Sekretaris Buruk Rupa

Sekretaris Buruk Rupa
Miss Heart, or Nerd?


__ADS_3

Who says


Who says you're not perfect


Who says you're not worth it


Who says you're the only one that's hurting


Trust me


That's the price of beauty


Who says you're not pretty


Who says you're not beautiful


Who says


It's such a funny thing


How nothing's funny when it's you


You tell 'em what you mean


But they keep whiting out the truth


It's like a work of art


That never gets to see the light


Keep you beneath the stars


Won't let you touch the sky


Na na na


Na na na


Na na na


Na na na


I'm no beauty queen

__ADS_1


I'm just beautiful me


Na na na


Na na na


You've got every right


To a beautiful life


C'mon


...


...


Bibir Ambrosia bersenandung lirih mengikuti nada musik yang sedang didengarnya melalui earphone. Selena Gomez adalah penyanyi favoritnya, dan mendengar suara emas Selena selama masa penerbangannya yang singkat jelas sangat membantu Ambrosia secara psikis.


Suara Selena perlahan mengecil seiring berakhirnya lagu yang berjudul Who says. Ambrosia buru-buru mematikan aplikasi pemutar lagu pada ponselnya, lalu mencabut earphone dari telinga saat dirinya melewati sudut pengambilan bagasi.


Ambrosia tidak bermaksud untuk menginap di Sydney malam ini. Ia berencana langsung pulang ke Melbourne setelah wawancaranya selesai, jadi ia memang sengaja tidak membawa koper kecilnya. Karena itu, ia juga tidak perlu mengantri di roda berjalan tempat para penumpang mengambil bagasi mereka masing-masing.


Perjalanan pulang pergi seperti ini memang melelahkan, tapi bagi Ambrosia yang sedang berhemat, biayanya jauh lebih murah ketimbang harus menginap di Sydney walaupun hanya semalam.


"Not bad," gumamnya riang.


Ia sengaja memakai layanan Virgin Australia Airlines karena merasa maskapai tersebut memiliki jadwal yang paling cocok untuk situasinya. Meskipun wawancaranya sendiri dijadwalkan setelah jam makan siang—sekitar jam satu, Ambrosia sengaja datang lebih awal demi mempelajari situasi di sekitar kantor Levine Enterprise, sekaligus untuk mempersiapkan mentalnya sebelum masuk ke dalam ruang wawancara.


Tetapi ia juga tidak mau datang terlalu awal, karena menunggu justru bisa memicu kegelisahan yang tidak ia inginkan. Hal terakhir yang Ambrosia butuhkan saat ini adalah rasa gugup. Jadi ia harus menghindari segala hal, sekecil apapun itu, yang bisa memancing kegelisahan dalam dirinya. Ia harus tetap tenang, mantap, dan yakin pada kemampuannya.


Keep calm, cool, and collected, adalah moto dirinya.


Tepat di bawah Taxi shelter, kepala Ambrosia celingukan mencari armada yang siap berangkat. Tanpa menunggu lama, sebuah taksi menghampirinya dan berhenti tepat di hadapannya. Ambrosia membuka pintu dan langsung mengatakan kemana tujuannya kepada driver bertopi baret di balik kemudi.


Untungnya Gedung Aurora Place cukup dekat dengan Sydney Airport, sehingga hanya butuh waktu empat belas sampai lima belas menit bagi Ambrosia untuk bisa menuju kantor Levine Enterprise, menggunakan taksi dari bandara.


Ketika turun dari taksi di depan Artistry Garden, Ambrosia lagi-lagi melirik ke arloji di pergelangan tangannya. Tepat jam sebelas empat puluh saat dirinya tiba di Phillip Street. Artinya, masih ada waktu kurang dari satu setengah jam baginya untuk mempersiapkan mental dan materi apa saja yang harus dirinya pelajari ulang demi melancarkan tes wawancara nanti.


Seperti yang sudah ia rencanakan, Ambrosia tidak langsung menyebrang dan masuk ke dalam gedung Aurora Place, melainkan malah menyusuri jalanan hingga tiba di tikungan Bent Street, kemudian masuk ke dalam sebuah cafe yang diberi nama Bertoni.


Karena lokasinya yang tepat berhadapan, dan hanya dipisahkan oleh Philip street yang memiliki dua jalur, Ambrosia bahkan bisa melihat pintu lobby utama gedung Aurora Place dari kursi yang dipilihnya di dalam Bertoni cafe.


Seorang waiter datang dan menyapanya dengan ramah. Siap mencatat pesanan Ambrosia. Karena tidak ada buku menu, kedua mata Ambrosia yang hari ini dibingkai kacamata tebal memindai papan tulis besar yang berdiri di dekat pintu masuk. Ia langsung memilih

__ADS_1


"Satu porsi Ham & Cheese Croissant dan single shot espresso, please," ucap Ambrosia setelah menentukan menu brunch-nya kali ini.


"Dengan mayonaise terpisah, atau tercampur?" tanya waiter.


"Terpisah saja, terima kasih," jawab Ambrosia.


Waiter itu pergi setelah mengangguk mengerti. Sambil menunggu pesanannya tiba, Ambrosia membuka tas kerja yang sejak tadi ditentengnya. Meskipun tak mungkin melupakan segala sesuatu yang perlu ia bawa untuk keperluan wawancara—mengingat Ambrosia telah menjalani proses itu berulang-ulang kali hingga hampir seperti ritual tahunan, tetapi Ambrosia masih merasa perlu untuk mengecek ulang. Insting profesionalismenya tergerak untuk tetap teliti, kapanpun dan dimanapun.


Tanpa mengeluarkan seluruh isi tasnya ke atas meja, Ambrosia mengintip ke dalam tas dan mengurutkan ulang dokumen-dokumen yang dibawanya; Resume asli dan beberapa salinan, check—sebagai persiapan jika pewawancara yang hadir lebih dari yang ia harapkan, portofolio histori pekerjaannya, check, daftar referensi, check, dokumen identifikasi personal, check, notebook dan pena, check, serta tak lupa lembar fakta perusahaan, check.


"Lengkap sempurna," ujar Ambrosia puas.


Waiter yang sama datang lagi membawa pesanan Ambrosia, dan gadis dua puluh tujuh tahun itu mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Ia menyeruput espresso-nya dengan gerakan lamban, lalu bergerak cepat saat mengeluarkan lembaran yang berisi informasi general tentang Levine Enterprise.


Untungnya Ambrosia cukup cerdas untuk menyelidiki atau melakukan riset lebih dulu terhadap perusahaan-perusahaan yang akan ia kirimi lamaran pekerjaan. Jadi saat ini, ia hanya perlu membaca hasil risetnya tentang Levine Enterprise agar lebih memahami calon kantor barunya tersebut. Tentu saja jika wawancaranya hari ini sukses dan ia diterima bekerja disana.


Walaupun riset telah dilakukan, sayangnya hal tersebut tidak lantas mencegahnya bertemu dengan para senior atau atasan yang tidak kompeten dan suka melecehkan. Seperti para mantan bosnya terdahulu, karena pada umumnya perusahaan besar biasanya memang menyimpan rapat-rapat informasi internal mereka. Hanya sedikit yang bisa kita lihat di internet dan informasi itu pun tidak selalu akurat sesuai dengan fakta di lapangan.


...***...


Lantai 21, Gedung Aurora Place—


Lobby utama kantor Levine Enterprise.


Keputusan tepat bagi Ambrosia untuk memutuskan masuk ke gedung Aurora Place tiga puluh menit sebelum waktu yang ditentukan untuk wawancara, karena sesaat setelah dirinya memberitahu bagian resepsionis tentang tujuannya, wanita cantik di balik meja itu langsung berkata, "Silahkan sebelah sini, ibu kepala pimpinan dan direktur HRD sudah menunggu anda."


Ambrosia seketika pucat pasi. Apa? Sudah menunggu? batin Ambrosia kebingungan. Ia melirik jam tangan, memastikan waktu saat ini. Takut kalau ternyata dirinya salah melihat jam. Baru jam dua belas tiga puluh. Seharusnya kurang tiga puluh menit lagi waktu yang dijadwalkan untuk wawancaranya, lalu... kenapa mereka sudah menunggunya?


Ambrosia bertanya-tanya sambil terus mengikuti kemana langkah si resepsionis. Sesampainya di sebuah ruangan megah yang tertutup rapat, Ambrosia dipersilahkan masuk setelah resepsionis itu membukakan pintu sambil melaporkan kedatangannya kepada siapapun yang berada di dalam ruangan.


Ambrosia menarik napas satu kali sebelum memasuki ruangan, "Maafkan atas keterlambatan saya dan membuat anda menunggu," ucapnya mencoba tenang.


Ternyata di dalam ruangan itu hanya ada dua orang, dan dua-duanya tampak melongo menatap Ambrosia. Mereka berdua dengan kompak memindai Ambrosia dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke atas. Seolah-olah bukan Ambrosia orang yang mereka harapkan muncul di hadapan mereka saat ini.


Keheningan yang canggung sempat melingkupi ruangan yang luas dan modern itu, hingga salah seorang diantaranya memecah keheningan, "Sejujurnya, kau memang tidak terlambat, Nona. Tapi apa kau yang bernama Miss Ambrosia Heart?" tanya seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan.


Masih berdiri di tempatnya, Ambrosia menjawab dengan tegas dan yakin, "Yes, mam. Saya Ambrosia Heart."


"Are you sure, kau Miss Heart yang sama yang mengirimkan resume ke kantor kami untuk posisi sekretaris?" tanyanya lagi ragu-ragu. Seakan ingin memastikan sesuatu.


Belum sempat Ambrosia mengiyakan, terdengar celetukan dari pria yang sejak tadi berdiri di samping si wanita paruh baya, "Miss Heart, or nerd?" tanyanya sambil menahan tawa.


Seketika sebuah map tebal mendarat di atas kepala pria itu, disusul teguran dari si wanita paruh baya, "Tidak sopan!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2