SEJUTA STORY HOROR

SEJUTA STORY HOROR
CHAPTER 5


__ADS_3

Betapa sedih nya mereka pulang tanpa Hans dan Yuda, entah


apa yang akan mereka hadapi ketika keluarga Hans dan Yuda menyalahkan mereka.


Saat mereka pulang tanpa membawa Hans dan Yuda. Opi kini


menyetir kendaraan agak sedikit tidak berkonsentrasi dan Evan, Bagas, dan Deni


terus menangis mengingat kejadian hari ini.


Saat tiba di tol Cipali. Bagas ingin buang air kencing di


rest area. Setelah Bagas turun dari mobil, Bagas melihat ada sosok bayangan


laki-laki di depan pintu toilet. Betapa terkejutnya Bagas melihat bahwa sosok


itu mirip dengan Hans yang makai kemeja warna hijau dan celana hitam. Namun


wajahnya sangat pucat dan dari mulut dan hidungnya mengeluarkan banyak darah


yang sangat bau. Bagas yang melihat kejadian itu langsung lari terbirit birit.


Tanpa pikir panjang, Bagas segera masuk kedalam mobil dan membuat yang lainnya


keheranan.


“Gas, lu kenapa ketakutan?” tanya Evan yang terkejut


“ng...nggapapa Van, buruan pergi dari sini.” Ucap Bagas


sedikit masih ketakutan


Mobil pun kembali melaju dan tak lupa mengisi bahan bakar


sebentar, tak butuh waktu lama, akhirnya mereka telah tiba di Kota Jakarta. Opi


mengantar Deni, Evan, dan Bagas kerumah masing-masing.


“Pi, mending lu nginep disini aja sekarang, udah jam 1


malam.” Ucap Bagas menawarkannya


“ga usah, makasih Gas, gua mau balik aja ga enak sama


keluarga lu nanti” jawab Opi


“wih, kaya sama siapa aja, biasanya juga anak-anak sering


nginep kan, udah nginep sini aja, gue mau cerita kenapa tadi gue masuk mobilnya


terbirit-birit.” Seru Bagas sambil mengajaknya masuk. Akhirnya setelah bujukan


demi bujukan, Opi pun mau nginep dirumah Bagas. Oh iya, usia Opi dan Bagas ini


seumuran, mereka sama-sama berusia 25 tahun.


Saat mereka sedang didalam kamar. Bagas dan Opi kembali


berbincang tentang perjalanan mereka yang kurang menyenangkan itu.


“Pi, gue tadi pas di toilet tol Cipali, gue ngeliat sosok


Hans didepan toilet. Mukanya pucet ngeluarin darah dan bau banget” ucap Bagas


yang agak merinding


Saat Bagas menceritakan itu, reaksi Opi hanya diam saja,


malah menyalakan batang rokok lalu menghisapnya


“kok lu biasa aja sih Pi,?” tanya Bagas keheranan


“sebenernya dari awal kita pergi ke Yogyakarta, gue udah


males ajak Hans dan Yuda. tapi karena mereka maksa akhirnya gua mau deh ajak


mereka. Mereka itu udah rese dari awal. Masa bawa miras dan pergi pake baju


hijau. Kaya ga ada warna lain kan, apa jangan-jangan mereka mau nantangin kali ya”


jawab Opi yang menarik nafas panjang dan menghisap rokoknya lagi


“ya walaupun mereka rese, tapi kita udah kehilangan temen

__ADS_1


kita Pi, gimana kalau besok keluarganya nyariin mereka dan nyalahin kita, apa


lu ga kasian” ujar Bagas


“ya mau gimana lagi, namanya juga takdir. Maut, jodoh,


rezeki, itu semua udah ada yang ngatur. Mau keluarganya nyalahin kita juga toh


mereka ga akan kembali lagi” jawab Opi


“tapi gue masih kepikiran gimana bisa mereka bisa hilang


begitu aja” keluh Bagas yang masih sedih.


Opi tidak menanggapi perkataan Bagas dan mematikan


rokoknya lalu bersiap untuk tidur.


Saat Bagas ingin memejamkan matanya, tiba-tiba ada


hembusan angin yang lewat depan mukanya, ia tidak ingin memedulikan apapun itu


karena kondisinya sedang benar-benar ngantuk.


“Bagas.... Bagas... kenapa kalian meninggalkan kami, apa


salah kami ?” sayup-sayup terdengar seperti suara rintihan, hanya Bagas yang


mengetahuinya seperti berada didalam dunia mimpi. “kenapa kamu melanggar


pantangan dari kami, sudah kami bilang, kalian itu ga boleh main di pantai dan


masih aja mengelak, kami juga tidak tau apa yang harus kami lakukan, kami sudah


di Jakarta dan kami tidak mungkin mencari kalian lagi, kalian sudah dialam sana


bersama Ratu Nyi Roro Kidul” ucap Bagas dengan nada tinggi


“maafkan aku dan Yuda, aku benar-benar tidak ingin berada


disini, aku disini selalu dicambuk, di seret, di tendang, di pukul rame-rame


dan di jadikan pelayan untuk pelayan budak. Tolong kami, kami sebenarnya sudah


jasad kami dengan layak, tolong tahlilkan kami selama 10 hari agar kami tidak


terlalu tersiksa disini” rintih suara itu


“baiklah, kami akan menyampaikan pesanmu kepada kedua


orang tua kalian, semoga amal ibadah kalian diterima oleh yang maha kuasa.”


Ucap Bagas.


Dan setelah selesai tiba-tiba Bagas terbangun dan melihat


sudah ada Opi, Evan, Deni dan kedua orang tua nya yang merhatiin dia.


“kamu kenapa, kenapa nangis saat lagi tidur?” tanya ibu


nya sangat khawatir


“Bagas mimpi Hans bu, dia minta tolong kepada Bagas”


jawab nya dengan masih panik


“Ibu sudah tau, Opi dan yang lainnya menceritakan


semuanya, kamu tidur lumayan lama sekarang aja udah sore” ucap ibunya


Bagas yang mendengarnya sedikit tidak percaya, seingatnya


ia tidur jam 3 malam dan bangun jam 5 subuh.


“ayo kita kerumah orang tua Hans dan Yuda Gas, kita


beritahu yang sesungguhnya, kita berdoa aja semoga keluarga nya


mengikhlaskannya” ucap Opi


Mereka pun bersiap-siap untuk menuju ke rumah Hans dan


Yuda. sesampainya dirumah Hans, nampak kedua orang tua nya senang melihat Opi

__ADS_1


dan lainnya datang kerumahnya.


“eh Opi, masuk nak. Kalian sudah sampe, loh mana Hans?”


tanya ibu nya Hans


Bagas dan Evan tidak sanggup menahan air mata yang akan


berjatuhan itu.


“bu, kami minta maaf sama ibu dan bapak, kami pulang


tidak bersama Hans” ucap Opi dengan penuh sesak didadanya


Ibu dan bapak Hans tanpak tidak mengerti dengan kata-kata


Opi


“Hans, sudah pergi meninggalkan kami ke sisi Allah bu.”


Ucap Opi yang sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya


“maksud kalian apa? Kemana Hans” tanya ayah Hans dengan


sdikit emosi


“Hans hilang pak, bu di pantai Parangtritis” ucap Deni


sesenggukan


Ibu dan ayah Hans nampak sangat terpukul atas apa yang


sudah didengar oleh teman putra nya itu. Betapa syoknya bak disambar petir


siang bolong yang seketika membuat ibu nya Hans pingsan. Suasana kini kembali


dipenuhi dengan kesedihan. Betapa hancurnya hati orang tua paruh baya itu


mendengar putra kesayangannya hilang di kota orang.


Bagas tanpa ragu-ragu menceritakan pesan yang ia alami di


mimpinya kepada orang tua Hans, dan alhamdulilah orang tuanya kini bisa


mengontrol emosinya.


Setelah mereka menyampaikan berita duka ini kepada orang


tua Hans, lanjut Opi dan lainnya pergi menuju rumah Yuda. dan betapa terkejutnya


orang tua beserta keluarga nya mendengar kematian sang anak tercinta. Kini


orang tua Yuda lebih parah, ibu dan ayahnya mendadak hampir kena serangan


jantung karna saking syok nya.


Sebenarnya Opi dan lainnya tidak bisa berbuat apa-apa,


mereka hanya bisa menerima semua ini dengan lapang dada dan mengikhlaskan nya.


Dan akhirnya di mana dihari itu mereka dan keluarga Hans


beserta keluarga Yuda bersepakat untuk mencari jasad anak nya yang hilang.


Singkat cerita di hari dimana pencarian itu, tim sar


menemukan 2 jasad seorang anak muda yang mengambang di tengah laut, badannya


sudah putih pucat, matanya terbelalak dan berlendir. Akhirnya kedua jenazah itu


segera dibawa ke rumah sakit di Yogyakarta lalu di bawa ke kediaman nya di


Jakarta.


Sesampainya di kota kelahiran, kedua jenazah itu segera


di kuburkan di TPU Taman Anggrek lalu diadakan pengajian selama 10 hari.


Setelah peristiwa itu terjadi, kini Opi dan lainnya


dimimpikan oleh Hans dan Yuda dengan ekpresi tersenyum dan mengatakan


terimakasih sudah menemukan jasad kami dan menguburkannya dengan layak.

__ADS_1


__ADS_2