
Genggaman tangan Alex pada gagang kopernya semakin kencang saat pria itu menahan gelombang amarah. "Apakah anda belum pernah melihat foto saya di kantor Roxanne Levine?" Mata gelap Alex menatap Ambrosia dengan ketajaman yang menghujam jantung gadis itu.
Sayangnya Ambrosia cukup kebal dengan tatapan tajam Alex. Ambrosia sudah siap tempur sebelumnya, jadi ia sangat mengantisipasi bagaimanapun sikap Alex terhadapnya, "Satu-satunya foto yang ada di ruangan Roxanne Levine adalah foto suaminya yang sedang menggendong putra mereka saat masih bayi."
"Bagaimana dengan foto saya di laman hiburan di internet?" desak Alex semakin kesal.
Ambrosia mengangkat kedua alis tebalnya acuh tak acuh, "Dan untuk apa saya menggunakan internet kantor maupun internet pribadi saya demi mencari foto anda di laman hiburan? Tidak, terima kasih," balas Ambrosia apa adanya.
Keterusterangan yang sangat menjengkelkan bagi seorang Alex Levine. Cukup sudah!!! Aku menyerah!!! batin Alex.
Setelah mendengus keras-keras, dan nyaris mengacak rambutnya sendiri karena frustasi menghadapi sikap sekretaris ibunya, Alex lalu mengeluarkan paspornya dengan malas, dan menyerahkannya bersamaan dengan ponsel yang masih menampilkan pesan dari sang ibu kepada wanita itu.
"Ini! Ini bukti bahwa akulah Alex Levine yang kau tunggu atas suruhan bosmu," ujarnya dengan nada tinggi.
Ambrosia bergeming sejenak, mengambil dua hal yang disodorkan Alex dengan gerakan slow motion yang hampir membuat Alex hilang kesabaran sambil melirik ke arah pria tampan di hadapannya dengan tatapan tidak suka. Tsk, kenapa harus dia yang kesal? Memangnya dia yang akan disalahkan jika aku keliru menjemput orang. Benar-benar konyol! Gerutu Ambrosia dalam hati.
Setelah mengecek paspor dan juga isi pesan pria itu yang jelas-jelas dikirim oleh Roxanne Levine, Ambrosia akhirnya memutuskan bahwa ia telah bertemu dengan orang yang harus dijemputnya. Ambrosia mengembalikan kedua benda itu kepada pemiliknya dengan tenang dan berkata, "Mari ikut saya!"
Apa? Begitu saja reaksinya? Batin Alex tak habis pikir. Ia seolah masih tidak terima dengan perlakukan Ambrosia kepadanya. Apanya yang kompenten? Wanita ini jelas-jelas mengacuhkan egoku!
Alex yang seorang model terkenal, yang terbiasa dipandang dengan tatapan kagum oleh para wanita, tiba-tiba menjadi tidak berharga di hadapan Ambrosia, sekretaris yang begitu disukai ibunya.
__ADS_1
Belum selesai Alex merutuki sikap dingin Ambrosia di dalam pikirannya, lagi-lagi Alex dibuat menganga ketika dirinya melihat Ambrosia dengan santai melipat kertas putih yang tadi dibawa wanita itu, yang ada tulisan nama Alex di dalamnya, menjadi lipatan kecil lalu membuangnya begitu saja ke salah satu tempat sampah yang kebetulan mereka lewati.
"Heii, apa yang barusan kau lakukan?" tanya Alex dengan nada marah. Ia memotong langkah Ambrosia dengan berjalan cepat menyusul si Nona Sekretaris lalu berhenti tepat di hadapan wanita itu.
Ambrosia sedikit terkejut dengan tindakan impulsif Alex. Namun Ambrosia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkannya, jadi ia hanya mengedikkan bahunya seraya menjawab dengan enteng, "Membuang sampah."
"Sampah kau bilang?" Alex setengah berteriak. Tak percaya dengan respon ala kadarnya dari wanita di hadapannya itu.
"Iya, itu sampah. Sesuatu yang sudah tidak berguna, bukankah itu disebut sampah?" Ambrosia balas bertanya dengan bingung. Jeda di antara kedua Alisnya sedikit mengerut menandakan keheranannya, walaupun di mata Alex wajah Ambrosia masih tetap sama. Selalu datar sejak ronde pertama perdebatan mereka.
"Tapi... tapi... namaku tertulis di situ," tunjuk Alex tidak terima.
Namun sikap itu sungguh bagai sebuah tantangan yang nyata di mata Alex. Alex makin salah tingkah melihat sikap tenang Ambrosia yang membuatnya semakin emosi jiwa. Kekesalan menjalari tulang belakang Alex dan melonggarkan kendali terhadap lidahnya, "Hei kau! Bisakah kau bersikap sopan sedikit padaku?" protes Alex keras.
Ambrosia mengernyitkan kedua alisnya lebih dalam, dan kali ini Alex jelas sangat menyadari perubahan ekspresi di wajah sekretaris andalan ibunya itu.
"Bagian mananya dari sikap saya yang tidak sopan menurut anda? Saya diperintah hanya untuk menjemput anda dari sini dan mengantar anda ke Levine Enterprises secepatnya, saya tidak diperintah untuk berhaha-hihi demi menjilat anda atau bersikap berlebihan untuk menyenangkan anda. Jadi, Ayolah! Kita terlalu buang-buang waktu di sini."
Ambrosia kembali melanjutkan langkahnya dengan tenang setelah menyelesaikan kalimatnya dan melewati Alex begitu saja.
Alex terpaku, emosinya berkecamuk. Namun ia berusaha mengembalikan kewarasannya demi secepatnya bertemu dengan ibunya untuk memprotes perilaku sang sekretaris andalan.
__ADS_1
Beberapa menit berikutnya, perjalanan dari Bandara menuju Gedung Aurora Place yang hanya memakan waktu tidak lebih dari lima belas menit itu, terasa bagai setahun bagi Ambrosia dan Alex yang mengisi perjalanan mereka dengan keheningan yang canggung dan menyiksa.
Selama perjalanan, Alex bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan wanita ini? pikirnya, dan kenapa Ibunya bisa mempunyai sekretaris semacam ini? Se-tidak fashionable ini? Alex benar-benar tak mengerti. Apakah selera ibuku sudah berubah hingga bisa menyukai makhluk seperti ini?
Alex memicingkan mata pada sosok Ambrosia yang sedang fokus menyetir. Meski dari kursi penumpang yang di dudukinya, ia hanya bisa melihat bagian samping dari sekretaris itu, tetapi Alex tetap menatap tajam ke arah Ambrosia.
Diam-diam Ambrosia menyadari jika Alex terus memperhatikannya. Bagaimana mungkin tidak menyadari jika tatapan tajam dari pria yang duduk di kursi penumpang di belakangnya itu membuatnya merasakan hawa dingin yang menusuk tengkuknya. Meski begitu, Ambrosia memilih untuk mengabaikan pria yang dalam hati ia akui memang menawan dan memilih tetap fokus menyetir.
Aneh memang—dan alasan bagus untuk membuatnya semakin kesal, bahwa Ambrosia merasakan daya tarik sensual yang nyata pada Alex Levine. Sesuatu yang absurd yang tidak pernah Ambrosia rasakan sebelumnya.
Nyaris saja Ambrosia meleleh saat bertemu muka untuk pertama kalinya dengan Sang Putra Mahkota. Untung saja kendali diri Ambrosia sangat kuat hingga tidak sampai mempermalukan dirinya sendiri di hadapan pria tampan namun menjengkelkan itu.
Gairah pada pandangan pertama, pikir Ambrosia sinis, dan kenapa justru sekarang dirinya merasakan kesadaran sensual itu? Kepada justru kepada seorang Alex Levine—pria yang di masa depan mungkin akan menjadi bosnya; pria yang mungkin tidak jauh berbeda dari bos-bos prianya terdahulu, melihat dari sikap arogan Alex dipertemuan pertama mereka ini.
Belum pernah ada pria yang mampu memancing respon fisik yang sebegitu kuat dari Ambrosia. Bahkan, Ambrosia tidak pernah benar-benar mengerti hingga perasaan itu datang dan menerjangnya tanpa peringatan, seperti kemunculan Alex Levine yang begitu tiba-tiba dalam kehidupannya.
Keep calm, cool, and collected, Ambrosia merapalkan moto hidupnya dalam hati bagai mantra untuk tetap dapat mengontrol diri. Bersikap bijaksana merupakan keyakinan yang selalu Ambrosia terapkan dalam menjalani hidup, dan Ambrosia selalu menganggap dengan bersikap bijaksana dapat menyelamatkannya dari banyak masalah yang mampir di kehidupannya.
Lebih cepat sampai di kantor, akan lebih baik! Begitu pikir Ambrosia.
...****************...
__ADS_1