
Untuk kesekian kali dalam kurun waktu tidak lebih dari satu jam, sejak dirinya selesai mengantar teh dan camilan ke ruang Direktur, Ambrosia menarik napas panjang. Sebenarnya ia sudah bisa menduganya, tapi nyatanya ia masih tak habis pikir bahwa ruang kantornya yang aman, damai, sentosa, dalam sekejap berubah menjadi ajang pertemuan kecil Alex Levine's Fans Club.
Bagaimana tidak jika dua orang penggemar baru Alex—yang juga asisten Ambrosia, Elsa dan Belle—masih saja asyik saling lempar komentar kekaguman mereka tentang sosok putra mahkota Levine Enterprises yang tampan lagi menawan.
"Demi apapun yang bisa kupertaruhkan, aku bersumpah, ini kali pertamaku melihat pria setampan dan se-seksi itu. O My Gosh! Dia sungguh pria paling tampan yang pernah kutemui sepanjang hidupku," celoteh Elsa yang duduk di sisi kanan Ambrosia.
"Setuju... Sangat-sangat setuju," dukung Belle yang duduk di sisi kiri Ambrosia. "Alex Levine adalah definisi visual dari pria impian setiap wanita. Ya Tuhan, bagaimana ada pria yang nyaris sempurna seperti itu," tambahnya.
"Jangan konyol, Belle," sembur Elsa, "apanya yang nyaris? Dia itu sudah sangat sempurna tau," imbuhnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata.
"Oh, Ya ampun... kau benar, Elsa, dengan senyum seperti itu, jelas sudah kepribadiannya pun pasti tak tercela. Oke kuralat, ALEX LEVINE ADALAH PRIA YANG SEMPURNA." Belle berceloteh dengan penekanan pada kalimat terakhirnya.
Sedetik kemudian, kedua fangirls itu memekik histeris secara bersamaan saat mereka sama-sama mengingat kembali senyuman yang sempat dilemparkan oleh Alex tadi.
Sementara itu, Ambrosia yang duduk tepat di tengah-tengah mereka berdua hanya bisa geleng-geleng kepala dan memutar bola matanya dengan jengah. "Kalian ini... bagaimana bisa hanya memikirkan ketampanan saja. Jika standar kalian hanya sebatas penampilan fisik, bisa-bisa kalian akan tertipu nanti," Ambrosia mendesah pelan.
"Ohh, ayolah, Ana. Kau sendiri bagaimana? Masa kau sama sekali tidak berdebar berada dalam radius kurang dari dua meter dengan makhluk setampan Alex Levine?" tanya Belle penasaran.
"Iya, cepat ceritakan pada kami. Bagaimana perasaanmu saat pertama kali melihatnya tadi? Apa saja yang kalian berdua bicarakan saat berduaan di mobil?" Elsa menambahkan.
Berdebar? Jari-jari Ambrosia yang sedang mengetik mendadak mengambang di atas keyboard komputernya setelah mendengar pertanyaan dari dua asistennya itu. Jika degup kecil dengan ritme cepat yang dirasakannnya setiap kali berdekatan dengan Alex bisa disebut sebagai debaran, well, artinya ia memang berdebar.
Siapa yang tidak akan berdebar? batin Ambrosia pasrah sambil pura-pura meneruskan mengetik kata-kata yang tiba-tiba hilang dari otaknya sejak mengingat perasaan menggelitik itu.
Sudah sejak awal Ambrosia mengakui dalam hatinya bahwa secara fisik Alex memang menawan, walaupun bukan pria paling tampan yang pernah Ambrosia temui, tetapi Ambrosia masih menganggap bahwa ketampanan Alex memang di atas rata-rata. Setidaknya jika dibandingkan dengan setiap pria yang ditemuinya sehari-hari. Bahkan beberapa staff pria yang dianggap tampan di Levine Enterprise belum bisa mengalahkan ketampanan si putra mahkota.
Andai saja pria itu bukan kandidat utama pengganti Roxanne Levine sebagai Presiden Direktur, mungkin Ambrosia bisa lebih jujur memberikan pendapatnya seperti Elsa dan Belle, dan tidak akan berusaha sekuat tenaga mengusir kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Sayangnya, pria itu kelak akan menjadi bosnya, yang artinya hanya ada satu opsi bagi Ambrosia saat berhadapan dengan Alex, yaitu antisipasi permusuhan.
__ADS_1
Jadi tentu saja, untuk saat ini, Ambrosia tidak ingin seorang pun tahu bahwa Alex juga sempat membuatnya berdebar, bahkan menginginkan pria itu lebih dari yang pernah ia bayangkan.
"TIDAK! Aku tidak berdebar dekat-dekat dengan pria itu, dan perasaanku pun biasa-biasa saja saat pertama melihatnya," jawab Ambrosia memilih berbohong pada Elsa dan Belle. "Kalian puas? Sekarang mari kita kembali bekerja atau akan kutambah tugas-tugas kalian untuk hari ini," ancam Ambrosia pada keduanya.
Sangat tegas hingga kedua asistennya itu bergidik ngeri. Memang, Ambrosia belum pernah membuat mereka berdua lembur, tetapi karena seringnya mereka melihat Ambrosia lembur sendiri, membuat Elsa dan juga Belle menyadari bahwa tugas yang Ambrosia berikan pada mereka sebenarnya tidak sebanding dengan yang selama ini Ambrosia kerjakan sebagai sekretaris utama.
Bukan berarti Ambrosia akan selamanya menahan diri terhadap mereka berdua jika mereka terus membicarakan hal-hal diluar job desc mereka. Menyadari kemungkinan terburuk itu, seketika Elsa dan Belle memaksa diri mereka untuk kembali fokus pada layar komputer masing-masing dan melanjutkan tugas-tugas mereka.
Ambrosia tersenyum senang melihat kedua asistennya menurut, dan ketika Ambrosia sudah merasa mendapatkan kembali ketenangannya untuk bekerja, tiba-tiba interkom di hadapannya berbunyi,
"Ana, aku membutuhkanmu segera. Kemarilah!" panggil Roxanne via interkom.
"Yess, Mam," jawab Ambrosia cepat.
Setelah mendorong kursinya ke belakang, Ambrosia berdiri dengan anggun lalu mengitari meja kerjanya seraya berkata, "Kuharap, dengan hadirnya Mr. Alex di tengah-tengah kita mulai saat ini, justru bisa meningkatkan kinerja kalian lebih baik daripada sebelumnya, dan bukan malah sebaliknya," nasehat Ambrosia pada Belle dan Elsa.
"Mulai sekarang bertambah satu lagi motivasiku untuk pergi bekerja selain kemungkinan bertemu Luke Anderson," tambah Belle dengan senyum lebar.
Mendengar celotehan Belle mau tak mau membuat Ambrosia terkikik geli sebelum akhirnya melangkah menuju tangga.
Di depan pintu ruang Presiden Direktur, Ambrosia lebih dulu mempersiapkan diri sebelum mengetuk pintu itu. Berusaha menjaga kestabilan emosi dan ekspresinya sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan perasaan secuil apapun di hadapan kedua bosnya nanti.
"Ada yang bisa saya bantu, Roxy?" tanya Ambrosia begitu ia sudah siap menghadap Direkturnya dengan sikap yang profesional.
Ambrosia mencoba menahan diri untuk tidak melihat ke arah Alex Levine yang masih duduk di sofa, ia hanya fokus pada Roxanne yang sedang bersandar pada tepian bagian luar meja kerja wanita itu. Namun, seluruh tubuh Ambrosia seolah menyadari tatapan tajam Alex dari tempatnya duduk, sama seperti saat mereka berdua berkendara dari bandara ke kantor tadi.
"Karena Alex hanya mendapat masa libur dari agensi modeling selama satu bulan, jadi aku minta secara khusus padamu, Ana, untuk mendampingi Alex mempelajari hal-hal penting terkait tugas direktur di perusahaan ini," perintah Roxanne.
__ADS_1
Ambrosia tertohok dengan perintah yang baru saja didengarnya, Why me? batinnya geram. Namun ia sekuat tenaga meredam ekspresi kesalnya, "Excuse me, mam, karena waktu yang sangat mendesak sementara fokus yang diperlukan cukup tinggi, bukankah wakil direktur adalah pilihan paling efisien sebagai mentor Mr. Alex daripada saya?" Ambrosia mengeles dalam bahasa korporat yang sempurna.
Roxanne bukannya tidak mengerti makna tersirat dari ucapan sekretarisnya barusan, hanya saja ada rencana yang telah diam-diam ia susun yang harus ia jalankan, "Aku mengerti, sayangku. Tapi peresmian akuisisi New York dan peresmian gallery di Perth kebetulan jatuh pada waktu yang nyaris bersamaan, untuk itu aku dan Robert akan saling berbagi tugas supaya bisa menghadiri kedua acara penting itu secara terpisah."
Ambrosia nyaris berdecak dengan keras karen melupakan masalah itu, untungnya ia masih bisa menahan diri. Sial, aku tak punya pilihan, batinnya.
Di sisi lain, Roxanne rela berpura-pura keras kepala. Bahkan Roxanne siap menggunakan wewenang jabatannya secara otoriter jika Ambrosia juga berkeras untuk terus menolak tugas ini. "Bagaimana, Ana? Kita tak punya waktu dan sayangnya tak ada yang bisa kuandalkan selain dirimu."
"Hanya satu bulan saja, Roxy?" tanya Ambrosia menyerah.
"Sayangnya begitu, Dear. Setelah itu, bagaimanapun hasilnya nanti, Alex masih harus kembali ke California untuk menyelesaikan kontrak kerjanya yang masih satu setengah bulan lagi," jelas Roxanne.
"Baiklah, saya mengerti," jawab Ambrosia pada akhirnya.
"Bagus. Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu, Sayangku," ujar Roxanne sambil menepuk-nepuk sebelah pundak Ambrosia.
Ambrosia selalu merasa senang ketika Roxanne memujinya. Mengingatkan ia pada pujian dari mendiang ibunya sendiri akan prestasi-prestasinya di masa lalu. Kebahagiaan kecil yang membuat Ambrosia otomatis tersenyum lembut pada Roxanne.
Lagi-lagi Alex melihat senyuman itu dengan keheranan. Namun Alex juga terkejut bahwa ternyata, si sekretaris yang dingin itu nyatanya sanggup mengulas senyum selembut itu di wajahnya yang selalu nampak kaku di mata Alex.
"Kalau begitu, sekarang tolong kau antarkan Alex ke ruangan yang akan ditempatinya selama satu bulan ini, Ana," pinta Roxanne lagi.
"Baik, Mam," jawab Ambrosia dengan lugas.
"Alex, sayang. Lihatlah dulu ruangan yang sudah kusiapkan untukmu. Katakan mana yang harus dirubah dan mana yang tidak pada Ambrosia, biar nanti dia yang akan mengurus semuanya. Setelah itu kita akan pulang bersama-sama ke rumah. Ibu akan pulang cepat, dan memasakkan makan siang untukmu di rumah, bagaimana?" tanya Roxanne dengan penuh harap kepada putranya.
"Baiklah, Bu. Apapun maumu," jawab Alex lalu berdiri dari sofa dan berjalan menyusul Ambrosia yang sudah siap membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
...****************...