Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 27


__ADS_3

Lampu tiba-tiba padam….


“Ada apa ini?” Tanya Alex.


Tapi nampaknya ketiga bawahannya juga memiliki pertanyaan yang sama. Alex meraih HT nya,


“Tim Alpha laporkan situasi…” Ujar Alex,


Tak ada jawaban,


“Tim Bravo dan Tim Charlie laporkan situasi…”


Tetap tak ada jawaban, suasana menjadi sangat hening. Proses enkripsi sudah mencapai 95%, tetapi mereka pun tak bisa apa-apa karena listriknya padam.


“Kalian berdua cepat periksa” Perintah Alex.


Dengan menyalakan senter pada senapan serbunya, dua musuh memeriksa situasinya dengan hati-hati. Alex mengambil flashdisk yang berisi hasil scanning dan dekripsi dari data-data proyek itu, dan menyimpannya.


Arrgghhh…duar..duar….bruakkk


Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari ruang tamu, perasaan Alex menjadi tak enak.


“Siapkan baju tempur itu” Perintahnya pada anggotanya yang tersisa.


Dari luar memang seperti lemari biasa, tetapi setelah dibuka akan muncul pintu besi seperti brankas besar. Dari lemari itulah mereka mengeluarkan sebuah baju tempur canggih milik Amerika Serikat, atau biasa disebut Ex-skeleton. Selain mengakselerasi kecepatan, kekuatan dan ketepatan pemakainya, baju tempur itu juga dilengkapi berbagai senjata mutakhir.


“Mereka tak tahu berurusan dengan siapa, saatnya mencicipi teknologi milik Paman Sam” Ujar Alex percaya diri.


***


Arman terdiam bengong melihat aksi Shinta barusan. Hanya dengan tangan kosong dia mampu melumpuhkan dua musuh dalam sekali serang. Sulit dipercaya kalau itu murni kemampuan dari gadis seumurannya.


“Kalau dilihat-lihat, tangan kirimu lumayan kuat ya” Puji Arman.


Shinta hanya tersenyum kecil.


Andaikan kamu tahu yang sebenarnya Man, Batin Shinta.


Bruakkk….


Tiba-tiba pintu ruangan pun jebol dari dalam, terlihat sorot lampu kecil dari sana.


“Rupanya kau berhasil mengikutiku sampai sini, benar-benar keras kepala” Terdengar suara yang sangat dikenali oleh Arman.


“Itu pasti dia…” Ucap Arman.


Shinta seraya berlari ke arah sumber suara, meskipun di kegelapan tapi dia tahu keberadaan suara itu. Dia melompat dan menghantamnya menggunakan tangan kirinya. Dia yakin dengan kekuatan tangan kirinya, dia pasti bisa merobohkannya.


clanggg….


Terdengar seperti bunyi dua buah logam yang saling beradu. Pukulan Shinta tertahan, dia juga tak bisa melepaskannya. Tangannya seperti tengah dicengkeram dengan kuat.


“Kukira itu hanya rumor, ternyata memang benar kaulah prajurit bertangan besi itu” Ucap Alex dengan tenang.


Shinta baru menyadari kalau musuhnya tengah menggunakan teknologi Ex-skeleton, pantas saja pukulannya berhasi ditangkapnya dengan mudah. Dengan sekali dorong, Shinta pun terpental hingga menabrak tembok, dan tembok itupun retak.


“Shinta…” Teriak Arman.


“Kurang ajar” Teriak Arman seraya meraih sebuah senapan serbu yang tergeletak di lantai, dan menembakkannya dengan membabi-buta.


Clanggg…clang…clang


Peluru yang keluar seperti tengah menghantam logam, Arman menembakkannya hingga tak ada peluru yang tersisa.

__ADS_1


“Percuma saja Man, itu tak akan bisa melukaiku” Ujar Alex, dari suaranya nampaknya dia berjalan mendekat.


Mata Arman terbelalak, tak percaya dengan apa yang dia lihat. Hampir seluruh tubuh Alex terlindungi oleh semacam baju besi, pantas aja semua tembakannya tak ada yang melukainya.


“Gawat…kalau begini lebih mirip robot daripada baju tempur” Gumam Arman.


“Karena kau sudah banyak merepotkanku, maka aku akan membereskanmu dulu” Ucap Alex berjalan mendekati Shinta.


Shinta masih pingsan, menghantam tembok hingga retak membuat tubuhnya hampir tak berdaya lagi. Alex mengangkat tangannya, nampaknya dia ingin meremukkan Shinta. Tapi Arman tak tinggal diam,


Brukkkk….


Arman berjongkok dengan tangan kanannya menahan serangan Alex.


“Siaaalll…rasanya tangan kananku seperti patah” Gumam Arman sambil terus bertahan sekuat tenaga.


“Arman…” Ucap Shinta terkejut


Dia baru siuman dan melihat Arman tengah berjuang melindunginya.


“Cihh..kau juga keras kepala rupanya. Sepertinya aku juga harus menyingkirkanmu” Ujar Alex seraya bersiap untuk serangan keduanya.


Sial, serangan kedua ini pasti akan meremukkanku, Batin Arman.


Clangg…bruakkk


Lagi-lagi terdengar seperti dua buah logam yang sedang diadu. Dan tiba-tiba saja Alex terpental jauh hingga menjebol tembok rumah. Ada sesosok gadis yang berdiri di depannya, Arman mengenalinya.


“Arinda…” Ucap Arman sambil menahan rasa sakit di tangan kanannya.


“Kamu tak apa?” Tanya Arinda seraya memeriksanya.


“Kau disini juga rupanya, agen intelijen yang menjengkelkan.” Terdengar suara Alex, dan ternyata dia bisa bangkit lagi, nampaknya pukulan itu sama sekali tak berarti baginya.


Tapi tanpa diduga sebuah pukulan keras mendarat di mukanya, Alex kembali terpental dan merobohkan dinding.


“Kau harus membayar semua perbuatanmu pada Arman” Ucap Shinta dengan tampang lebih menakutkan, pukulannya kali ini jauh lebih keras.


“Kurang ajar…” Alex kembali bangkit.


Pukulan barusan memang lebih keras dari sebelumnya, kali ini dia lebih berhati-hati.


“Tak ada lagi yang perlu kusembunyikan Man. Demi melindungimu akan kubongkar semua rahasiaku” Ucap Shinta seraya membuka sarung tangannya.


Srekkkk…


Shinta merobek kedua lengan bajunya, Arman sama sekali tak bisa berkedip. Meski hanya tersorot cahaya dari luar, terlihat jelas sekali tangan kiri Shinta sepenuhnya terbuat dari logam.


“Inilah wujud asliku Man. Aku tak akan menyembunyikannya lagi darimu” Ucap Shinta


Arman tetap tertegun tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


clang..clang…clang


Alex melancar serentetan tembakan pada Shinta, tapi tangan kirinya itu mampu menahannya. Alex melancarkan tembakan lebih gencar lagi, tapi tiba-tiba saja tangan Shinta berubah menjadi sebuah tameng logam yang cukup untuk melindungi tubuhnya.


Alex menghentikan tembakannya, dia berlari dan bersiap untuk menghantam Shinta. Tapi inilah saat-saat yang ditunggu oleh Shinta.


“Akan kutunjukkan, kekuatan sebenarnya dari Metal Arm” Ujar Shinta.


Dengan sigap dia menangkis pukulan tangan kanan Alex, dan menghantam tepat di sudut sikunya.


“Arghhhhh…” Teriak Alex.

__ADS_1


Nampaknya Shinta berhasil mematahkan tangannya, bahkan pada baju tempur terkuat pun masih memiliki kelemahan, yaitu pada engsel pergerakan tangan dan kakinya.


Alex segera mendaratkan pukulan kedua yang kali ini lebih cepat. Tapi lagi-lagi Shinta berhasil menangkisnya dan mematahkannya juga. Kaki kanan Alex tak mau kalah untuk ambil bagian, tapi sayangnya berakhir sama seperti kedua tangannya. Kini alex sudah tak bisa bergerak lagi, hanya mampu berdiri menggunakan kaki kirinya.


Clanggg…


Satu pukulan Shinta mendarat di wajah Alex, dan berhasil membuat helmnya terlepas. Kini satu pukulan lagi akan menghancurkan kepala Alex.


“Shinta jangan….” Teriak Arman.


Shinta menghentikan pukulannya, tepat 15 cm di depan muka Alex.


“Cukup…kita serahkan sisanya pada yang berwajib” Pinta Arman.


Shinta melepaskannya, Alex meringis menahan rasa sakit di kedua tangan dan kaki kanannya.


“Akan kuhubungi pasukan gabungan agar kesini” Ujar Arinda seraya mengeluarkan HPnya dan berjalan menuju teras.


Arman berjalan mendekati Shinta, dengan menahan rasa sakit di tangan kanannya.


“Lo ndak papa?” Tanya Arman.


Shinta menggeleng tanda dia baik-baik saja. Namun tangan kirinya mulai menjerit kesakitan, pertempuran barusan membuat kerusakan yang cukup parah pada tangannya. Matanya yang tajam melihat beberapa retakan muncul, mungkin satu hantaman lagi bisa membuat tangan kirinya hancur.


“Apa kamu menyesal?” Tanya Shinta tiba-tiba.


“Setelah gue tahu kalau tangan kirimu adalah Metal Arm dan setelah lo nyelametin gue, tak ada alasan bagi gue untuk menyesal” Jawab Arman.


Perlahan tangan kiri Arman menggenggam erat tangan kiri Shinta,


“Lo adalah pengawal terhebat, dan gue gak bisa jauh dari lo” Ucap Arman sambil tersenyum.


Shinta membalas senyumnya dengan agak tersipu malu.


“Kalian tak mengerti siapa musuh yang sebenarnya…” Ucap Alex


Shinta dan Arman saling berpandangan, tak mengerti apa maksud dari ucapan Alex. Dengan gemetar karena menahan rasa sakit, Alex mengulurkan tangannya dan memberikan sesuatu pada Shinta.


“Ambil flashdisk ini, kamu akan tahu siapa musuh yang sebenarnya. Jangan katakan pada siapapun dan jangan percaya siapapun, kau harus melakukannya sendiri” Ujar Alex terbata-bata.


Shinta menerima flashdisk itu dan menyimpannya. Meskipun mereka masih tak mengerti apa maksud Alex.


Tiba-tiba terdengar jeritan dari Arinda, Arman segera berlari menghampirinya.


“Sepertinya waktuku sudah tiba, pertemuan kita cukup sampai disini” Ucap Alex.


Shinta masih kebingungan, tapi tiba-tiba Arinda berjalan mendekati Alex. Dia tak seperti biasanya, tatapannya Nampak kosong.


“Kamu baik-baik saja Rin?” Tanya Shinta


Tak ada jawaban dari Arinda, matanya menatap tajam Alex yang duduk tak berdaya.


“Dia kenapa Man?”


“Gue juga ndak tahu, tiba-tiba aja udah kayak gitu” Jawab Arman.


“Lenyapkan saksi dan barang bukti” Ucap Arinda dengan nada yang agak berbeda.


Tangan Arinda seraya mencengkeram leher Alex dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Membuat pemuda yang sudah tak berdaya itu kesulitan bernapas.


“Rin, apa-apaan lo? Lo mau bunuh dia?” Teriak Arman.


“Arinda, lepaskan dia. Apa yang salah denganmu?” Ujar Shinta berusaha melepaskan tangan Arinda dari Alex

__ADS_1


Tapi Arinda tak bergeming sedikitpun, tangannya sangat kaku seperti robot. Sementara Alex sudah sekarat karena napasnya tercekik.


__ADS_2