Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 22


__ADS_3

Seluruh mata mahasiswa dan dosen terus memandangi Arinda yang duduk di samping Arman, setelah kejadian pagi tadi dimana Arinda menodongkan pistolnya, membuat semua mahasiswa dan dosen tak berani mendekatinya. Mereka masih kebingungan, siapa sebenarnya Arinda.


Tapi tiba-tiba Sandra berdiri dan berjalan mendekati mereka berdua. Dia lalu duduk di hadapan Arinda,


“Siapapun kamu, aku ucapkan terima kasih telah menjaga Arman” Ucap Sandra.


“Iya sama-sama”


“Jadi…Benar kamu agen GRU?” Tanya Sandra.


Arinda pun mengangguk,


“Kalau begitu ini bukanlah murni pembajakan semata, tapi juga menyangkut masalah internasional” Ujar Sandra.


Sandra menoleh pada Arman, terlihat dia dari tadi hanya terdiam seperti memikirkan sesuatu yang lain.


“Tenang saja Man, dia pasti kesini untukmu.” Ucap Sandra


Arman seraya memandang Sandra, seolah mereka berdua bisa saling membaca pikiran.


“Aku kenal betul dia, apapun taruhannya dia pasti datang” Tambah Sandra.


***


“Shinta?? Bukannya kamu sedang sakit?” Tanya Bagas.


Shinta tak menjawabnya, dia langsung masuk dan memberi hormat pada kolonel Ivan.


“Sekarang sudah mendingan Kak” Jawab Shinta pada Bagas.


Tapi mata tajam Bagas masih mendeteksi seperti gemetar kecil pada tangan kiri Shinta.


“Kamu tahu apa yang mereka incar?” Tanya Kolonel Ivan.


“Saya tahu tujuan utama mereka”


“Untuk menyandera putra presiden kan? Agar presiden Joyo Winarno lepas jabatan, seperti kejadian setahun yang lalu” Ujar Bagas tak mau kalah.


Shinta hanya tersenyum mendengar jawaban Bagas, dari dulu dia memang tak pernah mau kalah darinya.


“Benar sekali kata Kak Bagas…tapi sayangnya itu hanya tujuan kedua, bukan tujuan utama” Ujar Shinta.


Seluruh ruangan memfokuskan perhatiannya pada Shinta, tak terkecuali para operator.


“Tujuan utama? Mereka punya tujuan lain yang lebih penting?” Tanya Kolonel Ivan.


“Benar sekali Kolonel….itulah mengapa GRU bisa terlibat dalam kasus ini, dan mungkin menjadi masalah internasional” Kata Shinta, seraya matanya tertuju pada Henry dan Hesti.


“Cepat katakan apa tujuan utama mereka, tak usah berbelit-belit” Tukas Bagas.


“Bagaimana kalau yang sebenarnya mereka incar adalah Rancangan proyek Dead Hand Milik Uni Soviet?”


Kolonel Ivan mengernyitkan dahinya, tapi Bagas dan mayoritas yang berada di ruangan ini belum mengerti apa itu proyek Dead Hand.


“Benar kan Pak Henry? Sekarang tak ada lagi yang bisa anda tutup-tutupi” Ujar Shinta.


Henry dan Hesti seperti tengah tertangkap basah, tak ada pilihan lain selain mengakuinya. Benar-benar seorang agen yang cerdas, batin Henry.


“Bisa anda jelaskan Pak Henry?” Pinta Kolonel Ivan.


“Proyek Dead Hand adalah proyek rahasia milik Uni Soviet. Proyek itu bertujuan untuk membangun sistem serangan nuklir balasan, saat seluruh pusat komando hancur.


Jadi Uni Soviet masih bisa meluncurkan serangan nuklir balasan secara otomatis, meskipun seluruh pusat komando militer dihancurkan.” Ujar Henry menjelaskan.


“Lalu apa hubungannya dengan kasus pembajakan ini?” Sergah Bagas.


“Pada saat era presiden Soekarno, Uni Soviet mempercayakan proyek itu untuk dikerjakan di Indonesia, agar terhindar dari mata-mata CIA Amerika Serikat. Karena memang pada saat itu Indonesia lebih condong ke Uni Soviet ketimbang ke Amerika Serikat.” Ujar Henry terhenti, seraya dia mengambil tempat duduk.

__ADS_1


“Lalu pada era presiden Soeharto semuanya berubah, Indonesia menjadi lebih condong ke Amerika Serikat. Untuk menutupinya maka pemerintah Rusia menghentikan proyek ini dan menutupnya rapat-rapat.


Sayangnya seiring berjalannya waktu, proyek itu menjadi terlupakan dan tersimpan rapat bersama dengan semua hasil rancangannya.” Tambah Henry mengakhiri penjelasannya.


Semuanya hanya terdiam manggut-manggut mendengar penjelasan itu, ini pertama kalinya mereka mengetahui rahasia tersebut.


“Biar kutebak, tempat proyek itu adalah di Institut Teknologi Kertajaya?” Tanya Kolonel Ivan.


“Sumber-sumber kami menyebutkan demikian, sehingga kami kirimkan seorang agen untuk menyelidikinya. Tetapi sepertinya ada orang atau organisasi lain yang menginginkan rancangan proyek itu.


Sehingga pemerintah dan intelijen Rusia memerintahkan GRU untuk mengambilnya sebelum disalahgunakan oleh pihak-pihak tersebut” Jawab Hesti.


“Dan sepertinya mereka sudah menemukan apa yang mereka cari, kita harus secepatnya merebut rancangan itu. Dan yang terpenting kita harus menyelamatkan Arman, karena dia lah tiket mereka untuk keluar dari sana.” Ujar Shinta.


“Kita tak bisa masuk, tidak ada celah” Ucap Kapten Hasim.


“Kita bisa lewat angkasa….”


“Seperti yang kapten Hasim bilang, kita tak bisa masuk…lewat darat maupun udara” Sela Bagas.


“Aku bilang lewat ANGKASA Kak…” Ujar Shinta lebih tegas.


Bagas terdiam untuk mencerna kata-kata Shinta.


“Maksudmu terjun bebas?” Ujar Bagas ragu.


Shinta mengangguk mengiyakan.


“Kolonel, itu benar-benar strategi yang sangat berbahaya. Kalaupun berhasil masuk, kita tak akan menang melawan puluhan musuh, dan pasukan kita akan terjebak di dalam.” Ujar Bagas.


Kolonel Ivan hanya terdiam, memikirkan segala kemungkinan yang terjadi bila menggunakan strategi itu. Dia tak mau tragedy yang menimpa anak buah kapten Hasim terulang lagi, tapi saat ini dia juga tak punya cara lain dan tak punya waktu lagi. Seluruh komandan pasukan gabungan juga tak ada yang angkat bicara.


“Baiklah…” Ujar Kolonel Ivan setelah sekian lama.


“Shinta, bersiaplah…kita tak punya cara lain” Perintah Kolonel Ivan.


***


Tiba-tiba seorang tentara musuh masuk ke ruangan kelas dengan agak terburu-buru. Berjalan menghampiri Alex yang tengah duduk bersantai di kursi dosen.


“Lapor Komandan…kita menemukannya” Ujar tentara itu.


“Bagus…tepat pada waktunya, segera kita berkemas” Perintah Alex.


“Siap Komandan” Jawab tentara itu beranjak pergi.


Alex berdiri dan berjalan menghampiri Arman,


“Baiklah Arman, saya ingin kamu menelfon ayahmu dan membujuknya agar dia mengundurkan diri dari jabatannya” Ujar Alex.


Arman tak menjawab, hanya tersenyum mengejek.


“Kau menolak?”


“Asal lo tahu ya, Ayah gue ndak akan segampang itu dibujuk. Dia adalah orang paling bertanggung jawab yang pernah kukenal. Jadi jangan mimpi lo bisa membujuknya hanya dengan menyanderaku” Jawab Arman tegas.


Sandra dan Arinda agak tertegun mendengar pernyataan Arman yang terbilang cukup berani.


Alex hanya tersenyum kecil mendengar jawaban itu, dia sama sekali tak khawatir bila tujuannya itu tak tercapai.


“Oke tak masalah, kami hanya membutuhkanmu untuk bisa keluar dari sini” Ujar Alex dengan tenang.


“Bawa dia ke kelas lain dan jaga jangan sampai lolos. Kita harus mengamankan tiket keluar kita” Perintah Alex


Arman pun segera diseret paksa oleh tiga orang musuh, Sandra berusaha menghentikannya tapi dicegah oleh Arinda.


“Tenanglah, mereka tak mungkin berani macam-macam. Mereka tak akan bisa keluar tanpanya” Kata Arinda.

__ADS_1


***


Sebuah pesawat Hercules berukuran sedang tengah bersiap untuk take off dari bandara yang tak jauh dari lokasi pembajakan. Di dalam pesawat angkut andalan TNI tersebut terdapat sekitar sebelas orang, yang tengah bersiap dengan pakain penerjun. Tak ada pilihan lain bagi Kolonel Ivan selain menyetujui cara dari Shinta.


“Kita akan mulai bergerak setelah Tim Charlie menerobos masuk lewat pintu utama. Ingat baik-baik tugas kalian, Tim Alpha yang kupimpin sendiri bertugas untuk melumpuhkan para musuh secara diam-diam dan menangkap pimpinannya. Lalu Tim Bravo yang dipimpin AKP Farid bertugas mengamankan para Sandra. Kalian mengerti?” Ujar Kapten Hasim.


“Mengerti Kapten!!” Jawab mereka serentak.


“Dan ini semua bergantung padamu Shin…kau harus mampu menembus ruang server utama agar kita bisa meretas sistemnya dan mengambil alih ruang control” Ucap Kapten Hasim


“Saya tak akan mengecewakan anda Kapten” Jawab Shinta tegas.


Beberapa saat kemudian lampu merah pun manyala, menandakan mereka sudah dekat dengan lokasi penerjunan. Rampdoor pesawat perlahan terbuka, Kapten hasim memimpin didepan untuk bersiap terjun.


“Ingat Shin, fokuskan kekuatan memanjatmu pada sarung tangan hidrolik itu. Ruang server berada di lantai 15, ruang ke tiga dari barat. Kau mengerti?” Ujar Bagas lewat radio.


“Mengerti Kak” Jawab Shinta


Tepat setelah itu lampu hijau pun menyala, satu per satu dari mereka melompat terjun. Setelah melewati lapisan awan putih, akhirnya mereka melihat gedung yang menjadi target. Kapten Hasim memberi isyarat untuk focus pada titik penerjunan.


Satu per satu dari sebelas prajurit itu terjun dengan mulus di atap gedung tertinggi Institut Teknologi Kertajaya, rata-rata dari tim alpha dan bravo terdiri dari anggota terpilih Kopassus dan Densus 88 yang sudah sering menghadapi ancaman terror.


Kapten Hasim memantau kebawah menggunakan teropong intainya dan ternyata keadaan cukup aman, Tim Alpha dan Bravo pun memisahkan diri untuk melakukan tugasnya masing-masing. Seketika tali-tali mulai terjulur kebawah dan dengan cepat mereka menuruni gedung itu.


Shinta memisahkan diri dari kedua tim, dia merayap menuju ke ruang server.


“30 menit lagi Shin, sebelum mereka pergi dan membawa Arman beserta Rancangan proyek itu” Ujar Bagas melalui radio.


Shinta tak menjawab, dia tengah focus memanjat lantai demi lantai menggunakan sarung tangan hidrolik ini.


“Meskipun memakai teknologi sarung tangan hidrolik seperti ini, memanjatnya tetap saja melelahkan Kak” Jawab Shinta dengan nafas yang terengah-engah.


“Kita tak punya cara lain, ini idemu kan? 25 menit lagi Shin…”


Pergerakan Shinta mulai melambat, tangan kirinya kembali merasakan sakit saat digerakkan. Satu-satunya harapannya adalah bertumpu pada tangan kanannya, tapi itu juga tak berlangsung lama.


Argghhhh…..


Shinta terpeleset, tangan kirinya tak kuat lagi menahan beban tubuhnya. Satu-satunya penyelamatnya adalah tangan kanannya.


“20 menit lagi Shin…”


“Hitungan mundur sangat tak membantu Kak” Teriak Shinta kesal.


“Maaf… aku Cuma mengingatkan”


Perlahan tapi pasti, akhirnya dia sampai di ruangan server. Dari sakunya dia mengeluarkan seperti pena kecil, itu adalah laser pemotong kaca. Cukup lama memotongnya karena memang kacanya yang cukup tebal.


“Terlalu lama, tak ada pilihan lain….” Gumam Shinta.


pyaarrr….


Dengan sekali pukul, tangan kirinya berhasil memecahkan kaca itu hingga berkeping-keping. Meskipun setelah itu rasa sakit tak terkira menjalar di seluruh tangannya.


“Aku sudah di dalam Kak” Lapor Shinta.


“Bagus, cepat tancapkan alat itu di server utama” Perintah Bagas.


Beberapa saat mencari akhirnya Shinta menemukannya, dia menancapkan alat kecil mirip flashdisk.


“Berhasil Kak?”


“Berhasil Shin….sekarang kamu cari Arman, biar tim lain yang mengurus sisanya” Perintah Bagas.


“Siap Kak”


Shinta mengeluarkan semacam alat pelacak untuk melihat posisi Arman. Tak ada waktu untuk menggunakan lift apalagi menuruni tangga, dia langsung melemparkan tali kebawah.

__ADS_1


“Aku pasti menemukanmu Man” Gumamnya seraya melompat dan menuruni gedung itu.


__ADS_2