
Disini lah aku. Di halte bis sekolah bersama pria yang kini tak asing lagi bagi ku. Namun kedatangan nya tetap lah hal yang tak biasa. Malaikat REY
"Sedang apa kau disiini" tanya nya sambil menatap ku, aku diam saja tak membalas nya.
Sibuk mengusap air mata yang turun terus membanjiri pipi ku.
Ia menatap ku tajam
"Hidup itu anugrah Nona. Maka dari itu aku berada disisi mu agar aku bisa membuat sisa hidup mu berguna" ucap nya kemudian
"Seperti aku yang pernah hidup. Dan menyesali mengapa aku tak memanfaatkan nya dengan baik?"
Lanjut nya.
Aku memilih diam
"Aku tahu hati mu masi marah kepada hujan yang membawa ayah mu pergi"
Kini aku menatap nya.
"Tapi kau tak boleh terus-terusan menyalah kan hujan" ucapan nya menusuk hati ku
"Aku gak akan nyalahin hujan kalo hujan gak mengambil ayah ku." Ucap ku bergetar.
"Kamu ngapain disini? Ngapain kamu menghantui aku dengan hukuman mu. Ngapa kamu gak langsung aja ngambil nyawa ku biar aku cepat bisa ketemu ayah. Aku memng bodoh. Aku memng ceroboh dan aku gak bisa mengubah sifat ku" ucap ku frustasi
"Aku tak bisa melaku kan itu nona" ia tertunduk dalam
"Malaikat macam apa kamu. Bukan nya kmu bilng bisa melakukan apa pun yang kamu mau?" Ucap ku menantang nya
"Nona dengar kan aku. Ayah mu akan sangat sedih jika kamu berkata seperti ini" ucap nya.
Aku terdiam. Menatap kosong kearah depan.
"Ngertti apa kamu sama perasaan ayah ku?" Entah kenapa, aku selalu sensitif jika membahas kematian ayah, dan hujan.
Rasa-rasanya aku ingin betanya pada sang pengemudi mobil itu kenapa ia membunuh ayah ku.
"Aku tidak mengerti tapi aku pernah bertemu ayah mu"
Aku terdiam, mencerna kata demi kata yang Rey ucap kan.
"Aku sungguh pernah bertemu ayah mu. Bahkan saat aku di beri tugas untuk mengawasi mu. Aku sempat bertemu ayah mu"
Rey menyentuh tangan ku, aku sedikit terkejut karna tangan nya yang dingin.
Aku bisa merasakan tangan es nya itu. Aku menatap mata nya yang tak lagi hidup tapi berbinar - binar
"Sungguh?" Tanya ku
Dia mengangguk
"Aku ingin bertemu Ayah"
"Belum saat nya nona" ucap Rey, ia melepaskan genggaman nya dan kemudian tubuh Rey menipis dan Rey menghilang.
TING
__ADS_1
Satu pesan masuk ke handphone ku. Tanpa nama dan tanpa nomer. Aku membuka nya dan membaca nya
Tanpa nomer:
Hidup itu anugrah.. maka jalani jangan kau sia-siakan. Di sana banyk sekali jiwa-jiwa mati yang ingin kembali hidup demi membenahi masa lalu nya. Dan aku disini nona. Menemani mu untuk membuat hidup mu lebih berguna.
Setidak nya itu yang ayah mu pesankan kepada ku.
Sungguh kau bukan indigo nona. Jika kau indigo pasti kau bisa melihat ayah mu di ujung jalan tadi.
Tapi seperti dugaan ku. Melihat nya saja kau tidak bisa.
Jangan lagi membenci hujan nona.
Itu pesan ayah mu pada ku
Malaikat kekinian 😄
REY
Aku terbelalak kaget, sungguh? Apa kah Rey berbohong. Ayah ku ada di ujung jalan sana.
🕊🕊🕊🕊🕊🕊
Aku terpaksa pulang dengan kondisi besah kuyup. Sampai rumah bunda segera menemuiku dan membuat segelas coklat hangat. Kata bunda agar pikiran ku menjadi tenang dan tubuh ku menjadi hangat
Sesudah mandi dan ganti baju aku duduk menatap jendela besar di depan ku. Menatap air yang turun mengalir ke kaca kamar ku.
"Gk makan Er?" Tanya bunda saat menemui ku di kamar.
Bunda duduk di samping ku. Mengelus rambut panjang ku.
"Kenapa sih? . Masi bete kalo liat hujan?" ucap bunda sembari menghela nafas berat
"Enggak kok bun. Gpp aku biasa saja" ucap ku berbohong
"Bunda tau Er, Eriska gk baik-baik ajh" ucap bunda ku.
"Bunda semenjak ayah gk ada udah ngerasa baik?" Cecar ku membuat bunda terkejut.
Bunda tersenyum lembut. Ia memilih duduk di hadapan ku. Dan mengusap tangan ku lembut.
"Saat bunda kehilangan ayah, kehadiran Gavin, Eriska dan Bara adalah anugrah. Bunda enggk lagi sedih karna bunda tau ayah percaya sama bunda, bunda bisa jaga anak-anak nya dengan baik. Kalo Eriska mau tau, dunia bunda gelap, tapi bunda selalu dapet cahaya dari kamu dan sodara-sodara kamu".
Aku menatap sendu wajah bunda.
"Kematian bukan lah akhir Eriska, bisa jadi ini adalah awal, awal bagi sebuah perjalanan, udh gak boleh sedih-sedih ya". Ucapan bunda menenangkan hati ku.
Dari tadi perasaan ku tak nyaman, ingin memaki hujan, namun bunda dengan sabar dan alus nya memberi semangat.
Aku terdiam mengusap air mata ku yang turun. Tiba-tiba suara dari bara tedengar masuk ke kamar ku.
"Bundaaaaa" teriak anak kelas dua SMP itu
"Eh..eh.. Bara baju kamu basah ituu.. ayoo ganti dulu" ucap bunda
"Siap bunda" ucap nya lalu pergi.
__ADS_1
Bunda hendak memyusul bara namun aku menghentikan langkah nya dengan mencekal tangan bunda.
"Ada apa Eriska?" tanya bunda mengurungkan niat nya
"Bunda. Apa bunda percaya kepada Mal___" ucapan ku terpotong saat suara alarem sialan itu berbunyi lagi
Biipp...bippp...biiip
"Percaya apa sayang" tanya bunda. Aku melihat siluet Rey di balkon kamar ku. Dia berdiri di tengah hujan. Astaga aku mengurungkan niat ku
"Ah, enggak bun.. enggak jadi" ucap ku meringis
Bunda menggelengkan kepla nya lalu memilih menemui Bara
"Dasar kau perempuan nakal" ucap Rey tiba-tiba
"Apa??" Tanya ku terkejut.
"Kau tidak boleh menceritakan identitas ku kepada siapa pun termasuk perempuan itu" ucap rey
Mataku terbelalak.
"Hai! Memang nya kamusia Dia itu ibuku tau. Wajib dan udah pasti boleh tau apa pun tentang anak nya." Aku berlagak di depan Rey
Tiba-tiba rey menekan tombol pada jam yang ia pakai
Ngiiiiiiiiiiingg
Entah mengapa tiba-tiba kuping ku berdengung membuat ku sangat tidak nyaman
"Aduh..aduuhh" aku menutup kedua kuping ku namun semakin tidak nyaman.
Begitu terus selama sepuluh menit dan tepat sepuluh menit dengungan itu hilang.
Aku bernafas kasar. Akhir nya hilang sudah dengungan itu. Rey di depan ku tertawa terbahak-bahak
"Apaan soh Rey!!" ucap ku hendak memukul nya tapi tiba-tiba tubuh nya menghilng dan muncul lagi di atas kasur ku
"Ey...ey sudah-sudah. Itu hanya sebagian hukuman nona. waktu mu akan berkurang 4 hari" ucap nya dengan menampilkan 4 jari nya.
Aku terdiam. Merasakan ia terlalu semena-mena pada hidup ku.
"Gak perlu empat hari Rey. Ambil saja semua nya sekarang, biarin ajh aku mati. Biar aku bisa ketemu ayah" ucap ku sendu.
Dia berjalan dan berdiri tepat di depan ku.
"Maaf nona. Apa nona pikir ayah nona mau bertemu dengan nona sekrang. Sayang nya tidak jadi aku tak bisa menuruti itu" ucap nya
"Ahh udah lah Rey, kamu gak usah susah-susah ngikutin aku. Kamu bakal repot nanti. Biarin aku buruk kalo ini udah jalan hidup aku. Aku akan __" belum selesai peekataan ku Rey langsung memeluk ku.
Dia memeluku lalu berdekham karna perasaan ku mulai canggung.
"Ekhm, maaf nona" ucap nya. Sambil melepas pelukan nya
Astga Rey. Kau sudah membuat dada ku berdetak kencang hari ini.
🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊
__ADS_1