Sanctuaria

Sanctuaria
A Peculiar Encounter


__ADS_3

“Hmm, kau sama denganku.”


“Hah?”


Hanya itu yang keluar dari mulutku ketika


seorang anak lelaki tiba-tiba datang padaku, menyidik, mengangguk, kemudian


mengatakan itu. Tentu saja aku tak mengerti apa yang dikatakannya.


“Biar aku bertanya sesuatu, ini penting. Kau


harus menjawabnya.” Satu telunjuknya naik dan sebelah matanya terpejam. “Apa


tujuanmu kemari?” Sebuah pertanyaan yang dilontarkan dengan nada sangat serius.


Kali ini, aku tak punya pilihan lain selain


untuk berpikir keras dan mencari tahu apa yang sedang diinginkannya.


“Kau tak perlu berpikir terlalu keras, aku


hanya ingin tahu apa yang kau lakukan di sini.” Lanjutnya masih dengan nada


serius.


Saat itu aku langsung menyadari, keberadaan


anak ini jauh berbeda dari semua anak di sekitar kami. Ketika kebanyakan


anak-anak yang diculik ini menangis dan merengek, dia tampak tidak terganggu


bahkan nyaris tak peduli dengan keadaan yang ada. Melintas di ingatanku suara


seseorang yang terdengar begitu pengecut.


“Kau... yang tadi merengek karena serangga


itu kan?”


Dia hanya tersenyum. Sungguh itu bukan


senyuman ramah, melainkan senyuman yang di dalamnya terdapat banyak arti.


“Aku tak ingin diingat sebagai orang pengecut


dan cengeng, tapi ya sudahlah. Aku tak peduli, tapi kau masih tetap harus


menjawab pertanyaanku. Apa tujuanmu kemari?”


“Kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Hmm, aku sudah mengira dari awal kalau kau


kemari untuk sebuah tujuan. Kalau tidak, kenapa tadi kau tak lari?”


Dia pasti membicarakan tentang bagaimana tali


yang mengikatku terpotong dan aku masih mengikuti rombongan anak-anak diculik


ini ke dalam panti asuhan.


“Kau bisa jadi gila atau kau sangat


pemberani.”


“Bagaimana orang masuk ke dalam panti asuhan


disebut gila? Aku tak punya rumah.”


“Masih mau berpura-pura? Kau sendiri pasti


sudah paham kalau ini bukan panti asuhan biasa. Mana ada anak-anak dibeli?”


Tangannya menunjuk hidungku. “Sudah mengaku saja.”


“Haah, baiklah...” Aku melihat ke sekeliling,


sebelum mengungkapkan apa-apa padanya.


Di dalam ruangan yang besar, luas dan tanpa


jalan keluar kecuali sebuah pintu ini, sudah tidak ada lagi penjaga. Saat


memasuki ruangan ini, empat wanita yang berpenampilan biarawati itu tak


mengikuti kami. Dari yang kudengar tadi, mereka dihalau oleh orang berbaju

__ADS_1


zirah yang tak ramah. Dia masuk ke dalam ruangan dan langsung berteriak


mengancam agar semua orang tetap patuh dan tidak macam-macam.


“Aku berniat menyelamatkan anak-anak ini.”


Kataku berbisik, agar tidak terdengar oleh anak-anak yang lain.


“Kenapa? Kurasa kau tidak berhutang apa pun


pada mereka.”


“Apa yang membuatmu berkata seperti itu?”


“Aku tak akan berkata apa-apa lagi kalau


menurutmu itu adalah hal terbaik untuk dilakukan.”


“Eksploitasi terhadap anak-anak tak pernah berujung


baik, terutama untuk hidup mereka di masa mendatang.”


“Hoo, rupanya aku bertemu dengan seorang


pahlawan kebenaran.” Dia menepuk-nepuk punggungku dengan keras.


“Oi, hentikan. Argh, sakit.”


“Hmm, tapi tuan pahlawan kebenaran. Kalau


memang itu yang kau inginkan, kenapa kau tak segera melakukannya sekarang juga?


Dari yang kulihat, kau sepertinya punya kemampuan yang lebih dari cukup untuk


melakukan itu.” Pandangan menyidik itu kembali tertuju padaku, seakan sudah


melihat sebuah rahasia yang aku sembunyikan.


“Kau... siapa kau sebenarnya?”


“Oh, maafkan ketidaksopananku. Tentu saja,


aku harus memperkenalkan namaku terlebih dahulu. Namaku Lei Mi- ehm. Maksudku


Lei Truden, aku adalah or-”


terdengar dari balik pintu, kemudian pintu itu terbuka dengan cara yang sama


kasarnya dengan suara itu. “Bagaimana kau bisa melupakan satu anak!!”


Seorang anak didorong masuk ke dalam ruangan.


Sementara itu, semua anak-anak yang ada di dalam terperanjat. Bahasa tubuh


mereka ketakutan, menjauh dari apa pun yang ada di pintu.


“Maafkan aku, aku sama sekali tak tahu.”


Sosok biarawati bernama Amana itu tampak di muka pintu dengan pipi memar.


“Cih! Tidak berguna!” hardik itu diikuti


pintu yang dibanding tertutup. Tak berhenti di situ, terdengar jelas kalau


penjaga kasar itu menyeret Amana pergi menjauh.


“Tidak bisa dimaafkan...”


“Lei?”


Lei mengepalkan tangannya hingga bergetar.


Dari kepalan tangan itu, aku bisa merasakan kekuatan dan niat membunuh yang


membuncah datang darinya. Aku tak perlu merasakan bagaimana rasanya dipukul


oleh kepalan tangan itu untuk mengerti kalau kepalan tangannya saat ini jauh


lebih keras dan kuat daripada metal terkuat yang aku tahu. Ekspresinya pun


jelas menunjukkan amarah. Jika Lei kehilangan kendali, aku bisa saja


melawannya. Tapi aku benar-benar tak yakin akan bisa menang melawannya.


Di sisi lain, aura pembunuh itu


perlahan-lahan menyeruak sehingga beberapa anak langsung jatuh pingsan

__ADS_1


karenanya, sebagian yang lain tampak kehilangan kesadarannya. Berbeda dari


jatuh pingsan, keadaan yang disebabkan oleh syok berlebihan.


Lei, siapa sebenarnya orang ini? Apakah dia


benar-benar manusia?


“Lei, Lei... tenanglah. Lihat apa yang kau


perbuat!”


“Uh... ah...” Lei melihat ke sekelilingnya.


“Egh, sial. Aku lupa menahan Ki-ku.”


“Apa yang akan terjadi pada mereka?”


“Tenang saja, mereka tidak akan apa-apa.


Hanya perlu waktu tiga jam sampai kesadaran mereka pulih.”


“Kau yakin?”


“Ki pada dasarnya adalah alat, bisa digunakan


untuk apa pun termasuk membunuh. Akan tetapi, Ki yang kukendalikan hanya akan


membunuh orang yang ingin kubunuh, tidak akan pernah salah sasaran. Kau tak


usah khawatir...”


“Oswald, namaku Oswald Sol. Kau boleh


memanggilku Oz.” Kuulurkan tanganku agar ia bisa bangun dari posisinya yang


sejak tadi bersila.


“Baiklah, Oz. Salam kenal.” Lei menyambut


tanganku dan aku menariknya segera.


“Hah, sudah kuduga. Kau bukan orang biasa,


masih sadar meski sudah terpapar Ki setebal itu dalam jarak dekat pula.” Dengus


Lei.


“Tidak mungkin aku tak terpengaruh sedikit


pun, Lei. Kau pun, bukan orang biasa.”


“Tentu saja, dan aku pun tahu kalau kau


adalah or-”


“Hei kalian.” Suara itu datang dari arah


pintu masuk.


Tak lain adalah anak yang tadi didorong masuk


ke dalam ruangan ini.


“Apakah kalian orang dari dunia lain?”


tanyanya segera setelah aku dan Lei menoleh padanya.


“Hah?” Aku tak percaya, selama sepuluh tahun


ini tiba-tiba ada yang bertanya seperti itu.


Akan tetapi, reaksi Lei yang lebih


mengejutkanku.


“Oi, seharusnya itu pertanyaanku!” Kata Lei


sambil berjalan ke arah anak laki-laki itu.


Jangan-jangan itu yang sejak tadi ingin


diungkapkannya.


“Lagipula, siapa kau ini?!”


“Oh, perkenalkan. Namaku Madre Ananta, aku

__ADS_1


juga orang dari dunia lain seperti kalian.”


__ADS_2