Sekretaris Buruk Rupa

Sekretaris Buruk Rupa
Hangover


__ADS_3

Setelah menutup telepon dari ibunya, tiba-tiba Alex merasa begitu mengantuk. Apa yang terjadi? pikirnya bingung.


Semalaman tadi, bahkan tak secuil pun rasa kantuk yang sudi hinggap di pelupuk matanya. Namun kini, setelah memberikan keputusan singkat dan juga impulsif yang Ia janjikan pada sang Ibu, mendadak kelopak matanya bagai digantungi masing-masing sepuluh ton pemberat yang membuatnya sulit untuk menatap layar ponselnya dengan jelas.


Apakah berbicara dengan ibunya serta memberikan sugesti ala kadarnya pada dirinya sendiri untuk segera move on dari mantan tunangannya yang materialistis, benar-benar mampu membantu meringankan sakit di hatinya dan juga menenangkan pikirannya, hingga ia kini jadi begitu mengantuk?


Entahlah... Alex sendiri tidak begitu mengerti ilmu psikologi semacam itu. Namun yang jelas, ia masih harus mempertahankan kesadarannya sebentar untuk menghubungi Manajernya.


"Tahan, Lex! Tahan sebentar lagi!" ujarnya pada diri sendiri. "Tahan sampai kau selesai minta izin off untuk hari ini," imbuhnya.


Namun saking tidak kuatnya Ia memelototi deretan huruf-huruf qwerty pada layar ponselnya, demi mengetikkan sebuah pesan kepada manajer dari agensi modelingnya, Alex memilih untuk langsung menelepon manajernya dan memintanya menunda seluruh pekerjaan hari ini dengan alasan kesehatan yang kurang baik.


📱ALEX LEVINE


Hai, Dale


📱DALE NEWTON


Alex? Kau kah itu?


📱ALEX LEVINE


Yes, Dale. Ini aku, Alex Levine. Salah satu model kesayanganmu.


📱DALE NEWTON


Oh, Ya Ampun, Lex Apa yang terjadi pada suaramu? Kau terdengar... mengerikan, horrible!


📱ALEX LEVINE


Dan aku yakin, tampangku jauh lebih mengerikan lagi. Aku sampai tidak berani berkaca hari ini


📱DALE NEWTON


Ya Tuhan, kau kenapa, Lex?


📱ALEX LEVINE


Aku, aku tidak enak badan, Dale. Jadi aku menelpon untuk bertanya apakah kau bisa memberiku libur?


📱DALE NEWTON


Libur? Hari ini?


📱ALEX LEVINE


Tentu saja hari ini, Bro! Sakitku kan hari ini! Apa maksudmu aku harus tetap bekerja dengan kondisiku seperti ini?


📱DALE NEWTON


Hahaha. Maaf, Lex. Tapi aku harus tetap mengecek jadwalmu dulu, dan jika ada jadwal yang tidak bisa ditunda, terpaksa kau harus menjalaninya bagaimana pun keadaanmu


📱ALEX LEVINE


Dasar psikopat kau, Dale!


📱DALE NEWTON

__ADS_1


Ya-ya, whatever. Tapi beginilah pekerjaanku, dan kau terikat kontrak sama sepertiku tau


📱ALEX LEVINE


Baiklah, cepat periksa! Aku sudah tak kuat bicara


📱DALE NEWTON


Tunggu sebentar! Mmm... Oh, untunglah tidak ada yang mendesak dari jadwalmu hari ini dan bahkan sampai besok. Jadi aku bisa memberimu libur dua hari, Lex. Apa kau puas?


📱ALEX LEVINE


Sangat puas, Dale. Thanks a lot


Alex tersenyum lega dan tanpa pikir panjang lagi ia langsung meraih bantalnya, seketika Alex terlelap begitu saja setelah kalimat terakhirnya.


Baterai tubuhnya sudah benar-benar habis dan pria itu pun terlelap tanpa peringatan, bahkan tanpa pamit kepada Manajernya yang masih berbicara dari seberang telepon.


📱DALE NEWTON


Baiklah, sekarang akan kuatur ulang jadwalmu dua hari ini dengan para sponsor. Istirahatlah sepuasnya hari ini dan besok, tapi lusa aku akan menjemputmu pagi-pagi sekali, Okey?


📱ALEX LEVINE


.._____....


📱DALE NEWTON


Halo, Lex? Apa kau masih disana?


📱ALEX LEVINE


📱DALE NEWTON


Dasar, Alex! Dia sudah tertidur


Sambil menggerutu, Dale Newton—sang Manajer pun akhirnya menutup sambungan teleponnya.


Sementara itu... Jake Chiper sedang dalam perjalanan ke apartemen Alex ketika sebuah telepon masuk di ponselnya yang terpasang pada sebuah holder di dashboard. Jake melirik sebentar ke arah ponselnya di samping kemudi mobil, sambil terus mencoba fokus pada jalan raya di hadapannya.


Jake buru-buru menekan tombol receiver kala nama Dale Newton—manajernya yang juga manajer Alex, muncul di layar.


📱JAKE CHIPER


Bicaralah, Dale! Aku sedang menyetir


📱DALE NEWTON


Mau kemana kau?


📱JAKE CHIPER


Ke rumah Alex, kenapa?


📱DALE NEWTON


Oh, syukurlah kalau kau memang mau ke tempat Alex. Aku baru akan menyuruhmu kesana

__ADS_1


📱JAKE CHIPER


Tunggu! Memangnya kenapa? Kau tahu sesuatu tentang Alex?


📱DALE NEWTON


Dia barusan menelponku meminta libur. Katanya dia sakit, dan dari suaranya yang kudengar sepertinya itu memang benar. Maksudku, sepertinya dia tidak mengada-ngada tentang sakitnya demi meminta libur


📱JAKE CHIPER


Apa maksudmu dengan mengada-ngada? Mana pernah Alex berbohong pada seseorang, apalagi hanya demi bolos kerja


📱DALE NEWTON


Aku tahu... aku tahu, maaf


📱JAKE CHIPER


Kau berhutang maaf pada Alex, teman... bukan padaku. Tapi memangnya aoa yang terjadi dengan suara Alex?


📱DALE NEWTON


Oke-oke, aku akan meminta maaf pada Alex nanti. Well, Suaranya sangat buruk. Mengerikan. Sekering dan setandus gurun sahara


📱JAKE CHIPER


Lalu? Kau memberinya libur kan?


📱DALE NEWTON


Tentu saja. Kau kira aku tidak punya rasa kemanusiaan? Aku memberinya—tidak, maksudku memberi kalian berdua libur dua hari. Karena dalam dua hari kedepan jadwal yang ada hanyalah jadwal kombo kalian berdua, jadi jika Alex harus libur, maka kaupun begitu. Nikmatilah, Jake... dan tolong jaga Alex untukku, oke


📱JAKE CHIPER


Pasti, Dale. Tak perlu kau minta pasti akan kulakukan


Jake pun langsung menambah kecepatan mobilnya segera setelah menutup telepon dari sang manajer. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu, kawan? Batin Jake bertanya-tanya sembari diliputi rasa khawatir untuk sahabatnya itu.


Hampir dua puluh empat jam kemudian...


Alex merasa tubuhnya kaku, kepalanya berdenyut-denyut seolah seseorang tengah memukulnya dengan palu godam tepat di titik yang sama berulang-ulang. Ingatannya timbul tenggelam, dan samar-samar.


Alex berusaha mengangkat tubuhnya untuk bersandar di sisi ranjang. Ia memijit pelipisnya sendiri, mencoba untuk meredakan denyutan menyakitkan yang dirasakannya.


Wajah mantan tunangannya—Luna, melintas sesaat di kepalanya, disusul teriakan wanita itu, lalu suara ibunya turut terngiang dengan kalimat-kalimat yang cukup panjang. Pelan namun pasti, akhirnya Alex mampu mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya sebelum ini.


Rasa gatal menggelitik tenggorokan Alex. Ia terbatuk beberapa kali karena kerongkongannya mengering. Tanpa melihat, diulurkannya tangan ke nakas untuk meraih gelas air yang selalu ia letakkan di sana. Alih-alih bisa meraih gelas yang dimaksud, Alex malah tanpa sengaja menyenggol gelas itu hingga jatuh ke lantai dan pecah.


Bunyi gaduh itu membuat kepala Alex makin berdenyut-denyut. Kedua tangannya memegangi kepalanya secara bersamaan. Merasa tak mampu melakukan apapun, Alex pun pasrah dengan keadaannya saat itu. Tubuh Alex yang tadinya dalam posisi bersandar akhirnya rubuh menyamping ke tengah ranjang.


Seketika, pintu kamar Alex terbuka lebar dari luar. Jake menyeruduk masuk, melompat naik ke atas kasur Alex sambil berteriak padanya, "Alex sadarlah, jangan mati kawan! Jangan tinggalkan aku!" teriak Jake sambil mengguncang-guncang tubuh Alex yang lemah seperti sedang terkapar.


"Shut up, Jake! Tutup mulutmu atau kuusir kau dari sini," ancam Alex dengan suara serak.


Jake mundur, kedua tangannya terangkat secara refleks—posisi menyerah, "Kau tidak sedang sekarat kan, Lex?" tanya pria tampan itu polos.


"Aku hanya sedang hangover, bodoh," balas Alex kesal disisa-sisa tenaganya yang masih ada.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2