebih, ketika ayah mengajarimu cara menggunakan banyak senjata, kamu langsung bisa, bahkan lebih mahir dari ayah. Huhuuu.” Lanjut Ayah dengan air mata yang mengalir.
“Ahaha...” tentu saja aku bisa, di duniaku sebelumnya aku memang seorang pejuang yang bisa menggunakan semua senjata dengan penguasaan level tertinggi. “Tapi, ada juga yang baru aku tahu, Ayah. Misalnya... tentang teknik berjalan tanpa suara yang ayah ajarkan, atau teknik bersembunyi dalam bayangan.”
Mendengarku berkata demikian, ekspresi ayah berubah sedikit lebih pilu. Akan tetapi, ia terus berusaha untuk tersenyum.
“Aku... sungguh berharap itu akan berguna untukmu suatu hari.” Katanya dengan suara yang sedikit goyah. “Gunakan itu dengan baik, ya? Janji?”
“Janji.”
“Sudah sudah, kalau begini Oswald tidak akan berangkat juga. Aku akan merestuimu jika kamu mau berangkat sekarang, Oz.”
“Baiklah, Ibu. Kalau begitu, aku berangkat sekarang ya.”
“Semoga langkahmu selalu terjaga.” Do’a ibu panjatkan.
“Semoga aku pulang membawa kegemilangan.”
“Ah, Oz. Tunggu.” Ayah menghentikanku sebelum aku benar-benar keluar dari rumah. “Kamu jaga diri baik-baik ya, ayah bangga padamu. Ayah yakin, kamu bisa jadi orang yang besar, hebat, dan kuat di masa depan.” Ucapnya sambil menatap mataku dalam-dalam, kemudian memelukku erat.
“O-oh, tentu saja ayah.”
“Kalau begitu, Ibu juga mau memeluk Oz!” sahut Ibu yang langsung memelukku sangat erat. “Anakku, Oswald. Kamu yang sehat ya, Ibu sangat... sangaaat...” suara ibu perlahan berubah lirih, kemudian goyah, hingga terdengar dengan jelas kalau ia menangis. “sangaat, menyayangi kamu.”
“Ibu...”
Ia menangis, ayah mengalihkan wajahnya agar terlihat olehku. Barusan, aku juga yakin matanya berkaca-kaca.
“Kamu adalah hal terindah... yang pernah ada dalam hidup Ibu, Oz.”
Ibu kemudian melepas pelukannya dan menunjukkan wajah yang sangat ceria.
“Pergilah, hari ini adalah hari besar untukmu.”
“Ayah, Ibu, ada apa?”
“Bagaimana tak sedih, kalau anak Ayah satu-satunya tahu-tahu sudah besar begini? Hehe, kamu bahkan berburu sendiri. Ibumu juga khawatir, Oz.”
“Apalagi aku, sembilan bulan kamu ada di perut ini... lalu sepuluh tahun kamu enggak pernah jauh dari Ibu. Sekarang pergi sendirian ke tempat yang jauh.”
Saat ini aku tak yakin apakah orang tuaku sedang membuat keadaan menjadi dramatis atau mereka tidak memberitahuku sesuatu.
“Begitu ya, hehe. Jangan khawatir, aku pasti bisa!”
“Tentu saja, Oz. Kami percaya padamu.”
“Aku pergi, Ayah, Ibu.”
“Jaga diri baik-baik, Oz!!!” Teriak ayah dan Ibu sambil melambaikan tangan mereka.
Aku berlari menjauh dari mereka. Dengan sebuah harapan akan membawakan sebuah hasil untuk bisa dinikmati semua orang di desa. Aku cinta semua orang yang ada di desa ini dan aku berniat untuk tinggal di sini seumur hidupku.
Mungkin inilah tujuan hidupku di dunia ini. Para dewa ingin aku berada dalam kehidupan yang aman dan tenteram.
Ya, aku meyakini itu.
Tunggu aku. Aku pasti akan segera pulang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tanpa Oswald menyangka... itu adalah terakhir kalinya ia bertemu dengan kedua orang tua dan desa yang dicintainya.
__ADS_1