
Betapa sedih nya mereka pulang tanpa Hans dan Yuda, entah
apa yang akan mereka hadapi ketika keluarga Hans dan Yuda menyalahkan mereka.
Saat mereka pulang tanpa membawa Hans dan Yuda. Opi kini
menyetir kendaraan agak sedikit tidak berkonsentrasi dan Evan, Bagas, dan Deni
terus menangis mengingat kejadian hari ini.
Saat tiba di tol Cipali. Bagas ingin buang air kencing di
rest area. Setelah Bagas turun dari mobil, Bagas melihat ada sosok bayangan
laki-laki di depan pintu toilet. Betapa terkejutnya Bagas melihat bahwa sosok
itu mirip dengan Hans yang makai kemeja warna hijau dan celana hitam. Namun
wajahnya sangat pucat dan dari mulut dan hidungnya mengeluarkan banyak darah
yang sangat bau. Bagas yang melihat kejadian itu langsung lari terbirit birit.
Tanpa pikir panjang, Bagas segera masuk kedalam mobil dan membuat yang lainnya
keheranan.
“Gas, lu kenapa ketakutan?” tanya Evan yang terkejut
“ng...nggapapa Van, buruan pergi dari sini.” Ucap Bagas
sedikit masih ketakutan
Mobil pun kembali melaju dan tak lupa mengisi bahan bakar
sebentar, tak butuh waktu lama, akhirnya mereka telah tiba di Kota Jakarta. Opi
mengantar Deni, Evan, dan Bagas kerumah masing-masing.
“Pi, mending lu nginep disini aja sekarang, udah jam 1
malam.” Ucap Bagas menawarkannya
“ga usah, makasih Gas, gua mau balik aja ga enak sama
keluarga lu nanti” jawab Opi
“wih, kaya sama siapa aja, biasanya juga anak-anak sering
nginep kan, udah nginep sini aja, gue mau cerita kenapa tadi gue masuk mobilnya
terbirit-birit.” Seru Bagas sambil mengajaknya masuk. Akhirnya setelah bujukan
demi bujukan, Opi pun mau nginep dirumah Bagas. Oh iya, usia Opi dan Bagas ini
seumuran, mereka sama-sama berusia 25 tahun.
Saat mereka sedang didalam kamar. Bagas dan Opi kembali
berbincang tentang perjalanan mereka yang kurang menyenangkan itu.
“Pi, gue tadi pas di toilet tol Cipali, gue ngeliat sosok
Hans didepan toilet. Mukanya pucet ngeluarin darah dan bau banget” ucap Bagas
yang agak merinding
Saat Bagas menceritakan itu, reaksi Opi hanya diam saja,
malah menyalakan batang rokok lalu menghisapnya
“kok lu biasa aja sih Pi,?” tanya Bagas keheranan
“sebenernya dari awal kita pergi ke Yogyakarta, gue udah
males ajak Hans dan Yuda. tapi karena mereka maksa akhirnya gua mau deh ajak
mereka. Mereka itu udah rese dari awal. Masa bawa miras dan pergi pake baju
hijau. Kaya ga ada warna lain kan, apa jangan-jangan mereka mau nantangin kali ya”
jawab Opi yang menarik nafas panjang dan menghisap rokoknya lagi
“ya walaupun mereka rese, tapi kita udah kehilangan temen
__ADS_1
kita Pi, gimana kalau besok keluarganya nyariin mereka dan nyalahin kita, apa
lu ga kasian” ujar Bagas
“ya mau gimana lagi, namanya juga takdir. Maut, jodoh,
rezeki, itu semua udah ada yang ngatur. Mau keluarganya nyalahin kita juga toh
mereka ga akan kembali lagi” jawab Opi
“tapi gue masih kepikiran gimana bisa mereka bisa hilang
begitu aja” keluh Bagas yang masih sedih.
Opi tidak menanggapi perkataan Bagas dan mematikan
rokoknya lalu bersiap untuk tidur.
Saat Bagas ingin memejamkan matanya, tiba-tiba ada
hembusan angin yang lewat depan mukanya, ia tidak ingin memedulikan apapun itu
karena kondisinya sedang benar-benar ngantuk.
“Bagas.... Bagas... kenapa kalian meninggalkan kami, apa
salah kami ?” sayup-sayup terdengar seperti suara rintihan, hanya Bagas yang
mengetahuinya seperti berada didalam dunia mimpi. “kenapa kamu melanggar
pantangan dari kami, sudah kami bilang, kalian itu ga boleh main di pantai dan
masih aja mengelak, kami juga tidak tau apa yang harus kami lakukan, kami sudah
di Jakarta dan kami tidak mungkin mencari kalian lagi, kalian sudah dialam sana
bersama Ratu Nyi Roro Kidul” ucap Bagas dengan nada tinggi
“maafkan aku dan Yuda, aku benar-benar tidak ingin berada
disini, aku disini selalu dicambuk, di seret, di tendang, di pukul rame-rame
dan di jadikan pelayan untuk pelayan budak. Tolong kami, kami sebenarnya sudah
jasad kami dengan layak, tolong tahlilkan kami selama 10 hari agar kami tidak
terlalu tersiksa disini” rintih suara itu
“baiklah, kami akan menyampaikan pesanmu kepada kedua
orang tua kalian, semoga amal ibadah kalian diterima oleh yang maha kuasa.”
Ucap Bagas.
Dan setelah selesai tiba-tiba Bagas terbangun dan melihat
sudah ada Opi, Evan, Deni dan kedua orang tua nya yang merhatiin dia.
“kamu kenapa, kenapa nangis saat lagi tidur?” tanya ibu
nya sangat khawatir
“Bagas mimpi Hans bu, dia minta tolong kepada Bagas”
jawab nya dengan masih panik
“Ibu sudah tau, Opi dan yang lainnya menceritakan
semuanya, kamu tidur lumayan lama sekarang aja udah sore” ucap ibunya
Bagas yang mendengarnya sedikit tidak percaya, seingatnya
ia tidur jam 3 malam dan bangun jam 5 subuh.
“ayo kita kerumah orang tua Hans dan Yuda Gas, kita
beritahu yang sesungguhnya, kita berdoa aja semoga keluarga nya
mengikhlaskannya” ucap Opi
Mereka pun bersiap-siap untuk menuju ke rumah Hans dan
Yuda. sesampainya dirumah Hans, nampak kedua orang tua nya senang melihat Opi
__ADS_1
dan lainnya datang kerumahnya.
“eh Opi, masuk nak. Kalian sudah sampe, loh mana Hans?”
tanya ibu nya Hans
Bagas dan Evan tidak sanggup menahan air mata yang akan
berjatuhan itu.
“bu, kami minta maaf sama ibu dan bapak, kami pulang
tidak bersama Hans” ucap Opi dengan penuh sesak didadanya
Ibu dan bapak Hans tanpak tidak mengerti dengan kata-kata
Opi
“Hans, sudah pergi meninggalkan kami ke sisi Allah bu.”
Ucap Opi yang sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya
“maksud kalian apa? Kemana Hans” tanya ayah Hans dengan
sdikit emosi
“Hans hilang pak, bu di pantai Parangtritis” ucap Deni
sesenggukan
Ibu dan ayah Hans nampak sangat terpukul atas apa yang
sudah didengar oleh teman putra nya itu. Betapa syoknya bak disambar petir
siang bolong yang seketika membuat ibu nya Hans pingsan. Suasana kini kembali
dipenuhi dengan kesedihan. Betapa hancurnya hati orang tua paruh baya itu
mendengar putra kesayangannya hilang di kota orang.
Bagas tanpa ragu-ragu menceritakan pesan yang ia alami di
mimpinya kepada orang tua Hans, dan alhamdulilah orang tuanya kini bisa
mengontrol emosinya.
Setelah mereka menyampaikan berita duka ini kepada orang
tua Hans, lanjut Opi dan lainnya pergi menuju rumah Yuda. dan betapa terkejutnya
orang tua beserta keluarga nya mendengar kematian sang anak tercinta. Kini
orang tua Yuda lebih parah, ibu dan ayahnya mendadak hampir kena serangan
jantung karna saking syok nya.
Sebenarnya Opi dan lainnya tidak bisa berbuat apa-apa,
mereka hanya bisa menerima semua ini dengan lapang dada dan mengikhlaskan nya.
Dan akhirnya di mana dihari itu mereka dan keluarga Hans
beserta keluarga Yuda bersepakat untuk mencari jasad anak nya yang hilang.
Singkat cerita di hari dimana pencarian itu, tim sar
menemukan 2 jasad seorang anak muda yang mengambang di tengah laut, badannya
sudah putih pucat, matanya terbelalak dan berlendir. Akhirnya kedua jenazah itu
segera dibawa ke rumah sakit di Yogyakarta lalu di bawa ke kediaman nya di
Jakarta.
Sesampainya di kota kelahiran, kedua jenazah itu segera
di kuburkan di TPU Taman Anggrek lalu diadakan pengajian selama 10 hari.
Setelah peristiwa itu terjadi, kini Opi dan lainnya
dimimpikan oleh Hans dan Yuda dengan ekpresi tersenyum dan mengatakan
terimakasih sudah menemukan jasad kami dan menguburkannya dengan layak.
__ADS_1