Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 15


__ADS_3

Pagi itu Arman berdiri di depan pintu kamar Shinta, mengamati dengan seksama sesosok perempuan yang terbujur lemas itu melalui celah pintu. Arman tak tahu pasti Shinta sedang sakit apa, tapi yang terlihat adalah dia sangat pucat dan sesekali menahan sakit yang sering menyerang tangan kirinya.


“Kau kah itu Man?” Ucap Shinta pelan.


Arman bergegas masuk ke dalam kamar dan mendekati Shinta. Sebenarnya dia sudah cukup lama berdiri di sana karena Arman tak ingin mengganggu Shinta yang tengah istirahat.


“Lo ternyata bisa sakit juga ya?” Ujar Arman


Shinta hanya tersenyum mendengar ejekan Arman itu.


“Kamu mau kuliah? Bentar ya aku mau siap-siap” Ujar Shinta seraya berusaha bangun. Tapi Arman justru mencegahnya.


“Nggak….lo harus istirahat, gue ndak mau bawa-bawa orang yang lagi sakit” Cegah Arman.


Shinta pun menurutinya dan kembali merebahkan tubuhnya, kalau tidak karena kondisinya yang sedang lemah mungkin Shinta akan bersikeras untuk menjalankan tugasnya.


“Shin, sebenarnya gue punya banyak pertanyaan mengenai tangan kirimu itu. Tapi ya sudahlah, sepertinya itu sangat rahasia” Ujar Arman sambil berjalan keluar.


“Cepet sembuh ya…” Tambahnya seraya menutup pintu kamar Shinta.


Ingin sekali Shinta menghentikan langkah Arman lalu menceritakan semuanya, tetapi masih banyak terbesit keraguan dalam hatinya, dan Arman pun sudah berjalan pergi. Ada rasa sesal menyergapnya.


***


Suasana di mobil saat itu berubah menjadi sunyi, Anastya dan Ardi yang biasa bertengkar kini lebih sering sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dan Arman, sudah jelas apa yang sedang dia pikirkan selama di perjalanan, siapa lagi kalau bukan pengawalnya yang saat ini sedang berjuang menahan rasa sakit. Meskipun Shinta jarang ikut ngobrol, tetapi keberadaannya sangat mempengaruhi mood.nya Arman.


“Tenang saja Man, Shinta sudah terbiasa mengalami kondisi seperti itu, mungkin 3 hari lagi dia akan bertugas kembali” Ujar Robin memecah kesunyian, nampaknya dia mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Arman.


Tiba-tiba mobil berhenti, pintu belakang mobil terbuka dan masuklah Sandra.


“Saya yang akan mengawalmu selama Shinta masih sakit” Kata Sandra.


Arman hanya mengangguk saja, baginya semua agen Paspampres semuanya membosankan kecuali Shinta. Ardi dan Anastya Nampak kebingungan dengan hadirnya Sandra,


“Oh iya aku lupa bilang, Bu Sandra ini agen Paspampres juga, sama seperti Shinta” Ujar Arman yang mengerti kebingungan kedua temannya itu.


“Ohhhh…” Ujar mereka berdua secara bersamaan.


***


Tinggal Shinta seorang yang sedang terbaring di kamarnya, senampan sarapan yang sudah mulai dingin menandakan bahwa Shinta sama sekali tak menyentuhnya sedari tadi.

__ADS_1


Berkali-kali Bu Inah, salah satu pembantu di rumah ini mengingatkan Shinta untuk segera memakannya. Tapi nampaknya rasa sakit yang terus menyerang tangan kirinya membuat dia tak bernafsu untuk menyantap sarapannya.


“Kalau kamu ndak makan, kondisimu akan semakin lemah, Shinta. Nanti kamu ndak bisa bertugas lagi” Bujuk Bu Inah sambil mengelus-elus rambut Shinta.


Bu Inah memang sudah memanggap Shinta seperti putri kandungnya sendiri. Karena Shinta seumuran dengan putrinya yang berada di kampung. Shinta juga menganggap Bu Inah seperti ibu kandungnya sendiri, tempat dia berbagi cerita sebagai seorang remaja.


“Ibu suapin ya? Biar cepet sembuh, biar cepet bertugas lagi.” Ujar Bu Inah lembut.


Akhirnya Shinta menurutinya, kasih sayang Bu Inah memang membuat Shinta serasa didampingi oleh seorang ibu.


“Bu, apa benar cinta itu harus mau menerima segala kekurangan?” Tanya Shinta.


“Tentu saja, karena kita sudah memilihnya” Jawa Bu Inah.


“Kalau kita merahasiakan salah satu kekurangan kita, lalu suatu ketika dia mengetahuinya, apakah dia akan pergi meninggalkan kita Bu?” Tanya Shinta lebih detail


Bu Inah agak kaget, tetapi dia mulai paham dengan apa yang sedang mengganggu pikiran Shinta.


“Kalau dia benar-benar mencintai kita, dia ndak akan mempermasalahkan itu.” Jawab Bu Inah sambil memberikan segelas air minum pada Shinta.


Tanpa terasa Shinta sudah menghabiskan sarapannya. Shinta kembali merebahkan tubuhnya, dia terus memegangi tangan kirinya.


Pantaskah aku dengan dia? Tanyanya dalam hati.


***


“Ini bus dari mana?” Tanya Sandra pada salah satu satpam yang bertugas.


“Ada kunjungan dari SMA 1 Dharmawangsa ke kampus ini” Jawab satpam itu.


“Sudah kalian periksa?”


Satpam itupun mengangguk mengiyakan. Tapi Sandra ingin memastikannya lagi, dia menekan alat communicatornya untuk menghubungi agen di belakangnya.


“Periksa seluruh Bus itu, jangan biarkan masuk sebelum semua bersih. Kami akan masuk duluan” Perintah Sandra.


“Itu Cuma bus kunjungan anak SMA Bu, ndak perlu berlebihan” Ujar Arman.


“Kami hanya mengikuti prosedur, itu demi keamanan” Jawab Sandra.


Arman tak menjawab lagi, dia sudah terbiasa mendengar jawaban semacam itu dari Shinta, jawaban paling membosankan menurutnya. Tak terasa mereka pun sudah sampai, Arman dan kedua temannya bergegas turun menuju kelas. Sementara Sandra segera menuju ruangannya setelah memastikan segalanya aman.

__ADS_1


***


“Kedua agen Paspampres tadi kok belum selesai memeriksa ya? Sudah setengah jam lebih ndak keluar-keluar dari bus itu” Gerutu salah seorang satpam.


“Iya juga ya, kasian juga tuh anak-anak SMA nungguin. Apa kita suruh masuk aja langsung?” Sahut rekannya.


“Yaudah deh, yang penting sudah kamu lihat surat izinnya kan?” Ujar satpam lainnya.


Akhirnya ketiga satpam di ruang kendali itu pun sepakat untuk mengizinkan bus-bus itu masuk, dengan sekali tekan tombol pagar baja otomatis itu pun perlahan terbuka. Secara perlahan bus-bus itu pun masuk ke lingkungan kampus, dari luar tak terlihat siapa yang ada di dalam bus itu karena menggunakan kaca satu arah, tetapi itu adalah hal yang wajar dipasang pada bus-bus pariwisata.


Satu bus terparkir di halaman gedung Rektorat, satu bus masih berjalan menuju ujung belakang kampus dan satu bus terparkir tak jauh dari ruang kendali. Pintu bus terbuka dan keluarlah beberapa orang bertopeng yang dilengkapi dengan seragam tempur bersenjata lengkap. Tiga orang bergerak maju secara perlahan mendekati ruang kendali, salah seorang mengambil flashbang dan melemparnya.


DUARRRR!!!


Dalam sekejap seluruh penjaga dalam ruang kendali itupun lumpuh, satpam lainnya yang berada diluar pun juga dengan mudah dilumpuhkan dengan beberapa tembakan berperedam. Kini seluruh keamanan dan akses masuk dalam kampus ini sudah dikuasai. Kelompok lainnya pun juga telah menguasai gedung rektorat dan seluruh pos keamanan.


***


DUAR..DUAR..DUAR


Beberapa tembakan terdengar menggema di seluruh area kampus. spontan kegiatan perkuliahan pun berubah menjadi panik, tak terkecuali Arman beserta kedua temannya. Tiba-tiba Arinda bangkit dari duduknya dan mencengkeram tangan Arman, di tangan satunya Nampak memegang sesuatu, itu adalah pistol berperedam.


“Ayo cepat ikut aku” Paksa Arinda sambil menyeret Arman.


“Hey, kalian mau kemana?” Cegah Pak Roni, yang saat itu tengah memberikan kuliah Radiologi.


“Ini bukan urusanmu” Bentak Arinda sambil mengacungkan pistolnya.


Pak Roni pun tak berani membantah lagi, Anastya dan Ardi pun juga mengurungkan niatnya untuk menyusul Arman saat melihat pistol itu.


“Lepasin tangan gue, apa-apaan sih lo?” Ujar Arman menarik tangannya kuat-kuat.


“Mereka mengincarmu, aku juga agen seperti Shinta”


Arman terkejut mendengarnya, ternyata benar apa yang dikatakan Shinta bahwa Arinda adalah seorang agen.


Suara tembakan beruntun kembali terdengar, bahkan diiringi juga dengan ledakan-ledakan hebat. Arinda kembali mencengkeram tangan Arman dan menariknya.


“Kita harus sembunyi, mereka tak boleh menemukanmu” Katanya.


Baru beberapa meter dari pintu kelas tiba-tiba Arinda menghentikan langkahnya, Arman melihat ada beberapa orang bertopeng dan bersenjata lengkap tengah menyisir hampir seluruh lorong gedung ini.

__ADS_1


“Ternyata mereka tahu kalau kamu disini, ayo cepat lewat sini” Arinda menarik Arman memasuki lorong sempit yang menembus belakang kelas, Arman pun juga baru tahu adanya lorong ini.


__ADS_2