Sang Pengawal

Sang Pengawal
Bab 25


__ADS_3

Shinta duduk menyendiri di teras Posko, meski di sekitanya banyak petugas dan orang tua yang lalu lalang, tapi hatinya terasa begitu sunyi. Di pikirannya masih terngiang soal Arman, dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri, kalau saja dia tak memperdulikan rasa sakitnya dan tetap ikut Arman kuliah pasti tak begini jadinya.


Pasukan musuh benar-benar cerdik, semua komandan bahkan Kolonel Ivan juga tak menyangka kalau mereka akan lewat jalan rahasia itu, tuntutan untuk menyediakan panser, helicopter, dan pesawat itu hanya omong kosong belaka.


“Siaalll…harusnya aku cepat menyadari itu” Gumam Shinta sambil menundukkan kepalanya.


“Tak usah depresi seperti itu….kita semua telah lengah mengantisipasinya” Terdengar suara tepat dari samping.


Shinta menoleh, Arinda sudah berdiri di sana dari tadi.


“Siapa juga yang depresi” Ucap Shinta menutupi kekecewaannya.


“Kalau begitu minumlah..” Seraya Arinda menyodorkan segelas susu panas.


Shinta menerimanya, dia meneguknya…terasa nikmat. Itu karena perutnya memang belum terisi makanan sedikitpun sejak tadi pagi.


“Ngomong-ngomong…terima kasih sudah menjaga Arman, aku sudah mendengar ceritanya dari Kak Sandra” Ucap Shinta seraya meneguk kembali susunya.


“Iya sama-sama” Jawab Arinda singkat.


Suasana menjadi hening kembali, padahal di sekitar mereka ramai petugas yang lalu lalang.


“Ini….lihatlah” Arinda menyodorkan sebuah Tab


Shinta menerimanya, disitu terlihat seperti sebuah potret denah dari angkasa.


“Ini kan?...”


“Iya benar, itu foto citra satelit dari kampus itu. GRU sudah menganalisa citranya dan lihat apa yang terjadi pada terowongan rahasia itu..” Arinda seraya mengutak-atik tabnya.


“Buntu….Tidak mungkin, bagaimana bisa?” Ucap Shinta terkejut.


“Lebih tepatnya sengaja dibuntu, sepertinya mereka meledakkan langit-langitnya hingga runtuh, dan mungkin butuh waktu untuk membongkarnya”


“Sial, kita tak ada waktu lagi…mereka keburu jauh” Ucap Shinta agak gusar.


“Coba geser peta itu ke samping”


Shinta menurutinya, dan akhirnya dia menemukan sebuah harapan.


“Terowongan itu tembus sampai pinggir hutan?” Tebak Shinta


Arinda mengangguk mengiyakan. Seraya Shinta beranjak berdiri,


“Kau mau kemana? GRU sudah memberitahu Kolonel Ivan, jadi alangkah baiknya kalau kau menunggu perintah darinya” Cegah Arinda.


“Sudah tak ada waktu lagi” Shinta melanjutkan langkahnya.


“Tunggu…”

__ADS_1


Shinta berhenti lagi dan menoleh, apapun alasannya dia harus tetap berangkat sekarang. Dia tak bisa diam saja sementara dia mengetahui dimana Arman berada.


“Setidaknya kita harus membawa perlengkapan, amunisimu juga menipis kan?” Ujar Arinda.


“Kita?”


“Iya…aku akan ikut denganmu” Ujar Arinda sambil bergegas mengemasi beberapa peralatan.


“Apa atasanmu mengizinkan? Bahkan mungkin Kolonel Ivan juga tak setuju dengan tindakanku ini” Shinta juga ikut mengambil beberapa peralatan dan amunisi.


“Kami ini intelejen, tak seperti kalian para aparat Negara yang harus bertindak sepengetahuan atasan. Kami diperbolehkan melakukan apa saja asal misi kami tercapai” Jawab Arinda dengan santai.


Shinta hanya tersenyum kecil mendengar itu.


Malam itu mereka berdua menyelinap diam-diam menuju pinggiran hutan, tempat dimana terowongan itu berakhir. Disanalah kemungkinan besar ada petunjuk kemana Arman dibawa.


***


Malam itu bulan purnama bersinar redup, jarak pandang menjadi sangat terbatas bagi siapapun yang berjalan di tengah hutan ini. Medannya cukup mudah untuk dilalui, namun masalahnya Cuma kegelapan. Tapi dengan menggunakan alat bantu penglihatan malam, Shinta dan Arinda mampu menjelajahi hutan seperti biasa.


Mereka berhenti di suatu titik yang dianggap pas untuk mengintai, pengalaman di Kopassus dan Intelijen membuat mereka berdua dapat menentukan tempat paling strategis.


“Lihat…arah jam 10” Seraya Arinda menyerahkan teropong intainya.


“Dua truk militer, satu humvee dan satu panser…itu pasti mereka” Ucap Shinta bersemangat.


“Tapi kita tak mungkin melawan mereka semua, dua truk militer itu saja mengangkut sekitar 40 orang.”


Tak lama kemudian terdengar suara gemuru dari angkasa, dua helicopter Apache andalan TNI melesat dan mengepung pasukan musuh. Tak jauh dari sana 3 helikopter pengangkut juga menurunkan beberapa pasukan untuk ikut mengepung. Barracuda Densus 88 juga tak mau kalah untuk menurunkan pasukan terbaiknya ikut dalam penyergapan itu.


“Kami sudah mengepung kalian, menyerahlah. Sebelum kami bertindak” Ucap suara yang menggema di angkasa.


Shinta dan Arinda dengan hati-hati mendekat ke lokasi pengepungan.


Beberapa detik berlalu, masih tak ada pergerakan dari musuh.


“Mereka tak selemah itu..” Ucap Arinda.


“Apa?”


“Mereka pasti merencanakan sesuatu, mereka tak semudah itu bisa disergap” Ujar Arinda lebih jelas.


Mustahil, bagaimana mungkin mereka bisa lolos dari pengepungan ini? Batin Shinta sambil memikirkan ucapan Arinda.


Tiba-tiba terdengar suara tembakan beruntun dari kejauhan. Ternyata panser itu melontarkan puluhan flashbang dalam sekejap. Banyak prajurit yang mengalami gangguan buta sesaat akibat itu. Belum sempat mereka pulih, 2 truk pasukan musuh menghujani mereka dengan peluru tajam. Mereka tak bisa apa-apa selain roboh tertembus peluru.


“Eagle 1 dan Eagle 2 serang mereka” Perintah dari radio.


Dua helicopter apache itu bergerak mendekati target untuk melakukan serangan balasan.

__ADS_1


[wusss…duarrr…duarr]


Entah dari mana datangnya tiba-tiba dua roket berhasil menghantam dua apache itu hingga jatuh dan meledak hebat.


“Mustahil…” Ujar Shinta tak percaya melihat jatuhnya kedua helicopter serbu andalan TNI itu.


“Ranjau helicopter…mereka pasti sudah mempersiapkan itu” Jawab Arinda


Terdengar lagi tembakan beruntun, panser itu kembali melontarkan sesuatu ke arah pasukan penyerbu. Ledakan demi ledakan dahsyat bermunculan, menerangi hampir seperempat dari hutan ini. Pasukan musuh melontarkan granat HE (High Explosive), sudah pasti banyak korban jiwa dari pihak aparat.


Mereka berdua berhenti di sebuah pohon besar yang tak jauh dari pertahanan musuh, menunggu saat yang tepat untuk menyusup masuk. Meskipun banyak yang terluka tetapi para pasukan penyerbu masih gencar menembaki.


“Oh tidak…setelah ini mereka pasti akan menembakkan granat asap” Ujar Arinda.


“Dari mana kau tahu?”


“Pasukan bantuan sebentar lagi datang, terlalu bodoh untuk menghadapinya dengan strategi yang sama. Pimpinan mereka tak sebodoh itu, dia pasti lebih memilih kabur” Jawab Arinda.


Shinta setuju dengan pendapat Arinda, artinya mereka harus bisa menyusup masuk sekarang.


“Kita gunakan Humvee itu saja” Usul Shinta.


“Ide bagus…”


Tak lama kemudian tembakan beruntun terdengar lagi, ternyata benar panser itu kini melontarkan granat asap. Asap yang semakin tebal membuat para petugas tak mampu melihat dengan jelas. Tentara musuh yang tersisa berlompatan naik ke dalam truk, panser pun bergegas meninggalkan tempat itu yang diikuti oleh kedua truk militer.


Dua musuh bergegas memasuki humvee untuk menyusul,


Pyarrr….


Sebuah tangan tiba-tiba menjebol kaca pintu humvee dan mencekik leher musuh. Dengan sekali tarik, musuh terlempar keluar dengan leher remuk. Rekannya yang kaget bergegas mengangkat senjatanya tetapi bidikan Shinta lebih cepat, tentara musuh itu roboh dengan lubang peluru di kepalanya. Arinda langsung menyeret mayat itu keluar dan mengambil alih kemudi, humvee itu berhasil mereka ambil alih.


Padahal mereka hanya tertinggal beberapa detik, tapi ternyata jarak mereka cukup jauh dari panser dan kedua truk. Arinda memacu humvee itu dengan kecepatan penuh, jalan hutan yang mulus dan jarang dilalui kendaraan membuat mereka dapat meilihat dengan jelas panser beserta kedua truk dari kejauhan.


“Tanganmu lumayan hebat juga ya” Ujar Arinda sambil melirih kaca humvee yang jebol.


“Kau mungkin tak tahu rasanya, memiliki anggota tubuh yang tak dapat kau rasakan keberadaannya.” Ucap Shinta sambil memegangi tangan kirinya.


“Sebenarnya, aku paham perasaanmu”


“Tidak…kau tak akan paham. Aku tak akan pernah menjadi gadis normal sepertimu. Itulah mengapa Arman tertarik padamu.” Sergah Shinta, dia merasa Arinda hanya berusaha menghiburnya saja.


Arinda tersenyum kecil mendengar hal itu, dia sudah menduganya kalau Shinta memang suka dengan Arman, tapi dia tak menyangka kalau Shinta akan memberinya petunjuk sejelas ini.


“Apa Arman tahu soal tanganmu?”


Shinta menggeleng lesu,


“Mungkin sebaiknya dia tetap tak tahu” Ucap Shinta lirih.

__ADS_1


Humvee mereka pun perlahan melambat, rombongan pmusuh hanya tinggal beberapa ratus meter di depan mereka. Sebisa mungkin mereka tak menimbulkan kecurigaan.


__ADS_2