
“Hik… hik… huhuuu…”
“Aaaa, aku ingin pulaaaang!”
“Diam!” suara tamparan terdengar nyaring di tengah hutan yang sunyi senyap. “Ikut saja, atau kau kubunuh!”
Gertakan itu langsung membuat anak kecil di depannya tertunduk ketakutan. Meski air matanya tetap mengalir, tapi ia berusaha sekuat tenaga agar tidak berteriak.
Ada banyak anak kecil yang diikat tangannya dalam satu tali panjang. Karena aku bersembunyi di balik pohon, aku tak bisa menebak dengan jelas berapa banyak jumlahnya.
Sejak masuk ke dalam hutan, aku terus mengikuti mereka karena segera setelah aku masuk ke dalam hutan yang kutemui adalah mereka.
Melihat perlakuan mereka yang memaksa anak seumuranku, jelas hatiku berkata untuk menyelamatkan mereka. Kemungkinanku untuk menang juga tidak tipis. Melihat dari postur tubuh mereka juga persenjataan yang mereka miliki, dan terakhir naluriku yang berkata demikian.
Meski begitu, yang membuatku tidak melakukannya sama sekali adalah…
“Hei! Apa maksudmu! Kau mau membunuhnya!? Sebelum dia kau bunuh, aku dulu yang akan membunuhmu!” kata seorang dari mereka yang tampak sedikit lebih kuat.
“E-eh, boss??”
“Astaga, kau anak baru?”
“I-iya boss, aku baru hari ini masuk kumpulan Bandit Sore.”
Bandit Sore?! Nama macam apa itu?!
“Haah, ya ampun.” Kata si boss sambil menghela napas panjang. “Dengar! Kita berhenti dulu di sini, istirahat dulu! Kita sudah berjalan cukup jauh, maaf karena aku tak sadar kalian kelelahan.”
Boss mereka perhatian sekali! Tidak seperti wajahnya yang menyeramkan.
Tak hanya si boss menyuruh semua orang untuk beristirahat, mereka juga memberi makan dan minum kepada anak-anak yang masih diikat itu.
Si boss bandit mengingatkan agar mereka tidak kasar pada anak-anak itu.
Jelas, si bandit yang katanya baru masuk ke kumpulan bandit sore itu kebingungan. Apalagi ketika si boss bandit mengobati pipi anak yang baru saja ditampar.
“Maafkan anak buahku, kau baik-baik saja. Jangan takut ya.” Katanya dengan lembut.
Aku tahu dia berkata lembut dan aku juga bisa melihat dia tersenyum. Tapi, posisi tetap diikat dan tidak boleh kabur itu sama sekali bertolak belakang dengan kebaikan yang baru ditunjukkannya!
Sekarang, tak cuma si anak baru. Aku juga bingung.
Sengaja aku mendekat ketika si boss mengajak bicara si anak baru di tempat terpisah bersama dua anak buahnya. Sementara itu anak buahnya yang lain menjaga agar tak ada anak yang kabur.
“Hei anak baru, kenapa kau masuk kumpulan Bandit Sore?”
“Untuk menjadi bandit ternama!”
“Bodoh!” kata si boss sambil menampar anak buahnya, padahal ia sudah menjawab dengan begitu antusias. “Dengar anak baru. Kita kumpulan Bandit Sore adalah bandit yang terhormat.”
Kata bandit dan kata terhormat sama sekali tak cocok berdampingan.
“Kau tahu anak-anak itu siapa?”
“Tidak boss.” Jawab anak buahnya yang masih duduk di tanah sambil mengusap-usap pipinya.
“Sesungguhnya aku pun tidak.”
Oi! Gimana sih?!
“Tapi aku tahu, kalau mereka itu adalah anak yatim piatu!” lanjut si boss semangat.
“Yatim piatu boss?”
“Benar, mereka adalah anak-anak yang tidak punya tempat tinggal untuk berlindung dari dinginnya udara malam, dari kerasnya hati manusia yang busuk, dan dari hujan.”
“Lah, terus boss. Tadi ada anak yang bilang ingin pulang, bukankah itu artinya dia punya rumah?”
Si boss tak langsung menjawab. Ada keheningan yang begitu kentara di antara para bandit itu.
“Anak itu… mungkin punya rumah. Tapi sekarang kan tidak. Hahaha haha ha aha!”
Ngaco sekali boss mereka itu.
“Tapi yang jelas!! Saat kita mencu- ehem! Menemukan mereka…”
“Dan membawa paksa.”
“Ssssh!!!” Jari si boss bandit menekan mulut bawahannya yang barusan bicara. “…mereka tidak punya rumah. Maka dari itu kita akan memberi mereka rumah!”
“Bagaimana bisa boss? Kita sendiri makan saja susah.”
Si boss bandit kemudian mengeluarkan pisaunya.
“Bisa diam dulu tidak?”
“O-oke boss.”
“Mereka itu justru akan kita bawa ke tempat yang lebih baik dari rumah mereka, namanya panti asuhan Saint Rose. Di sana mereka akan mendapat tempat tinggal, makanan, dan pendidikan yang jauh lebih baik daripada yang bisa kita,orang dewasa, harapkan.”
“Kukira kita akan menjual mereka boss.”
Ya, itu juga yang aku pikirkan, kupikir mereka akan dijadikan anak buah atau semacamnya.
“Hehehe, itulah kenapa kita harus memperlakukan mereka dengan baik. Karena Saint Rose akan membayar kita dengan jumlah uang yang besar. Terlebih kalau anak-anak itu kita kirim dalam kondisi yang baik.”
Panti asuhan membayar bandit itu untuk anak-anak dalam kondisi baik? Ada yang tidak beres.
“Makanya, kau jangan gegabah! Menampar anak-anak itu, bagaimana kalau memar?”
“Maafkan aku boss… tapi, apa yang sebenarnya mereka butuhkan dari anak-anak itu?”
“Percayalah aku juga tak tahu detailnya. Yang jelas, anak-anak itu akan bekerja di sana. Selebihnya aku tak tahu. Mereka sangat tertutup. Informasi itu berhasil kudapatkan karena aku sudah tiga tahun berbisnis ini dengan mereka… tapi, ada juga rumor yang mengatakan kalau di sana ada sebuah Sanctuaria.”
__ADS_1
“Sanctuaria!?”
“Iya, kalau itu memang benar… pantas saja mereka merahasiakannya. Tapi, sudahlah… itu sama sekali bukan urusan kita.”
Hmm, artinya sudah banyak anak-anak yang mereka kirim ke panti asuhan Saint Rose yang mereka sebutkan itu. Percakapan di antara mereka jelas menyebutkan kalau yang mereka lakukan bukanlah perbuatan baik. Di antara anak-anak itu juga ada yang menangis ingin pulang. Pilihannya sekarang adalah menyelamatkan mereka, kemudian bertanya pada bandit-bandit itu di mana letak panti asuhan Saint Rose. Atau…
“Istirahatnya sudah selesai! Ayo jalan lagi! Hei kau, sampai nanti kita ke tempat tujuan, berjagalah di paling belakang. Jangan biarkan ada yang kabur.”
“Siap boss!”
Anak buah si boss berjalan menuju bagian paling belakang.
“Hmm? Kau…”
“Ya?”
“Aku tak ingat kau ada di barisan ini.”
“Bukankah sejak tadi kau di depan? Mana mungkin tahu apa yang ada di belakang?” balasku bertanya.
“Hmm… ah, sudahlah. Pusing aku habis dimarahi.” Katanya sambil menggaruk-garuk kepala.
Untuk memastikan semuanya baik-baik saja, ia mengecek apakah ikatan di tangan anak-anak yang ada dan tanganku cukup kuat.
“Ayo berangkat!” kata si anak buah yang nada bicaranya masih sama seperti tadi.
Sekarang, aku berangkat dengan mereka menuju ke Saint Rose. Aku memutuskan untuk menyelamatkan semua anak yang diculik ke sana… jika memang itu yang harus kulakukan, semuanya akan kuputuskan nanti setelah menimbang-nimbang keadaan yang ada. Yang paling membuatku nekat untuk menyusup ke dalam rombongan ini adalah rumor tentang Sanctuaria.
Aku sangat ingin melihatnya.
Bisa saja aku naif dengan mempercayai rumor belaka. Akan tetapi… naluriku justru berkata untuk ikut dengan mereka.
Semoga Sang Pencipta selalu membimbing jalanku.
Dari tempat mereka beristirahat hingga ke tempat tujuan, tanpa kusangka lebih cepat dari perkiraanku. Selain itu, meski di dalam hutan, jalannya rata dan nyaris tanpa gangguan. Meski sekarang kami masih berjalan, tapi aku bisa tahu kalau kita sudah sampai di tempat tujuan.
Itu karena, belum lama semua bandit itu menutup pandangan kami dengan penutup mata dan menyumpal mulut semua orang. Seketika tak terdengar lagi ada tangisan, ah tentu saja bukan karena mereka tak mau menangis atau mengeluh, melainkan karena sumpalan mulut yang benar-benar dalam. Alasan mereka melakukan ini tidak lain, adalah agar semua barang yang mereka jual ke panti asuhan itu tak tahu arah dan jalan. Dengan demikian kesempatan untuk melarikan diri sangat tipis.
“Berhenti, kita sudah sampai.”
Dengan pendengaranku, aku bisa mendengar ada sebuah gerbang besar tengah dibuka. Kemudian seorang dengan langkah yang ringan keluar.
“Kau datang juga.” Ucapnya dingin. Dari suaranya terdengar jelas kalau ia adalah wanita dewasa.
“Ehehe, maaf. Kami harus beristirahat beberapa kali. Tapi, jangan khawatir. Semua anak-anak ini sehat dan tak ada yang cacat.”
“Hmmm, bagus…” Wanita tersebut berjalan dan melihat-lihat ‘barang’ yang dibawa sang bandit.
Langkah itu semakin dekat, hingga akhirnya giliranku. Wanita tersebut memegang dagu dan melihat wajahku dengan seksama.
“Baiklah, kali ini pun tak ada masalah. Kuberi kau 2 gold 10 silver.”
“Eh?” kata si boss justru heran mendengar jumlah itu.
“Aah, tentu saja bukan begitu, nyonya Talia. Aku akan menerimanya dengan senang hati.”
Tentu saja boss bandit itu kebingungan, karena satu anak dihargai sepuluh silver. Sementara yang ada di sini totalnya 21 anak.
“Bawa mereka ke dalam, lalu segera pergi dari sini.” Kata wanita bernama Talia itu masih sama dinginnya. “Tapi, sebelum itu… hei, dari mana kau mendapatkan anak-anak ini?”
“Eh? Ada apa ini? Tak biasanya Saint Rose menanyakan dari mana asalnya anak-anak yang kubawa.”
“Jawab saja!” Bentak wanita bernama Talia itu.
“I-iya baiklah, eee… hei, dari mana saja kalian membawanya?” Tanya si boss pada anak-anak buahnya.
Ada yang bilang di hutan, anak-anak yang kabur dari desanya karena tidak ingin dijual. Ada yang bilang memungut beberapa dari jalan. Ada juga yang bilang sengaja diculik ketika sendirian.
“Hei anak baru, kalau kau bagaimana?”
“Oh, iya. Aku bawa satu anak yang itu… dari kota Hortensia.”
“Apa kau bilang?” tanya si wanita.
“Eh? Kau tidak dengar? Aku bawa dia dari Hor-”
“BODOOOH!!!” Si boss langsung memukul si anak buah yang tadi sampai terpental menabrak pohon. Aku bisa mendengar semuanya dengan jelas.
“Jelaskan apa maksudnya ini!”
“S-sabar dulu nyonya.”
“Dasar tidak berguna! Pantas saja dari kemarin banyak knight dari Hortensia datang kemari. Hei, bawa anak itu pergi dari sini. Aku tak butuh lebih banyak masalah. Uang yang akan kuberikan padamu juga aku kurangi 50 silver.”
“Aduh, nyonya Talia. Tolong jangan begitu, itu hanya kesalahan kecil.”
“Diam!! Lakukan saja dan segera pergi dari sini!”
“Ergh, dasar wanita bedebah!!” si boss membentak, bisa kurasakan amarah dan aura membunuh darinya. “Aku sama sekali tak bisa diam kalau begini caranya.”
Suara benda metalik berdenting, ia mengeluarkan senjata dari sarungnya.
“Apakah kau sadar apa yang sedang kau lakukan?” tanya Talia dengan nada yang perlahan berubah.
“Hei Bandit Sore!!!”
“HUUUH!!!” Serentak para bandit mengentakkan suara mereka.
“Aku berubah pikiran! Mulai hari ini kita tidak akan tunduk lagi pada mereka! Kita akan menjarah semua yang ada di balik gerbang itu!”
“YAAAAA!!!!”
Oi oi, mana moto bandit terhormat yang kalian ucapkan tadi?
__ADS_1
“Kalian tak takut mati?”
“Takut mati? Lihatlah jumlah kami! Lagipula, apakah kau pikir aku tak tahu kalau di dalam sana cuma ada satu bangunan? Jumlah kalian pasti sedikit! Apa yang bisa anak-anak panti asuhan lakukan? Haaah?!”
“Hoo…”
Ctas!
Suara cambuk terdengar.
“Anjing memang bisanya cuma menyalak.”
“Apa kau bilang?”
“Ooh, tidak tidak… maafkan aku. Suara kalian bahkan lebih buruk dari decitan tikus.”
“APAAA?!”
“Hmm? Tidak suka? Kalau begitu kalian tak ubahnya seperti serangga.”
“Bersiaplah mati wanita!!!”
Pertarungan tak terelakkan lagi. Jumlah bandit yang jelas lebih banyak melawan seorang wanita dewasa dengan cambuk di tangannya. Dengan logika dari duniaku yang sebelumnya, yang seperti ini bisa saja terjadi dengan hasil yang di luar perkiraan. Misalnya ternyata wanita tersebut ternyata adalah demon, tentu saja dia akan menggunakan magic untuk melawan dan bisa dengan mudah
“Aaaah!!!!!!!” suara yang lebih nyaring datang tepat di depanku. “Aaaada serangga di sepatukuuuu!!! AAAAAAAAAAAA!!!!” Dia meronta dan bergerak-gerak tanpa henti.
Terang saja, merontanya anak laki-laki di depanku menyeret banyak anak-anak yang lain bergerak dengannya. Kami semua diseret anak laki-laki itu ke arah sang boss bandit dan Talia.
“OI! Apa yang kau lakukan?!”
Anak laki-laki itu menabrak sang boss bandit. Di saat yang bersamaan pegangannya goyah dan senjata yang dipegangnya memotong tali yang mengikatku.
“SERANGGAAAA!!! AKU BENCI SERANGGA!!!”
“Hmh! Enyah kalian!” kata Talia dengan suara penuh penekanan.
Seketika suara pecut beruntun terdengar, diikuti suara tubuh para bandit yang menabrak pohon.
Tak ada lagi suara terdengar dari mulut mereka. Mungkin mereka pingsan? Aku tak tahu, yang jelas sebagus apa pun pendengaranku, saat ini mataku tertutup rapat.
Sesaat kemudian, tanpa mengatakan apa-apa lagi, Talia membawa kami masuk. Kami dibawa ke dalam sebuah ruangan dan diminta duduk tanpa melepaskan ikatan kami.
Ada beberapa langkah kaki yang datang dari ujung ruangan. Tiap langkah kaki yang mereka buat menggema, bisa dipastikan kalau ini adalah sebuah ruangan yang luas dan besar.
Dari jumlah langkah kakinya, ada tiga orang.
“Apakah kita bisa mulai sekarang?”
Kata satu orang wanita yang berdiri paling kiri.
“Baiklah, silakan. Tapi ingat untuk memperlakukan mereka dengan lembut, di depan tadi benar-benar kacau.”
“Iya, kita lihat semuanya.”
“Terus kalian enggak membantuku?” keluh Talia.
“Kamu lebih dari cukup. Enggak usah sok lemah deh.”
“B-berisik.”
“Ayo ikut aku… ssh, tak usah takut. Aku tak akan menyakitimu.”
Suara satu dari mereka menyambut satu anak yang sepertinya penyumpal mulut dan penutup matanya ia lepas. Dari nada suaranya yang lembuat, sepertinya benar-benar tidak ada pemaksaan. Anak yang berjalan besamanya juga tak melawan.
Setelah semua anak yang lain dibawa pergi, tiba saatnya giliranku.
"Kamu yang terakhir ya.” Ucapnya sambil membuka penutup mata dan penyumpal mulutku. “Wah… ya ampun, anak ini tampan sekali."
“Mana-mana? Oooh, iya. Anak ini tampan sekali.”
Beberapa wanita dewasa datang dan mengelilingiku. “Dua dari mereka bahkan mencubit-cubit pipiku.”
“Tolong hentikan.”
“Oh, maaf ya… hehe, anak sebelum kamu juga tampan sekali. aku jadinya gemas.” Kata sambil terkekeh-kekeh.
“Hei, Halisa, hentikan.”
“Iya maaf-maaf.”
“Egh, dasar penyuka anak kecil. Kamu juga Yulisti.”
“Kamu sendiri, enggak usah sok-sok menahan diri deh. Amana.”
“Uuh…”
“Sudah-sudah-sudah-sudah-sudah.” Talia kemudian menghentikan yang lain sambil menepuk tangannya.
“Wah, lima kali.”
“Ingat tugas kalian. Toh nanti juga kalian akan bertemu dengan mereka lagi di dalam.”
“Uh… maaf, aku ada di mana?”
“Karena kamu yang terakhir, bolehkah aku bertanya siapa namamu?”
“A-aku Oswald.”
“Oswald, selamat datang di panti asuhan Saint Rose.”
__ADS_1