Sanctuaria

Sanctuaria
A Promise to Little Freya


__ADS_3

Hal terakhir yang paling kuingat jika nama Freya disebut adalah kesan pertama yang begitu membekas dalam ingatanku. Sungguh, aku tak bisa bilang kalau itu pengalaman yang baik.


Tapi, sebelum aku bisa mengatakan tentang siapa Freya, perlu aku sebutkan bahwa desa tempatku tinggal adalah desa terpencil dan terisolasi. Letaknya ada di sebuah lembah yang dikelilingi gunung-gunung tinggi dan hutan belantara yang sangat-sangat lebat. Aku tak bercanda jika harus menyebut bahwa kami hidup di alam liar. Rumah-rumah di desa ini berdiri di atas sebuah daratan landai yang sekitarnya pepohonan tinggi dan rindang. Musim semi di tempat ini cukup dingin, musim panas hangat tapi tidak begitu terasa, musim gugur sangat dingin, dan musim dingin tempat ini nyaris tidak ada tanda kehidupan. Aku sempat bertanya pada orang tuaku tentang bagaimana cara kami hidup. Saat itu, Ibu tak menyangka kalau aku yang masih berumur tiga tahun akan bertanya seperti itu.


Ibu menjelaskan kalau ayah dan beberapa pemuda di desa itu akan pergi ke hutan untuk mencari bahan buruan, dan sebelum musim dingin tiba, orang-orang yang mengurus kebun dan gandum akan menyimpan bahan makanan untuk dikonsumsi di musim dingin. Tentang bagaimana cara Ibu dan semua penduduk desa menyimpan makanannya, aku yakin jawabannya adalah penyimpanan dimensi yang baru saja Ibu berikan padaku. Ini adalah benda yang tak ada di duniaku. Sebuah konsep menyimpan barang di dimensi lain dan bisa mengeluarkannya kapan saja saat dibutuhkan, benar-benar praktis. Tidak membutuhkan ruang, tidak repot dibawa-bawa, dan yang paling penting tidak berat. Magic... atau wisekraft di dunia ini tampaknya sudah sangat maju dan menjadi sesuatu yang cukup lumrah.


Tentang apakah bahan makanan bisa basi di dalam penyimpanan dimensi... aku tak tahu, kurasa aku harus mempelajarinya sendiri. Apalagi sekarang aku punya satu.


Saat musim dingin tak ada lagi yang bisa kami lakukan selain berusaha menghangatkan diri di rumah, makan ketika lapar, buang air ketika harus, dan kalau tidak ada badai... bermain salju. Saljunya putih, tebal, dan sangat lembut meski dingin. Akal sehatku kalah dengan naluri anak yang masih belia, aku berlarian di antara salju dan tentu saja saling melempar bola salju. Para pemuda-pemudi di dalam desa selalu serius jika bermain bola salju denganku, karena suatu hari, jiwaku terbakar perasaan membara untuk tidak ingin kalah dalam permainan apa pun.


Iya, aku kekanakan. Kugunakan semua kemampuan perangku saat di dunia sebelumnya, alhasil, aku—anak kecil—bisa menghadapi banyak orang yang jauh lebih dewasa dariku. Sejak saat itu, mereka jadi selalu serius dan kompetitif jika menghadapiku bermain bola salju.


Tapi, tak semuanya berjalan mulus di tempat ini. Badai, longsor, hujan deras berhari-hari, dan banyak bencana lainnya sering terjadi di sini, belum lagi ancaman monster-monster buas yang ada di sekeliling desa. Itu semua, jelas bukan sesuatu yang bisa dinikmati. Bisa dibayangkan kalau semua orang akan memilih untuk meninggalkan tempat semacam itu.


Tentu saja, aku pernah menyarankan ayah agar kita pergi dari desa ini, tapi ayah bersikukuh untuk tidak melakukannya. Yang membuatku terkejut adalah para penduduk desa pun setuju dengan keputusan itu. Di tengah-tengah tempat yang tidak menguntungkan ini, ayah menyebutkan kalau mereka banyak menemukan ketenangan.


Ketenangan macam apa? Aku pun tak tahu.


Yang jelas, sejauh ini, meski aku hanyalah satu-satunya anak kecil di sini, aku tak pernah merasa kesepian, kekurangan, dan dikelilingi oleh orang-orang yang ramah.


Ya, desa kami terisolir, desa kami juga tidak dilalui oleh pengembara, karena jalannya yang sangat sulit dan terjal. Aku juga yakin, tak ada yang mau repot untuk tinggal atau mengembara ke daerah kami karena kondisi alamnya yang begitu ekstrem. Jadi, selama tujuh tahun aku hidup di desa Sol, tak pernah aku melihat ada wajah lain selain orang-orang yang sejak awal tinggal di sini.


Hingga suatu hari, datanglah Freya dengan ayahnya Rodan. Semua penduduk desa menyambut mereka dengan kehangatan. Waktu itu aku ingat kalau ayah menyebut paman Rodan adalah bagian dari desa ini. Konteksnya adalah bagian dari suku, ras, atau keluarga. Entah, ayah dan ibu benar-benar menjaga rahasia mereka dengan rapat ketika aku ada di sana.


Saat itu juga, kulihat Freya, gadis mungil dengan mata bundar kehijauan dan rambut keemasan yang berkilau dan mengembang. Dari garis mukanya, ia tampak seperti gadis imut tanpa dosa yang selalu menjadi korban cubit setiap orang yang gemas melihatnya. aku yakin kalau suatu saat Freya akan tumbuh menjadi seorang yang cantik dan menawan. Masih seumur denganku saja sudah tampak garis-garis kecantikan yang akan semakin kentara di kemudian hari. Bagaimana nanti di masa depan?


Kuhilangkan pikiranku tentang Freya sesegera mungkin. Biar bagaimanapun, aku adalah orang dewasa yang terjebak di dalam tubuh anak-anak. Saat-saat seperti ini, aku sama sekali tak bisa menggunakan alasan kalau itu adalah ulah naluri tubuhku yang masih belia.


Perkenalan dengan Freya berawal baik, aku berhadapan dengannya lalu memperkenalkan namaku. Tak lama, ia menjabat tanganku sambil meraih tanganku.


“Aku Freya!” katanya riang.


Senyum tanpa dosa terkembang di wajahnya, senyum begitu ceria yang tak mungkin dibaliknya ada perasaan tersembunyi. Begitu suci dan murni.


Tapi... ia terlalu bersemangat.


Tangannya begitu erat menggenggam tanganku hingga jari-jariku nyaris remuk, belum lagi Freya sangat semangat menjabat tanganku hingga pandanganku naik turun seiring gerakan tangannya. Tubuhku seperti kapas di hadapan Freya, aku bak boneka anak perempuan yang bisa dengan mudah dilempar-lempar dan diayun-ayun. Kebetulan, saat itu aku baru saja selesai sarapan pagi... jadi, aku memuntahkan semuanya karena mual.


Kukira selama ini aku spesial, sungguh masih ada langit di atas langit. Rupanya aku naif.


Dari segi kekuatan murni, Freya berada jauh di atasku.


Aku sulit untuk mengakuinya, tapi, pertemuanku dengan Freya saat itu menjadi sebuah kenangan yang masuk ke dalam kategori trauma. Kenaifanku, juga perasaan merasa diri spesial adalah penyebabnya.


Sejak saat itu, aku selalu sengaja menghindari Freya. Sayang, aku sama sekali tak bisa kabur darinya. Hidungnya seperti hewan yang bisa membedakan dan mendeteksi bau dengan tepat. Jadi, meski aku berusaha bersembunyi, ia akan menemukanku dan selalu menyelinap dari belakang.


Ketika Freya menemukanku, ia akan memaksaku untuk menemaninya bermain hingga melakukan duel.


Untuk yang pertama aku sebutkan, kami biasanya main kejar-kejaran atau petak umpet. Meski aku cukup percaya diri pada kecepatanku, Freya selalu saja bisa mengejar dan bermain petak umpet dengan Freya sama saja dengan menulis di atas permukaan air, percuma.


Untuk yang kedua aku sebutkan, ini adalah satu-satunya hal yang masih membuatku percaya diri dan bisa menghadapi Freya dengan berani. Setidaknya ini adalah satu hal yang bisa kubanggakan dan memberiku percaya diri. Kekuatan, Freya tak perlu diragukan. Tapi jika berbicara soal taktik dan teknik bertarung, maka pengalamanku berada jauh di atasnya.


Cara berpikir Freya terlalu simpel, ia bergerak lurus menerjang untuk menyerang lawannya dengan kekuatan yang besar sekali. Tanpa taktik, tanpa teknik yang terasah. Di situlah aku bisa dengan mudah menghindari dan menyerang balik dengan kekuatanku tanpa usaha yang terlalu besar. Aku ingat betul berapa kali aku menang dari Freya. Dari 399 duelku dengannya, ada 3 kali aku kalah. Itu pun karena berbagai macam alasan yang membuatku mustahil menang.


Kasar dan menyeramkan adalah deskripsi yang cocok untuk Freya, akan tetapi biar bagaimanapun Freya adalah gadis kecil yang polos dan murni. Dia bisa merengek untuk hal kecil, dia juga bisa merajuk jika tak dapat hal yang sama denganku atau aku menolak bermain dengannya. Meski begitu, Freya tahu betul kapan ia harus menarik diri untuk tidak egois dan memerhatikan sekitarnya.


Suatu hari, ketika aku tiba-tiba jatuh sakit. Freya sama sekali berhenti menggangguku ketika mendengar aku sakit. Ia bahkan rela untuk diam dan tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun agar aku bisa tidur nyenyak. Di sebelah tempat tidurku, ia terus menunggu dengan mata berkaca-kaca, berharap agar aku kembali.


Freya terus melakukan itu hingga aku sembuh. Menunggu dari pagi hingga malam, hingga ia tertidur di sebelahku.


Untuk yang satu itu, aku memuji kepribadiannya. Freya benar-benar gadis yang menarik dan tak bisa ditebak. Begitu pikirku.


Tapi, ketika aku sembuh, semua kembali normal. Ia akan tetap berisik dan mengganggu.



...



Saat ini tubuhku secara alami menolak untuk pergi ke rumah Freya. Yang membuatku masih terus berjalan adalah ekspektasi dari semua penduduk desa yang sejak tadi menyapaku seiring aku berjalan. Mereka juga tahu, ini adalah hari ulang tahunku. Jadi, banyak dari mereka yang sengaja memberiku sesuatu. Makanan hingga banyak benda-benda sudah masuk ke dalam penyimpanan dimensiku. Tak kusangka, aku sudah dapat banyak hal, padahal aku belum keluar dari desa.


Terima kasih, aku tak akan mengecewakan kalian.


Tepat saat aku membulatkan tekadku, kurasakan ada kehadiran yang datang dengan sangat cepat dari belakangku.

__ADS_1


“Hyaaah!!! Kena kau!”


Sosok itu melewatiku dengan cepat saat aku menarik langkah ke samping.


“Uwwaaaah!” seketika ia terperosok ke dalam kubangan lumpur yang tebal.


“Apa-apaan sih kamu ini, belum apa-apa sudah cari ribut.”


Sosok yang sedang bermandikan lumpur itu tidak lain adalah Freya... atau mungkin bukan, karena saat dia berdiri dan keluar dari kubangan itu yang muncul adalah makhluk aneh yang semuanya terbuat dari lumpur.


“Wuah, seram!”


“Owaabbh! Behbbabuhh bahabbu!!!” teriaknya semangat. Seperti tadi, ia menerjang ke arahku tapi kecepatannya berkurang drastis, sangat mudah bagiku untuk lari darinya.


Kebetulan rumah Freya tinggal dekat dengan sungai. Sengaja kupancing ia ke arah sungai, ketika sudah dekat. Kuhalangi langkahnya hingga ia jatuh ke sungai. Semua lumpur yang menempel di tubuhnya langsung hanyut bersama dengan arus sungai yang tak begitu deras, hilang tak berbekas. Freya sekarang mengambang di atas permukaan sungai seperti ikan mati. Begitu terus, ia tak kunjung bangun.


Jika ini adalah pertama kalinya aku melakukan ini, maka aku pasti sudah khawatir dan langsung mengangkatnya dari sungai.


Kubiarkan saja dia mengambang seperti itu.


Sesaat kemudian...


“PHUAH!!!” Freya bangun tiba-tiba, rambutnya yang keemasan dan panjang tampak anggun karena semua titik-titik air diterpa matahari.


Sayangnya...


“OSWALD! Kamu jahat! Kenapa enggak menolongku!” protesnya dengan pipi menggembung.


Otaknya sedikit aneh.


“Kamu baik-baik saja?” Tanyaku sambil menjulurkan tangan yang tak lama diraih Freya, kemudian kutarik tubuhnya keluar dari badan sungai. Bajunya jelas basah. Di tengah udara yang dingin seperti ini, aku pasti kedinginan kalau masuk ke sungai yang pastinya tak kalah dingin. Tapi, Freya malah menyengir. Wajahnya kini diwarnai dengan kata ‘hehe.’


“Kamu jahat ih, kenapa tadi tidak menolongku?”


“Kamu pikir, sudah berapa kali kita melakukan ini, Freya?” Tanyaku singkat.


“Hmm? Maksud kamu apa, Oswald? Aku tidak mengerti.” Katanya polos sambil menggeleng-gelengkan kepala, sesaat sebelumnya wajah Freya sama dengan orang yang baru ketahuan mencuri.


“Jangan pura-pura enggak tahu, seakan kamu yang enggak melakukannya deh. Lagi pula, sudah sering melakukan ini pun, kamu enggak bela-”


“Aduh bajuku basah.” Katanya santai sambil meremas baju.


“Oh hehe, kamu bilang apa?”


“Aku bilang, sekali-kali belajarlah dari pengala-”


“Oswald! Hari ini aku akan mengalahkanmu!”


“Demi Sang Pencipta...” saat ini aku baru menyadari kalau menasihati Freya itu percuma adalah justru hal yang belum aku pahami. “Kita tidak punya banyak waktu, Freya. Sebelum matahari naik, kita harus sudah pergi berburu rusa abu-abu.”


“Berburu itu membosankan, Oz!”


“Bosan atau tidak, enggak ada hubungannya. Kita tetap harus melakukan ini, Freya. Kalau tidak, kita tidak bisa berulang tahun.”


“Oh... ehehe. Tapi, aku tetap ingin bertarung!”


“Haah, baiklah. Nanti kalau kita sudah dapat buruannya, aku akan ladeni kamu duel.”


“Benarkah? Janji? Kapan saja? Di mana saja?!” Tanyanya riang.


Ada apa dengannya? Bukankah biasanya ini yang kita lakukan? Duelku dan Freya bukanlah hal baru. Kapan saja? Di mana saja? Uh, itu sebenarnya terlalu sulit. Tapi, kali ini rasanya aku tak tega menolak. Matanya berkaca-kaca dan penuh harap, bagaimana aku bisa menghancurkan harapan gadis mungil ini?


Aku mengangguk mengiyakan.


“Ehehe, aku senang sekali.” Katanya dengan pipi merona merah. “Kalau begitu, janji ya?” ia mengulurkan jari kelingkingnya.


Saat ini, aku masih ingin bertanya-tanya, ada apa dengan Freya? Tidak biasanya ia seperti ini. Tapi, aku tak bisa membiarkan jari kelingking itu menggantung begitu saja.


“Janji.”


“Ehehe, dengan begini, aku bisa bersama-sama dengan Oswald terus.” Ucapnya malu-malu. “Terima kasih, Oswald. Ehehe.” Ucapnya tulus bersamaan dengan senyuman paling murni yang pernah kulihat sejauh ini.


Entah kenapa, melihat senyum itu wajahku jadi panas. Oh, tidak. Apa yang kupikirkan? Dia anak kecil!


“Uuatchi!” Freya bersin, suaranya langsung menyadarkanku dari pikiran-pikiran aneh.

__ADS_1


“Freya.” Dari belakangku, suara seorang ayah datang. “Segeralah masuk, ganti baju, dan bersiaplah untuk berburu.” Ia adalah paman Rodan. Ayah Freya.


“Baik, Ayaah. Oz, tunggu aku di sini ya.” Sahut Freya sambil berlari ke rumahnya.


“Pagi, Oz.” Sapa Paman Rodan padaku.


“Pagi, Paman.”


“Ini adalah hari pertama kamu berburu sendirian tanpa ditemani orang dewasa, apakah kamu siap?” Tanyanya sambil mendekat.


Paman Rodan berjalan santai. Pembawaannya pun santai. Sebenarnya aku agak sulit membedakan ketika ia sedang merasa santai atau emosi lainnya. Itu karena wajahnya yang nyaris selalu begitu saja, tidak pernah berubah. Matanya sipit dan bentuk kepalanya cenderung tirus dan lonjong. Orang akan sulit percaya kalau dia adalah ayah kandung dari Freya yang punya mata belo.


“Tentu saja Paman, aku tak akan mengecewakan siapa pun.”


“Hehe, aku percaya padamu.” Katanya menyengir. “Oh iya, aku dengar kamu banyak dapat hadiah?”


“Iya, aku tak menyangka hari ini semua memberiku banyak hadiah.”


“Maafkan aku, Oz. Aku tak sempat menyiapkan hadiah apa pun.”


“Tidak apa-apa, Paman. Aku bersyukur sudah dapat banyak, kalau dapat lagi, rasanya berat sekali untuk hatiku.”


“Banyak ekspektasi memang berat, ya? Hahaha. Ya ampun, aku seperti bicara dengan kawan sebaya, tiap kali berbicara denganmu, Oz.” Kata paman Rodan sambil tertawa puas.


“Hehehe...”


“Rasanya seperti bicara dengan orang yang sudah banyak pengalaman dan sangat mahir dalam melakukan apa pun.” Lanjutnya dengan nada yang datar. “Kalau begitu... mungkin kamu bisa...”


“Eh? Apa Paman?”


Air mukanya barusan sangat berbeda dari paman Rodan yang kukenal.


“A-ah, tidak... bukan apa-apa.”


“Oz! Aku siap!” Freya keluar rumah mendobrak pintu.


“Astaga..., Freya, kamu merusak pintunya lagi.”


“Ehehe, maaf, Ayah.”


“Tidak apa-apa. Berhati-hatilah saat berburu. Oswald, kamu laki-laki sejati kan? Tolong jaga anak perempuanku dengan baik.”


“Untuk yang satu itu, aku yakin Freya bisa mengatasinya sendiri. Tapi, untuk itu aku bisa berjanji untuk tidak mengecewakan paman.”


“Bagus, berangkatlah.”


“Sampai malam nanti, Ayah.”


“Sampai Jumpa, Paman.”


Begitu saja, aku dan Freya keluar dari desa untuk berburu rusa abu-abu sebagai tanda hari ulang tahunku dan Freya. Aku cukup percaya diri bisa melakukannya, meski begitu aku tetap berdoa agar semua berjalan baik-baik saja.


Sekali lagi kulihat ke desaku...


“Aku akan segera kembali.”


“Oswald! Kamu sedang apa? Ayo berangkat.”


“Iya, tunggu!”


“Oh, Oswald. Aku lupa ingin bertanya sesuatu.”


“Apa?”


“Emm, apakah kita teman?”


“Bertanya apa kamu ini...”


“Selby pernah berkata kalau teman adalah seseorang yang selalu ada untuk kita, ketika kita sedih dan kesulitan... u-umm, itulah sebabnya... aku ingin...”


“Dasar bodoh.” Kataku sambil menepuk kepalanya pelan. “Tentu saja kita teman.”


“Benarkah?”


“Kapan pun kamu membutuhkan pertolongan, aku pasti akan menolongmu.”

__ADS_1


“Ehehe, janji?”


“Janji.”


__ADS_2