SEJUTA STORY HOROR

SEJUTA STORY HOROR
CHAPTER 2


__ADS_3

“perasaan pas tadi pergi ke rumah sakit agak sedikit beda ya, kenapa ruangan nya terlihat


kusam ya tembok nya?” tanya Tante Hana kepada suaminya


“mungkin belum di renov kali mah” ucap suaminya itu sambil memainkan hp


“terus ya hawa nya itu kadang dingin banget kadang gerah banget, kadang juga pengap kaya


banyak orang gitu padahal ga ada siapa-siapa” ucap tante Hana penasaran


“masa sih, ayah ga ngerasa gitu mah kaya biasa aja, mungkin mamah laper kali”


“apa iya?” tanya nya masih penasaran


Mobil pun telah tiba di depan gerbang rumah dan mereka bersiap untuk istirahat.


Seminggu kemudian pada pukul 10 siang, tiba-tiba bu Nia mengalami sakit perut, karena


tidak mau terjadi apa-apa bu Nia mengajak Tante Hana untuk mengantarkan nya ke


rumah sakit menggunakan taksi online.


Saat taksi datang pak supir bertanya kepada mereka


“pak tolong antarkan saya ke BMC” ucap Tante Hana sambil memegangi bu Nia


Pak supir pun tercengang mendengar kata BMC


“ng...ngapain bu kesana?” tanya pak supir gelagapan


“pake nanya lagi, ga liat apa ini teteh saya kontraksi”


“tapi bu....”


“Eehhh udah jangan banyak omong cepat jalan” protes tante Hana


Pak supir pun melajukan mobil nya mengarah ke rumah sakit itu, namun belum sampai di


depan gerbang rumah sakit mobil itupun berhenti


“loh pak itu didepan sana berhentinya bukan disini” protes tante Hana


“maaf bu, saya ada orderan baru, ibu bisa bayar saya setengahnya juga gapapa” sambil


membukakan pintu dan membantu nya keluar


“bapak ini aneh banget sih, lagi bawa ibu hamil malah di tinggal mana belum nyampe


lokasi.” Gerunek tante Hana


Tanpa menunggu lama mobil itupun melaju meninggalkan mereka yang berarti mereka


berdua harus jalan kaki menuju rumah sakit itu.   Suasana


jalan itupun seketika sepi, tidak ada yang lalu lalang padahal masih siang.

__ADS_1


Tanpa berfikir panjang sampailah bu Nia dan tante Hana di depan pendaftaran.


“saya mau ke poli kandungan, ini teteh saya sedang kontraksi” ujar tante Hana sambil


memberikan ktp.


“oh iya tunggu sebentar” jawab resepsionis itu dengan ramah


Suasana rumah sakit tampak sangat sepi, tidak ada pasien yang berkunjung dan tidak


banyak dokter yang keliatan.


“ini bu sudah saya buatkan surat nya, ibu dari sini jalan aja lurus sampe mentok ada 2 arah


silahkan pergi ke kanan nanti ada kamar mayat lurus aja abis itu ada parkiran,


nah disebelah parkiran itu ada poli kandungan. Kalau ibunya susah jalan bisa


pake kursi roda.” Jelas petugas resepsionis itu


“jauh sekali ya mba tempatnya, apa ga bisa lewat jalan lain selain melewati kamar mayat?”


tanya tante Hana


“bisa bu, lewat luar, Cuma disana lagi ada perbaikan jalan sehingga jalan menuju poli


kandungan tidak bisa dilewati”


Tanpa pikir panjang akhirnya bu Nia dan tante Hana menuju ke poli kandungan yang sudah


dijelaskan oleh petugas itu. Saat berjalan menyusuri lorong-lorong kamar,


ruangan. Nampak kumuh dan berdebu sekali ruangan-ruangan itu seperti tidak ada


penghuninya. Saat setelah mau melewati kamar mayat tiba-tiba langkah bu Nia


terhenti.


“ada apa mba?” tanya tante Hana


“firasat saya ga enak Han, soalnya kata Dr Tia saya dilarang melewati tempat yang seram,


kan kamu tau Han kalau kamar mayat itu seram.” Ucap bu Nia


“ya tapi mau gimana lagi mba, ini jalan satu-satunya kalau lewat luar jalan sedang


diperbaiki” jelasnya


“yaudah kita bismilah aja semoga di beri perlindungan oleh Allah” ucap bu Nia


Dan akhirnya mereka membaca ayat kursi dan surat pendek ketika melewati kamar mayat itu.


Setelah melewati kamar mayat itu sampailah di parkiran, namun ada yang aneh di sini.


Ternyata tidak ada pekerjaan apapun disini. Tidak ada pembangunan atau renovasi

__ADS_1


jalan. Bu Nia yang sudah menahan rasa sakit diperutnya itu pun tidak terlalu


memperdulikan keadaan disana. Hanya fokus berjalan menuju ke poli kandungan.


“loh. Ko ga ada apa-apa. Bukannya tadi kata petugas itu sedang ada pembangunan jalan, ini


kita dikerjain atau bagaimana sih?” tanya tante Hana dengan emosi


Akhirnya tiba lah didepan pintu poli kandungan, disana ada sekitar 2 pasien yang sedang


mengantri menunggu giliran. Bu Nia duduk di sebelah pasien itu. Perawakan


pasien itu terlihat seperti usia 38 dan 40 tahun. Wajah pasien itu sangat pucat


sekali bahkan rambutnya acak-acakan. Tetapi bu Nia dan tante Hana tidak


memperdulikannya yang penting bisa cepat selesai dan keluar dari rumah sakit


ini. Saat nama bu Nia di panggil, tante Hana dilarang masuk oleh perawat nya


dikarenakan tidak boleh ikut melihat pemeriksaan. Otomatis tante Hana menunggu


bersama pasien yang sangat aneh itu.


“kamu kenapa bisa ada disini, kamu dari mana?” tanya pasien itu


“saya pindahan dari Manado. Saya kemarin juga kesini. Ibu mau periksa kandungan?”


tanya tante Hana ramah


“bukan, saya Cuma pengen nongkrong disini, sudah sepuluh hari suami saya ga jemput saya hiks


hiks” ucap pasien itu dengan suara sendu


“loh suami ibu nya kemana? Kenapa ibu ga pulang sendiri?” tanya lagi dengan penasaran


“saya kan sudah meninggal disini kemarin, hihihihiiiii” jawabnya sambil tersenyum


menyeringai


Tante Hana yang mendengar itu syok dan langsung pingsan ditempat


Saat bu Nia sudah keluar ruangan, ia kaget melihat Tante Hana tertidur dikursi tunggu.


“haih Han, bangun ngapain kamu tidur disini, saya ga lama ko Cuma sebentar aja, ko malah tidur.”


Protes bu Nia sambil terus membangunkan tante Hana


10 menit sudah bu Nia menunggu tante Hana sadar, akhirnya tante Hana pun bangun dan


langsung ngajak bu Nia pergi dari rumah skait itu sambil berlari. Bahkan ia


tidak mau lewat kamar mayat lagi. Mereka pun langsung berlari sekuat tenaga.


Sesampainya di pinggir jalan bu Nia tampak sangat kelelahan dan bingung kenapa

__ADS_1


dengan adiknya itu.


Bu Nia yang tau sesuatu tidak ingin menanyakan nya disini.


__ADS_2