
Beberapa blok sebelum mencapai Gedung Aurora Place, Ambrosia menyadari dirinya harus mengajukan sebuah penawaran kepada pria yang terus menatapnya tajam dari kursi penumpang. Meski ia sungguh tidak ingin berbicara apapun lagi dengan putra Roxanne itu; tak ingin berurusan apapun lagi lebih tepatnya, tetapi demi profesionalisme pekerjaan yang ia junjung tinggi, Ambrosia harus rela meredam egonya sendiri.
Kurang dari satu jam, pikir Ambrosia jengah. Baru kurang dari satu jam dirinya bertemu Sang Putra Mahkota, namun seolah ia telah kehilangan jati dirinya yang biasa. Kehilangan dirinya yang tenang, dan terkontrol. Dan Ambrosia sama sekali tidak menyukai dirinya yang aneh ini.
Terombang ambing di antara antisipasi kebencian yang tersamarkan karena trauma masa lalu, dan perasaan baru yang menggelitik dan terus menyeruak dari dalam dirinya sejak melihat sosok mempesona seorang Alex Levine, membuat Ambrosia kewalahan. Beruntung dirinya sangat terlatih menjaga kestabilan ekspresi wajah dan gestur sikapnya, sehingga badai kecil yang mengguncang perasaannya tidak sampai terlihat di permukaan.
Setelah cukup mengatur napas; cukup siap untuk memulai interaksi, Ambrosia akhirnya memecah kecanggungan yang menyesakkan selama perjalanan yang cukup singkat namun terasa bagai selamanya itu.
"Permisi, Sir. Apa anda ingin masuk langsung dari lift khusus di basement menuju kantor nyonya Roxanne atau dari lobi depan seperti yang lainnya?" Ambrosia bertanya tanpa mengalihkan fokusnya dari jalan raya di hadapannya. Mencoba menghindari kontak mata seminim mungkin.
Alex tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Aku akan masuk dari lobi depan saja," jawab Alex kaku.
Karena sudah begitu lama Alex tidak mengunjungi perusahaan keluarganya, ia berpikir akan lebih efisien baginya masuk lewat lobi utama sekaligus untuk melihat-lihat segala perubahan yang mungkin terjadi selama dirinya berada di Amerika.
Terlihat Ambrosia hanya mengangguk menanggapi jawaban Alex. Cara yang praktis untuk menjawab di tengah perang dingin yang diam-diam terjadi di antara dirinya dan putra semata wayang bosnya itu.
Tepat di depan lobi utama Gedung Aurora Place, Ambrosia menghentikan mobil pribadi Roxanne semulus wanita itu keluar dari mobil lalu memberi kode pada seorang valet yang sedang bertugas untuk menghampirinya.
Alex yang diam-diam memperhatikan semua hal yang dilakukan Ambrosia tidak bisa tidak menyadari keluwesan dari setiap gerakan wanita itu.
"Seperti angsa," gumam Alex tanpa sadar. Membuat Alex terkejut dan heran pada dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa berpikir bahwa wanita ketus dan bermulut kurang ajar itu seanggun angsa?
__ADS_1
Angsa apanya? Penampilannya saja seperti Itik Buruk Rupa begitu, pikir Alex masih kesal.
"Tolong parkirkan mobil ini di tempat parkir khusus nyonya Roxanne ya, Tom," perintah Ambrosia pada seorang pemuda yang bertugas sebagai valet parking.
"Jangan khawatir, Ana, serahkan padaku," jawab pemuda bernama Tom itu sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Ambrosia, sesaat setelah pemuda itu menerima kunci mobil Roxanne sambil membukakan pintu penumpang untuk Alex.
Alex yang mendengar cara petugas valet memanggil Ambrosia pun jadi teringat pada pesan singkat sang ibu. Ternyata memang benar bahwa semua orang memanggil Ambrosia Heart dengan nama panggilan Ana, dan mungkin juga benar bahwa semua orang di perusahaan menyukai si Nona Sekretaris yang ketus itu.
Kecuali aku tentunya, batin Alex dengan keyakinan penuh.
"Apakah ada bagasi yang harus saya bawakan ke atas?" tanya Tom lebih kepada Alex daripada Ambrosia.
Ambrosia bergeming karena merasa bukan dirinya subjek yang diberi pertanyaan oleh Tom, namun melihat Alex yang justru nampak sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Ambrosia mau tidak mau membantu Tom mengulang pertanyaan itu kepada Alex.
Alex terkesiap, dan langsung merasa malu karena tertangkap sedang tidak fokus di hadapan dua orang karyawan yang kelak akan menjadi bawahannya. Sungguh bukan sikap yang Alex harapkan untuk diperlihatkan sebagai calon pimpinan Levine Enterprise masa depan.
"Umm, tidak usah, kupikir aku tidak akan lama di sini, dan akan langsung pulang ke rumah setelah bertemu ibuku. Terima kasih," jawab Alex setelah berhasil menemukan kembali kendali dirinya yang sempat hilang.
"Kau dengar itu, Tom?" Ambrosia menoleh ke arah si pemuda valet sambil tersenyum samar. Senyuman yang entah kenapa justru terlihat jelas di mata Alex hingga membuat Alex tercengang.
"Very well," sahut Tom ceria sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun lagi, Ambrosia melangkah mendahului Alex masuk ke dalam lobi. Berharap Alex Levine akan mengikutinya tanpa dirinya harus berbasa-basi. Tak ingin kembali terlihat bodoh, Alex langsung sigap mengikuti setiap langkah Ambrosia.
Hanya dengan gerakan tanpa penjelasan secara verbal, Ambrosia memperlihatkan langkah-langkah para karyawan umum melewati serangkaian sistem keamanan yang terpasang di Gedung tersebut sebelum akhirnya mencapai lantai 21, di mana lobi utama kantor Levine Enterprise berada.
Saat mengikuti Ambrosia, Alex membuka kembali memori ingatannya akan lokasi perusahaan keluarganya itu. Sejak kedua kakeknya berkoalisi untuk membeli Gedung Aurora Place demi masa depan anak, menantu, dan cucu mereka, gedung yang memiliki empat puluh satu lantai itu adalah aset terbesar yang dimiliki orang tua Alex hingga saat ini.
Karena selain sebagai kantor pusat Levine Enterprise yang menggunakan setengah bagian dari gedung tersebut—yakni lantai dua puluh satu hingga lantai teratas, orang tua Alex juga menyewakan dua puluh lantai dibawahnya sebagai lokasi komersial untuk perusahaan-perusahaan lain. Menjadikan Gedung Aurora Place sebagai salah satu pusat perkantoran yang paling bergengsi di Sydney, Australia.
Walaupun di masa sekarang, aset keluarga Levine sudah jauh berkembang dan juga beragam, namun gedung inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Levine Enterprise. Senyum Alex mengembang mengingat bagaimana keluarganya mampu memperkaya diri sementara mantan tunangannya—Luna Gross—justru berpikir bahwa Alex hanyalah seorang model tanpa latar belakang yang menjanjikan.
Untung saja di California hanya segelintir orang yang mengetahui fakta sebenarnya tentang keluargaku, jika tidak, bisa-bisa aku tetap terjerat dengan Luna tanpa mengetahui bagaimana sifat asli wanita itu, pikir Alex sambil bergidik ngeri.
"Apa AC liftnya terlalu dingin untuk anda, Sir?"
Pertanyaan dari Ambrosia yang tanpa peringatan kontan saja mengejutkan Alex. Tak siap dengan perhatian yang tiba-tiba dari sekretaris ibunya itu membuat Alex gugup hingga tak mampu langsung menjawab.
Ambrosia mengangkat sebelah alisnya tinggi saat melihat putra bosnya yang tampak baru tersadar dari awang-awang dan langsung gugup dengan pertanyaan sesepele itu.
Pria ini benar-benar tukang bengong, pikir Ambrosia dalam penilaian singkatnya pada Direktur trainee yang akan menjabat sebentar lagi.
"Ti, tidak... tidak dingin sama sekali kok," jawab Alex sambil membuang muka demi menyembunyikan rona merah di wajahnya karena malu.
__ADS_1
Tukang bengong, kikuk, dan lemah, batin Ambrosia sambil menahan geli saat mengingat gestur Alex Levine yang jelas-jelas seperti menggigil di dalam lift tadi.
...****************...