Scheduler Angel

Scheduler Angel
sembilan


__ADS_3

Perjalan masih amat panjang. sejak kedatangan kak Dhaniel aku dan Al tidak saling mengobrol, takut-takut salah bicra. akhirnya Almira memutuskan untuk tidur saja, sedangkan kak Dhaniel memejamkan mata sambil mendengarkan musik di earphone nya. suara nya berisik sekali. apakah aku bisa tidur tenang? sedangkan mata ku lelah dan ingin sekali terpejam.


Aku mencoba bertahan dan menahan kantuk ku. tapi aku sudah tidak tahan dan tanpa sadar mata ku terpejam dan aku masuk ke alam bawa sadar ku.


๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ


Sedari tadi Dhaniel sedang berdiam diri, sambil menahan hati nya yang berdegup tidak karuan, dia sampai harus menyetel lagu kencang anggar degup jantung nya tidak terdengar oleh perempuan di samping nya. entah kebetulan atau bagaimana ia harus di pertemukan dengan Eriska. wanita yang sedari tadi malam tidak pergi-pergi dari pikiran nya.


tapi ada yang aneh dari wajah Eriska, mata nya sembab, seperti habis menangis semalaman, kenapa kamu Eriska?


Dhaniel memejamkan mata nya dan pura-pura tidur saja agar dia tidak kaku sendiri, tiba-tiba kepala Eriska bersandar di bahu nya, "Dia ketiduran, kasian sekali" gumam nya dalam hati. Dhaniel menatap puncak kepala Eriska, dan memperbaiki posisi duduk nya agar Eriska makin nyaman saja.


๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ


POV REY. on


Aku memandang kedua insan ini. merasakanย  rasa cinta di dalam hati laki-laki di samping Eriska. tapi jua ada luka di dalam nya. "Bukankah ini guru killer yang di benci Eriska?" tanya ku sendiri.


"Apakah dia mencintai Eriska?" gumam ku lagi. dalam hati ku kenapa terasa sedikit sakit apakah aku cemburu? bukan nya hanya manusia yang memiliki perasaan. bukan kah aku hanya malaikat? kenapa aku bermain dengan perasaan ku saat ini?.


jika memang Dhaniel ini mencintai Eriska apakah ada yang salah?. sebentar kenapa aku merasakan tugas kali ini berbeda? biasa nya aku menghabiskan nyawa-nyawa manusia lalai segera pergi tapi kini?. kenapa aku terjebak hati?.


Aku terus menatap Eriska yang tertidur di bahu Dhaniel. Aku ingin saja mengusir Dhaniel tapi tidak akan mungkin karna Dhaniel tidak akan melihat ku.


Detik berikutnya aku melihat tangan Dhaniel mengelus lembut tangan Eriska. Karna aku merasakan hati ku sakit aku memutuskan menghilang dari sini. Aku tidak sanggup melihat adegan dewasa ini huh :(


Pov Rey off


๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ


Di sela tidur ku aku merasa ada tangan hangat yang mengusap tangan ku.


Sedikit aku membuka mata ku. Terkejut saat melihat kak Dhaniel mengusap pelan tangan ku.


Detik berikutnya aku baru tersadar saat ternyata kepala ku sedang bersandar di bahu kak Dhaniel. Almira masih terlelap. tapi guru killer ku ini masih terjaga.


"kenapa sudah bangun?" tanya nya kemudian.ย  didalam bis sangat sunyi dan gelap. Seperti nya hanya kami yang sudah terjaga.


"ah iya kak, saya lapar" alasan ku.


"kaka gak tidur?" tanya ku kemudian


"saya ingin tidur, tapi bahu saya capek" ucap nya sambil memijat bahu ny bekas sandaran ku. "maaf kak" dia tersenyum. untuk pertama kalinya dia tersenyum pada ku. "No problem" ucap nya.


tiba-tiba ponsel ku berdering nama kak Gavin tertera di layar HP ku


"Hallo.. kenapa kak?"


"...."


"ah.. ini masih di jalan,lu nelfon dari tadi gue gak denger"


"....."


"belom kak. iya abis ini gue makan kok"


"..."


"bunda baik-baik ajah kan?"


"....'


"oke see you"


"...."


"aih, tumben lu sok-sokan love you hehehe"


"..."


"yess me too crewet"


aku mematikan telfon dari kak Gavin. tapi Dhaniel menatap ku kini intens "Gavin? Gavin smith grey?" ucap nya sambil mengerutkan keningnya "ah iya, dia kaka ku" kak Dhaniel membulatkan kedua mata nya.

__ADS_1


"Kamu adik perempuan Gavin?" Ucap kak Dhanielย  terkejut. Namun dia masih bisa mengatur volume nya. Aku mengangguk


"Kak Gavin bilang kalian saling kenal".


Kak Dhaniel menepuk pelan kening nya lalu ia menatap ku lagi tidak percaya. "Saya dulu sering main ke rumah Gavin, tapi kok gak pernah liat kamu?" Tanya ka Dhaniel.


"Saya ada kak, di kamar mungkin"


Dhaniel tiba-tiba teringat sesuatu saat SMA dulu. Ia bermain bersama Gavin. Nongkrong sambil main PS di rumah nya. Dhaniel sempat melihat siluet cewek yang nampak nya masih duduk di bangku SMP.


Karna Dhaniel masih berpacaran dengan Auryn dia tidak terlalu menggubris cewek itu. Ya Dhaniel baru mengingat nya.


PUKUL 20.00 WIB


udara kini begitu dingin. bis yang ku tumpangi sudah tiba di lokasi. akuย  memakai sweater yang aku bawa dari rumah. Almira mengusap-usap kan tangan nya agar lebih hangat. kakย  Dhaniel pun sudah meninggal kan kami sejak turun tadi, dan berkumpul dengan rombongan guru.


di ujung sana aku melihat penampakan. bukan. bukan hantu aku melihat Rey, dia memakai jas putih bersih dan menatap ku dari jauh. melambaikan tangan nya dan pergi. mungkin hanya ingin memantau ku saja. aku lumayan sudah terbiasa dengan kehadiran dan kepergian nya yang tiba-tiba.


seorang instruktur membuka acara malam hari ini. memegang toa di tangan nya "baik siswa/siswi sekrng kalian akan membentuk sebuah kelompok dan satu kelompok di isi oleh lima orng siswa dan seorang guru pembimbing" instruktur itu menyebutkan nama satu persatu hingga tiba giliran ku


-Aku


-Almira


-Helmi


-Nawa


-Dina


-Yoshep


dan guru pembimbing kak Dhaniel.


kebetulan apa ini? aku merasa banyak kebetulan berdua dengan dia. Almira melenguh malas. malas sekali harus bersama guru yang tidak bisa bersenang-senang itu.


Tiba-tiba dunia ku berhenti. kecuali aku. Almira mematung dengan wajah cemberut nya. api unggun yang sudah menyala juga ikut mematung. pasti Rey akan segera datang. benar saja siluet nya berjalan di keruman orang dan dengan santai nya dia tertawa-tawa melihat ekspresi wajah orang-orang yang mematung


" aku heran sama kamu Rey.ย  Kata nya kamu sibuk, tapi kamu dengan gampang nya datengin aku?" tanya ku saat dia tiba di depan mata ku.


"Ehm, apa ini juga tugas kamu?" Tanya nya lagi.


"Sudah Nona jawab saja!" Ia berucap galak.


"Yaaa aku akan bales suka kalo aku juga suka, kenapa emang?" mata ku sedikit membulat kaget saja mendengar pertanyaan konyol yang terucap dari mulut "Malaikat".


"kamu, mau ku beriย  tau rahasia kecil?" tanya nya lagi. Kepala ku mengangguk "Kamu punya rahasia?"


"Tidak, bukan aku Nona" ucap nya


"Dia" telunjuk nya menunjuk Kak Dhaniel yang ikut mematung


"Ya" balas ku.


"Menyukai mu" ucap nya lalu menghilang, aku terdiam, kini malah aku yang mematung.


Tepat saat Rey menghilang waktu pun kembali berjalan. Tanpa aku sadar, kak Dhaniel sudah berdiri didepan ku yang masih mematung.


"Pukk..puk..puk" Almira menepuk pelan pundak ku. Aku yang kaget langsung mundur dua langkah


"gue dari tadi ngode udahan buk" ucap Almira saat aku memasang wajah mengancam.


Beruntung nya aku, kak Dhaniel tidak memarahi aku, dia langsung memulai aktivitas malam yaitu heart to heart atau hati ke hati.


"Selamat malam guys" sapa nya. malam ini dia tampak friendly, tidak tegang seperti saat mengajar "Malam kak" sahut kami berlima.


"ya, malam ini seperti yang sudah kita semua rasain. badan udah cape, mata udah ngantuk tapi masih aja disuruh aktifitas, Kita gak akan tegang seperti biasa di kelas. kak Dhaniel tidak akan killer. kita bisa ngomong pake lu dan gue, ok biasa ajh" ucap ny sesekali tersenyum.


sebenarnya jika tersenyum kak Dhaniel sungguh tampan tapi ungkapan ini tidak berlaku saat dia mengajar ya.


"Karnaย  ini acara nya heart to heart maka gak afdol kalo kita gak kenalan satu sama lain oke mulai dari gua dulu ya" sambung ny lagi.


"Nama Gua Dhaniel, lengkap nya Albertus Dhaniel Gunawan, lahir di kota tempat kita tinggal tanggal 23 bulan Juni, gua dua bersaudara, gua punya adik laki-laki, tapi sayang, karna sedang ada musibah jadi adik gua lagi koma di rumah sakit, udah tiga tahun dia koma, dia begitu karna kesalahn gue. ya, kita kecelakaan tiga tahun silam. Nama nya Alex Reyhanes Gunawan, doain ya agar Alex segera sembuh" kami melotot tak percaya, mungkin kak Dhaniel bisa menjadi diam dan killer karna masalah ini.

__ADS_1


"Sudah, kita move on ke Almira, who are you?" ucap kak Dhaniel kemudian.


"Nama gue Almira,semua orng memanggil gue Almira, cuman Eriska ajh yang manggil gue Al. mama gue seorang dokter spesialis, tapi gue ga pernah mau di suruh kuliah kedokteran. gue mau jadi arsitek, thanks" perkenalan dari Al.


setelah itu kak Dhaniel menatapku dan menunjuk ku.


"hallo, nama gue Eriska Samanta grey, gue anak ke dua dari tiga bersaudara, kaka gue nama nya Gavin Smith Grey, adik gue nama nya Bara Smith Grey. gak ada yg sepesial di hidup gue. thanks" setelah perkenalan singkat selesai kita kembali membahas sesuatu yang agak nya mulai sensitif.


kak Dhaniel mengajak kita berlima kesebuah tempat agak menyendiri. melingkar rapi sambil di temani api unggun kecil. malam ini agak sedikit mendung,udara bertiup lumayan kencang.


"kesedihan, semua manusia memiliki kisah yang menyedihkan kan dan menyenangkan. gue pribadi ada, satu kisah amat menyedihkan tapi gue mau denger dulu dari Eriska" tunjuk nya lagi pada ku.


"gue kak?" tanya ku di sambut anggukan oleh nya.


"Kesedihan dan kesakitan yang gue harus rasain adalah ketika ngeliat papa gue meninggal di depan mata gue" semua kaget tapi tidak dengan Almira yang sudah tau.


"Papa lu sudah meninggal?" tanya kak Dhaniel, aku mengangguk. "boleh di ceritain?" aku mengangguk dan bercerita panjang lebar.


"Tiga tahun yang lalu, ayah menibggal dalam sebuah kecelakaan beruntun. Di tengah hujan deras"


hampir 10 menit lamanya aku bercerita, ku lihat Kak Dhaniel agak terperanga. Tapi tiba-tiba langit yang mendung mengeluarkan bulir-bulir air bening. kami masih bertahan, karna hujan belum resmi turun tpi tubuhku sudah mulai kaku.


Hatibku tidak karuan. Apa yang aku takutkan terjadi


menit berikutnya, Breess!!


hujan turun begitu derasnya, semua kocar-kacir menyelamatkan diri agar tidak kehujanan, tapi tubuh ku membeku, mata ku panas. kesakitan-kesakitan itu muncul lagi. menahan kaki ku agar dramatis.


Almira memanggil tapi aku tidak hiraukan lagi. aku menangis sejadi jadinya di tengah hujan sendirian. di tonton ratusan anak-anak sekolah ku.


"kenapa dia?" kak Dhaniel panik bertanya pada Almira. "Ehmmm, Eriska takut hujan kak, mungkin dia sedang ketakutan sekarang" tanpa pikir panjang, kak Dhaniel menyusul ku di tengah hujan deras lalu merangkul ku dan membawa ku ke tempat yang teduh.


Aku tak kuat lagi melangkah, kaki ku lunglai dan terjatuh di koridor vila. hanya satu kalimat yang bisa aku ucap "Ayah, Eriska takut ayah" .


semua siswa mengerumuni ku panik, Almira memeluk tubuhku yang basah dan menggenggam tangan ku "Er, udah jangn nangis, eriska sadar ini gue Al" ucap nya, aku tau disebelah ku ada Almira tapi aku tidak tau apa yg membuat ku sedih bukan main.


"Ayah, Eriska takut" ucap ku lagi sambil tersedu. kak Dhaniel mengambil alih, ia kini memeluk ku, ia berkata "Eriska, ketakutan akan menghancurkan mu, tidak ada yang perlu kamu takuti, ada kami" ucap kak Dhaniel.


seketika aku merasa liontin ku menransfer energi hangat membuat ku nyaman dan tenang. kemudian berhenti untuk menangis.


"Kamu kenapa?" tanya kak Dhaniel saat aku sudah tenang, teman-teman yang lain sudah masuk ke kamar masing-masing, kita masih berbincang sambil aku menyeruput coklat hangat. tentu nya aku juga sudah berganti baju.


"aku selalu histeris melihat hujan kak" ucap ku kemudian. "Eriska, kehilangan bukan lah suatu yang buruk, kmu harus berdamai dengan keadaan, ini sudah jalan nya" aku terdiam tidak menyahut apa-apa.


"Ap kakak pernah kehilangan seseorang yang kaka cintai?" tanya ku.


dia mengangguk, aku terbelalak, lalu tidak berniat bertanya lebih jauh takut melukai hati nya.


"Dia calon tunangan ku" ucap ny lirih.


sejam kemudian kita terlibat obrolan panjang, obrolan kenapa Alex bisa koma, kenapa ayah meninggal, hingga aku merasa mataku sangat lelah dan mengantuk. "Kak aku mengantuk?" ucap ku.


"nih" dia menunjuk bahu ny "kepala mu taruh disini tidur lah" ucap ny lagi, aku diam saja namun tangan nya segera mengarahkan kepala ku ke bahu nya. aku memejamkan mata ku.


๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ


Gadis yang terlalu rapuh, Dhaniel melihat wajah tenang Eriska, entah mengapa ia kepikiran akan cerita yangย  Eriska sampaikan tadi.


Ia juga mengalami kecelakaan tiga tahun lalau, seingat nya saat ia pulih dari rumah sakit mama menyampaikan kabar bahwa ada tiga orng yang meninggal di tragedi itu.


Dhaniel memang tidak lagi ingin tahu tentang kejadian itu, tapi ia kini menjadi penasaran. Tentang apa yang sebenernya terjadi.


Ia terus menatap wajah Eriska semakin besar terhadap wanita ini, mata nya yg tenang, senyum nya yang manis, mudah membuat Dhaniel jatuh hati.


"Eriska?" gumam nya pelan, memastikan bahwa sang empunya nama sudah benar-benar terlelap.tak ada Jawaban. "Er?"


Hening.


"Huuufttt" Dhaniel membuang nafas berat.


"Salahkah kalo saya mencintai murid saya sendiri?" ucap nya sendiri. "semalam aku nggak berhenti memikirkan kamu, apakah saya harus ungkapin? ucap Dhaniel pelan.


dengan percaya diri dia berkata seperti itu. tanpa ragu, dan tak sadar bahwa Eriska belum benar-benar tertidur.

__ADS_1


๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ


__ADS_2