Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 21


__ADS_3

Bruakkk…


Suara gebrakan meja menggema seluruh ruangan,


“Seharusnya saya tahu” Ujar Kapten Hasim geram


Nafasnya naik turun menahan amarah dan penyesalan yang tiada tara. Kapten mana yang sanggup menanggung beban seperti ini, kehilangan kurang lebih 25 prajurit terbaiknya dalam sekejap.


Andai saja dia menuruti hati nuraninya, pasti tak akan seperti ini jadinya.


Seluruh ruangan juga terdiam membisu, tak ada yang berani angkat bicara. Mereka turut menyesal atas tragedi yang menewaskan para prajurit Kopassus itu.


“Sudahlah kapten, kita harus secepatnya menyusun strategi. Setidaknya kita tahu beberapa hal, yaitu yang pertama mereka memiliki banyak senjata canggih dan tak bisa dianggap enteng, dan yang kedua putra presiden masih berada di dalam sana.” Ujar Kolonel Ivan.


“Dan untuk semua operasi gabungan, saya harapkan ini menjadi pembelajaran untuk kalian. Kita tak boleh gegabah, kita harus menyatukan kekuatan dan menyelaraskan gerakan.” Tambahnya.


***


Arman dan Arinda berjalan dengan dikawal lima orang musuh, memasuki ruang kelas dimana seluruh mahasiswa dan dosen ditahan.


“Selamat datang Arman Winarno, sang putra presiden… lama kita tak berjumpa” Sambut seorang pemuda yang wajahnya tak asing lagi bagi Arman.


“Alex? kukira lo udah dihukum mati” Ujar Arman kaget.


“Iya benar sekali, seharusnya aku sudah dihukum tembak mati beberapa bulan yang lalu. Dan aku memang sudah mati semenjak kau memasukkanku ke dalam penjara paling gelap di negeri ini.


Tapi berkat kapten Zafran, sekarang aku yang memimpin pasukan ini, dan kupastikan kali ini kau tak bisa kabur lagi. Kau akan membayar semua yang dulu kau perbuat padaku, Arman” Ujar Alex


“Siapa dia?” Bisik Arinda.


“Salah seorang prajurit muda yang dulu terlibat dalam tragedy penculikanku” Jawab Arman


Alex memperhatikan seragam yang dikenakan Arman dan Arinda yang telah basah kuyup.


“Kau ingin mengulang cara yang sama? Sayangnya persenjataan kami jauh lebih canggih sekarang. Tapi itu tadi hampir saja kalian bisa lolos, lumayan juga” Puji Alex.


“Lo tak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup, lo tak akan dapat apa-apa dari gue.” Ancam Arman geram


“Oh ya???” Pandangan Alex melirik pada Arinda.


“Dia teman sekelasku, kebetulan kami tadi keluar bersama” Ujar Arman yang mengerti arti pandangan Alex.

__ADS_1


“Hmmmm…” Alex berjalan mengamati Arinda lebih dekat.


Tiba-tiba Alex menarik pistolnya dan mengarahkannya ke kepala Arinda.


“Heiii….” Teriak Arman seraya ingin mencegahnya.


Tapi Arinda dengan sigap menangkap tangan Alex, melepas magasen pistolnya, lalu mengokangnya hingga peluru pertama terjatuh dan merebut pistol itu. Spontan seluruh moncong senapan serbu yang mereka bawa mengarah pada Arinda.


“Mana mungkin orang dengan kemamampuan seperti itu hanyalah seorang mahasiswi?” Ujar Alex seolah sudah tahu siapa Arinda sebenarnya.


Kejadian barusan membuat seluruh mahasiswa dan dosen terkejut, terutama Arman. Hanya seorang agen lapangan yang professional yang mampu melakukan gerakan seperti tadi.


“Sudah cukup basa-basinya, sedang apa agen GRU ada di kampus ini?” Tanya Alex.


Pertanyaan itu membuat Arinda terkejut, tapi tak ada gunanya juga mengelak, dia sudah mengentahui identitasnya dari awal.


“Jawab!!!..” Bentak Alex.


“Kalian tak akan mendapat informasi apa-apa dariku, meskipun nyawaku taruhannya” Jawab Arinda tegas.


“Baiklah....lagipula aku sudah tahu jawabannya, jadi aku tak membutuhkanmu, Habisi dia” Perintah Alex.


Lima buah senapan serbu mengarah pada Arinda, mereka tengah bersiap untuk menembak. Dan tiba-tiba Arman berdiri tepat di depan moncong-moncong senapan itu.


Seluruh ruangan terkejut dengan apa yang mereka lihat saat ini, terutama Sandra, Anastya dan Ardi.


“Dasar sembrono” Gumam Sandra.


“Arman….” Ucap Arinda tak percaya.


Tiba-tiba Alex pun tertawa terbahak-bahak.


“Ini hanya nalurimu saja atau memang ada urusan pribadi diantara kalian?” Ujar Alex.


Suasana menjadi hening sejenak, tapi kelima musuh masih pada posisinya siap menembak.


“Kumpulkan mereka bersama dengan yang lainnya, kita masih punya banyak pekerjaan” Perintah Alex. Yang membuat seluruh mahasiswa dan dosen disana bisa bernafas lega.


***


Duarrrrr……

__ADS_1


Terdengar ledakan hebat yang menggelegar hingga terdengar oleh semua orang di sekitar lokasi pembajakan, termasuk para anggota pasukan gabungan. Dari kejauhan terlihat asap mengepul sangat tinggi.


“Sial, apa yang sebenarnya terjadi?” Gumam Kolonel Ivan dalam hati.


Telepon kembali berdering, seluruh peserta diskusi spontan menoleh termasuk Bagas. Kolonel Ivan memberi isyarat padanya untuk bergegas mengangkatnya.


“Halo….”


“Kak Bagas??” Terdengar suara yang sangat familiar.


“Arman? Ada dimana kamu? Apa kamu baik-baik saja?” Jawab Bagas dengan antusias.


“Putra presiden baik-baik saja, selama kalian tak bertingkah macam-macam seperti tadi” Terdengar suara yang berbeda, tetapi masih tetap familiar.


“Kau?? Kau apakan Arman?” Ujar Bagas yang seketika berubah nada bicaranya.


“Aku bilang putra presiden baik-baik saja, dan kuanggap kejadian tadi adalah pelajaran untuk kalian yang bertindak macam-macam.


Sekarang, kami punya permintaan lain. Sediakan dua helicopter pengangkut berbahan bakar penuh dan harus siap sebelum jam 4 sore ini, lalu sediakan sebuah pesawat pengangkut berbahan bakar penuh di bandara terdekat dan tidak boleh ada seorangpun disana. Pesawat itu harus siap sebelum jam 5. Kalian mengerti??”


Bagas terdiam sejenak, meskipun permintaannya tak terlalu sulit tetapi dia harus tetap waspada.


“Baiklah, tapi kami ingin tahu dahulu bagaiman keadaan Arman” Jawab Bagas.


“Kalian sudah dengar suaranya kan tadi? Waktu kalian 1 jam lagi” Telepon langsung terputus.


Seluruh ruangan masih terdiam setelah panggilan tadi berakhir, mereka benar-benar buntu. Tak ada cara untuk masuk melalui darat maupun udara.


“Saya rasa ada salah satu cara, tapi tingkat keberhasilannya tak lebih dari 20% ”Ujar AKBP Jono sambil memperhatikan cetak biru dari kampus tersebut.


Semua mata seraya tertuju padanya.


“Pagar baja itu dikendalikan otomatis oleh pusat kontrol, dan juga seluruh CCTV di kampus itu. Terlebih lagi SMB (Senapan Mesin Berat) mereka juga dikendalikan dari pusat kontrol. Kalau kita bisa meretas sistemnya, maka kita bisa kendalikan itu semua” Ujar AKBP Jono.


Beberapa operator senior pun langsung memainkan jarinya untuk mencoba masuk ke system keamanan kampus itu. Namun beberapa saat kemudian,


“Maaf, system keamanannya setara dengan militer, kita tak bisa meretasnya dengan mudah.” Ujar salah seorang operator.


“Sialan…” Umpat Bagas


“Sudahlah, itu biar menjadi tugas kami untuk memecahkannya. Sekarang tugasmu adalah cari tahu apa yang sebenarnya mereka incar dan apa hubungannya dengan permintaan-permintaan yang mereka ajukan tadi” Perintah Kolonel Ivan pada Bagas.

__ADS_1


“Saya kira itu tidak perlu Kolonel, sepertinya saya mengerti apa yang sebenarnya mereka incar…” Tiba-tiba terdengar suara dari pintu masuk. Lalu masuklah seseorang yang membuat Kolonel Ivan dan Bagas agak terkejut.


“Ngapain kamu kesini?...” Tanya Bagas.


__ADS_2