
“Siapa kau sebenarnya?!” Aku berteriak, tapi lawan bicaraku hanya menjawabnya dengan tawa sarkastis. “Sialan!”
“Hei hei, anak kecil. Mulutmu kotor sekali, belajar dari siapa? Orang tuamu yang mengajari?”
“Diam!”
Freya sedari tadi hanya diam sambil meremas bajuku.
“Freya, mundur.”
“Tapi, Oswald...”
“FREYA!!!” Aku membentaknya dengan suara paling lantang yang kupunya.
Freya terperanjat, ia kemudian berlari berlindung di belakang pohon.
“Waduh, keras betul suaramu bocah.” Ekspresinya sedikit berubah, wajah arogannya kini berubah meski sedikit. Sepertinya dia benar-benar tidak menyangka bahwa aku bisa mengeluarkan suara yang bisa menggetarkan pohon-pohon.
“Aku tak akan mengulanginya lagi...” kutarik napasku dalam-dalam. “Katakan, siapa kau?” Pertanyaan itu kuajukan dengan nada intimidasi dan aura yang sama.
Reaksi yang ditunjukkannya memperlihatkan bahwa aku sama sekali tak kehilangan kemampuan yang kumiliki di duniaku sebelumnya, aura intimidasi ini selalu berhasil membuat lawan takut.
“Bocah, sekarang aku yang ingin bertanya... siapa kau sebenarnya?” Tanyanya dengan napas yang terlambat satu tarikan.
“Sudah cukup.”
Tak ada ampun lagi bagimu.
Dengan adanya endogram, kuambil tiga anak panah pada genggamanku. Dua anak panah segera kutembakkan ke dua bola matanya dengan cepat. Anak panah itu melesat cukup cepat, sehingga lawanku dikejutkan karenanya. Namun, dua anak panah itu dengan mudah dihancurkannya dengan metode yang sama dengan yang dilakukannya tadi.
“FREYA MENUNDUK!!”
“Kyaah!” teriak Freya di belakangku.
Tekanan angin melesat seiring tebasan yang dilakukannya, meratakan beberapa pohon di belakangku.
“Heh, boc- agh!” kata-katanya terhenti, kala sebuah anak panah menggali daging ketiak kanannya. “Ini... bagaimana bisa??”
Saat memperingatkan Freya untuk menunduk, aku menembakkan satu anak panah lagi tepat ke arah ketiaknya. Kumanfaatkan hempasan udara dari tebasan pedangnya sehingga bisa mengubah trayek anak panahnya tepat menuju ke tempat yang kuinginkan. Seperti yang kuduga, meski pada zirahnya ada basegaw (pelindung ketiak yang biasanya berupa lempengan bulat atau sambungan dari zirah bahu untuk menutupi bagian ketiak.)titik kelemahan itu terbuka. Alasannya sederhana, tentu saja karena ayunan pedangnya terlalu lebar. Tangannya ditarik secara diagonal ke atas.
Tentu saja, yang seperti ini tak akan kusebutkan padanya.
“Bocah, rupanya aku sudah meremehkanmu.” Katanya dengan nada tinggi yang jelas-jelas menunjukkan amarahnya.
Begitu saja, ia biarkan panah itu menempel di ketiaknya. Seakan itu tak mengganggunya sama sekali. Jujur saja, melihatnya demikian ada sebuah titik di dalam jiwaku yang ketakutan. Pada bagian yang tertancap anak panah itu, seharusnya sudah menghancurkan saraf yang membuat tangan kanannya lumpuh. Kenyataannya tidak demikian, tangannya masih kuat, bahkan ia sengaja mengayun-ayunkan pedangnya berkali-kali sambil tersenyum meremehkan.
Pria bertubuh besar dengan zirah hitam itu menerjang tanpa basa-basi. Tiap ayunan pedangnya menghempaskan udara yang langsung menyampaikan sebuah pesan berbahaya pada otakku.
Aku terus menghindari semua tebasan pedangnya. Ketika gerakannya memotong dari atas ke bawah, terasa seperti ada gempa lokal yang kecil. Ketika gerakannya vertikal, maka aku mesti merunduk. Sampai ke titik di mana ia berusaha menyerangku sebanyak tiga tebasan, aku masih terus berusaha menghindar dan semua itu berhasil kulakukan. Sebuah keuntungan dari tubuhku yang kecil.
Di saat yang bersamaan, aku terus mencari titik kelemahan zirah yang dikenakannya. Namun aku langsung menyadari hanya bagian ketiaknya yang kosong tanpa zirah yang tebal.
“Apa kau mau menyerang bagian itu lagi? Hah! Tak semudah itu!” ujarnya sambil melakukan tendangan yang langsung mengenai perutku.
Biar bagaimana, tubuhku jauh lebih kecil darinya dan ia punya keuntungan kaki yang panjang.
Tendangan yang masuk ke perutku itu terasa seperti sebuah batu besar yang jatuh dari tebing dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga mengenaiku. Semua indra perasaku langsung mati, seakan memfokuskan pada rasa sakit yang terlalu besar untuk anak seumurku.
“Ghaaakkk!!!” aku memuntahkan darah.
Seisi organ tubuhku panas tak terkira, semuanya seperti terbakar, dan langsung menjadi kering tanpa sisa. Bahkan napasku pun ikut memanas karenanya.
“Oswald!!!” Freya berteriak histeris.
“Gh... Jangan mendekat Freya! Tetap diam di tempatmu!!” kupaksakan untuk berteriak meski kerongkonganku begitu kering dan perih.
“T-tapi, Oswald kasihan...” Freya mulai menangis terseguk-seguk.
“A-aku baik-baik saja, jangan khawatir. Hehhe...” dalam keadaan seperti ini, aku harus tersenyum agar Freya tidak ketakutan.
“Ooh, sungguh heroik sekali, bocah. Aku rasanya tak bisa bilang kalau kau cuma berumur 10 tahun.” Ucapnya santai.
Ia kemudian menancapkan pedang besarnya ke atas tanah, lalu kemudian melepaskan anak panah dari ketiaknya.
__ADS_1
“Huh... ini sakit sekali, kau tahu itu?” keluhnya sambil membuang anak panah penuh darah. “busur yang kau gunakan itu bukan busur untuk pertempuran seperti ini. Tapi, bocah... kau hebat juga, bisa menggunakannya sampai menembus baju jaring besiku. Kau punya potensi, bocah.”
Sambil menahan rasa sakit, aku terus memerhatikan gerak-geriknya dengan seksama. Akan tetapi, meski aku tahu apa yang mesti kulakukan, sulit sekali untuk bisa memfokuskan pandanganku. Semua nyaris buram.
“Jangan melihatku seperti itu. Hahaha! Belajar dari mana kau? Ooh, tentu saja, pasti dari orang tuamu. Cara bertarung itu juga pasti mereka yang mengajarkannya kan? Haha! Tentu saja, tipikal keluarga Admuni.”
Keluarga Admuni? Apa yang ia bicarakan?
“Apa yang kau katakan tentang keluargaku!?”
“Ho? Ahahaha! Tentu saja, keluarga kalian sekarang sudah berganti nama menjadi... apa? Sol? Bhaha! Sungguh bertolak belakang.”
“Tutup mulutmu!”
“Ooh benar juga, kamu adalah anak yang terlahir di antara si pengecut Ulrik dan si kotor Selby?”
“BEDEBAH!!!”
“HAHAHAHAHA!!! Terus! Teruslah marah!”
Di hadapanku ada orang bertubuh besar yang sedang merendahkan harga diriku dan keluargaku. Ia berhasil membuatku terbawa emosi, padahal aku bisa menarik informasi darinya tentang keluargaku yang bahkan tak aku tahu asal usulnya.
Akan tetapi, penghinaan terhadap ayah dan ibuku... sama sekali tak bisa kumaafkan!
Sayang sekali aku tak bisa berbuat apa-apa, meski hati ini siap untuk meledak kapan saja. Sungguh sangat kecil kemungkinanku untuk menang. Kecuali jika ada sebuah peluang yang terbuka.
“Baiklah bocah, aku akan memberitahumu sesuatu tentang keluargamu. Karena pasti mereka tak memberitahumu apa-apa tentang Admuni.” Tanpa menunggu reaksiku, mulutnya tetap berkata-kata. “Dengar bocah, Admuni adalah nama keluarga terkutuk di daratan utara sana. Admuni adalah keluarga legendaris yang secara turun-temurun adalah pembunuh bayaran. Dengan kata lain... assasin.”
“Omong kosong!”
“Ya, tentu saja kau tak akan percaya. Keluargamu dan pengikutnya yang setia pasti menyembunyikan semuanya darimu. Kau tahu kenapa? Haha! Tentu saja karena mereka berpikir bisa mengasihanimu dari dosa besar yang ayahmu Ulrik Admuni perbuat! Asal kau tahu bocah, dia adalah orang yang membunuh ratu para Jottnar! Dan ibumu, seorang vanir, volva yang seharusnya melindungi ratu kami justru membantu ayahmu. Kau tahu apa akibatnya bagi kami para Jottnar? Kami semua kehilangan arah! Kehilangan kendali! Perang saudara terjadi di antara kami dan kami sudah berada di ambang kepunahan.” Ia mengakhiri pidatonya dengan sebuah kalimat yang terdengar menyedihkan, bahkan suaranya pun ikut lirih karenanya.
“Apa sebenarnya tujuanmu kemari?!”
“Apakah semua ini kurang jelas untukmu? Tentu saja untuk penghakiman terhadap keluarga Admuni!” pedang yang ditancapkannya ia angkat, lalu ia kibaskan ke sekitarnya.
Seketika, pohon-pohon yang ada di sekelilingku terpotong rata. Tujuannya melakukan itu hanya satu... dia ingin menunjukkan kekuatan yang ia miliki.
“Kau tahu bocah, ada ratusan orang sepertiku yang sedang pergi menuju desamu.”
Toleransi terhadap rasa sakit di perutku sudah semakin tinggi, sekarang aku bisa berdiri dengan kedua kakiku meski tak bisa tegap karena rasa sakit yang mesti ingin aku abaikan itu tetap ada. Di titik ini, aku sudah menyiapkan sebuah strategi untuk mengalahkannya dan aku juga sudah menarik Sol Sword dari sarungnya.
“Bocah, percuma saja. Kau tak akan bisa menang dariku.”
“Apakah meremehkan orang lain juga ada dalam darah kalian para jottnar?”
“Bicaramu besar, bocah. Tapi potensimu nyata, sayang sekali aku harus menghabisimu di sini. Aku tadinya hanya diperintahkan untuk membawa gadis yang ada bersamamu, kemudian mengabaikanmu. Tapi, setelah berhadapan sendiri denganmu barusan, aku tak akan membiarkan kau hidup.”
Target mereka adalah Freya, tapi apa yang akan mereka lakukan padanya? Bukankah Freya juga bagian dari kami?
Jika Freya tetap di sini, maka kemungkinan besar mereka akan mencapai tujuan mereka.
Sial! Naluriku mengatakan kalau dia sama sekali tidak berbohong. Akan tetapi, masalah yang lebih besar justru tersembunyi dibalik kata-katanya. Ia pasti berencana agar aku meminta Freya untuk pergi dari tempat ini, sehingga dia berlari sendirian. Di tengah hutan, seorang yang lain dari mereka akan menangkap Freya.
Dengan kata lain, dia tidak sendiri!
Keadaan ini sungguh merugi dan genting. Keringat dingin mengalir di dahiku dan bisa kurasakan wajahku memudar warnanya. Jika tubuhku sekarang adalah tubuh orang dewasa, maka aku bisa menyelesaikan ini dengan sangat mudah.
“Freya, dengarkan aku... apa pun yang terjadi, tetaplah bersamaku. Kamu mengerti?” Aku berbisik pada Freya.
“Aku mengerti Oswald.” Balasnya dengan anggukan mantap. “Biarkan aku juga membantumu!”
“Ooh, sekarang tuan putri juga ikut bertarung? Baiklah, tapi aku tidak akan segan-segan!” Katanya sambil mengentak tanah dan mengakhiri dengan sebuah kuda-kuda. “Beritahu namamu, bocah. Aku akan mengingatnya baik-baik.”
Dia tidak bertanya siapa nama Freya. Dengan ini aku semakin yakin kalau tujuan utama mereka adalah Freya.
“Rupanya kalian para jottnar tahu apa itu kehormatan.” Kutarik napasku dalam-dalam dan menghempaskannya perlahan, membuka dan mengoptimalkan semua indra yang ada pada tubuhku. “Oswald... Aku Oswald Sol!”
“Biar kuberi tahu kau bocah, sebagai hadiah ulang tahunmu. Kami jottnar berdiri di atas sebuah jembatan kecil yang amat berbahaya. Di antara jembatan itu hanya ada kematian dan kehidupan. Kematian sebagai sebuah peristirahatan dan kehidupan sebagai kebanggaan serta kenikmatan.” Matahari menerangi sosoknya, saat ia mengangkat kedua tangannya seakan sedang mengagungkan sesuatu. “Karena kau akan mati, jadi aku akan menghormatimu.”
“Haruskah aku berterima kasih?” kataku tentu saja dengan nada sinis. “Tapi, kurasa aku memang harus berterima kasih, karena itu aku jadi tahu lebih banyak tentang dunia yang akan kuhadapi ke depannya. Sesuatu yang kau sebut sebagai kebanggaan dan kenikmatan!”
Dia malah tersenyum senang melihat responsku, aku tahu ekspresi itu. Ekspresi yang sering kutemui di duniaku sebelumnya, ketika seorang petarung menemukan lawan yang dianggap pantas dan sepadan.
__ADS_1
“Aku Bor Ymirson, sayang sekali bocah. Ini adalah pertemuan yang pertama dan terakhir. Demi keagungan Ymir sang pertama, aku akan menghabisimu!”
“Baiklah, Bor. Aku akan menghadapimu dengan seluruh kekuatanku!”
Kami saling menerjang dengan sebuah tebasan yang berakhir pada pertemuan dua bilah pedang yang menghasilkan suara denting tak tertahankan. Bor jelas terkejut karena melihatku yang bisa menahan dan bertahan dari tebasannya yang begitu berat. Di hadapanku ada sebilah pedang besar dan tubuh Bor yang jauh melebihi tubuhku, seakan sedang berhadapan dengan sebuah tembok besar.
Aku tak boleh goyah!
“Hah!!!” Dengan sebuah teriakan keras, aku memukul mundur Bor.
“Sudah kuduga kau bukan bocah biasa! Tapi itu belum cukup!!!”
Tak lama, ia melanjutkan dengan serangan tebasan pedang beruntun yang berpusat pada pinggangnya. Kekuatannya bertambah, tapi ia harus mengorbankan mobilitas. Dengan tubuh besar dan pedang yang panjang, tentu saja ia dengan mudah bisa meraihku. Niatku untuk melangkah mundur menghindari serangannya langsung lebur, karena tebasan Bor yang keburu meraihku, sehingga aku tak punya pilihan lain selain membiaskan semua serangan itu dengan pedangku. Sol Sword, pedang kecil buatan ayah ini sungguh luar biasa. Tak hanya tajam, ia juga kuat dan keras. Jika ini adalah pedang biasa, aku yakin sudah patah karena serangan beruntun Bor.
Semua serangan itu terus berlanjut lama dan aku tak bisa terus begini. Tanganku sudah mulai lelah dan pijakan kakiku terbenam ke dalam tanah karena semua serangan Bor.
“Hahah! Ada apa bocah?! Apakah kau mulai kelelahan?!!” teriaknya sambil terus melakukan serangan.
“Bor! Rupanya kau terlalu terlena sampai-sampai tak memedulikan sekitarmu!”
“Apa?!”
Ia menyadari bahwa mayat rusa abu-abu yang ada di sekitar telah hilang.
“Ambil kembali ucapan ulang tahunmu!!” Aku mengeluarkan mayat rusa abu-abu dari dalam endogram tepat ke depan Bor. Serangannya yang langsung mencabik-cabik mayat hewan malang itu goyah dan aku menemukan sebuah peluang besar untuk bisa membalikkan keadaan. Meski darah turut membasahi bajuku, tak membuatku segan untuk segera kuhantam lengannya yang mengirimkan getaran hingga pegangannya goyah. Kutendang pedang Bor hingga terlepas dari tangannya.
“Sial!” Bor langsung berusaha mengambil pedangnya kembali.
“FREYA!!!”
Dengan gesit, Freya langsung mengambil pedang besar itu dengan mudah dan seperti tanpa usaha sama sekali. Ia melompat menghindari tubuh Bor yang bergerak ke arahnya.
Di udara, Freya melakukan gerakan memutar vertikal yang langsung memisahkan kepala Bor dari tubuhnya.
Semudah itu dia melakukannya. Tapi, aku juga perlu menyebutkan kalau serangan vertikal memutar yang dilakukan Freya meninggalkan bekas besar di bawah tanah selurus dengan arah putaran tebasan mematikan itu. Bahkan, aku juga harus menghindar agar kakiku tak ikut jadi korban.
Pertarungan berakhir.
Rasanya aku ingin segera duduk untuk melepaskan semua tensi yang ada di tubuhku. Tapi, aku dan Freya tahu apa yang harus kami lakukan berikutnya. Berlari sekuat tenaga kembali ke desa Sol.
Tak ada satu kata pun yang aku dan Freya lontarkan saat kami berlari. Aku juga hanya fokus bagaimana caranya mengatur emosiku, memerhatikan agar tak ada yang bisa menghentikan momentumku berlari di hutan dan melompat dari pohon ke pohon, juga bagaimana mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhku.
Perasaanku semakin tak terkendali ketika kulihat ada asap hitam mengepul dari arah desa.
Aku semakin berlari dengan semua asaku.
Tak ada yang terdengar oleh telingaku.
Kulitku sudah kebas terhadap rasa sakit.
Aku sudah tak peduli terhadap apa yang aku rasakan.
Hingga akhirnya... hal terakhir yang kulihat adalah Ibu yang memeluk ayah yang berdiri pada lututnya tak berdaya. Ibu tampak tenang, namun air matanya mengalir begitu deras. Di punggungnya tertancap sebuah pedang yang sudah menembus hingga ke ayah.
Memoriku berakhir ketika Ibu melihatku, tersenyum pahit, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengucapkan sebuah mantra.
Dan saat itu juga... semua memutih... bersamaan dengan sebuah ledakan yang amat dahsyat.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Untuk kedua kalinya, aku kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku.