Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 24


__ADS_3

Suara-suara tembakan juga samar-samar terdengar di ruang tempat para mahasiswa dan dosen ditahan. Beberapa musuh juga mulai berlarian keluar ruangan, dan hanya menyisakan beberapa orang yang masih berjaga didalam.


“Kita bisa atasi mereka” Ujar Sandra sambil memperhatikan beberapa musuh yang tengah berjaga.


“Bisa saja, tapi kita tak tahu apa yang terjadi di luar sana…kalau ternyata pasukan kita kalah, sama saja kita cari mati” Jawab Arinda.


“Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, mereka pasti akan membawa Arman, mereka tak membutuhkan yang lain” Sandra mulai beranjak berdiri,


Tapi tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar ruangan, suasana menjadi hening sejenak.


“Kalian berdua lihat apa yang sedang terjadi” Perintah salah seorang tentara musuh yang nampaknya lebih senior.


Baru saja mereka berdua membuka pintu, mereka sudah terpental kebelakang dengan dada tertembus peluru tajam. Lalu masuklah beberapa prajurit berseragam serba hitam.


“Jangan bergerak, tempat ini sudah terkepung” Teriak salah seorang prajurit.


Tiga tentara musuh yang tersisa pun memilih untuk menyerah dan menurunkan senjatanya.


“Kak Sandra..” Terdengar teriakan yang terdengar sangat familiar.


“Shinta…syukurlah kamu datang.” Ucap Sandra.


Mata Shinta seraya menelusuri ke seluruh penjuru kelas, tapi sosok yang dia cari ternyata tak ada disana.


“Mereka membawa Arman Shin, tapi kami tak tahu kemana” Ujar Sandra seolah mengerti siapa yang sedang Shinta cari.


“Kurasa mereka tahu…” Ucap Arinda seraya berdiri dan menyambar pistol milik Shinta,


Dia berjalan mendekati salah seorang musuh yang sudah diamankan oleh petugas.


“Katakan dimana kalian menyembunyikan Arman? Jawab!!!...atau kupecahkan kepalamu.” Ujar Arinda sambil menodongkan pistol ke kepala tentara musuh.


“Ru..uang rektor…di ruang rektor” Jawabnya agak ketakutan.


“Ayo kita kesana” Ujar Arinda seraya melemparkan pistol milik Shinta.


Arinda bergegas meninggalkan ruang kelas, Shinta pun mengikuti di belakangnya.


“Mau kemana kau Arinda?” Cegah salah seorang prajurit, dari suaranya seperti tak asing bagi Arinda.


“Kita masih punya misi yang lebih penting” Seraya prajurit itu membuka topengnya.


“Kak Hesti? Tapi aku harus…”


“Misi kita jauh lebih penting, sekarang ambil peralatanmu dan segera ikut aku” Potong Hesti dengan tegas.


Arinda terdiam ragu, dia ingin sekali menyelamatkan Arman, tapi sejak awal bukan itu misi utamanya.


“Lanjutkan misimu, biar aku yang menyelamatkan Arman, itu adalah misiku” Ujar Shinta.


Dengan berat hati Arinda mengangguk mengiyakan. Shinta memeriksa kembali senjatanya dan beranjak pergi.


***

__ADS_1


Tembakan terus gencar menghujani AKP Farid beserta kedua anggotanya yang tersisa. Mereka tak bisa sembarangan menembak karena amunisi sangat menipis, sehingga sekali tembak haruslah kena.


“Peluru saya habis Pak” Ujar salah seorang anggotanya yang tak jauh darinya.


“Ini pakai lah…amunisi terakhirku” Jawab AKP Farid sambil melemparkan sebuah magasen berisi amunisi.


Satu-satunya harapan mereka adalah bantuan dari Tim Charlie yang tak kunjung datang.


Tiba-tiba terdengar tembakan dari samping, merobohkan sekitar 3 orang musuh. Dari suaranya sepertinya hanya tembakan pistol, yang jelas itu bukanlah dari Tim Charlie.


Sesosok cewek dengan cepat berlari sambil menembakkan pistolnya, dan dia mampu merobohkan 2 musuh lagi.


“Maaf saya terlambat” Ujar Shinta yang berlindung di balik tiang dekat AKP Farid.


“Tidak apa-apa, bagaimana situasinya?”


“Tim Charlie sudah membebaskan para Sandra, sebaiknya anda segera menyusul kesana. Saya akan lindungi anda” Jawab Shinta.


“Lalu kau sendiri?”


“Saya harus mencari Arman”


AKP Farid berfikir sejenak, hatinya agak bimbang karena mana mungkin gadis ini mampu menghadapi lima orang musuh yang tengah menembaki mereka.


Shinta berdiri agak menunduk lalu melancarkan 3 tembakan, dan 3 tentara musuh pun jatuh bersimbah darah. AKP Farid agak tekejut, baru kali ini dia menemukan tembakan seakurat itu. Meskipun tersisa dua orang musuh, tapi tembakan mereka tak kalah gencar dari sebelumnya.


“Sekarang Pak, biar aku yang mengatasi mereka.” Ujar Shinta tegas.


AKP Farid beranjak pergi bersama kedua anggotanya, kebimbangannya seraya sirna setelah melihat kemampuan Shinta. Jangankan dua orang musuh, satu regu pun pasti bisa diatasi olehnya.


AKP Farid beserta kedua anggotanya sudah agak jauh, Shinta pun berdiri dan membidik kedua targetnya. Dalam sepersekian detik, kepala musuh sudah tertembus peluru milik Shinta. Tanpa buang waktu, Shinta langsung berlari menyusul Arman.


Benar-benar akurasi yang mengerikan, gumam AKP Farid yang melihat kejadian itu dari kejauhan.


Shinta berlari mengendap-endap memasuki pintu masuk, dia mengintip dan terlihat hanya ada dua orang musuh yang berjaga. Dia yakin bisa mengatasinya dengan mudah,


[brukk…brukk.]


Baru saja Shinta ingin beranjak, kedua tentara musuh itu sudah jatuh terkena tembakan.


“Shinta…” Terdengar suara dari sisi seberangnya.


“Kak Sandra?” Ucap Shinta segera berlari menghampiri seniornya di Paspampres itu.


“Ayo cepat, tak ada waktu lagi” Ucap Sandra.


Sandra dan Shinta bergegas masuk menuju ruangan tempat Arman dibawa, yaitu ruang rektor di lantai dua. Beberapa anak tangga terlewat, akhirnya mereka berdua sampai di ruang Rektor. Dengan hati-hati mereka mendekat, kini mereka sudah berdiri di depan pintu dan bersiap menerobos masuk.


“Ada yang tak beres..” Ujar Shinta.


“Kenapa?”


“Terlalu sunyi…” Jawab Shinta sambil memperhatikan sekeliling.

__ADS_1


Sandra tak menghiraukan hal itu, dengan sigap dia menendang pintu hingga terbuka lebar, seraya mengarahkan pistolnya ke seluruh sudut ruangan,


Kosong??? Gumam Sandra terkejut.


Shinta berlari memeriksa seluruh sudut ruangan, kalau-kalau ada tempat persembunyian yang tak terlihat.


“Apa jangan-jangan musuh memberikan info palsu?” Tebak Sandra.


“Aku rasa tidak Kak, dia amat ketakutan mengatakannya” Jawab Shinta.


Shinta terdiam berfikir sejenak, Sandra masih sibuk memeriksa setiap jengkal dari ruangan ini.


“Jangan-jangan….” Ujar Shinta seraya berlari keluar.


“Shinta Tunggu….”


Sandra mengejar hingga keluar gedung, Shinta terus berlari menuju sisi samping gedung rektorat. Ternyata disana banyak berkumpul pasukan gabungan, termasuk Henry, Hesti dan Arinda.


Shinta tak peduli dengan mereka, dia terus menerobos masuk ke ruangan rahasia itu. Arinda pun juga ikut mengejarnya,


“Sudah kuduga….” Ujar Shinta seakan menemukan apa yang dia cari.


Sandra dengan agak terengah-engah melihat-lihat sekeliling, pandangannya tertuju pada sebuah terowongan kecil yang mirip pintu, tetapi lebih kecil dari ukuran pintu pada umumnya.


“Kami yakin mereka telah kabur lewat terowongan ini” Ujar Arinda yang berdiri di belakang mereka berdua.


“Kita harus segera menyusulnya…” Shinta beranjak masuk kedalam terowongan itu.


“Jangan…jangan bertindak sendiri, Kolonel Ivan pasti sudah menyiapkan strategi dan Tim untuk menyusulnya, sebaiknya kita dengarkan dulu instruksi dari beliau” Cegah Sandra.


“Tenangkan dirimu, aku juga akan membantu” Dukung Arinda.


Dengan berat hati Shinta menuruti kata-kata seniornya dan agen GRU itu. Meskipun kakinya sudah gatal ingin mengejar Arman, dan tangannya sudah ingin menghantamkan pukulannya ke muka orang yang menjadi dalang tragedy ini.


***


Presiden Joyo Winarno tiba di pos komando pasukan gabungan, otomatis seluruh penjagaan disana menjadi meningkat. Setelah turun dari helicopter, Presiden tertegun melihat pemandangan di sekitar posko, banyak sekali orang tua yang memeluk anaknya dengan sangat erat.


Penyanderaan beberapa jam membuat mereka seperti terpisah beberapa tahun. Beliau kembali teringan putranya, bahkan meskipun para Sandra sudah berhasil dibebaskan tetapi Arman masih ditangan musuh.


Dalam hati beliau terbesit rasa iri, ingin sekali beliau bertukar tempat dengan mereka, hanya agar bisa memeluk putranya.


“Ada apa Pak? Para komandan pasukan gabungan sudah menunggu anda di dalam” Ujar salah seorang pengawalnya.


“Oh..tidak apa-apa. Maaf…” Jawab Pak Presiden terbangun dari lamunannya.


Dari depan pintu pos komando, Kolonel Ivan menyambutnya dan memberi hormat, begitu pula seluruh komandan pasukan gabungan saat beliau masuk ke ruangan.


“Maaf Pak, Kami kehilangan Arman lagi” Ujar Kolonel Ivan saat hanya berdua dengan presiden di ruangan khusus.


“Kalian sudah berusaha semampu kalian…Sudah anda siapkan strategi dan Tim untuk mencarinya, benar kan?” Tanya Presiden sambil menatap keluar jendela.


“Tentu saja Pak, bahkan kami juga mendapat bantuan dari GRU.” Jawab Kolonel Ivan dengan tegas.

__ADS_1


“Bagus…saya percaya kalian bisa” Ucap presiden sambil menangkap sesosok gadis yang tengah duduk menyendiri di teras Posko. Dengan memakai rompi anti peluru dan sebuah senjata terselip di pinggangnya, dia masih terlihat seumuran dengan Putranya.


Aku percaya dia bisa, batin Pak Presiden sambil terus memperhatikan gadis itu dari balik jendela.


__ADS_2