
Aku terdiam menyimak cerita kak Dhaniel. Lalu merasa ada sebuah plot twist di cerita nya. Kak Dhaniel nampak mengusap mata nya ku rasa ia menangis.
"Kalo boleh tau, di mana kaka kecelakaan" tanya ku penasaran.
Kak Dhaniel mengingat lokasi dimana ia mengalami insiden itu.
"Di depan sekolah SMP, tapi aku lupa nama SMP nya apa" kata-kata kak Dhaniel membuat dada ku sesak. Apa jangan-jangan kak Dhaniel lah yang telah merenggut ayah ku.
"Kok cerita kakak nyambung sama cerita ku" aku penasaran
"Nah itu juga yang mau aku tanya kan, soal nya setelah kejadian itu aku dirawat tiga bulan di rumah sakit karena cidera parah, dan yang mengurus semua pertanggung jawaban adalah asisiten keluarga ku".
Aku memijat kepala ku yang mendadak sakit. Membuang nafas menarik nya lagi. Dada ku amat sesak, seperti nya tebakan ku benar. Di waktu itu Bunda perotes kepada keluarga yang menabarak ayah ku.
Bunda bilang kenapa tak ada satu pun dari keluarganya yang datang malah mengirimkan dua orang asisten nya untuk memberi uang duka cita.
"Kamu pusing?" Tanya kak Dhaniel.
"Yang kakak tabrak itu Ayah Eriska ka" ucap ku berani. Sekarang mata ku benar-benar panas. Air mata sudah keluar dari tadi.
"Ha ternyata benar?" Kak Dhaniel menjambak rambut nya frustasi.
"Eriska maafin aku?" Dia menggenggam tangan ku.
Tuhan, pertanyaan yang dari dulu menghantui ku kini terjawab sudah. Laki-laki di hadapan ku inilah sang pembunuh ayah ku.
Apakah aku harus memaafkan nya tuhan. Hati ku terlalu sakit mengingat nya.
"Kenapa baru muncul sekarang kak?" Aku perotes pada sosok di samping ku.
"Aku mencari-cari keluarga orang tersebut Er. Aku amat sangat inginย meminta maaf" aku masih menangis. Hatiku amat sangat sakit, hingga aku melihat kalung bunga ku berwarna hijau gelap.
Aku melepaskan genggaman tangan kak Dhaniel, dengan berurai airmata aku berdiri dari tempat ku. Dan memilih meninggalkan nya.
Kak Dhaniel mencoba menahan ku, tapi aku menepis tangan nya.
Aku berlari jauh sekali entah dimana berusaha menjauh dari semua orang. Hingga aku menemukan sebuah tempat yang sepi tapi nampak nya sangat nyaman.
Aku menjatuh kan diriku di bawah pohon nan rindang. Menangis sejadi-jadinya, memukul-mukul tanah dan terus terluka akibat pernyataan kak Dhaniel. Perasaan sakit, tak terima dan benci bercampur jadi satu.
"Ayahhhhh!!!!" Teriak ku kemudian hati ku sakit sekali.
Aku duduk sambil memeluk lutut. Tanpa sadar dari kejauhan Rey menatap ku. Tidak berani mendekat. Rey memejamkan mata nya tatkala ia mendengar aku meraung-raung memanggil ayah ku.
Aku merasa kalung ku selalu memberikan efek tenang tapi hati ku selalau ingin menngis. Aku masih menangis frustasi. Hingga tanpa sadar awan berubah mendung.
__ADS_1
Aku tetap tidak perduli. Tak lama kemudian hujan deras turun, deras sekali disertai angin kencang.
๐๐๐๐๐๐๐
Dhaniel pov on.
Setelah kepergian Eriska gue memukul meja dengan sangat keras. Menyesali kegoblokan gue tiga tahun yang lalu menjambak rambut amat sangat frustasi.
Eriska sekarang pasti sedang terluka kembali. Tapi gue juga gk bisa apa-apa, gue juga sedih dua orang yang gue sayang malah berakhir begini.
Gue menatap nanar kedepan. Sampai awan tak terasa mulai gelap sebelum hujan turun gue harus segera pergi.
Gue kembali lagi ke Vila. Melihat anak-anak sudah pada masuk ke vila. Mereka sedang bersantai ria disana. Tapi gue gak ngeliat Eriska.
"Kak Eriska gak sama lo?" Almira bertanya. Gue kaget karna emang Eriska tadi pergi begitu ajah, ya gue pikir dia juga udah balik ke Vila.
" eh, tadi Eriskaย pulang duluan Almira. Gue kira udh sampe Vila" Almira menggeleng.
"Belom kak, ini gue nyari mau gue ajak lunch, dia belom makan sih dari tadi pagi" ucapย Almira.
Gue kebingungan sendiri. Lantas kemana Eriska. Gue mengajak seorng anak bernama Toni untuk menemani mencari Eriska karna hujan deras mulai turun.
"Kak hujan gak mau neduh dulu" ucap Toni.
"Ton tolong banget ini Eriska gak ada kalo dia kehujanan nanti sakit" Toniย mengerti.
Gue mengitari seluruh bangunan vila baju yang gue dan Toniย kenakan sudah basah kuyup, mencari Eriska di mana pun tidak ketemu. Vila ini luas membuat gue dan Toni agak nya susah mencari Eriska.
"Ton, hujan nya malah tambah deres banget, lu balik ke Vila dulu, gue mau lanjut" ucap gue. Gue gak enak karna gue takut Toni jadi sakit juga.
"Beneran kak?" Gue mangangguk. Dan lari cepat meninggalkan Toni. Toni menurut dan segara balik ke Vila.
Gue masih berlari di tengah nya hujan, sudah dua jam mencari tapi tidak bertemu dengan Eriska. Hujan masih belum mau reda juga. Angin nya berhembus membuat cuaca lebih dingin lagi. Tangan gue sudah keriput. Bibir juga sudah membiru.
Tapi gue gak mau nyerah gue tau Eriska pasti lagi ketakutan.
Gue kembali menyusuri semua wilayah di tempat ini sampai gue menmukan tempat terakhir yang belum gue jelajahi.
Gue melangkah disana, di bawah pohon besar gue melihat seorng gadis meringkuh smbil menangis.
Hati gue sangat sakit, melihat nya. Ini semua gara- gara gue.
Gue menghampiri gadis itu. Benar Eriska lah yang dudukย disana.ย Baju nya basah kuyup. Ia nampak menangis berjam-jam lama nya hingga iya nampak kacau.
Gue memeluk nya kemudian, namun tak ada respon apa pun.
__ADS_1
"Pulang ya " ajak gue lembut kepada Eriska,ย dia diam tak sedikit pun menjawab.
"Ayo" Eriska masih diam. Saat gue membantu nya bangun ternyataย Eriskaย sudah dalam keadaan sangat lemah.
Badan nya lunglai, dingin dan pucat. Tanpa menunggu persetujuan dari siapa pun gue pun mengangkat nya kembali ke Vila.
DHANIEL POV OFF
๐๐๐๐๐๐
Aku tau kak Dhaniel datang. Tapi aku sudah tidak punya daya lagi untuk bangkit, dingin, dan lemas begitu yang aku rasakan. Hingga ia memilih menggendong ku menuju vila.
Sampai nya disana semua orang melihat ku dan kak Dhaniel yang basah kuyup. Almira langsung tak pakai lama membantu kak Dhaniel. Merebahkan ku di kasur dan meminta Almira mengganti baju ku di kamar.
Tiga puluh menit kemudian. Aku sudah merasakan hangat. Satu dari minyak angin yang Almira oleskan di kaki dan tangan ku, dua dari kalung hijau yang kini mengeluarkan cahaya lembut lagi.
Aku membuka mata perlahan. Melihat kondisi kamar ku agak nya ramai. "Er, udh bangun" aku melihat Al di depan ku. Aku berkedip mengisyaratkan bahwa aku suudah sadar.
Dari banyak nya orang yang berkerumun aku melihat Rey. Dia berdiri di sebelah kak Dhaniel yang juga ada disana. Melihat kak Dhaniel membuat aku merasa tidak tenang.
Almira menyentuh kening ku dan terkejut saat suhu badan ku sangat panas.
"Lo demam Er" ucap Al. Kak Dhanielย ikut menyentuh kening ku, lalu ia mengurus izin agar aku di pulangkan terlebih dulu agar di berikan penangan yang tepat.
Ya kini aku, Almira dan kak Dhaniel di pulangkan terlebih dahulu.
Almira di tugaskan untuk menjaga ku di mobil, sedangkan kak Dhaniel yang menyetir mobil.
๐๐๐๐
Sementara Rey.
Rey yang sejak tadi melihat potongan demi potongan kejadian yang telah di alami Eriska kini tampat sedikit frustasi.
Ia kasian memikirkan kondisi Eriska tapi ia juga tak paham. Kenapa ia menjadi sekalut ini. Juga jika Eriska dekat dengan Dhaniel ada perasaan was was di hati nya. Takut jika Eriska menyimpan perasaan pada nya.
Seseorng menepuk Rey. Kaget juga ada orng lain yang bisa melihat nya. Ternyata itu bukan orang yang kita semu ketahui itu Fransisca. SCHEDULER ANGELย sama seperti Rey hanya Fransisca ini versi perempuan nya.
"Sedang apa?" Tanya Sisca.
"Duduk saja" jawab Reyย singkat.
Fransisca duduk disamping Rey, gaun putih nya menjulur indah saat sang empunya ikut duduk.
"Ada gosip dari kerajaan Syurga tentang mu Rey" ucap sisca, Rey tak terlalu tertarik.
__ADS_1
"Nanti aku ceritain, tapi kita harus ke kerajaan syurga, ada yang penting kata nya" fransisca mengajak Rey. Rey sebenernya tidak mau tapi Fransisca memegang tangan nya dan otomatis Rey menghilang.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐