Sekretaris Buruk Rupa

Sekretaris Buruk Rupa
Kabar Gembira untuk Roxanne


__ADS_3

Setelah pertengkarannya dengan Luna Gross di pesta semalam, yang berimbas pada putusnya hubungan pertunangan di antara dirinya dan Luna, Alex yang emosinya masih bercampur aduk terjaga sepanjang malam di kamar apartemennya.


Alex tak mampu mengingat bagaimana ia bisa sampai ke tempat tinggalnya itu, dan entah sudah berapa kaleng bir yang ia habiskan demi menghapus segala amarah serta kekecewaan yang ia rasakan.


Puluhan panggilan telepon yang masuk dari Jake tak digubrisnya sama sekali. Bahkan pesan-pesan singkat yang dikirimkan Jake kepadanya semalaman pun hanya dibiarkan masuk memenuhi memori ponselnya tanpa ada keinginan untuk merespon sedikit pun. Meski sebagian masih sempat ia baca, namun sebagian lagi tidak.


📩JAKE CIPHER


Alex, di mana kau? Aku sudah menunggu di titik janjian kita


📩JAKE CIPHER


Hei, Dude. Apa kau tanpa sengaja mabuk di suatu tempat? Beri tahu aku lokasimu, akan kususul


📩JAKE CIPHER


Alex!!! Seseorang melihatmu pergi dari pesta. Kau meninggalkanku sendirian? Teganya...


📩JAKE CIPHER


Tolong jangan membuatku khawatir, Buddy. Kau baik-baik saja kan?


📩JAKE CIPHER


Apa kau pulang ke apartemenmu? Please! Semoga kau tidak kecelakaan di jalan


Hingga nyaris menjelang siang, Alex tak kunjung dapat memejamkan matanya. Wajahnya sepucat kertas, membuat lingkaran hitam di sekitar matanya menjadi sangat jelas kentara.


Alex menatap kosong ke langit-langit kamarnya, ingatannya melayang kembali ke saat-saat ketika ia meminta Luna Gross untuk menjadi kekasihnya, lalu sekitar enam bulan setelahnya ia kembali berlutut di hadapan wanita itu untuk melamarnya.


YA, seorang Alex Levine berlutut di depan Luna Gross di sebuah restoran mewah di California. Alex tertawa miris. Menertawakan kebodohannya dalam memilih seorang wanita untuk ia cintai.


Sebuah dering telepon kembali mengganggu lamunannya. Alex menyambar ponselnya dari tengah-tengah kasurnya yang sangat lebar. Ia melihat ke arah layar di mana tertera kontak nama sang ibu berkedip-kedip di sana. Alex melirik pada jam digital di sudut layar ponselnya.


Oh, sudah sesiang ini rupanya. Gumam hati Alex begitu melihat angka sembilan lebih sepuluh menit terpampang di sana.


Alex berdehem beberapa kali untuk memulihkan suaranya lebih dulu. Ia sadar, semalaman begadang sambil menghabiskan berkaleng-kaleng bir pasti membuat suaranya kacau. Tak ingin membuat sang ibu khawatir, Alex baru menerima sambungan telepon yang dilakukan Roxanne Levine setelah cukup percaya diri bahwa suaranya terdengar baik-baik saja.


📱ALEX LEVINE


Selamat pagi, Bu.


📱ROXANNE LEVINE


Pagi, Nak. Bagaimana kabarmu, Lexi?


Apa kau sudah bangun dari tadi?


📱ALEX LEVINE


Hmm, ya. Begitulah... aku sudah bangun dari tadi, Bu, dan kabarku baik seperti biasanya. Bagaimana dengan ibu?


Alex berbohong tentang keadaannya, lagi-lagi agar sang ibu tidak khawatir. Sayangnya, telinga Roxanne terlalu sensitif untuk tidak menangkap sinyal 'tidak baik-baik saja' dari suara Alex. Tapi wanita itu memilih diam untuk melihat sejauh mana keadaan 'tidak baik-baik saja' yang dialami putra semata wayangnya itu lewat kebohongan yang dibuat Alex.


📱ROXANNE LEVINE


Kabarku juga biasa-biasa saja, Nak. Apa kau ada pekerjaan hari ini?

__ADS_1


📱ALEX LEVINE


Tidak. Tidak, Bu. Hari ini aku off jadi aku mau bersih-bersih apartemenku saja.


Aha, jawaban Alex barusan cukup meyakinkan Roxanne bahwa putranya memang tidak sedang dalam keadaan baik.


Nyatanya di akhir pekan seperti ini, pekerjaan Alex biasanya malah menumpuk, tapi barusan, putranya itu mengatakan jika ia libur. Jadi Roxanne menebak-nebak, apakah Alex terpaksa diliburkan karena sesuatu hal atau lebih memilih meliburkan diri guna menghindari sesuatu.


📱ROXANNE LEVINE


Oh, begitu...


Jawaban santai Roxanne memberi otaknya waktu untuk bekerja dengan cepat dan tiba-tiba saja sebuah ide hadir di kepala wanita paruh baya itu.


📱ROXANNE LEVINE


Lalu kapan kau akan pulang, Nak?


Kening Alex mengernyit sesaat sebelum menjawab pertanyaan ibunya.


📱ALEX LEVINE


Kenapa, Bu? Apa ada masalah?


📱ROXANNE LEVINE


Mm, aku hanya... aku hanya merasa ingin pensiun saja, Lex, dan aku mungkin akan menjual perusahaan ke beberapa Grup yang berminat ingin mengakuisisi Levine Enterprises, jika kau tidak berencana untuk menjadi penerusku memimpin perusahaan kita.


DEG! Alex terkesiap mendengar pengakuan itu. Ia tak percaya, ibunya yang masih begitu gesit dalam bekerja tiba-tiba memutuskan untuk pensiun. Dan apa? Menjual perusahaan ke pihak lain? Perusahaan mereka? Alex tak dapat mempercayainya.


📱ALEX LEVINE


Tapi nyatanya hanya satu kata itu yang mampu terlontar dari mulutnya.


Bagus, Lex. Kau benar-benar pecundang. Tak hanya dicampakkan oleh seorang wanita tak berperasaan, kini kau juga tak bisa menolong ibumu sendiri? Kau luar biasa, Lex. Alex merutuki dirinya sendiri dalam hati.


📱ROXANNE LEVINE


Tapi tentu saja aku tidak akan menjualnya begitu saja. Aku akan menunggu persetujuanmu karena kau pemilik separuh dari saham Levine Enterprises.


📱ALEX LEVINE


Iya aku tahu itu, Bu.


📱ROXANNE LEVINE


Baiklah, Nak. Ambrosia sudah menungguku. Ibumu ini harus kembali bekerja bahkan di akhir pekan seperti ini. Jaga dirimu, okey!


Roxanne melempar umpan terbaiknya di saat yang tepat. Kini ia hanya bisa berharap bahwa putra semata wayangnya yang berharga bisa segera terjerat umpan itu.


📱ALEX LEVINE


Tunggu, Bu! Mm...


Alex tepekur. Ia bimbang sesaat. Ia merasa akan sangat menyesal jika mereka harus kehilangan perusahaan, mengingat bagaimana sejarah pembangunan Levine Enterprise yang dipelopori oleh kedua kakeknya yang berkoalisi demi masa depan anak cucu mereka, lalu perjuangan ayah dan ibunya membangun bisnis keluarga itu hingga menjadi sebesar sekarang ini.


Ingatan Alex juga kembali pada segala pengorbanan banyak orang yang terlibat demi menjaga Levine Enterprises tetap berdiri sampai saat ini. Alex merasa malu pada dirinya sendiri. Ia malu sebagai seorang anak. Ketika ibunya berjuang sendirian membangun perusahaan, ia malah terpuruk di kamar apartemennya hanya karena seorang wanita ******.

__ADS_1


Alex memejamkan matanya, mencoba mensugesti dirinya sendiri bahwa tidak ada waktu untuk terpuruk, apalagi hanya karena wanita tidak tahu malu seperti Luna Gross. Ia harus bangkit dan membuktikan pada mantan tunangannya itu bahwa Alex Levine bukan pria biasa. Ia adalah ahli waris satu-satunya dari Levine Enterprises.


📱ROXANNE LEVINE


Ada apa, Lex? Apa yang ingin kau katakan?


Roxanne seketika bingung saat Alex tiba-tiba membisu—tak melanjutkan ucapannya.


📱ALEX LEVINE


Mungkin aku akan pulang, Bu. Aku ingin mencoba posisi yang kau tawarkan itu. Tapi bisakah aku mendapatkan sesi trial-nya dulu?


Ini dia! pekik Roxanne dalam hati dengan jantung berdebar-debar.


📱ROXANNE LEVINE


Apa kau yakin?


📱ALEX LEVINE


Ya, Bu. Aku sangat yakin!


📱ROXANNE LEVINE


Baiklah, Lex. Kita akan bicarakan lebih rinci jika kau sudah di Sydney, Anakku.


📱ALEX LEVINE


Akan kukabari nanti kapan aku pulang.


📱ROXANNE LEVINE


Very well... aku tunggu kabarmu, Nak! Take care!


📱ALEX LEVINE


Kau juga, Bu. Jaga dirimu!


"YEESSS!!! WELL DONE!!!" pekik Roxanne girang. Ia hampir melompat-lompat jika tidak ingat bahwa dirinya sedang memakai heels dan tak ingin keseleo karena tingkah konyolnya sendiri.


"Apa anda baik-baik saja, Mam? Saya disini untuk menyampaikan bahwa saya sudah mendapatkan detektif swasta yang anda perlukan itu. Tinggal tunggu perintah selanjutnya dari anda saja, Roxy," lapor Ambrosia dengan poker face-nya yang biasa.


Bukannya menjawab pertanyaan sekretaris andalannya itu, Roxanne yang masih kegirangan karena persetujuan Alex untuk mencoba belajar menjadi pemimpin Levine Enterprises, malah langsung memeluk Ambrosia hingga membuat gadis itu melongo saking kagetnya.


Ambrosia sungguh tidak menyangka dirinya malah akan mendapat pelukan erat dari sang atasan di pagi hari seperti ini. Padahal ia sengaja masuk ke ruangan Direktur Utama untuk mengabarkan bahwa ia sudah menemukan detektif swasta yang kompeten, sampai Ambrosia menemukan Roxanne sedang bertelepon dengan putranya, dan memutuskan untuk menunggu.


"Tunda dulu penugasan untuk detektif itu, Ana, tunda saja dulu! Karena ada yang lebih penting dari itu sekarang," Roxanne melepaskan pelukannya namun masih memegang kedua lengan Amnrosia lalu mengajak gadis itu berputar-putar layaknya Merry Go Round di sebuah taman bermain.


"Dan jika saya boleh tahu, apa yang lebih penting dari tugas detektif itu, Roxy?" Ambrosia bertanya sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot dan miring setelah Roxanne berhenti mengajaknya berputar-putar.


"Berita pentingnya adalah... Alex akan pulang, Ana. Kau bisa bayangkan itu? Putraku akan pulang untuk belajar menggantikan posisiku sebagai Pemimpin Levine Enterprises. Aku merasa sudah mendapatkan hadiah Natalku tahun ini," sorak Roxanne kegirangan.


Kedua mata besar Ambrosia membulat semakin lebar, ia shock dengan apa yang didengarnya. Tunggu dulu! Jika Alex Levine akan menggantikan Roxy memimpin perusahaan, berarti di masa depan, ia tak lagi bekerja di bawah Roxanne Levine, melainkan Alex Levine. Begitukah? Ambrosia yang cepat tanggap langsung dapat menalar alur masa depan yang akan dihadapinya.


Dan tiba-tiba ide itu terdengar sangat buruk bagi sang sekretaris andalan·Ambrosia Heart. Sangat... sangat... BURUK!


...****************...

__ADS_1


__ADS_2