
“Oke, kita setuju.”
“A-aku bahkan belum menjelaskan apa-apa.”
“Ugh, benar juga. Rasanya aku terlalu
terburu-buru karena bedebah tua itu membuatku kesal bukan main.” Lei menepuk
keningnya sendiri.
“Lebih baik kita dengarkan dulu apa yang akan
disampaikan Talia, sepertinya kita belum benar-benar memahami situasi yang ada
di sini.” Kata Madre sambil meminum secangkir teh.
Talia kemudian memulai ceritanya dengan
sebuah panti asuhan yang dulu sangat makmur berkat donasi para bangsawan dan
dari pemerintah Hortensia agar Saint Rose tetap bisa berjalan dengan baik. Saat
itu juga banyak sekali sancti-hunter atau adventurer yang datang ke Saint Rose
untuk sekedar berbagi hasil berburu dan yang lain.
“Hortensia benar-benar tempat yang
bersahabat. Semua orang mau saling berbagi meski ada dalam kekurangan.” Kenang
Amana pada masa-masa kejayaan itu.
“Semua orang bisa begitu karena adanya
Sanctuaria yang tumbuh di dekat Hortensia. Otomatis menarik banyak guild dan sancti-hunter.
Masyarakat Hortensia benar-benar diberkati oleh Sang Pengasih, Sanctuaria itu
bukan sanctuaria biasa.”
Sanctuaria mereka sebut tumbuh. Ya, aku
pernah membaca ini. Sanctuaria adalah keberadaan magis yang bisa membawa
seorang makhluk ke dalam dimensi lain. Sejak membaca tentang Sanctuaria, aku
meyakini bahwa keberadaan semacam itu tidak mungkin muncul begitu saja. Ia
pasti berawal dari sesuatu yang kecil, hingga akhirnya bisa menjadi sanctuaria.
“Sanctuaria seperti yang kau maksud?” Tanya Lei
yang rupanya sejak tadi mendengarkan dengan serius.
“Sanctuaria itu diberi nama Avalon. Di
dalamnya ada monster yang mengeluarkan sebuah buah magis bernama Last Apple.”
“Last Apple?!” Lei terdengar benar-benar
terkejut karenanya, membuatku dan Madre terperanjat.
“Betul, hanya karena drop item tersebut
Hortensia menjadi makmur. Aku tak tahu bagaimana detailnya, tapi pemerintah
waktu itu berhasil memanfaatkannya dengan sangat baik. Sehingga Hortensia
sangat makmur.”
“Lalu, bagaimana bisa kondisi Hortensia
sekarang menjadi terbelakang seperti sekarang ini?” Tanya Lei, lagi-lagi
serius. Meninggalkan semua kesan main-main yang sering ia tunjukkan.
“Black Knight.”
“Astaga... dari semua alasan yang ada,
rupanya black knight.”
“Maaf, tapi bisakah kalian jelaskan apa yang
sedang kalian bicarakan sekarang ini?”
“Biar aku yang menjelaskannya, Nona Talia.”
__ADS_1
“Tapi...”
“Aku tahu apa yang terjadi di Hortensia,
karena aku tinggal di sana. Masuknya aku ke sini sebenarnya adalah untuk
penyamaran karena gadis itu.” Lei menunjuk gadis yang masih murung tapi sudah
berhenti menangis itu. “Maika adalah anak dari seorang bangsawan di Hortensia.
Jadi, aku datang kemari untuk menyelamatkan semua anak yang ada di sini.”
“Lei, penjelasanmu barusan sama sekali enggak
membantu tahu ga?”
“Eh? Ahaha. Ya intinya, aku sebagai anak
bangsawan di Hortensia, tidak bisa tinggal diam. Jadi, saat Tuan Damras Selion
menceritakan kesedihannya karena anaknya sudah hilang selama beberapa hari, aku
menginvestigasi dan sampai ke sini. Ini juga selaras dengan rumor anak-anak
jalanan yang menghilang dan anak-anak yang diculik. Maka dari itu, aku bisa
menyela-”
“Tunggu-tunggu-tunggu.” Aku menghentikan
ucapan Lei.
“Ada apa lagi?” Protesnya yang jelas tidak
suka kata-katanya dicela.
“Lei, kau anak bangsawan?” Amana mengeluarkan
pertanyaan yang ingin ditanya oleh nyaris semua orang yang ada di ruangan itu.
“Iya, namaku Lei... egh, namaku Lei Truden.”
“T-T-Truden!? Bukankah itu nama bangsawan
tingkat Duke di Hortensia?”
“O-ooh.”
“Ah!” Gadis bernama Maika yang sejak tadi
murung itu mulai mendapatkan warna di wajahnya setelah melihat wajah Lei lebih
teliti. “Kakak Lei?!”
“Betul, Maika... kamu sejak tadi tak acuh
padaku.”
“T-tapi, di rumah kakak Lei berbeda sekali.
Di rumah kakak sangat santai dan tidak pecicilan.”
“Hehe, enggak apa-apa dong. Sekali-kali, tapi
kalau nanti sudah pulang. Jangan bilang siapa-siapa ya?”
“U-um, aku enggak akan bilang siapa-siapa.”
Hari belum berlalu, tapi aku sudah menemukan
banyak sekali sisi yang mengejutkan dari Lei.
“Ehm! Maaf mengganggu momen reuni kalian,
tapi kita tidak punya banyak waktu sebelum Dokar sadar kalau kalian belum pergi
ke dalam Sanctuaria.” Talia berdehem.
“Oh, ehm! Maaf. Kita mulai dengan Last Apple
ada sebuah bahan makanan buah manis yang sering diolah menjadi berbagai macam
makanan khas Hortensia. Di samping rasanya yang enak adalah efeknya yang
membuat seseorang menjadi sangat kuat, penyembuh nyaris segala macam penyakit
dan status negatif, bahkan ada juga yang sampai mengatakan kalau Last Apple
__ADS_1
bisa memanjangkan umur. Orang-orang akan mengonsumsi ini sebelum tidur dan
tidur mereka akan sangat nyenyak, karena efek rasa nyaman dari Last Apple.”
“Itu... terdengar seperti sebuah penipuan.”
“Tidak Madre, karena aku sudah mencoba
sendiri.”
“Hak istimewa anak bangsawan?”
“Begitulah. Jangan pikir aku langsung
memercayainya ketika koki di rumahku menyebutkan efeknya. Jadi bisa kalian
bayangkan betapa satu buah bahan makanan bisa membuat makmur satu kota?”
“Iya, kami mengerti.” Aku dan Madre
mengangguk.
“Aku sering dengar dari ayahku kalau pemimpin
Hortensia sebelumnya adalah orang yang sangat bijak. Bisa jadi, beliau
memanfaatkan Avalon dengan sangat baik, sehingga tak ada permasalahan di masa
itu. Masalahnya sekarang adalah Black Knight...” Lei menghela napas panjang
sebelum ia melanjutkan. “Dia adalah sancti-hunter yang terkenal sudah banyak ‘memetik’
Sanctuaria.”
“Apakah itu artinya menyelesaikan dungeon
Sanctuaria?”
“Betul. Dan kalian tahu apa yang terjadi
ketika Sanctuaria dipetik? Sanctuaria itu akan hilang. Melayu, mengering,
kemudian hilang.”
“Sejak saat itu, kekacauan terjadi... Last
Apple menjadi langka dan kebaikan seakan hilang dari wajah setiap orang...
Saint Rose waktu itu bisa bertahan karena aku, Yulisti, dan Helisa bekerja
sebagai adventurer untuk mengerjakan quest. Akan tetapi, suatu hari seseorang
dari Dusk Wind datang ke Saint Rose.”
“Dusk Wind... apa hubungan mereka dengan
semua ini?”
“Seorang Sorcerer dari Dusk Wind mengatakan
kalau di tempat ini akan tumbuh Sanctuaria... sejak saat itu mereka mulai
menguasai tempat ini, tak ada yang bisa kami lakukan untuk melawan mereka.
Hingga akhirnya tempat ini menjadi seperti ini. Mereka menjual opium, sesuatu
yang menirukan sedikit efek rasa nyaman seperti Last Apple. Tapi, sisanya hanya
efek negatif.”
“Bodohnya, banyak penduduk Hortensia yang
masih membeli opium karena mereka merindukan Last Apple. Aah, sial... sekarang
semuanya masuk akal.” Kata Lei sambil menghela napas yang jauh lebih panjang.
“Pantas saja Hortensia yang dulu dikenal dengan keramahan orang-orangnya,
sekarang dikenal sebagai kota mati.”
“Baiklah, sejauh ini aku sudah paham
kondisinya... tapi, kau belum menyebutkan, apa yang kau inginkan dari kami?”
Tanyaku serius pada Talia.
“Aku
__ADS_1
ingin, kalian memetik Saint Rose Sanctuaria.”