Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 16


__ADS_3

Disaat bersamaan….


Pusat Komunikasi Markas Paspampres


Kepanikan mulai terjadi di markas Paspampres, sudah lima belas menit lebih tak ada laporan dari unit level 1 yang mengawal Arman. Mereka juga melakukan berbagai macam cara untuk menghubungi tetapi masih nihil.


“Kita mempunyai selusin operator komunikasi di ruangan ini, tak ada satu pun yang mampu menjelaskan apa yang sudah terjadi.” Ujar Bagas geram.


“Maaf Pak, tiba-tiba saja seluruh area kampus itu seperti diblok dari berbagai macam gelombang komunikasi, bahkan termasuk citra satelit juga” Ujar salah seorang operator memberanikan diri.


“Sial, mana ada teknologi semacam itu?” Sanggah salah seorang agen.


“Kalau dari dalam negeri itu tak mungkin, tapi kalau ada campur tangan pihak asing itu lain cerita.


“Jangan-jangan….”


“Yah benar, mereka memiliki perlengkapan dari pihak asing. Dan aku yakin mereka tak hanya memiliki alat pemblok sinyal saja, pasti mereka juga memiliki persenjataan canggih lainnya. Kita harus mengerahkan segalanya, beritahu semua agen kita….KODE MERAH” Ujar Bagas seraya menyambar pistolnya dan bergegas pergi.


Begitu pula dengan seluruh agen dan operator di ruangan ini, mereka langsung bergegas menuju ke lokasi. Kode Merah artinya semua agen dalam situasi siaga penuh, mereka akan menuju ke target dan melakukan apapun untuk menyelesaikannya.


***


“Mereka hampir ada dimana-mana, kita kabur kemana lagi?” Ujar Arman panik.


Arinda diam tak menjawab, itulah yang sedang dia pikirkan dari tadi. Berkali-kali mereka berdua harus bersembunyi karena selalu bertemu dengan pasukan tak dikenal itu. Meskipun hanya beberapa orang tetapi mereka tahu betul titik-titik persimpangan di kampus ini, sehingga Arinda harus berfikir keras untuk menemukan rute paling aman.


“Kita tak bisa selamanya sembunyi disini, cepat atau lambat mereka akan menemukan kita” Kata Arinda.


“Iya gue tahu, lalu kita harus kemana? Hampir semua titik persimpangan mereka jaga. Kita tak bisa kemana-mana” Kata Arman.


“Ssstt…” Arinda membungkam mulut Arman dengan tangannya agar Arman diam.


Terdengar percakapan beberapa orang prajurit sambil membawa sebuah peti yang kelihatannya cukup berat, mereka terlihat memasuki lift menuju lantai paling atas. Pandangan Arinda tertuju pada lift yang tengah bergerak naik.


“Aku punya ide, ayo ikut” Ujar Arinda sambil menarik tangan Arman.


Dengan mengendap-endap mereka menaiki tangga ke lantai atas.


“Ayo cepat, kita harus mendahului lift itu” Kata Arinda mempercepat langkahnya menaiki lantai demi lantai.

__ADS_1


“Iyaaa, sabar napa” Gerutu Arman dengan napas terengah-engah.


Akhirnya


mereka berhenti di lantai lima, sedangkan lift masih bergerak dilantai tiga.


Arinda menyarungkan pistolnya dan mengeluarkan semacam taser dari pinggangnya.


“Mau ngapain lo?” Tanya Arman bingung.


Arinda menempelkan taser pada tombol lift dan menyalakannya, beberapa kilatan dan bunga api muncul, dan pintu lift pun terbuka secara paksa. Lift secara perlahan naik keatas mendekati tempat mereka,


“Lompat…” Ujar Arinda seraya menarik Arman.


Tanpa ada waktu untuk protes, Arman dan Arinda sudah berada di atas lift tersebut.


“Kau dengar itu?” Ujar salah seorang prajurit yang seperti mendengar sesuatu diatas mereka.


Arinda yang mengetahui hal itu memberikan isyarat kepada Arman agar diam tak melakukan gerakan.


“Ndak ada suara apa-apa kok, mungkin karena gedung tua jadi lift nya pun agak berkarat” Jawab rekannya.


“Tidak, aku benar-benar mendengar sesuatu” Ujarnya yakin.


Tak lama kemudian pintu lift terbuka, mereka bergegas mengangkut keluar peti-peti tersebut. Arinda berusaha mengintip dari celah ventilasi.


“Ohh tidak, mereka sudah menyiapkan sampai sejauh ini” Ujar Arinda terkejut.


“Maksud lo?” Tanya Arman yang kemudian ikut-ikut mengintip kebawah.


“Mereka punya rudal Javelin” Jawab Arinda.


“Aku pernah dengar itu, rudal serangan darat ke udara paling canggih milik AS. Apa benar sehebat itu?”


“Tak akan ada yang mampu mendekati gedung ini dari udara” Ujar Arinda yakin.


***


Belum ada satupun mahasiswa yang keluar dari Kelas, Pak Roni melarang semua mahasiswa untuk keluar sampai situasi aman. Meskipun Pak Roni juga tak tahu apa yang sedang terjadi di luar.

__ADS_1


Bruakkkk…!!!


Terdengar suara pintu kelas dibuka dengan paksa, membuat pandangan seisi kelas tertuju pada pintu yang terbuka lebar. Lalu masuklah tiga prajurit bertopeng dan bersenjata lengkap, yang disusul oleh beberapa dosen dan pegawai Tata Usaha yang berhasil mereka tangkap.


“Masuk, gabung dengan mereka!!” Paksa salah satu prajurit sambil mendorong seorang pegawai hingga tersungkur. Para dosen dan pegawai lainnya pun bergegas menuruti apa yang diperintahkan.


Lalu tak lama kemudian masuklah seorang pemuda yang tak memakai topeng dan hanya memegang pistol di tangannya. Seisi kelas berubah menjadi gaduh karena kedatangan prajurit-prajurit yang menyeramkan itu.


“Teman-teman mohon tenang, termasuk Pak Dosen juga” Ujar pemuda tersebut.


Tapi ucapan lantang pemuda itu tak mampu membuat seisi kelas menuruti perkataannya.


Duarrr…


Satu tembakan terlepas dan seisi kelas pun langsung membisu, ada juga yang menutup mulutnya sambil menangis karena ketakutan.


Pemuda itu berjalan ke depan kelas dan mengambil dokumen absensi,


“Arman Winarno…yang mana anaknya?” Tanya pemuda itu.


Seisi kelas kembali sunyi, tak ada yang berani menjawab termasuk Ardi dan Anastya. Mereka sudah menduga kalau para prajurit tak dikenal ini tengah mengincar Arman.


Duarrr…


“Jawab!!!” Teriak pemuda itu yang diiringi dengan suara tembakan yang masih menggema.


Tapi mereka semua masih membisu, karena memang tak tahu kemana Arman tadi pergi. Pemuda itu pun berjalan menghampiri Pak Roni,


“Bisa tolong katakan dimana mahasiswa Bapak yang bernama Arman?” Tanya pemuda itu dengan sopan, sambil memainkan pistolnya.


“Sa..saya tidak tahu, tadi dia keluar bersama temannya entah kemana” Jawab Pak Roni berusaha menekan rasa takutnya.


“Jangan Bohong” Bentak pemuda itu seraya menodongkan pistolnya tepat di kepala Pak Roni.


“Be..Benar, Sa..saya tidak tahu kemana dia pergi” Jawab Pak Roni dengan gemetar hebat.


Pemuda itu perlahan menurunkan pistolnya, lalu menekan alat komunikator di telinganya.


“Paket masih di luar, cari dia” Perintahnya.

__ADS_1


Sandra bernafas lega setelah mendengar kalau Arman belum tertangkap oleh mereka. Dia memilih meninggalkan pistolnya di ruang kerjanya dan sengaja tertangkap, agar bisa masuk ke kelas Arman untuk melihat situasinya. Untuk saat ini dia hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk keluar dan mencari Arman. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah,


Arman bersama dengan siapa???


__ADS_2