Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 28


__ADS_3

Bruakkk…


Arinda melempar Alex hingga terpental dan merobohkan tembok, entah masih hidup atau tidak tapi dia sudah tak mampu lagi untuk berkutik.


“Arrhgghhhhh…” Tiba-tiba Arinda jatuh tertunduk sambil memegangi kepalanya.


“Rin, lo kenapa?” Teriak Arman panik.


“Ka..kalian cepat keluar dari sini. Te..tempat ini akan segera hancur.” Ujar Arinda terbata-bata.


“Ha?” Arman masih terbengong tak mengerti.


Arinda kembali berdiri dan menghampiri Alex yang tak mampu berdiri lagi. Dia mengangkatnya dengan satu tangan dan melemparnya, hingga merobohkan tembok lainnya.


“Arinda…kamu kenapa?” Teriak Shinta.


“Ce…cepat pergi, A..aku sudah tak kuat lagi menahannya” Ujar Arinda sambil memegangi kepalanya lagi.


Lalu dia kembali berdiri dan menghampiri Alex yang mungkin sudah tak bernyawa. Kini Arinda menghujamkan pukulan demi pukulan pada Alex.


“Hentikan..” Teriak Arman sambil beranjak menghampirinya.


“Jangan…kita harus pergi dari sini” Cegah Shinta sambil menarik tangan kiri Arman.


“Tapi…”


“Dia bukan lagi Arinda yang kita kenal” Ucap Shinta.


Arman terkejut mendengar hal itu, Apa maksudnya? Tak ada pertanyaan yang tepat selain itu.


Mereka berdua akhirnya berhasil keluar dari rumah itu, masih terdengar suara-suara gaduh dari dalam sana. Arman terus memandangi rumah itu, sementara Shinta menyipitkan matanya pada satu benda yang melesat dari kejauhan. Benda itu semakin dekat dan Nampak jelas sekali.


“Awasss….” Teriak Shinta, spontan mereka berdua pun menunduk.


Duarrrr…..


Sebuah roket melesat dan menghantam rumah itu, ledakannya cukup besar hingga mampu menghancurkan leburkan rumah seluas itu.


Arman berlari mendekat, tapi kobaran api menghadangnya. Tatapannya kosong melihat bangunan yang hancur lebur itu, sudah pasti dia mengkhawatirkan Arinda, tapi mustahil dia bisa selamat dari ledakan sebesar itu.

__ADS_1


“Sudahlah Man…itu sudah menjadi resiko seorang intelijen” Ujar Shinta sambil meraih tangan kiri Arman.


“Aku melihatnya…” Ujar Arman menyipitkan matanya.


“Dia tak mungkin selamat Man.”


“Tidak…aku benar-benar melihatnya” Ucap Arman lebih tegas, matanya terbelalak dan tak berkedip sedikitpun.


Shinta melihat ke arah pandangan Arman, dan terlihat sesosok manusia yang tengah berjalan di tengah kobaran api.


“Mustahil…” Ucap Shinta tak kalah syok.


Perlahan semakin nampak jelas. Sosok itu tak terlihat seperti Arinda, sebagian tubuhnya seperti terbuat dari logam. Ada juga beberapa bagian tubuh yang masih terbungkus kulit, tapi sebagian besar hanyalah logam. Lebih mirip seperti Terminator yang sering Arman lihat di film-film.


Perlahan dia berjalan mendekati Shinta dan Arman yang masih syok tak percaya.


“Sudah kubilang…aku paham perasaanmu Shin. Kamu masih ingin menjadi gadis normal sepertiku?” Ujar sosok separuh robot itu.


Shinta terkejut bukan main, dia mengenali suara itu, terlebih lagi dia tahu ucapan itu.


“Arinda…” Ucap Shinta lirih.


Dan tak lama kemudian terdengar suara helicopter dari langit, dan suaranya semakin mendekat. Puluhan prajurit pun diturunkan dan mengamankan seluruh area, meskipun kini hanya tinggal puing-puing saja.


Beberapa Tim medis pun bergegas melakukan pertolongan pertama pada Arman dan Shinta yang tengah terluka.


“Shin…Terima kasih ya, sampai ketemu di Rumah Sakit” Ucap Arman sebelum mobil ambulance membawanya.


Shinta tersenyum puas, kini dia sudah lega karena tak ada lagi perlu dirahasiakan. Arman ternyata mau menerima kondisinya yang seperti ini.


“Bagus Shin, kamu telah menyelamatkan putra presiden. Aku tak tahu betapa senangnya nanti Pak Presiden bertemu denganmu” ujar Kolonel Ivan.


“Aku rasa setelah ini kamu bakalan makin dekat dengan Arman” Ujar Bagas menggoda.


“Kak Bagas bisa aja…” Muka Shinta agak memerah.


“Well done Shin…” Puji Bagas.


“Thanks Kak..”

__ADS_1


***


Sekitar tiga hari berlalu, Shinta menyempatkan diri untuk menjenguk Arman. Meskipun tangan kirinya belum sepenuhnya pulih, dan masih harus melakukan rehabilitasi selama seminggu. Lagipula profesornya pun memperbolehkan Shinta untuk keluar laboratorium perbaikan untuk beberapa saat, dan dia juga mendapat izin dari Bagas.


“Hai Man…” Sapa Shinta.


“Hai Shin…masuk-masuk”


Shinta masuk dan mengambil duduk di dekat Arman.


“Gimana tanganmu?” Tanya Shinta.


“Gue juga pengen Tanya gitu ke elo Shin” Jawab Arman.


Shinta tertawa kecil mendengar jawaban Arman yang baginya cukup aneh.


“Tanganku gak apa-apa, mungkin butuh rehabilitasi sekitar empat sampai lima hari lagi. Setelah itu aku boleh bertugas lagi. Lalu tanganmu?”


“Well…pukulan sekuat itu tak mungkin tak mematahkan tulangku. Cukup parah, tapi kata dokter masih bisa sembuh kok…Cuma mungkin butuh waktu aja” Jawab Arman santai.


“Maaf ya…gara-gara aku”


“Yaaahh mau gimana lagi, gue minta dipasang tangan kayak punyamu aja…ayah gue ndak mengizinkan. Padahal gue pengen” Ucap Arman tanpa penyesalan sedikitpun.


Senyum kecil kembali menghiasi wajah Shinta, dan baru kali ini Arman melihat itu. Kurasa dia manis juga, Batin Arman.


“Ngomong-ngomong soal flashdisk itu….”


“I am in…” Sergah Arman.


“Ha?”


“Lo masih penasaran dengan flashdisk, Arinda dan serangan roket itu kan? Gue juga. Jadi gue akan ikut untuk menyelidiki kasus ini. Lagian kan Cuma kita berdua yang tahu” Ujar Arman bersemangat.


Shinta hanya manggut-manggut mendengar jawaban Arman. Memang berbahaya, tapi tak mungkin dia bisa melakukannya sendiri, terlebih lagi Arman pasti akan keras kepala.


“Tapi sebelumnya aku harus membuka isi flashdisk itu dulu, kita harus tahu apa isi di dalamnya. Dan kita butuh orang yang bisa membukanya” Usul Shinta.


“Oke, tapi lo harus hati-hati Shin…kita tak boleh percaya sembarang orang” Jawab Arman.

__ADS_1


“Aku tahu siapa orang yang tepat…” Ujar Shinta yakin.


__ADS_2