SEJUTA STORY HOROR

SEJUTA STORY HOROR
CHAPTER 3


__ADS_3

“bu pesen kopi 4 dan gorengan kalau ada” ucap Bagas


meneriaki pemilik warung.


Pemilik warung pun mengiyakan. Dan tak menunggu waktu


lama kopi dan gorenganpun tiba.


“makasih” jawab Opi sopan


“dek, ngapain disini? Bukannya ini bukan hari libur?”


tanya ibu pemilik warung dengan ramah


“kami abis ngehadiri acara pernikahan teman kami bu di


dekat sini, jadi kami ingin main juga dipantai.” Ucap Evan sambil makan


gorengan yang masih panas


“emang ade-ade dari mana?” tanya pemilik warung


“kami dari Jakarta bu.” Timpal Deni


“oh... ade-ade tau ga kalau hari ini ga boleh main


dipantai sampe jam 5” ucap pemilik warung


“memang nya ada apa bu?” tanya Deni


“sekarang ini sudah menjadi aturan baru tuk berwisata di


pantai ini, karena sudah banyak korban hilang dipantai ini, makanya ga boleh


berada di wilayah pantai ini sampe jam 5 sore.” Jawab pemilik warung


“yah padahal kami ingin malam disini sambil melihat matahari


terbenam” ucap Deni melenguh


“ade Cuma berempat aja disini?” tanya nya


“kami berenam bu, yang dua lagi main di pinggir pantai”


jawab Opi


“mana de? Ga ada siapa-siapa?” sambil melihat sekitar


pantai


“itu bu mereka sambil lari-larian yang pake baju warna


hijau” jawab Bagas yang tak melihat ke belakang asik ngunyah gorengan


“apa de? Ko berani sekali main disini pake baju warna


hijau! Suruh teman kalian menghindari air pantai itu sekarang!” pinta pemilik


warung tegas


“memangnya kenapa sih bu? Di pantai bukannya boleh pake

__ADS_1


baju warna apa saja?” tanya Evan penasaran


“memang, tapi khusus pantai disini dilarang keras memakai


baju yang warna hijau. Karena takunta nanti teman kalian akan di bawa ke istana


bawah laut.” Ucap [emilik warung


“soalnya bukan hanya satu kejadian aja, banyak sekali


yang kejadian orang hilang itu karena abis main dipantai memakai pakaian warna


hijau.”


“disini itu terkenal dengan penunggunya Nyi Roro Kidul.


Ia adalah ratu penguasa Pantai Selatan. Nyi Roro Kidul suka sekali dengan warna


hijau, dan apabila ada pengunjung disini yang memakai baju warna hijau akan


ditarik ke dalam istananya dan tidak akan bisa kembali pulang.” Jelas pemilik


warung itu mengatakan sebenarnya.


Saat sedang berbincang-bincang tak terasa waktu sudah


menunjukan pukul setengah 5 sore dan kopi beserta gorenganpun sudah habis


dimakan oleh mereka. Angin pantai ini makin sore makin kencang dan suara ombak


pun kian menerjang cukup kencangnya. Pemilik warung pun sudah membereskan semua


santai ditemani dengan rokok masing-masing. Saat sedang memandangi suasana


pantai, Evan menyadari bahwa dari tadi ia belum melihat Hans dan Yuda. bahkan


pantai pun terlihat sepi sekali.


“eh bentar, ada yang liat Hans dan Yuda?” tanya Evan


kepada temannya


“loh, iya. Kemana Hans dan Yuda? ko kita asik disini aja


sih ga merhatiin mereka?” ucap Deni yang menyadari sesuatu


“tenang aja, ntar juga nongol. Paling mereka lagi asik


foto-foto” timpal Bagas


“eh mending kita samperin mereka aja sambil ajak mereka


tuk pulang, udah sore juga nih, tadi kan pesen ibu warung jangan sampe lewat


jam 5 sore” ajak Evan spontan langsung berdiri


Mereka berempat pun berdiri dan berjalan menuju arah


pantai, namun sesampainya mereka di pinggir pantai, susasana pantai itu memang


sepi, tak ada pengunjung lain selain mereka berempat. Bahkan Hans dan Yuda

__ADS_1


tidak ada.


“mungkin mereka sudah di mobil kali nungguin kita”


ucap  Opi dengan santainya


“masa sih? Kalau misalkan dia balik ke parkiran, kan harus


nya kita bisa liat, kan kita dari tadi duduk di warung sambil melihat arah


pantai” ucap Deni yang tidak percaya.


“yaudah gini aja, ayuk kita ke mobil sekarang siapa tau


memang benar mereka sudah disana.” Ajak Bagas


Mereka pun kembali ke parkiran mobil. Saat di parkiran,


mereka tak melihat seseorang disana, bahkan didalam mobil pun kosong tak ada


siapa-siapa. Opi dan teman-teman nya mulai panik mencari Hans dan Yuda.


“mereka ini pergi kemana sih, kenapa sih selalu buat


masalah disaat kaya gini” ucap Opi yang mulai kesal kepada mereka berdua


“kita jangan emosi dulu Pi, yaudah kita tunggu disini


aja, siapa tau mereka nyusulin kita” ucap Bagas dan menenangkan Opi


Waktu sudah menunjukan masuknya adzan magrib, tapi Hans


dan Yuda masih belum kembali ke mobil. Pikiran negatif terus mengelilingi


mereka, dan sepertinya ada yang ga beres dengan Hans dan Yuda, apa


jangan-jangan Hans dan Yuda dibawa oleh penunggu disini? Begitulah yang ada di


pikiran Opi dan yang lainnya.


Mereka berempat tak tinggal diam. Mereka kembali ke


pinggir pantai dan memanggil nama Hans dan Yuda berkali-kali, namun tak ada


sautan yang terdengar, melainkan hanya suara deburan ombak yang kencang dan


suara angin yang berhembus kencang.


“gimana ini? Udah 1 jam kita manggil-manggil. Kalau sampe


kenapa-kenapa gimana?” ucap Evan yang makin panik.


“kenapa sih mereka malah langgar pantangan, sudah dikasih


tau jangan make pakaian warna hijau, masih aja dilanggar, jadi repot kan”


gerutu Opi yang sudah kesal dan jengkel


Bagas dan Evan menarik nafas panjang sambil memikirkan


sesuatu agar temannya itu bisa kembali.

__ADS_1


__ADS_2