
“bu pesen kopi 4 dan gorengan kalau ada” ucap Bagas
meneriaki pemilik warung.
Pemilik warung pun mengiyakan. Dan tak menunggu waktu
lama kopi dan gorenganpun tiba.
“makasih” jawab Opi sopan
“dek, ngapain disini? Bukannya ini bukan hari libur?”
tanya ibu pemilik warung dengan ramah
“kami abis ngehadiri acara pernikahan teman kami bu di
dekat sini, jadi kami ingin main juga dipantai.” Ucap Evan sambil makan
gorengan yang masih panas
“emang ade-ade dari mana?” tanya pemilik warung
“kami dari Jakarta bu.” Timpal Deni
“oh... ade-ade tau ga kalau hari ini ga boleh main
dipantai sampe jam 5” ucap pemilik warung
“memang nya ada apa bu?” tanya Deni
“sekarang ini sudah menjadi aturan baru tuk berwisata di
pantai ini, karena sudah banyak korban hilang dipantai ini, makanya ga boleh
berada di wilayah pantai ini sampe jam 5 sore.” Jawab pemilik warung
“yah padahal kami ingin malam disini sambil melihat matahari
terbenam” ucap Deni melenguh
“ade Cuma berempat aja disini?” tanya nya
“kami berenam bu, yang dua lagi main di pinggir pantai”
jawab Opi
“mana de? Ga ada siapa-siapa?” sambil melihat sekitar
pantai
“itu bu mereka sambil lari-larian yang pake baju warna
hijau” jawab Bagas yang tak melihat ke belakang asik ngunyah gorengan
“apa de? Ko berani sekali main disini pake baju warna
hijau! Suruh teman kalian menghindari air pantai itu sekarang!” pinta pemilik
warung tegas
“memangnya kenapa sih bu? Di pantai bukannya boleh pake
__ADS_1
baju warna apa saja?” tanya Evan penasaran
“memang, tapi khusus pantai disini dilarang keras memakai
baju yang warna hijau. Karena takunta nanti teman kalian akan di bawa ke istana
bawah laut.” Ucap [emilik warung
“soalnya bukan hanya satu kejadian aja, banyak sekali
yang kejadian orang hilang itu karena abis main dipantai memakai pakaian warna
hijau.”
“disini itu terkenal dengan penunggunya Nyi Roro Kidul.
Ia adalah ratu penguasa Pantai Selatan. Nyi Roro Kidul suka sekali dengan warna
hijau, dan apabila ada pengunjung disini yang memakai baju warna hijau akan
ditarik ke dalam istananya dan tidak akan bisa kembali pulang.” Jelas pemilik
warung itu mengatakan sebenarnya.
Saat sedang berbincang-bincang tak terasa waktu sudah
menunjukan pukul setengah 5 sore dan kopi beserta gorenganpun sudah habis
dimakan oleh mereka. Angin pantai ini makin sore makin kencang dan suara ombak
pun kian menerjang cukup kencangnya. Pemilik warung pun sudah membereskan semua
santai ditemani dengan rokok masing-masing. Saat sedang memandangi suasana
pantai, Evan menyadari bahwa dari tadi ia belum melihat Hans dan Yuda. bahkan
pantai pun terlihat sepi sekali.
“eh bentar, ada yang liat Hans dan Yuda?” tanya Evan
kepada temannya
“loh, iya. Kemana Hans dan Yuda? ko kita asik disini aja
sih ga merhatiin mereka?” ucap Deni yang menyadari sesuatu
“tenang aja, ntar juga nongol. Paling mereka lagi asik
foto-foto” timpal Bagas
“eh mending kita samperin mereka aja sambil ajak mereka
tuk pulang, udah sore juga nih, tadi kan pesen ibu warung jangan sampe lewat
jam 5 sore” ajak Evan spontan langsung berdiri
Mereka berempat pun berdiri dan berjalan menuju arah
pantai, namun sesampainya mereka di pinggir pantai, susasana pantai itu memang
sepi, tak ada pengunjung lain selain mereka berempat. Bahkan Hans dan Yuda
__ADS_1
tidak ada.
“mungkin mereka sudah di mobil kali nungguin kita”
ucap Opi dengan santainya
“masa sih? Kalau misalkan dia balik ke parkiran, kan harus
nya kita bisa liat, kan kita dari tadi duduk di warung sambil melihat arah
pantai” ucap Deni yang tidak percaya.
“yaudah gini aja, ayuk kita ke mobil sekarang siapa tau
memang benar mereka sudah disana.” Ajak Bagas
Mereka pun kembali ke parkiran mobil. Saat di parkiran,
mereka tak melihat seseorang disana, bahkan didalam mobil pun kosong tak ada
siapa-siapa. Opi dan teman-teman nya mulai panik mencari Hans dan Yuda.
“mereka ini pergi kemana sih, kenapa sih selalu buat
masalah disaat kaya gini” ucap Opi yang mulai kesal kepada mereka berdua
“kita jangan emosi dulu Pi, yaudah kita tunggu disini
aja, siapa tau mereka nyusulin kita” ucap Bagas dan menenangkan Opi
Waktu sudah menunjukan masuknya adzan magrib, tapi Hans
dan Yuda masih belum kembali ke mobil. Pikiran negatif terus mengelilingi
mereka, dan sepertinya ada yang ga beres dengan Hans dan Yuda, apa
jangan-jangan Hans dan Yuda dibawa oleh penunggu disini? Begitulah yang ada di
pikiran Opi dan yang lainnya.
Mereka berempat tak tinggal diam. Mereka kembali ke
pinggir pantai dan memanggil nama Hans dan Yuda berkali-kali, namun tak ada
sautan yang terdengar, melainkan hanya suara deburan ombak yang kencang dan
suara angin yang berhembus kencang.
“gimana ini? Udah 1 jam kita manggil-manggil. Kalau sampe
kenapa-kenapa gimana?” ucap Evan yang makin panik.
“kenapa sih mereka malah langgar pantangan, sudah dikasih
tau jangan make pakaian warna hijau, masih aja dilanggar, jadi repot kan”
gerutu Opi yang sudah kesal dan jengkel
Bagas dan Evan menarik nafas panjang sambil memikirkan
sesuatu agar temannya itu bisa kembali.
__ADS_1