Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 14


__ADS_3

Arman masih penasaran soal pertemuan Arinda dengan Shinta kemarin, tidak mungkin kalau mereka Cuma berpapasan saja, terlebih lagi Shinta pernah bilang kalau Arinda adalah seorang intelijen.


Apakah dia anggota Paspampres juga? Ataukah dari institusi lain? Tapi kenapa Shinta juga tak mengetahui jelasnya? Itu baru beberapa pertanyaan primer, belum lagi pertanyaan-pertanyaan sekunder yang tentu jumlahnya tak sedikit. Dia juga sempat bertanya kepada Robin tetapi katanya Cuma Sandra saja yang diturunkan untuk membantu Shinta.


“Iya kan Man?”


Pertanyaan Anastya membuyaran konsentrasi Arman.


“Eh...Iya-iya bener” Jawab Arman sekenanya.


Ardi langsung tersedak hebat saat minum dan mendengar jawaban Arman itu, serta ekspresi Shinta juga berubah drastis. Arman terdiam heran,


“Lo beneran udah jadian sama Arinda?” Tanya Ardi.


“Heeeehhh….ya ndak lah” Jawab Arman spontan.


“Lha katamu barusan kan iya”


“Gue ndak ngerti yang kalian bicarain, jadi gue bilang iya-iya aja. Tapi beneran gue ndak jadian sama Arinda” Ujar Arman meluruskan.


“Oooohh…kirain. Makanya lo fokus dong” Ujar Anastya.


Shinta masih terdiam, tapi terlihat sekali dia seperti menarik napas lega.


Arman ingin segera menanyakannya kepada Shinta, tetapi tidak disini. Mungkin nanti kalau mereka sedang berdua.


***


Awan hitam menyelimuti seluruh penjuru kota, rintik hujan mulai menderas. Seusai mengantar pulang Anastya, saat inilah momen yang tepat untuk menanyakannya kepada Shinta.

__ADS_1


“Shin, gue kemarin lihat lo sedang bicara dengan Arinda, iya kan?” Tanya Arman


“Oohh, iya itu Cuma kebetulan papasan” Ujar Shinta berbohong.


Ingin rasanya Arman menanyakannya lebih detail, tapi niatnya terhenti saat melihat Shinta memegangi tangan kirinya seperti menahan rasa sakit.


“Tanganmu kenapa Shin? Kamu sakit?” Ujar Arman agak panik.


Robin pun menghentikan mobil dan langsung menoleh ke belakang.


“Aku gapapa, mungkin gara-gara cuacanya” Jawab Shinta berusaha menahan rasa ngilu yang tak terkira di tangan kirinya.


“Kita ke professor ya, kamu pasti belum rehabilitasi bulan ini.” Ujar Robin.


Shinta Cuma menggeleng, wajahnya agak sedikit pucat. Meskipun Arman masih penasaran dengan tangan kiri Shinta, tetapi sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakannya.


Robin termenung sejenak lalu pada akhirnya menuruti perkataan Shinta, sementara hujan semakin deras dan kilatan-kilatan petir mulai menyambar. Meskipun Shinta berusaha terlihat sehat, tetapi di mata Arman dia tengah menahan rasa sakit yang tak terkira.


Mobil pun berhenti tepat di halaman rumah megah keluarga presiden itu, Arman bergegas turun dan berlari membukakan pintu untuk Shinta.


“Aku gapapa Man, terima kasih” Ujar Shinta yang kemudian turun dari mobil.


Tetapi baru beberapa langkah tiba-tiba rasa sakit itu menyerang kembali, kini matanya mulai berkunang-kunang dan


Brukkk….


Shinta pun terjatuh, tapi untungnya Arman dengan sigap menangkapnya. Robin pun segera berlari memeriksanya, wajah Shinta cukup pucat,


“Dia Cuma pingsan” Ujar Robin lega.

__ADS_1


“Dia kenapa Kak?” Tanya Arman cemas.


“Dia gapapa, dia hanya butuh rehabilitasi. Aku akan mengantarnya ke markas”


“Aku ikut Kak” Pinta Arman.


“Tidak, kamu dirumah saja, akan kutinggalkan dua agen disini” Cegah Robin.


Robin bergegas mengangkat Shinta masuk ke dalam mobil. Beberapa saat Arman sempat memegang tangan kiri Shinta dan membuatnya sangat terkejut.


Mustahil…tidak mungkin, batinnya.


***


Malam itu hujan pun reda, menyisakan genangan air dan udara dingin yang menusuk kulit. Tapi serangan hawa dingin itu tak menyurutkan semangat Zafran beserta 30 pria yang berbaris di depannya. Mereka megenakan seragam serba hitam, kalau dilihat dari postur tubuhnya mereka berasal dari kalangan militer.


“Peralatan dan persenjataan yang kalian butuhkan sudah tersedia, misi kali ini tak boleh gagal. Bayaran kita pun cukup tinggi, sehingga pertaruhkan nyawa kalian” Ujar Zafran dengan lantang.


“Siap Pak” Jawab 30 orang itu secara serentak.


“Ini kesempatanmu untuk membalas dendam, jadi temukan anak itu. Sisanya lakukan sesuai permintaan dari customer kita” Ujar Zafran di hadapan salah seorang pemuda.


“Siap Pak, Saya akan mengemban tugas ini dengan sepenuh hati” Jawab pemuda itu.


Nampaknya pemuda itu memiliki potensi yang lebih dibandingkan rekannya yang lain, bahkan Zafran memberinya kepercayaan untuk memimpin unit ini.


Zafran pun lalu berbalik, 30 orang tersebut segera membubarkan diri secara teratur dan menuju ke gudang untuk mengambil perlengkapan.


Semuanya berjalan sesuai rencana, batin Zafran.

__ADS_1


__ADS_2