Sanctuaria

Sanctuaria
A Letter


__ADS_3

“Freya adalah bagian dari kami.” Kata-kata Agatha itu mengawali perbincangan kami tentang apa yang dilakukan seorang Valkyrie di sini.


Sejujurnya aku tak begitu terkejut mendengarnya. Sejak mengetahui identitas Agatha yang seorang valkyrie dan tujuan utamanya yaitu Freya. Tak ada penjelasan lain, selain Freya adalah seorang dari mereka.


“Tunggu… aku tak mengerti. Jadi Freya bukan manusia.”


Agatha menggeleng pelan. Ia menatap secangkir teh di gelasnya sebentar, sebelum mulutnya melontarkan kata-kata.


“Kalau aku memulainya dengan apa itu valkyrie, rasanya akan terlalu panjang.”


“Tolong, penjelasan yang singkat saja.”


“Dia adalah anak yang hilang, valhalla waktu itu kehilangan seorang bayi perempuan. Dan kami tidak bisa menemukannya, hingga singkat cerita… ibumu, menggunakan runekraft tertinggi dan kami bisa melihat semuanya dari Valhalla.”


Runekraft tingkat tinggi, sudah kuduga pasti ada hubungannya dengan apa yang dilakukan oleh ibu.


“Harus kamu tahu Oswald, ibumu sangat dekat dengan kami para valkyrie.”


“Benarkah?!”


“Benar.”


“Kalau begitu bisa kam-”


“Tidak.”


“Aku bahkan belum selesai.”


“Oswald, kamu kalau sudah bicara soal ibu dan ayah, pasti langsung kekanakan.”


“Ugh…”


“Oleh karena itu, aku tak akan mengucapkan apa-apa. Meski kamu telah ditakdirkan menjadi companion-ku di masa depan, tapi dewi Frigga melarangku mengatakan apa pun.”


“Baiklah, aku mengerti.”


Sebenarnya aku ingin bertanya banyak hal tentang ibuku. Misalnya tentang keluarganya, tentang masa kecilnya, dan tentang kekuatannya yang dahsyat itu.


“Kamu tidak perlu bersedih, Oswald. Suatu saat kamu pasti akan mengetahui apa yang kamu inginkan.”


“Baiklah, terima kasih, Agatha.”


Cara bicara Agatha juga postur tubuhnya sebenarnya mirip dengan ibuku. Saat ini, aku tak ubahnya seperti sedang bicara dengan ibuku sendiri.


“Lalu, tentang Freya. Kapan kamu akan mengambilnya ke Valhalla?”


“Oh, jadi kamu mempercayaiku?”


“Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tapi, aku bisa apa?”


“Hmm, jika kamu masih ragu… aku punya sesuatu untukmu.” Freya mengangkat tangannya, kemudian setitik cahaya berkumpul di atas telapak tangannya. Kumpulan cahaya itu menjadi tebal hingga akhirnya menjadi sebuah kotak persegi yang tampak mewah. Kotaknya berwarna hitam dengan berbagai ornamen di seluruh sisi sudutnya.


Tapi… rasanya ada yang aneh, apakah dia baru saja menarik benda itu dari penyimpanan dimensi atau bagaimana?


“Ada apa?”


“Apa yang baru saja kamu lakukan?”


“Ini? Bukankah kamu juga memilikinya, penyimpanan dimensi.” Jawabnya heran. “Oh, aku tahu… kamu pasti heran, kenapa begitu lambat. Iya kan?”


“Iya.”


“Kalau begitu, aku mau lihat bagaimana kamu melakukannya.”


Aku langsung memikirkan sebuah apel pemberian salah satu penduduk desa berada di tanganku. Begitu saja, apel itu muncul tanpa ada alang rintang.


“Woow, luar biasa.”


“Apanya?”


“Hihi, kalau orang langsung ada di puncak tidak akan tahu bagaimana rasanya menaiki tangga.” Agatha terkekeh-kekeh geli. “Di dunia ini, penyimpanan dimensi itu sesuatu yang dianggap wajar, meski begitu ia tetaplah langka. Pun ketika seseorang memilikinya, tak semua bisa mengendalikan dan tak semua bisa secepat yang kamu lakukan.”


“Eh? Benarkah?”


“Aku tidak berbohong. Tergantung kompleksitas bendanya. Hmm, coba berikan apel itu padaku.”


Begitu apelnya ada di tangan Agatha, apel itu langsung menghilang. Tak lama Agatha memunculkannya kembali di tangannya.


“Itu tidak seperti yang tadi.”


“Hehe, tentu saja. Karena sebuah apel sangat sederhana. Bagaimana dengan sebuah senjata?”


Freya mencoba memunculkan sebuah senjata di tangannya, kali ini cahaya itu berkumpul tapi sedikit lebih cepat, hingga kemudian sebilah pedang muncul di tangannya.


“Ini adalah yang paling cepat yang kubisa, mengembalikannya pun butuh waktu yang kurang lebih sama.”


“Oohh…”


Itu artinya apa yang diberikan ibuku benar-benar melebihi norma tentang penyimpanan dimensi yang ada di dunia ini.


“Kamu sekarang mengerti kan, betapa ibumu menyayangimu?”


Sebuah senyuman terkembang begitu saja di wajahku.


"Iya, aku sangat mengerti."


“Nah, sekarang… kotak ini. Ini adalah kotak Galdivaris. Sebuah hak yang hanya dimiliki para dewa, kamu pasti sudah bisa menebak kalau isinya sesuatu yang luar biasa.”


“Iya, sejujurnya aku takut. Karena benda yang kuterima dari ayah dan ibuku saja sudah luar biasa. Tidak, lebih dari itu. Dan sekarang kamu mengatakan kalau benda ini untukku. Boleh aku menolaknya?”


“Tidak.”


“Ugh.”


“Hihihi, kamu enggak perlu takut. Kotak ini hanya berisi dua hal. Yang satu, adalah sebuah pesan. Yang lain, adalah sesuatu yang tak kamu sangka.”


“Aku tahu, kalau itu adalah pemberian. Sangat tidak sopan sekali kalau aku mengatakan ini.”


“Katakan saja.”


“Untuk sebuah benda pemberian seorang dewi, penjelasannya sangat tidak jelas.”

__ADS_1


“Hihihi, aku penasaran bagaimana reaksi dewi Frigga mendengarmu berkata begitu. Tapi, kamu enggak perlu khawatir. Dua hadiah itu sangatlah jelas apa tujuan dan maksudnya.” Kata Agatha sambil menyerahkan kotak itu padaku.


“Baiklah.” Sambutku menerima kotak itu di tanganku. “Bolehkah aku membukanya sekarang?”


“Tentu saja, itu milikmu. Faktanya, setelah kamu mengambil kedua isinya, kotak itu akan kembali pada pemiliknya, dewi Frigga.”


Ketika kubuka kotak tersebut muncul benda pertama, sesuai seperti yang disebutkan Agatha, sebuah pesan. Ada sebuah surat yang muncul, surat yang dilipat sedemikian rupa yang disegel lilin merah.


“Itu adalah pesan yang kumaksud.” Kata Agatha.


Perlahan-lahan aku membukanya, dan begitu surat itu terbuka… semua pesan yang ada di dalamnya langsung masuk ke kepalaku. Isinya berlalu di kepalaku seperti halnya sekumpulan awan kecil yang melayang-layang di langit perlahan, tak memperdulikan apa pun.


Karenanya, setetes air mata mengalir di wajahku.


“Ayah… Ibu… Terima kasih.”


Agatha sejak tadi hanya menunduk seraya tersenyum lembut. Sepertinya ia mengerti apa yang sedang kualami dan kurasakan.


“Agatha, terima kasih.”


“Sama-sama, aku hanya menyampaikan apa yang ingin disampaikan dewi Frigga padamu… aku tak tahu apakah aku boleh mengatakan ini atau tidak, akan tetapi, ibumu sepertinya meminta agar dewi Frigga menyampaikan pesan terakhirnya.”


“Begitu ya…, meski telah tiada Ibu tetap mengkhawatirkanku.”


“Selby adalah perempuan yang luar biasa. Aku tahu itu.”


“Hehe, dia ibuku.” Ucapku menyengir.


“Tentu saja.” Balas Agatha masih dengan senyum lembutnya. “Oswald, kamu juga perlu melihat apa hadiahmu selanjutnya.”


“Hmm? Kamu bilang ini sesuatu yang tak aku sangka. Apa maksudnya?”


“Kalau maksud pertanyaanmu adalah apakah itu sebuah benda, bisa jadi. Jika dewi Frigga berkata itu sesuatu yang tak kamu sangka, maka siapa pun tak akan bisa menyangka apa yang ada di dalamnya.”


Tanpa aku berniat mengambil isi kedua dari kotak itu, dua buah bola cahaya melesat keluar lalu melayang-layang di depan kepalaku.


“Oh, rupanya sebuah gift.”


“Gift?”


“Oswald setiap orang di dunia ini pasti punya gift yang mereka miliki sejak lahir, namun ada juga yang diberkati gift seiring mereka tumbuh. Gift adalah kemampuan khusus, kamu juga bisa menyebutnya talenta. Tapi lebih dari itu, biasanya gift justru menjadi kemampuan yang besar bagi seseorang. Misalnya, kemampuan untuk mampu melihat di kegelapan yaitu nocturne vision.”


“Ooh.”


Apakah ini ada hubungannya juga dengan kemampuanku bisa mempelajari ilmu bela diri dengan cepat dan juga kemampuanku menguasai berbagai macam senjata?


Kemampuan yang bahkan membuat ayah kehilangan kata-kata. Sampai-sampai ia tak percaya diri bisa melatihku. Ya, kalau tidak salah ayah memang menyebut-nyebut tentang gift. Tapi, aku tak bisa mengingatnya dengan jelas.


“Lalu, apa giftku? Dua bola cahaya ini… yang satu berwarna hijau…”


“Itu adalah Evergreen, kemampuan regenerasi yang sangat tinggi.”


“Ya ampun…” Itu kemampuan yang sangat kuat.


Begitu saja, cahaya hijau itu masuk ke dalam tubuhku, tanpa aku bisa menolaknya.


“Selamat, Oswald.” Ucap Agatha sambil bertepuk tangan kecil.


“Warnanya apa?”


“Kamu enggak bisa melihatnya?”


“Bahkan untuk seorang valkyrie sepertiku, yang seperti itu hanya bisa dilihat oleh orang yang mendapatkannya.”


“Warnanya… merah muda.”


“Eh?!” Agatha tampak benar-benar terkejut, sampai-sampai matanya membelalak dan ia terperanjat. “Maaf, aku mungkin salah dengar.”


“Merah mud-”


“Uh…” air mata mengalir dari matanya, tanpa aku perlu menebak-nebak, sangat jelas kalau Agatha bersedih. “Merah muda… uh…”


“A-ada apa?”


“T-tidak apa-apa… uh… ya ampun, apa yang dewi Frigga pikirkan?” katanya penuh sesal.


“Apa yang sedang kamu bicarakan?”


“Dengar Oswald, companion-ku di masa depan.” Ia menatap mataku tajam sambil meremas pipiku. “Apa pun yang terjadi, jangan lupakan aku. Apakah kamu mengerti?”


“O-oke… tapi kena-”


“A-pa-kah-ka-mu-pa-ham?”


“P-paham.”


“Bersumpahlah.” Perintahnya masih dengan tatapan tajam.


“E-eh?!”


“Lakukan.” Kali ini tak ada kompromi sedikit pun dari wajahnya.


“A-aku bersumpah, demi nama keluargaku yang aku banggakan, aku tak akan melupakanmu.”


“Bagus.” Kali ini senyum sumringah yang begitu cerah tampak darinya. “Tapi… aaah! Sesampainya di Valhalla, aku akan protes pada dewi Frigga!” katanya kesal.


“Hei hei, ada apa sih?”


“Tidak apa-apa…”


Berapa kali pun aku bertanya tentang gift yang satu lagi, Agatha sama sekali tak mau menjawabnya. Karena itu, aku menyerah. Aku sama sekali tak melanjutkan pembicaraan ini.


Gift berwarna merah muda itu tidak memasuki tubuhku, anehnya dia justru masuk ke dalam endogram milikku. Entah apa itu artinya, yang jelas karena Agatha sama sekali tak mau diajak bicara, jadi aku tak menanyakan hal itu padanya.


“Lalu, kapan kamu akan membawa Freya?”


“Secepatnya.”


“Tidak bisakah kita tunggu ia tersadar?”


“Ingin mengucapkan salam perpisahan?”

__ADS_1


“Iya, dia juga pasti akan sedih.”


“Kamu baik sekali.” Ucap Agatha yang tangannya langsung meraih kepalaku sambil mengelus-elus rambutku. “Sayang sekali, itu tidak mungkin.”


“Tidak mungkin?”


“Tidak mungkin. Karena Freya tak akan pernah bangun jika ia terus berada di Edelsphere. Saat ini, tubuhnya telah mengalami perubahan paksa, efek dari runekraft ibumu yang dahsyat. Jika ia tak dirawat di Valhalla, kemungkinan ia akan mati.”


“Kurasa itu cukup menjelaskan, kenapa Freya tak kunjung bangun. Padahal dia sangat benci tidur.”


“Aku harap kamu bisa mengerti.”


Dari jendela, aku melihat ke luar rumah. Di luar rupanya sudah siang, dengan matahari yang sedang terik-teriknya.


“Apakah kamu tahu Agatha, aku berniat mengajak Freya keluar dari tempat ini untuk melihat dunia yang luas… apakah suatu saat aku bisa bertemu lagi dengannya?”


“Aku tak tahu, tapi aku akan mendoakan keselamatanmu agar hari itu bisa tiba.”


“Terima kasih.”


Perbincangan serius telah selesai, Agatha menyelesaikan semua pekerjaan rumah saat aku kembali ke kamarku untuk mengambil sebuah kalung yang ingin kuberikan pada Freya.


Tentu saja, kalung itu kutitipkan pada Agatha. Ia berkata kalau kalung itu pasti akan ia berikan pada Freya suatu saat nanti. Setelah itu, aku juga meminta Agatha untuk jangan dulu pergi. Kami sepakat kalau ia akan pergi setelah aku selesai bersiap-siap untuk keluar dari tempat ini, juga setelah aku selesai mengelilingi tempatku tumbuh selama sepuluh tahun untuk terakhir kalinya.


Ada kebun gandum, ada kebun buah-buahan, ada lapangan luas tempat ayah melatihku bertarung, ada dapur umum yang biasa digunakan semua penduduk desa untuk menikmati makan besar, ada bengkel tempat ayah dan penduduk desa yang lain membuat segala hal yang mereka butuhkan, ada juga tempat terbuka yang teduh tempat ibu dan penduduk desa yang lain menyulam, menjahit, dan menganyam.


Aku menghela napas yang sangat panjang setelah selesai berputar-putar.


Ini adalah takdirku, aku harus menghadapinya dengan keberanian.


“Oswald, kamu sudah selesai?” Sambut Agatha yang sudah berdiri di luar.


Ia sudah mengenakan zirahnya, sayap di kedua punggungnya pun terkembang kembali setelah sebelumnya ia hilangkan agar tak menghalanginya memasak makanan untukku.


“Iya, aku sudah selesai.”


“Tadi, kamu lama sekali di bengkel. Apa yang kamu lakukan?”


“Oh, aku mencari ini.” Kutunjukkan pada Agatha sebuah gelang. “Ini adalah karya pertamaku setelah menggabungkan ilmu yang kudapat dari ayah dan ibu. Ehehe, waktu itu aku tidak memakainya karena terlalu feminim.”


“Ooh, begitu.”


“Ini, untuk Agatha.”


“Eh?! Bolehkah aku menerima ini?”


“Tentu saja. Lagipula, aku memberi sesuatu pada Freya… rasanya…”


Tidak adil karena aku memberinya sesuatu, sementara aku tidak memberikan Agatha apa-apa padahal di masa depan, Agatha akan jadi companion-ku.


Tadinya aku mau mengatakan itu, tapi sungguh aku malu sekali.


“Apakah kamu merasa karena aku adalah companion-mu di masa depan, jadi kamu merasa tidak adil karena kamu memberi Freya sesuatu?”


“Jangan seenaknya menyebutkan isi kepala orang dong!”


“Hihihi.”


“Jadi, mau tidak?”


“Tentu saja, aku akan merasa sangat terhormat… dan tentu saja, bahagia.” Kata Agatha lembut.


“Syukurlah kalau begitu.”


“Terima kasih, Oz.” kali ini ia mengecup keningku. “Aku sangat bersyukur menerimanya.”


“Kalau begitu, aku senang mendengarnya. Hehe.”


Agatha kemudian menggunakan kekuatan yang tak aku mengerti, mungkin itu adalah kekuatan para valkyrie. Tubuh Freya melayang dan keluar dari jendela kamar orang tuaku. Tubuhnya yang diliputi cahaya kekuningan membuatnya seakan berada di dalam sebuah dimensi yang sangat nyaman.


“Aku akan mengantarmu keluar.”


“Hmm, tapi aku bisa keluar sendiri.”


“Tidak bisa, Oswald. Mengantarmu keluar dari tempat ini juga bagian dari tugasku.”


“Begitu ya, baiklah.”


Seketika, kami berada di sebuah tempat yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku langsung melemparkan pandanganku ke sekitar, benar-benar berbeda. Namun, ada suatu tempat yang aku langsung mengenalnya.


“Agatha, apakah gunung itu…” Aku menunjuk deretan gunung yang jauh dari kami.


“Iya, itu adalah rumahmu.”


Mataku menangis, tapi anehnya aku malah tersenyum.


“Oswald, companion-ku… aku ingin terus bersamamu, tapi sudah waktunya aku pergi.”


“Tidak apa-apa Agatha, aku mengerti. Tolong jaga Freya baik-baik.”


“Aku mengerti, selamat tinggal.” Agatha mulai terbang perlahan bersamaan dengan kepakan sayap yang indah.


“Oh, Agatha.”


“Hmm?”


“Aku sangat menantikan pertemuan kita lagi.”


“Aku juga.” Ucapnya dengan pipi merona merah.


“Selamat tinggal.”


Kali ini Agatha benar-benar pergi. Dengan cepat ia melesat ke langit, seakan ia ditelan oleh lautan biru yang melayang di atas sana.


Untuk terakhir kalinya, aku mengarahkan pandanganku ke rumah.


“Ayah, Ibu, semuanya… terima kasih selama ini. Aku pergi.”


Pesan ayah dan ibu akan selalu kuingat sebagai jalan hidupku di dunia ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2