Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 26


__ADS_3

Panser dan kedua truk melaju semakin jauh menyusuri pinggiran hutan. Sejauh ini masih belum terlihat tanda-tanda adanya ancaman dari TNI maupun aparat lainnya. Untuk sementara mereka berhasil lolos lagi.


“Bagaimana?” Tanya Alex.


“Semua dokumen dan rancangan sudah di scanning dan dimasukkan ke dalam flashdisk Komandan” Jawab seorang tentara musuh yang dari tadi mengotak-atik laptop.


“Bagus, kita tinggal memecahkan kode enkripsinya sesampainya di markas nanti” Ujar Alex.


“Setelah kalian pecahkan kodenya dan mendapatkan rancangannya, lalu apa? Kalian tak mungkin berniat membangun senjata itu kan? Butuh waktu lama dan biaya yang tak sedikit” Ujar Arman yang duduk di sudut panser.


Arman tak banyak melawan semenjak para tentara musuh ini membawanya, dia ingin tahu apa sebenarnya yang mereka inginkan. Dari kemarin dia hanya diam, memperhatikan serta menganalisa apapun yang mereka ucapkan dan lakukan.


“Pintar juga kau…kami memang tak berniat membangunnya, desain ini hanya untuk klien kami saja. Sisanya yang kami butuhkan” Jawab Alex yang sibuk mengamati hasil laptop.


“Sisanya?” Tanya Arman penasaran.


“Kamu pikir proyek itu hanya berisi rancangan senjata saja? kau harus belajar sejarah lebih banyak Man. Di dalam bunker itu juga berisi puluhan bahkan ratusan proyek berdarah lainnya milik Uni Soviet, yang dilakukan di negeri ini.”


Proyek berdarah? Apa maksudnya? Tanya Arman dalam hati.


“Komandan, Humvee kita kembali” Lapor salah seorang tentara musuh dari kemudi depan.


Alex seraya meraih radio yang ada di sampingnya.


“Tim Delta laporkan situasi…”


Tak ada jawaban sama sekali.


“Tim Delta laporkan situasi, Ganti…” Ujar Alex mengulang kontaknya.


Tapi tetap tak ada balasan. Alex berdiri dan menarik periskop yang terpasang di atap panser.


“Mereka anggota kita kan Komandan?” Tanya salah seorang anggotanya.


“Bukan…mereka bukan anggota kita. Yang satu agen intelijen yang menjengkelkan, yang satu agen Paspampres yang keras kepala.” Ucap Alex.


Arman terkejut mendengar itu. Shinta dan Arinda? Batin Arman.


“Tembak…singkirkan mereka” Perintah Alex dengan santainya.


Salah seorang tentara musuh pun naik ke atap menuju kubah pertama, dan tak lama kemudian gema suara peluru caliber 60 pun terdengar dengan gencarnya.


“Mereka berbelok Komandan” Teriak tentara musuh dari ruang kubah.


“Biarkan saja…kita tak punya banyak waktu untuk meladeni mereka.” Jawab Alex.


Arman tiba-tiba menjadi gelisah, bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka selamat? Apakah mereka terluka? Tiga pertanyaan itu seakan memenuhi otaknya.


“Tak usah cemas, mereka pasti selamat. Tapi mereka tak akan bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkanmu” Ucap Alex seakan tahu isi pikiran Arman.


***


Meskipun penuh dengan pecahan peluru disana-sini, humvee itu tetap melaju di jalanan hutan yang sempit. Meskipun tak sebagus jalan utama, jalan kecil itu bisa dilewati oleh satu mobil.


“Tadi itu hampir saja kita hancur berkeping-keping” Ujar Shinta sedikit syok.


“Aku juga tak menyangka dia akan mengenali kita dari kejauhan” Jawab Arinda.


“Ngomong-ngomong kita lewat mana ini?” Tanya Shinta, kegelapan malam dan hutan yang selebat ini sangat sulit untuk melihat lokasinya


“Tenang saja, aku tahu kemana tujuan mereka” Jawab Arinda.


Shinta memandanginya seperti tak percaya,


“Dari mana kamu tahu?”

__ADS_1


Arinda menunjukkan sebuah alat yang terpasang di tangan kirinya. Mirip seperti computer mini yang terhubung dengan citra satelit dan drone yang mengudara.


“Ohhh…” Ucap Shinta tak berkomentar lagi.


Dalam hatinya mengakui kehebatan Arinda, sebagai seorang intelijen yang didukung oleh peralatan super canggih, tentu saja dia selalu selangkah lebih maju.


***


“Aku mau tahu dimana mereka…gunakan semua mata untuk menemukannya. CCTV, laptop, HP, Ipad, apapun. Sekali melihat tanda-tanda mereka, aku mau para komandan mengerahkan satu kompi atau bahkan satu batalyon sekalipun untuk mengepungnya.” Perintah Kolonel Ivan dengan nada kesal.


Para operator melakukan apapun yang diperintahkan, seketika mereka melakukan pelacakan identifikasi wajah di semua kamera di negeri ini. Dengan bantuan teknologi GRU mereka memiliki akses yang lebih luas.


Para komandan pasukan gabungan juga tak ada kata lain selain mengiyakan. Kolonel Ivan terlihat lebih mengerikan saat sedang kesal, mereka pun tak ada yang berani macam-macam.


“Tenangkan dirimu Kolonel, kalian sudah melakukan tugas semampu kalian.” Ucap suara yang tak asing lagi bagi mereka semua.


“Pak Presiden??...Maafkan saya Pak” Ujar Kolonel Ivan agak kaget.


“Lakukan tugas kalian dengan tenang dan hati-hati, yang kita hadapi adalah para mantan pasukan terbaik Kopassus, yang bahkan setahun lalu mereka mampu menculik Putraku dengan sangat mudah. Tentu saja sangat sulit menghadapi mereka, jangan pernah anggap enteng.” Ujar Pak Presiden pada seluruh komandan


“Siap Pak Presiden” Jawab mereka serentak.


“Shinta kemana?” Bisik presiden pada Kolonel Ivan.


“Kami tak tahu dia kemana Pak, perkiraan saya dia sedang mengejar Arman” Jawab Kolonel Ivan ragu.


“Saya juga yakin kalau dia sedang berusaha untuk menyelamatkan Arman. Sekarang lakukan tugasmu” Ujar Presiden dengan tenang, lalu beliau pun masuk kembali ke ruangannya.


Di dalam ruangannya, Pak Presiden tak pernah bisa duduk dengan tenang. Dia selalu memandangi luar jendela. Bohong kalau beliau masih bisa tenang saat putranya sedang diculik, beliau hanya tak ingin memperkeruh situasi.


Dimana kau Nak? Apa kau baik-baik saja? Batin Pak Presiden dengan diselimuti rasa cemas tiada tara.


***


Arinda tiba-tiba menghentikan Humvee, tapi suasana sekitar masih berupa hutan belantara.


“Belum, lokasinya sekitar 400 meter didepan sana. Lebih aman kalau kita jalan kaki saja” Jawab Arinda.


Ternyata benar, dari kejauhan Nampak sebuah rumah yang cukup megah. Tapi sangat aneh hanya ada satu rumah di tengah hutan seperti ini. Meskipun hanya ada 4 orang penjaga, mereka berdua memilih tetap memantau dari luar, sampai rombongan musuh benar-benar tiba disana.


“Kamu yakin mereka akan kesini?” Tanya Shinta mulai ragu.


“Tentu saja, kita memotong hampir setengah perjalanan mereka, jadi wajar kalau mereka belum tiba”


Tak ada pilihan lain bagi Shinta selain percaya. Dan beberapa menit kemudian ucapan Arinda pun terbukti. Mereka berdua bergegas menyelinap masuk melalui belakang rumah.


“Pakai ini…” Ujar Arinda sambil menyodorkan benda mirip sarung tangan.


Shinta menerimanya, tapi masih belum mengerti apa kegunaannya.


“Sarung tangan pemanjat, kamu bisa dengan mudah memanjat dinding ini. Dan juga dilengkapi Taser atau sengatan listrik” Ujar Arinda menjelaskan.


Shinta pun memakainya, dan ternyata memang benar dia bisa memanjat lebih cepat. Dalam sekejap mereka berdua sudah berada di halaman belakang rumah itu.


“Sepertinya mereka akan segera pergi” Ucap Shinta sambil menunjuk sebuah helicopter yang terparkir di helipad.


“Baiklah, aku akan menyabotase listriknya dan mengatasi penjaga yang diluar, kamu masuklah dan temukan Arman”


Shinta mengangguk setuju, disitulah mereka berdua berpisah untuk melakukan tugas masing-masing.


***


Arman duduk dengan tangan masih terikat, di sebuah ruangan yang tak terlalu luas tetapi banyak computer dan radio disana. Arman menduga ini adalah ruangan untuk mengatur strategi, dia pernah melihatnya dalam film-film.


Seorang tentara musuh tengah sibuk berkutat dengan komputernya, bahkan semenjak mereka tiba. Mereka tampak sibuk dengan hasil scanning dari dokumen-dokumen itu.

__ADS_1


“Butuh berapa menit untuk memecahkan enkripsinya?” Tanya Alex.


“Sekitar 5 menit Komandan”


“Lakukan secepatnya, dan sambungkan aku dengan klien kita” Perintah Alex seraya memakai headsetnya.


Arman mencoba menguping pembicaraan itu, tapi sepertinya mustahil.


“Bagaimana?” Tanya suara dari radio


“Kami sudah dapatkan rancangannya. Dan kami mau bayaran lebih untuk tugas ini.” Ucap Alex.


“Bayaran lebih katamu? Kalian benar-benar tak tahu diri. Kalian juga hampir mencelakai agen terbaikku”


“Apa anda pikir saya bodoh? Mana mungkin arsip sebanyak itu hanya menyimpan satu proyek saja. Atau anda lebih suka kalau berbagai proyek berdarah lainnya kami expos supaya


dunia tahu? Saya yakin pemerintah Indonesia juga akan dengan senang hati mengetahuinya.” Ancam Alex dengan santai.


“Baiklah, kalian mau berapa?”


“Kami ingin dinaikkan menjadi 3 kali lipat” Jawab Alex.


“Oke, nanti aku hubungi lagi. Kita bertemu di tempat biasa” Lalu sambungan pun terputus.


Alex melepas headsetnya, tapi dia masih focus pada layar monitor yang masih menunjukkan proses pemecahan enkripsi.


“Aku ingin ke toilet” Ujar Arman kemudian.


Alex hanya meliriknya dan diam sesaat.


“Baiklah waktumu dua menit, setelah itu kita harus bergegas pergi.” Jawab Alex.


Arman berjalan menuju toilet bersama seorang tentara musuh menjaganya agar tidak macam-macam. Dia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu toilet.


“Jangan bilang om juga mau ikut masuk, aku ndak biasa ke toilet rame-rame” Ujar Arman


Tentara musuh itu terdiam menatap Arman tajam,


“Yasudah sana cepat” Jawabnya kesal.


Tepat setelah pintu toilet tertutup, Arman bergegas mencari jalan keluar di dalam sana. Tetapi sepertinya nihil, tak ada lubang lain selain lubang ventilasi, itupun dilapisi dengan kerangka besi.


“Sial, ndak ada jalan keluar. Ya masa gue lewat lobang toilet sih” Gerutu Arman.


Waktu terus berjalan, mungkin sebentar lagi musuh akan curiga.


Brukkk…


Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar toilet, suasana menjadi hening sejenak.


“Tak ada pilihan lain” Gumam Arman sambil meraih benda untuk memukul.


ceklekkk….


Pintu pun terbuka dan Arman langsung menyerangnya. Dia berharap bisa memukul orang itu hingga pingsan, sehingga dia memiliki kesempatan untuk kabur.


Tapi tiba-tiba sebuah cengkeraman kuat menangkap tangannya hingga tak mampu bergerak. Dia berhasil menghentikan serangan Arman.


“Kita baru saja bertemu dan kau ingin memukulku dengan gayung?” Tanya seseorang yang sangat dirindukan kehadirannya oleh Arman.


“Shinta?....Yaahh, gue kirain lo salah satu dari mereka.” Ujar Arman terkejut senang


“Ssssttt…jangan berisik. Kita harus segera keluar dari sini. Dimana mereka?” Tanya Shinta.


“Di ruangan seberang sana…Arinda mana?”

__ADS_1


“Sedang membereskan yang ada di luar, ayo cepat” Ajak Shinta sambil menyeret tangan Arman.


“Iya pelan-pelan…tanganmu keras banget kayak robot” Gerutu Arman.


__ADS_2