Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 29


__ADS_3

Malam hari di laboratorium LITBANG milik TNI


Seorang ilmuwan wanita yang sudah cukup berumur tengah sibuk mengutak-atik sesuatu, tak jauh darinya terbaring Shinta di ranjang pasien dengan tangan kirinya setengah dibongkar.


Sudah hampir enam hari Shinta menjalani perbaikan dan rehabilitasi di laboratorium itu. Dia menjalani istirahat total untuk memulihkan tangan kirinya yang rusak cukup parah. Hanya sekali waktu dia keluar, yaitu kemarin saat menjenguk Arman.


“Prof…aku ingin bicara sesuatu” Ujar Shinta.


“Bicara tentang apa Shin?” Jawab ilmuwan itu sambil sibuk memasangkan sesuatu pada tangan kiri Shinta.


“Ini rahasia Prof…”


Ilmuwan itu memandang Shinta yang tengah menatap serius dirinya. Kemudian dia meraih sebuah remot dan menekan beberapa tombol. Tapi tak terlihat terjadi apa-apa.


“Kamera CCTV sudah non aktif, dan ruangan ini sudah terlindungi oleh medan listrik kuat. Tak ada yang bisa menguping” Jawab Ilmuwan itu melanjutkan pekerjaannya.


“Aku ingin anda membuka enkripsi dari data di dalam flashdisk ini” Ujar Shinta sambil menyerahkan sebuah flashdisk pemberian Alex beberapa waktu lalu.


Ilmuwan itu bergegas mengambil laptopnya dan menancapkan flashdisk itu. Butuh waktu beberapa menit untuk membuka enkripsinya.


“Mustahil…” Ucap ilmuwan itu dengan tampang cukup syok.


“Ada apa Prof? apa isinya?” Tanya Shinta penasaran.


“Kamu akan mendapat masalah besar jika memiliki data ini, mereka tak akan berhenti mengejarmu”

__ADS_1


Shinta dengan tak sabar seraya meraih laptop itu, sekilas dia membaca isinya dan dia juga tak kalah syoknya.


“Anda benar Profesor…pantas saja mereka ingin menghancurkannya dengan serangan missile.” Ucap Shinta.


***


Puncak jayawijaya, di waktu yang sama….


Suara jeritan menggema yang berasal dari sebuah bunker tua, tak ada yang bisa mendengar jeritan pada puncak gunung tertinggi di Indonesia itu. Jauh dari peradaban dan jauh dari keramaian.


Di dalam bunker, jeritan itu berasal dari salah satu ruangan yang mirip seperti penjara bawah tanah. Seorang gadis meronta-ronta akibat sengatan listrik bertegangan tinggi yang dipasang di kepalanya.


Sementara proses yang menyakitkan itu berhenti, dua orang menggunakan jas lab kemudian melakukan perbaikan pada tubuh gadis itu. Meskipun sebagian besar tubuhnya terbuat dari logam, tapi mereka harus berhati-hati terhadap organ vitalnya.


Henry berjalan memasuki ruangan, dan disambut oleh salah seorang dari mereka.


Tapi Henry tak memperdulikannya, dia tetap masuk dan menghampiri gadis itu.


“Agen Arinda…laporkan misi” Ujar Henry.


Arinda terdiam sejenak,


“Mengapa anda melakukan itu? Anda bisa membunuh mereka berdua” Ucap Arinda kemudian.


“Dengarkan aku, barang bukti itu harus dilenyapkan. Aku tak mau membahayakan kerahasiaan seluruh proyek dan operasi kita. Aku tak peduli dengan nyawa mereka berdua” Jawab Henry.

__ADS_1


“Tapi itu tak perlu anda lakukan, saya bisa mengatasinya. Anda tak perlu mengendalikan saya seperti itu dan terlebih lagi anda tak perlu melancarkan serangan missile”


“Baiklah terserah, sekarang aku minta laporan misimu” Ujar Henry sambil mengambil kursi di dekat Arinda.


“Dokumen-dokumen itu baik fisik maupun digital sudah lenyap. Tapi sekilas saya melihat computer mereka berhasil membuka enskripsinya, meskipun tidak keseluruhan” Lapor Arinda.


“Bagus, itu tak masalah…computer itu sudah hancur bersama ledakan itu kan. Misimu berhasil” Ujar Henry senang.


“Tapi saya tak yakin Pak”


“Maksudmu?”


“Saya tak yakin Alex tidak membuat salinan data-data itu. Mereka berhasil membuka enkripsinya berarti memiliki data digitalnya, dan kita tahu Alex adalah tipe orang yang cukup cerdik dan merepotkan.”Ujar Arinda


Henry terdiam sejenak, pikirannya setuju dengan pendapat Arinda.


“Siapkan dia secepatnya” Perintah Henry.


“Tapi kerusakannya cukup parah Pak, dan sudah terlalu banyak menyimpan ingatan” Jawab salah seorang teknisi.


“Hapus ingatannya, dan perbaiki dia secepatnya” Ujar Henry beranjak pergi.


Henry merogoh HP di saku jasnya dan melakukan sebuah panggilan,


“Zafran, sepertinya ada sedikit masalah. Aku ada tugas untukmu” Ucap Henry dengan lawan bicaranya.

__ADS_1


Suara jeritan itu kembali menggema, tapi tetap saja tak ada yang bisa mendengarnya.


__ADS_2