
Setelah aku mengerjakan tugas dari kal Dhaniel aku mengumpulkan nya. Tak tau. Aku mengerjakan nya dengan benar atau tidak inti nya aku menyelesaikan tugas nya empat puluh menit.
Aku berjalan menuju kantor guru. Beberapa sisiwi sedang istirahat. Benar pelajaran MTK mempunyai waktu lebih panjang dari jam pelajaran lain nya.
Tak heran jika jam pertama hingga jam istirahat hanya pelajaran membosankan milik Kak Dhaniel.
Kantor guru
Suasana nya agak sepi. Aku menebarkan pandangan menuju sekeliling ruangan dan menemui buk Alifa. Guru bahasa inggris yang sangat ramah itu.
"Selamat siang buk Alifah" sapa ku ramah
"Selmat siang Eriska. Ada apa nak?" tanya nya ramah.
Aku tersenyum.
"Bu. Meja nya kak Dhaniel mana ya bu?" ucap ku. sebenar nya aku tau hanya sekedar formalitas saja.
"Itu nak. Kak dhaniel sedang mengerjalan sesuatu. Temui saja" ucap buk alifah aku mengangguk.
Aku berjalan menyusuri meja lalu berhenti di depan kak dhaniel. Dia sedang mengerjakan sesuatu. Tanpa memandang ke arah ku dia masih sibuk.
"Selmat siang kak. Maaf mengganggu saya ingin mengumpulkan ini" ucap ku sambil menyodorkan buku ku. Kak Dhaniel mengangguk dan menyuruhku menaruh buku nya ke sebelah laptop nya.
"Terima kasih kak" dia diam saja.
DHANIEL POV MODE ON
Aku menatap siapa yang datang. Hah gadis yang selalu mengganggu ku itu. Eriska.
Diliat-liat dia cantik juga.
Eh?
Aku menggeleng kepla ku. Tidak!
Aku menghukum diri ku sendiri atas meninggal nya Auryn dan koma nya adik laki-laki ku. Alex
Mana bisa aku merasakan bahagia saat kedua orng tersayang ku pergi.
Nanti. Saat bayangan Auryn sudah mulai hilang dan adik ku sudah sadar dari koma nya kemungkinan aku akan membuka hati lagi.
Aku meraih ponsel di laci kerja ku.
Memencet nomer mama dan segera menghubungi nya.
Mama (ringing)
"Haloo mam"
"...."
"Mama sudah makan?"
"...."
"Astga mam. Mama sudah tua. Mama jangan lupa makan, mama juga harus sering istirahat ya ma, nanti gantian aku jaga alex ya mam"
"...."
"Enggak mam. Aku gak sibuk, mama bisa istirahat dirumah"
"...."
"Iya mam. Mama tunggu saja"
"...."
"Oke mam"
Tut.
Aku menghela nafas panjang. Tiga tahun lalu. Tpi sampai sekrng Alex belum juga bangun dari koma nya.
Maaf kan kaka lex.
Kau tak seharus nya merasakan ini.
__ADS_1
Saat sedang mengisi data para sisiwa kelas tiga SMA. Aku menemukan nama Eriska di sana.
Nama : Eriska Samantha grey
TTL : Jakarta, 21 April 2003
Terpampang jelas foto nya hitam putih. Astaga aku menemukan kesamaan diri nya dan Auryn
Dia dan auryn memiliki tanggal lahir yang sama walaupun lahir dintahun yang berbeda. Memiliki wajah yang sama dan memilik senyum yang sama.
Mereka berdua. Memiliki banyak kesamaan.
DHANIEL POV MODE OFF
🕊🕊🕊🕊🕊🕊
Waktu pulang sekolah tiba. Aku menunggu kak Gavin menjemput ku. Langit tampak mendung dan hujan akan segera turun.
Aku membenci hujan. Setiap hujan turun aku selalu bersedih dan selalu menangis.
Ya. Aku sangat membenci hujan karna aku harus kehilangan ayah ku di depan mataku saat hujan.
Aku tak ingin memori tentang pedih nya hujan terulng kembali.
Aku mengeluarkan ponsel ku lalu mengirim pesan pada kak gavin untuk segera menjemput ku.
Aku:
Kak. Jemput gue dong. Mendung nih
Gavin:
Gue lagi di kampus Er. Sebentr lagi gue jemput. Tapi tunggu di halte ya. Jangn ujan2nan Er
Aku:
Buru ya kak. Gue takut! 😖😖😖
Gavin:
Iya Er. Bentr
Ake menghela nafas dalam dalam saat setetes air langit membasahi tangan ku.
Tiba-tiba aku menatap ujung jalan sana.
Dan kenangan tiga tahun lalu itu kembali berputar
FLASHBACK MODE ON
Teng!!!
Teng!!!
Teng!!!
Bel pulang sekolah berbunyi aku menepuk pundak Al menyuruh nya segera bersiap pulang. Kita sudah kelas sembilan SMP saat itu
"Kayak nya mendung ya Er" ucap nya
"Iya nih. Mana nanti ayah njemput gue naik motor lagi. Kasian kalo keujanan" ucap ku sembari memasukan buku ke dalam tas
"Lu naik motor? Mobil lu mna?" Tanya Al
"Di servis Al. Kemarin kak Gavin gak sengaja nabrakin mobil ke pohon. Untung cuma penyok dikit" Al tertawa lalu menggelengkan kepala nya
"Lu bisa pinjem ini Er kalo ayah lo gak bawa payung" ucap Al menyerahkan payung merah milik nya yang ia bawa tadi pagi.
"Lu pake apa Al?" Tanya ku
"Gue naik mobil kok. Sans ajh kali" ucap nya. Aku mengangguk.
Aku dan Al berjalan keluar kelas menyusuri koridor yang agak nya mulai sepi.
Setiba nya di parkiran kami berpisah. Al langsung masuk mobil saat supir nya tiba di depan. Aku menunggu di halte bis saat ayah tak kunjung kelihatan menjemput ku.
Ayah ku seorang kepla sekolah di sebuah SD. Dia seorng PNS tapi orang bilang ayah sangat humble dan baik hati.
__ADS_1
Ayah lebih suka naik motor dari pada mengeluarkan mobil dari garasi nya.
Ayah lebih suka makan tempe dari pada makan daging karna membuat dia pusing. Ah ayah ku memang menyenangkan.
Aku mengetik pesan pada ayah karna langit tampak mendung.
Aku tak ingin ayah ku kehujanan.
📩 Aku:
Ayah. Aku sudah pulang
📩 ayah:
Oke. Putri ku sabar ya ayah sedang merapikan nilai anak kelas 4 sd.
Aku menutup handphone. Memilih sabar menunggu ayah. Sekolahan ku dan sekolahan nya tak terlalu jauh.
Setengh jam kemudian. Hujan turun. Deras sekali. Aku memandang ujung jalan. Belum ada tanda-tanda kehadiran ayah.
Beberapa menit kemudia sebuah motor supra terlihat di ujung jalan. Itu ayah ku. Sorak ku dalam hati.
Baju ayah tampak basah oleh air hujan. Sebentar lagi. Saat ayah sudah hampir tiba di depan ku. Entah dari mana asal nya sebuah truck melaju dengan cepat di barengi sebuah mobil pribadi yang menghimpit ayah.
Braaaaakkk!!!!
Aku menutup mata. Darah mengalir bersama deras nya air hujan.
Sedetik kemudian aku berlari
"Ayaaaaaaahhhh" teriak ku saat aku tiba di depan nya.
Bebrapa kendaraan yang berlalu lalang berhenti merasa iba melihat aku menangis di depan sebuah motor dan lelaki yang terpental agak jauh dari tempat semula.
Sopir mobil truck itu pun tak selmat.
Dan sopir mobil pribadi itu tak sadar kan diri, aku tak tau nasib kedua orang yang menjadi penumpang nya.
Saat itu aku tidak bisa melihat wajah pengemudi mobil pribadi itu, wajah nya tertutup darah yang mengalir di pelipis nya, dan rambut nya yang lumyan gondrong juga menutupi wajah nya.
Tapi aku tidak perduli.
Aku masih memeluk ayah sambil menangis di hadapan nya. Aku tidak perduli hujan, bahkan petir yang terus-terusan menyambar.
Hari itu ayah ku sempat bernafas sebentar.
Ia mengusap pipi ku. Aku yang sudah menangis histeris hanya diam dan terisak melihat ayah ku yang sekarat.
Baju ku basah. Basah oleh air hujan dan darah.
"Kau sudah besar anak ku. Jaga bunda, kakak dan adik mu, ayah sayang kalian" ucap ayah dan kemudia tak sadar.
Baju seragam PNS yang ia kenakan sudah berubah warna bercampur wana darah. Hujan membuat darah yah mengalir entah kemna.
Aku bersimbah di samping ayah meronta. Menangis mengguncang tubuh ayah namun percuma. Aku tak bisa membangunkan nya.
Lima belas menit kemudia ambulan datang. Aku memukul dada sang perawat yang ikut. Marah karna terlalu lama datang tapi polisi yang datang waktu itu pun menenangkan ku.
Kejadian nya sama. Tepat di depan sekolah SMP ku
Seketika itu aku tak sadar.
FLASHBACK MODE OFF
Langit sudah melimpahkan air nya. Tak terasa aku menangis saat ini. Membuat fikiran ku frustasi.
Aku memilih duduk di halte menunggu kak Gavin sambil menatap rintik hujan. Yang membuat dadaku perih.
Ting
Handphone ku berdenting
Gavin:
erteduh dulu Er. Jangan pikir yang aneh-aneh.
Pesan dari kak gavin aku menutup nya tanpa niat membaca nya.
__ADS_1
Lalu seseorng menepuk pundak ku menyadarkan ku dari lamunan. Rasa sakit dan rasa perih ini.
🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊