
Suasana di depan gerbang Institut Teknologi Kertajaya mendadak lengang, padahal sepuluh menit yang lalu masih banyak tentara yang berjaga-jaga.
“Ada yang tak beres, perasaanku tak enak” Ujar salah seorang tentara musuh yang memantau di ruang control.
“Ah..itu Cuma perasaanmu saja, biasa aja tuh” Sahut rekannya.
Tiba-tiba layar monitor di depan mereka berkedip, dan mati sesaat
“Ada apa ini?”
“Aku juga tak tahu” Jawab rekannya sambil mengotak-atik tombol keyboard.
Jegrekkk….
Tiba-tiba pintu gerbang perlahan terbuka.
“Eh..kenapa dibuka?”
“Aku ndak ngapa-ngapain” Ujarnya kebingungan.
Spontan para tentara musuh yang menjaga gerbang berlarian menuju kesana. Dan tanpa sadar mereka telah menuju ladang pembantaian.
“Awassss…” Teriak salah seorang tentara musuh.
Dalam hitungan sepersekian detik senjata SMB yang dikendalikan dari ruang control, tiba-tiba menembakkan ribuan peluru pada musuh yang tengah kebingungan. Seketika mereka roboh dan tak bernyawa. Tentara musuh yang berjaga di ruang control pun tak bisa melakukan apa-apa, mereka tak lagi memiliki kendali pada system.
Setelah itu granat asap mulai betebaran di seluruh area pintu masuk, saat itu tim Charlie mulai bergerak maju. Tak banyak perlawanan yang mereka hadapi, kerena sebagian sudah dibereskan oleh SMB yang sudah diretas sistemnya.
“Tim Charlie sudah berhasil masuk, Tim Alpha dan Bravo segera bergerak” Lapor AKBP Jono yang mempin Tim Charlie.
“Siap dimengerti”
Tak jauh dari gerbang, 10 prajurit bersenjata lengkap bergerak secara beregu untuk melaksanakan tugasnya, itulah Tim Alpha dan Tim Bravo. Para tentara musuh satu per satu berjatuhan, tapi tak menimbulkan suara tembakan sedikitpun, nampaknya senjata mereka berperedam agar tak menimbulkan kehebohan.
__ADS_1
Tiba-tiba suara tembakan beruntun terdengar dari kejauhan, nampaknya berasal dari Tim Charlie, itu membuat tim alpha berhenti sejenak.
“Sial…kita ketahuan. Bersiaplah…” Ujar Kapten Hasim.
Mereka kembali bergerak maju, kini mereka semakin banyak berhadapan dengan musuh. Tapi sejauh ini masih bisa teratasi.
***
Alex memasuki sebuah ruangan yang mirip seperti bunker lapis baja. Tak banyak barang disini, hanya beberapa rak yang berisi kertas-kertas arsip yang berumur cukup tua. Dia membuka salah satu rak, tak ada yang mengerti rak apa itu karena hanya bertuliskan bahasa Rusia.
Setelah membolak-balik halaman sebuah dokumen, Alex tersenyum kecil.
“Mereka berani membayar sangat mahal untuk ini” Gumam Alex.
Banyak sekali Arsip disana dan semuanya menggunakan bahasa Rusia, hanya Alex yang mengerti apa arti tulisan itu.
Senyum Alex terhenti saat mendengar suara tembakan beruntun tak jauh dari sana. Salah seorang anak buahnya mencoba mengontak rekannya untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Mereka berhasil menembus gerbang Komandan, Sistem ruang kontrol telah diretas dan beberapa orang dari mereka juga berhasil menyusup masuk” Lapor anak buahnya.
“Lalu bagaimana dengan para Sandra?”
“Biarkan mereka, kita hanya butuh putra presiden untuk keluar dari sini hidup-hidup”
“Siap Komandan”
***
“Para Sandra berada di gedung J dekat rektorat, tepatnya di lantai 2” Ujar operator radio dari ruang komando.
“Diterima, Tim Barvo bergerak menuju target” Jawab AKP Farid.
Tak begitu sulit menemukannya karena AKP Farid dan anggota tim Bravo sudah mempelajari detail kampus ini. Mereka bergerak perlahan mendekati target, keadaan tampak aman-aman saja.
__ADS_1
“Arghhh…” Teriak salah seorang Tim Bravo yang berada paling belakang. Dia tertembak dan roboh seketika.
Belum sempat memahami situasinya, Tim Bravo sudah dihujani dengan tembakan yang gencar.
“Berlindung, semuanya cepat berlindung” Teriak AKP Firman.
Salah seorang lagi jatuh tersungkur, tertembus peluru di bagian dadanya. Nampaknya posisi berlindung mereka tak terlalu bagus. AKP Firman berserta dua anggota lainnya yang tersisa mencoba bertahan. Tapi sangat mustahil melawan 7 orang musuh yang memiliki senjata cukup memadahi, sedangkan ruangan target masih sejauh 30 meter lagi.
“Kirimkan bantuan segera, situasinya sedang tak baik” Lapor AKP Farid sambil terus menghindari terjangan-terjangan peluru yang semakin gencar.
“Seberapa buruk?” Tanya suara dari seberang.
Tiba-tiba sebuah benda bulat menggelinding di samping mereka.
“Granatt!!!” Teriak salah seorang anggota tim Bravo.
Mereka secepatnya menunduk, tapi AKP Farid langsung mengambil granat itu dan melemparnya kembali ke arah musuh.
“Cukup buruk….bisa jadi lebih buruk” Jawab AKP Farid.
***
Tak jauh dari lokasi Tim Bravo, Tim Alpha juga berusaha mati-matian untuk menghadapi tentara musuh yang cukup terlatih ini. Target mereka adalah menangkap pimpinannya yang tengah berada di dekat rektorat.
“Mereka cukup merepotkan” Ujar salah seorang Tim Alpha.
“Wajar saja, mereka adalah mantan anggota Kopassus juga. Atau bahkan lebih berpengalaman daripada kalian” Jawab Kapten Hasim.
“RPG…” Teriak salah seorang Tim Alpha.
Belum sempat Kapten Hasim menyadarinya, sebuah roket menghantam tiang tepat di belakang perlindungannya. Ledakan itu tak melukainya, tapi membuat kepalanya menjadi sedikit pusing.
“Mana Tim Charlie? Kami sudah terjepit” Lapor Kapten Hasim sambil menahan rasa pusing akibat ledakan barusan.
__ADS_1
“Kami masih bergerak menyelamatkan para Sandra, Tim Bravo nampaknya kewalahan, bertahanlah Kapten” Jawab AKBP Jono.