Scheduler Angel

Scheduler Angel
tiga belas


__ADS_3

Gavin berlari masuk ke ruang ku diikuti Bara, walaupun tampak berantakan ia segera merapihkan baju nya. ia melihat ku yang sudah bangun sedang di genggam oleh bunda.


"Er, its okey?" tanya Kak Gavin, aku mengangguk tapi kemudian aku melihat ke arah bunda dan menanggis, membuat Bunda nampak sedikit bingung.


"ada apa nak? apa yang membuat kamu menangis Er?" tanya bunda lembut. sebenrnya aku sedari tadi merasa kalung yang aku gunakan berpendar-pendar namun lagi-lagi aku selalu ingin menangis saat mengingat kejadian ini.


"kak Dhaniel bun, Kak Dhaniel yang udah bikin Ayah meninggal" bunda sedikit melongo. bunda memang kenal dengan kak Dhaniel dahulu gavin dan Dhaniel berteman akrab. Namun bunda tak menyangka jika ia lah dalang di balik kecelakaan itu, dan entah kenapa dhaniel tak mengucapkan bela sungkawa atau maaf sekali pun.


"nak, walaupun bunda rasa nya hancur dan sedih tapi bunda sudah ikhlas, ayah juga pasti sudah memaafkan Dhaniel. eriska gak usah kepikiran lagi ya, sekarang sembuhin dulu badan nya biar kita bisa istirahat di rumah" ucap bunda yang berusaha membesarkan hati ku.


aku mengangguk kemudian dengan pengaruh obat aku memutuskan tidur.


*SEMENTARA KAK DHANIEL


Ia sudah memperoleh penanganan, dia bilang bahwa tadi saat hendak membeli makanan dia terserempet motor dan terjatuh, mumbuat suster yang membantu mengobati nya percaya. Almira masih disana berdiri dengan gusar dan gugup saat tiba-tiba Bunda dan kak Gavin muncul di hadapan nya.


"Ah tante?" ucap nya terkejut.


"Almira, mana Dhaniel?" tanya Bunda lembut. Almira menunjuk pintu ruangan tempat Dhaniel di tangani "Lagi di dalem tan" Bunda dan Kak Gavin menunggu. saat aku sudah tertidur kak Gavin bilang habis meninju dan menghajar Dhaniel. bunda malah khawatir putra nya terlalu keras pada Dhaniel. tak lama setelah itu kak keluar tuangan dengan perban di dahi dan di sudut bibir nya tampak dengn pipi yang masih lebam juga.

__ADS_1


Dhaniel menunduk saat melihat bunda dan kak Gavin, ia berjalan pelan dan mendekati bunda hendak meminta maaf tapi bunda berdiri sebelum Dhaniel mendekati nya.


"Dhaniel, bisa ikut tante sekarang?" tanya Bunda.


"Bi-bisa tante" ucap dhaniel.


mereka berempat berjalan beriringan. tampak bunda berjalan di depan dengn Gavin diikuti Almira dan Dhaniel, beberap kali bunda nampak memijit kening nya, kepala nya nampak terasa berat sekali. mereka berjalan di koridor rumah sakit yang mulai sepi, sudah pukul 9 malam, bunda mengajak mereka keluar dari rumah sakit dan kemudian berjalan ke sebuah cafe yang letak nya tak jauh dari rumah sakit.


walau bingung tak ada yang berani bertanya, semua orang tegang, apalagi saat melihat tatapn gavin, ia masih seperti ingin melahap Dhaniel.


Bunda duduk di meja yang lumayan terpojok jauh dari keramain orang-orang, setelah memesan beberapa makanan dan minuman bunda mulai memulai topik pembahsan.


"Iya tante saya sehat" Dhaniel memandang sendu wajah Bunda. "tante, saya mohon maaf" Kalimat Dhaniel membuat air mata Gavin menggenang "untuk apa Dhaniel?" tanya bunda.


"Atas kekacauan selama ini" Dhaniel menunduk dalam


"Atas meninggalnya suami tante kah?" tanya Bunda lagi. membuat Dhaniel memgangguk "Menurut kamu apakah kamu salah?" tanya bunda. membuat Dhaniel mengangguk lagi.


"apakah Niel merencanakan pembunuhan ini?" Dhaniel memggeleng kali ini.

__ADS_1


"ya sudah, Niel tidak bersalah dan Tante memaafkan Niel" ucap bunda, Gavin mengepal tangan nya dan menggebrak meja. "Bun!" dia tak terima Bunda berkata seperti itu. memaafkan pembunuh ayah nya segampang itu.


"Gavin gak ada yang minta Gavin ngomong apa-apa jadi bisa tolong duduk dan diam nak?" Bunda mengelus Bahu Gavin.


"Tapi tante, Dhaniel sudah membuat Om meninggal dan Dhaniel gak ada datang ke rumah tante untuk meminta maaf" Kini Dhaniel yang di kenal galak dan tegas itu menangis seperti anak kecil.


"Dhaniel, kalo om masih ada disini, Om pasti Duduk dan bilang sama Dhaniel, om maafkan dhaniel. hati om sangat lembut Dhaniel, tante yakin sekali di sana Om sudah maafkan Dhaniel, Gavin, Eriska dan bara adalah anak-anak yang lembut pula hati nya jadi mereka pasti akan cepat memaafkan kamu. untuk luka mu itu Tante atas nama orang tua Gavin memohon Maaf" Dengan ikhlas Bunda memaafkan Dhaniel membuat dhaniel menangis kencang. Dhaniel mengangguk tapi di mata Gavin masih terlukis sorot mata tak terima.


"Sudah Niel. tante dengar Adik kamu koma? dimana dia" tanya Bunda kemudian.


"Ada di rumah sakit ini Tante" Ucap Dhaniel.


"setelah Eriska sehat kita kesana ya, Kita kerungan Adik kamu" Dhaniel mngangguk.


🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊


Rey Berjalan bersama siska, langkah nya pelan namun pasti, ia berada disebuah lorang yang sepi, Rey nampak nya bingung siska tadi bilang ia tau siapa rey tapibsekrng malah mengajak nya kerumah sakit. ya rey dan siska berjalan di koridor rumah sakit.


mereka masuk kesebuah kamar, tentu nya menembus pintu nya. di ruangan itu seorng wanita paruh baya yang sedang menatap seorng laki-laki yang berbaring di ranjang rumah sakit. dengan banyak nya alat yang menempel pada laki-laki itu. Rey mengerutkan mata nya. siska diam di tempat nya namun rey penasaran dengan laki-laki itu, kemudian ia perlahan mendekati nya.

__ADS_1


__ADS_2