
Presiden Joyo Winarno masih terkagum dengan benda canggih yang ada di depannya. Yang awalnya hanya sebuah koper biasa, tetapi setelah dibuka ternyata bisa mengeluarkan 3 layar masing-masing selebar 14 inch.
“Melalui alat ini anda bisa memantau segala CCTV di negeri ini, bahkan satelit-satelit miliki kita. Sistemnya mengadaptasinnya dari teknologi God Eyes milik AS, dan kami menyebutnya Hawk Eyes.” Ujar Kolonel Ivan yang didampingi oleh seorang operator bersandi Abimanyu.
“Bagus, terima kasih” Jawab Presiden senang.
“Maaf Pak, kalau boleh saya tahu kenapa Bapak repot-repot ikut memantau aksi pembajakan Institut Teknologi Kertajaya ini? Bukankah bapak bisa mendapat laporan secara langsung dari pasukan yang ada disana?” Tanya Kolonel Ivan.
Presiden diam sejenak, lalu beranjak berdiri dan berjalan menghampiri foto-foto yang terpajang di meja lainnya. Beliau mengusap-usap sebuah foto dirinya bersama Arman tengah latihan menembak bersama.
“Sudah lama saya tak berada di sampingnya, terakhir kali kami foto bersama dan melakukan hal bersama adalah saat dia kelas 1 SMA. Anda tahu rasanya tak mampu mendampingi anak-anakmu lebih dari 2 tahun? Mereka akan sangat asing denganmu.
Itulah kesalahan terbesar saya pada Arman. Baik presiden maupun rakyat biasa memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam. Yang berbeda hanyalah prioritas, saya tetap memprioritaskan tanggung jawab saya sebagai presiden Republik Indonesia, dan ada prioritas lain yang saya korbankan untuk itu…” Jawab Presiden.
“Saya mengatakan hal ini karena saya tahu kalau kalian sangat dekat dengan Arman. Hampir 24 jam kalian menjaganya bukan? Kalian lebih mengenal psikologis Arman, terutama agen Shinta. Menyelamatkan Institut Teknologi Kertajaya memang prioritas paling utama, tapi prioritas kalian adalah menyelamatkan Arman. Kalian sudah punya rencana bukan?” Tanya presiden.
“Tentu Pak, kami akan koordinasikan dengan pasukan gabungan” Jawab Kolonel Ivan.
“Tidak Perlu, Kalian lakukan apa saja yang terbaik untuk Arman” Ucap Presiden.
Kolonel Ivan agak terkejut dengan pernyataan itu.
“Tapi Pak, urusan Terorisme adalah keahlian dari TNI dan Kepolisian.”
“Memang benar ini tugas mereka, dan mereka pun sudah menjalankannya seperti yang kita bahas dalam rapat tadi. Tapi tugas kalian adalah Arman, tolong selamatkan dia. Saya yakin kalian bisa, dan saya yakin Shinta bisa” Ujar Presiden
***
“Kita bisa keluar bentar ndak? Gue mulai agak….” Ucap Arman dengan nafas agak terengah-engah.
“Jangan bilang kamu mulai susah bernafas” Tebak Arinda. Sambil sedikit membongkar dan mengotak-atik HP nya.
“Ya gila aja lo, kita hampir sejam lebih disini, pasti lah kita kehabisan oksigen. Lagian lo lagi ngapain sih? Meskipun dibongkar juga ndak bakalan ada sinyal” Protes Arman.
“Aku mencoba mengirimkan pesan morse pada markasku, semoga mereka mengetahuinya. Kita butuh secepatnya alat komunikasi, kita butuh setidaknya telepon satelit atau telepon kabel” Ujar Arinda sambil mondar-mandir.
Arman mengernyitkan dahinya, sepertinya dia teringat sesuatu,
“Gue tahu tempatnya alat kayak gitu” Kata Arman
“Dimana?”
__ADS_1
“Laboratorium Optika dan Elektromagnetik Terapan” Jawab Arman.
Arinda terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat tempatnya dimana.
“Jangan bilang lo ndak tahu tempatnya dimana….itu tepat dua lantai di atas kita”
“Oh iya benar, ayo bergegas kesana” Ajak Arinda bersemangat.
“Caranya?”
“Ya manjat lah, ayo buruan” Sahut Arinda yang memanjat dengan lincahnya.
Arman tak ada pilihan lain selain mengikutinya.
***
“Mohon perhatiannya…” Ujar pemuda itu setelah berbincang sejenak dengan anak buahnya.
“Sebelumnya kami minta maaf telah mengganggu kegiatan perkuliahan kalian, kalian pasti sudah mengenal kami kan?…seluruh media massa tengah gencar membahas tentang aksi kami.
Kami tak bermaksud untuk menyakiti kalian, target utama kami bukanlah kalian. Jadi alangkah lebih baik kalau kalian tetap diam disini, tak bertingkah macam-macam, sampai kami menemukan apa yang kami cari.”
“Untung Arman udah keluar, ini berarti Arinda bukan di pihak mereka” Bisik Ardi.
“Terus Arinda itu sebenarnya siapa? Apa sama kayak Shinta?” Jawab Anastya.
“Arinda?” Ucap Sandra lirih, setelah mendengar percakapan Ardi dan Anastya
“Maksudmu Arman keluar dengan Arinda? Dia siapa?” Tanya Sandra mulai agak merapat kepada Ardi dan Anastya.
“Arinda mahasiswi baru di kelas ini Bu, Tadi Arman diajak paksa oleh Arinda, kami ndak bisa mencegahnya karena dia membawa pistol” Ujar Ardi.
Sandra agak terkejut, bagaimana mungkin seorang mahasiswa bisa membawa pistol? Seingat Sandra tak ada lagi agen yang diturunkan bersamanya, Dan sepertinya dia juga bukan bagian dari musuh. Jadi siapakah Arinda ini???.
Sandra pun tiba-tiba berdiri, membuat beberapa musuh didekatnya mulai waspada mengarahkan moncong senapannya.
“Ada apa?” Tanya pemuda itu.
“Saya izin ke kamar mandi” Jawab Sandra dengan lantang.
Lalu pemuda itu memberikan tanda pada dua orang anak buahnya untuk menjaga.
__ADS_1
“Kalian bercanda? Tidak mungkin kan saya ke kamar mandi ditemani oleh mereka” Protes Sandra.
“Biar saya saja”
Sandra menoleh ke asal suara itu. Dia adalah seorang dosen baru yang masuk bersamaan dengan Sandra.
“Bu Wiwin…” Gumam Sandra.
Ternyata Shinta benar, ada seorang penyusup di kampus ini. Dia pasti bagian dari pasukan musuh.
“Baiklah..dan bawa ini untuk jaga-jaga” Ujar pemuda itu seraya melemparkan pistolnya.
Wiwin dengan sigap menangkapnya, dari caranya memegang pistol sudah terlihat kalau dia biasa menggunakannnya.
“Kalian berdua ikut saya” Perintah Wiwin pada dua orang musuh.
“Ayo cepat” Bentak Wiwin,
Sandra pun menurutinya, dia berencana hanya memantau keadaan di luar saja dan sedikit mencari petunjuk tentang keberadaan Arman.
***
Secepat berita pembajakan itu menyebar, dalam sekejap di sekitar Institut Teknologi Kertajaya telah dipenuhi oleh puluhan personel Polisi dan TNI. Beberapa Panser, barracuda dan dua buah Tank kelas menengah sudah berbaris mengelilingi lokasi kejadian. Sejauh ini mereka masih belum melakukan pergerakan untuk menerobos masuk.
Tak jauh dari barisan pertahanan, ada sebuah rumah yang dijadikan sebagai Posko Tim gabungan. Disana tengah berkumpul para pengatur strategi dari Densus 88 Anti terror, Kopassus dan juga termasuk Paspampres.
“Kita harus cepat menerobos masuk, waktu kita tebatas” Usul Kapten Hasim dari Kopassus.
“Caranya?” Tanya AKBP Jono dari Densus 88 Anti Teror.
“Kita punya kendaraan lapis baja dan panser, gunakan itu untuk menjebol gerbang, atau bisa juga kita turunkan pasukan menggunakan helicopter dengan cepat. Mereka tak akan bisa berkutik” Ujar Kapten Hasim.
“Anda tidak lihat mereka memiliki Javelin Missile? Gara-gara itu kami harus kehilangan 10 orang prajurit terbaik Densus 88. Dengan senjata itu mereka bisa dengan mudah melumpuhkan kendaraan lapis baja milik kita” Sanggah AKBP Jono.
“Terlebih lagi kita tak bisa membahayakan keselamatan pada dosen dan mahasiswa” Tambah Kolonel Ivan.
Ini benar-benar sulit, masing-masing dari mereka memiliki ego untuk mengunggulkan strategi maupun pasukannya. Terlebih lagi Kolonel Ivan juga harus mengemban misi dari Presiden untuk menyelamatkan Arman. Saat ini Shinta juga sedang sakit, tak mungkin melibatkannya.
“Maaf Pak, ada panggilan masuk dari dalam Institut Teknologi Kertajaya” Ujar salah seorang operator, hal itu membuat seluruh ruangan tercengang.
Kolonel Ivan berharap itu dari salah seorang Agennya.
__ADS_1