
King Street, Sydney,
Ambrosia berjalan lunglai ketika memasuki apartemennya di lantai lima Atelier Buildings, pada jam enam sore itu. Meski tak seluas apartemennya di Melbourne dulu, tetapi kamar studio yang sudah ia tinggali selama dua tahun terakhir ini—sejak dirinya pindah dan bekerja di Sydney, nyatanya jauh lebih bisa memberinya rasa nyaman ketimbang apartemennya dulu.
Setelah membersihkan wajah dan kedua tangannya dengan cepat, Ambrosia langsung menuju ke dapur mungilnya untuk menyeduh minuman coklat panas kesukaannya. Diambilnya pula beberapa toples berisi biskuit berbagai ukuran, bentuk, dan rasa dari dalam lemari makanan yang kemudian ia jajarkan di atas baki besar merah muda.
Melihat kudapan yang dibutuhkannya telah lengkap, Ambrosia membawa baki merah mudanya yang sudah penuh menuju balkon—spot andalannya untuk bersantai sepulang kerja.
Gadis itu selalu merasa aura yang dimiliki apartemennya sekarang ini senyaman rumah mungil milik keluarganya di Desa Central Tilba. Apalagi, apartemen ini memiliki balkon dengan pemandangan pepohonan tengah kota Sydney yang lebat dan menenangkan.
Balkon dimana dirinya bisa meletakkan sofa mungil favoritnya, untuk sekedar merenggangkan tubuh sembari menikmati semilir angin sore kota Sydney, ditemani coklat panas dan aneka cemilan. Rutinitas harian yang biasanya cukup ampuh untuk merelaksasi diri, mengusir rasa lelah dan penat setelah Ambrosia seharian bekerja.
Namun, tidak dalam beberapa pekan terakhir. Sungguh dua minggu yang teramat sangat melelahkan bagi Ambrosia. Secara fisik jelas dirinya terforsir dengan proyek renovasi kantor baru untuk Direktur Trainee, yang ditugaskan khusus kepadanya langsung oleh sang Direktur Utama, tetapi secara mental pekerjaan itu justru jauh lebih melelahkan untuk Ambrosia.
Membayangkan bahwa dalam beberapa minggu ke depan, si pemilik kantor yang sedang ia renovasi akan datang, membuat bulu kuduknya merinding. Bagai menghitung mundur tanggal eksekusi yang telah ditetapkan untuknya.
Fakta bahwa mungkin saja dirinya kelak harus kembali bekerja di bawah bos pria membuat perut Ambrosia mual. Kebenciannya terhadap kemungkinan itu nyaris setara dengan efek trauma dari pengalaman-pengalaman buruknya terdahulu.
Walaupun Ambrosia juga menyadari bahwa Alex Levine bisa jadi memiliki karakter yang sebaik dan sebijak sang ibu, tetapi lagi-lagi berbagai pikiran negatif tentang Alex Levine yang bahkan belum pernah ia temui lebih mendominasi otak Ambrosia.
Ambrosia bahkan sudah menyiapkan draft pengunduran diri di dalam email pribadinya, yang siap ia kirimkan kapanpun ia rasa perlu. Pengunduran diri yang tidak mungkin ada jika Roxanne Levine tidak mengumumkan niatnya mewariskan perusahaan kepada putra semata wayangnya.
Well, sangat wajar bagi Roxanne untuk mewariskan perusahaannya kepada putranya. Tapi kenapa harus secepat ini? Pikir Ambrosia kalut. Kenapa justru disaat dirinya telah menemukan ketenangan dalam lingkungan pekerjaannya...
Ambrosia mungkin bisa menerima perubahan sebesar apapun di dalam perusahaan tempatnya bekerja saat ini, kecuali yang satu itu. Kecuali peralihan gender pada pemegang kuasa dimana Ambrosia harus mendedikasikan dirinya sebagai seorang sekretaris.
__ADS_1
Mata Ambrosia menerawang jauh ke langit senja kota Sydney yang semakin gelap dan mulai bertabur bintang. Meskipun segala hal yang ia butuhkan untuk mengembalikan moodnya telah terpenuhi, namun lagi-lagi... ritual relaksasinya, gagal total.
...****************...
Q Management, Los Angeles,
"Where's that Mama's Boy?" Dale Newton berteriak lantang sembari menghentak-hentakkan kakinya saat berjalan di koridor menuju ruang Direktur Utama Q Management—agensi modelling tempat bernaung Alex Levine dan Jake Chiper.
Pria gempal berambut coklat gelap itu kemudian membuka lebar-lebar pintu ruangan bosnya tanpa mengetuknya lebih dulu. Seolah dirinya kebal terhadap opsi pemecatan sepihak berlandaskan asas pelanggaran privasi.
Untung bagi Dale, Adam Harrison—pemilik ruangan yang juga Direktur Utama Q Management sedang dalam suasana hati yang baik saat itu.
"Kau sangat kurang ajar untuk ukuran manajer yang sedang memasuki kantor bosmu sendiri, Dale," ucap Adam dengan tenang tanpa sedikitpun menoleh ke arah Dale Newton yang tampak menahan amarah.
Alih-alih marah atas sikap tidak sopan salah satu karyawannya, pria perlente itu justru tetap fokus pada lembaran-lembaran dokumen yang sedang dibacanya.
"Tenanglah, Dale. Jika sampai wajah Alex terluka karena pukulanmu, itu akan menjadi kerugian besar bagi perusahaan." Jake yang sedari tadi mengikuti manajernya yang murka mencoba untuk menenangkan pria gempal itu dengan menepuk-nepuk pundak Dale.
"Aku tidak peduli, biarkan saja wajahnya babak belur, toh dia sudah mangkir dari kewajiban kontraknya sebagai model. Dia sudah membuang pekerjaannya, Jake, membuang perusahaan dan kita semua demi pulang ke pelukan ibunya, dasar kau anak mama," teriak Dale penuh emosi sambil melotot ke arah Alex.
"Jake benar, Dale. Kau harus tenang, karena Alex tidak mangkir dari kewajibannya. Hanya saja dia tidak memperpanjang kontrak eksklusif dengan kita. Tapi sebagai gantinya, dia akan menjadi model freelance eksklusif Q Management yang pertama," jelas Adam dengan bangga.
"Istilah apa lagi itu," tanya Jake geli sambil mengambil tempat duduk yang kosong diantara Alex dan Adam.
"Istilah yang baru kuciptakan tentu saja," sahut Adam diikuti seriangai yang khas penuh wibawa.
__ADS_1
"Aku bersumpah jika salah satu dari kalian tidak segera menjelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi, aku akan membalikkan meja yang sedang kalian kelilingi itu," ancam Dale yang langsung ditertawakan oleh ketiga pria lainnya di ruangan itu.
"Duduklah dulu, Dale. Aku berjanji setelah ini kau akan bersorak kegirangan," pungkas Adam.
Dale langsung menurut, dan setelahnya Adam mulai menjelaskan bahwa kontrak eksklusif Alex Levine sebagai salah satu model Q Management memang seharusnya berakhir kurang dari dua bulan lagi.
Namun, meski Alex sudah berencana untuk tidak memperpanjang kontrak tersebut—karena pria itu harus kembali ke Sydney untuk mengambil alih perusahaan keluarganya, Alex tetap akan menyelesaikan segala kewajibannya sesuai kontrak lama sampai akhir. Setelah selesai, barulah Alex akan menetap di Sydney untuk seterusnya.
"Artinya tetap saja dia akan pergi meninggalkan kita semua, iya kan?" potong Dale muram.
"Aku belum selesai, Dale. Dengarkan sampai akhir dan tunggu giliranmu bicara, mengerti?" tegas Adam.
Sementara Dale Newton hanya bisa mengangguk pasrah, Alex si tokoh utama yang menjadi topik pembicaraan, malah senyam senyum melihat kepanikan manajernya yang nampak lucu di matanya.
"Asal kau tahu aku tidak menjalankan bisnisku hanya berbekal feeling saja, Dale, tetapi aku juga menggunakan ini," Adam menunjuk pelipisnya saat berbicara, "tentunya aku tidak akan melepaskan begitu saja, aset penting perusahaanku kalau aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih menguntungkan," sambungnya.
"Oh, ayolah, Bos. Kumohon jangan berbelit-belit," rengek Dale tidak sabar.
Adam Harrison tersenyum sambil geleng-geleng kepala, "Baiklah kalau itu maumu, otak udang. Intinya, aku menerima keputusan Alex untuk tidak memperpanjang kontrak lamanya, karena ibunya berjanji bahwa Levine Enterprises akan berinvestasi penuh pada Q Management untuk membuka kantor cabang di Sydney. Dan Alex juga berjanji akan tetap membantu sebagai model selama tidak menganggu jadwal utamanya di Levine Enterprises..."
Mata Dale Newton yang tadinya memerah penuh amarah seketika berbinar-binar cerah, "Benarkah itu?" tanyanya tak percaya.
"Dan satu lagi..." Adam menggantung kalimatnya demi efek yang sempurna dalam usahanya untuk memberi kejutan pada Dale, "kaulah yang akan kutunjuk sebagai penanggung jawab cabang kita di Sydney itu, Dale, dengan kata lain kau kupromosikan, selamat," tutup Adam dengan puas saat melihat ekspresi yang ia harapkan terpampang nyata di wajah Dale Newton.
Hanya Jake, satu-satunya di ruangan itu yang terlihat kurang antusias dengan berita yang disampaikan Adam. Jake belum bisa memberikan keputusannya atas tawaran Adam dan Alex untuk ikut pindah ke Sydney, lagi-lagi karena alasan saudara kembarnya, Roy Chiper.
__ADS_1
...****************...