
“Hmm, kau sama denganku.”
“Hah?”
Hanya itu yang keluar dari mulutku ketika
seorang anak lelaki tiba-tiba datang padaku, menyidik, mengangguk, kemudian
mengatakan itu. Tentu saja aku tak mengerti apa yang dikatakannya.
“Biar aku bertanya sesuatu, ini penting. Kau
harus menjawabnya.” Satu telunjuknya naik dan sebelah matanya terpejam. “Apa
tujuanmu kemari?” Sebuah pertanyaan yang dilontarkan dengan nada sangat serius.
Kali ini, aku tak punya pilihan lain selain
untuk berpikir keras dan mencari tahu apa yang sedang diinginkannya.
“Kau tak perlu berpikir terlalu keras, aku
hanya ingin tahu apa yang kau lakukan di sini.” Lanjutnya masih dengan nada
serius.
Saat itu aku langsung menyadari, keberadaan
anak ini jauh berbeda dari semua anak di sekitar kami. Ketika kebanyakan
anak-anak yang diculik ini menangis dan merengek, dia tampak tidak terganggu
bahkan nyaris tak peduli dengan keadaan yang ada. Melintas di ingatanku suara
seseorang yang terdengar begitu pengecut.
“Kau... yang tadi merengek karena serangga
itu kan?”
Dia hanya tersenyum. Sungguh itu bukan
senyuman ramah, melainkan senyuman yang di dalamnya terdapat banyak arti.
“Aku tak ingin diingat sebagai orang pengecut
dan cengeng, tapi ya sudahlah. Aku tak peduli, tapi kau masih tetap harus
menjawab pertanyaanku. Apa tujuanmu kemari?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Hmm, aku sudah mengira dari awal kalau kau
kemari untuk sebuah tujuan. Kalau tidak, kenapa tadi kau tak lari?”
Dia pasti membicarakan tentang bagaimana tali
yang mengikatku terpotong dan aku masih mengikuti rombongan anak-anak diculik
ini ke dalam panti asuhan.
“Kau bisa jadi gila atau kau sangat
pemberani.”
“Bagaimana orang masuk ke dalam panti asuhan
disebut gila? Aku tak punya rumah.”
“Masih mau berpura-pura? Kau sendiri pasti
sudah paham kalau ini bukan panti asuhan biasa. Mana ada anak-anak dibeli?”
Tangannya menunjuk hidungku. “Sudah mengaku saja.”
“Haah, baiklah...” Aku melihat ke sekeliling,
sebelum mengungkapkan apa-apa padanya.
Di dalam ruangan yang besar, luas dan tanpa
jalan keluar kecuali sebuah pintu ini, sudah tidak ada lagi penjaga. Saat
memasuki ruangan ini, empat wanita yang berpenampilan biarawati itu tak
mengikuti kami. Dari yang kudengar tadi, mereka dihalau oleh orang berbaju
__ADS_1
zirah yang tak ramah. Dia masuk ke dalam ruangan dan langsung berteriak
mengancam agar semua orang tetap patuh dan tidak macam-macam.
“Aku berniat menyelamatkan anak-anak ini.”
Kataku berbisik, agar tidak terdengar oleh anak-anak yang lain.
“Kenapa? Kurasa kau tidak berhutang apa pun
pada mereka.”
“Apa yang membuatmu berkata seperti itu?”
“Aku tak akan berkata apa-apa lagi kalau
menurutmu itu adalah hal terbaik untuk dilakukan.”
“Eksploitasi terhadap anak-anak tak pernah berujung
baik, terutama untuk hidup mereka di masa mendatang.”
“Hoo, rupanya aku bertemu dengan seorang
pahlawan kebenaran.” Dia menepuk-nepuk punggungku dengan keras.
“Oi, hentikan. Argh, sakit.”
“Hmm, tapi tuan pahlawan kebenaran. Kalau
memang itu yang kau inginkan, kenapa kau tak segera melakukannya sekarang juga?
Dari yang kulihat, kau sepertinya punya kemampuan yang lebih dari cukup untuk
melakukan itu.” Pandangan menyidik itu kembali tertuju padaku, seakan sudah
melihat sebuah rahasia yang aku sembunyikan.
“Kau... siapa kau sebenarnya?”
“Oh, maafkan ketidaksopananku. Tentu saja,
aku harus memperkenalkan namaku terlebih dahulu. Namaku Lei Mi- ehm. Maksudku
Lei Truden, aku adalah or-”
terdengar dari balik pintu, kemudian pintu itu terbuka dengan cara yang sama
kasarnya dengan suara itu. “Bagaimana kau bisa melupakan satu anak!!”
Seorang anak didorong masuk ke dalam ruangan.
Sementara itu, semua anak-anak yang ada di dalam terperanjat. Bahasa tubuh
mereka ketakutan, menjauh dari apa pun yang ada di pintu.
“Maafkan aku, aku sama sekali tak tahu.”
Sosok biarawati bernama Amana itu tampak di muka pintu dengan pipi memar.
“Cih! Tidak berguna!” hardik itu diikuti
pintu yang dibanding tertutup. Tak berhenti di situ, terdengar jelas kalau
penjaga kasar itu menyeret Amana pergi menjauh.
“Tidak bisa dimaafkan...”
“Lei?”
Lei mengepalkan tangannya hingga bergetar.
Dari kepalan tangan itu, aku bisa merasakan kekuatan dan niat membunuh yang
membuncah datang darinya. Aku tak perlu merasakan bagaimana rasanya dipukul
oleh kepalan tangan itu untuk mengerti kalau kepalan tangannya saat ini jauh
lebih keras dan kuat daripada metal terkuat yang aku tahu. Ekspresinya pun
jelas menunjukkan amarah. Jika Lei kehilangan kendali, aku bisa saja
melawannya. Tapi aku benar-benar tak yakin akan bisa menang melawannya.
Di sisi lain, aura pembunuh itu
perlahan-lahan menyeruak sehingga beberapa anak langsung jatuh pingsan
__ADS_1
karenanya, sebagian yang lain tampak kehilangan kesadarannya. Berbeda dari
jatuh pingsan, keadaan yang disebabkan oleh syok berlebihan.
Lei, siapa sebenarnya orang ini? Apakah dia
benar-benar manusia?
“Lei, Lei... tenanglah. Lihat apa yang kau
perbuat!”
“Uh... ah...” Lei melihat ke sekelilingnya.
“Egh, sial. Aku lupa menahan Ki-ku.”
“Apa yang akan terjadi pada mereka?”
“Tenang saja, mereka tidak akan apa-apa.
Hanya perlu waktu tiga jam sampai kesadaran mereka pulih.”
“Kau yakin?”
“Ki pada dasarnya adalah alat, bisa digunakan
untuk apa pun termasuk membunuh. Akan tetapi, Ki yang kukendalikan hanya akan
membunuh orang yang ingin kubunuh, tidak akan pernah salah sasaran. Kau tak
usah khawatir...”
“Oswald, namaku Oswald Sol. Kau boleh
memanggilku Oz.” Kuulurkan tanganku agar ia bisa bangun dari posisinya yang
sejak tadi bersila.
“Baiklah, Oz. Salam kenal.” Lei menyambut
tanganku dan aku menariknya segera.
“Hah, sudah kuduga. Kau bukan orang biasa,
masih sadar meski sudah terpapar Ki setebal itu dalam jarak dekat pula.” Dengus
Lei.
“Tidak mungkin aku tak terpengaruh sedikit
pun, Lei. Kau pun, bukan orang biasa.”
“Tentu saja, dan aku pun tahu kalau kau
adalah or-”
“Hei kalian.” Suara itu datang dari arah
pintu masuk.
Tak lain adalah anak yang tadi didorong masuk
ke dalam ruangan ini.
“Apakah kalian orang dari dunia lain?”
tanyanya segera setelah aku dan Lei menoleh padanya.
“Hah?” Aku tak percaya, selama sepuluh tahun
ini tiba-tiba ada yang bertanya seperti itu.
Akan tetapi, reaksi Lei yang lebih
mengejutkanku.
“Oi, seharusnya itu pertanyaanku!” Kata Lei
sambil berjalan ke arah anak laki-laki itu.
Jangan-jangan itu yang sejak tadi ingin
diungkapkannya.
“Lagipula, siapa kau ini?!”
“Oh, perkenalkan. Namaku Madre Ananta, aku
__ADS_1
juga orang dari dunia lain seperti kalian.”