Sekretaris Buruk Rupa

Sekretaris Buruk Rupa
Tugas Spesial untuk Ambrosia


__ADS_3

Roxanne Levine sedang duduk di kursi penumpang BMWnya, ketika tiba-tiba mobilnya berhenti secara mendadak disertai suara letusan keras. Ia yang kala itu sedang asyik bertukar pesan dengan putranya—Alex, seketika dilanda kepanikan saat mendengar bunyi letusan yang dirinya kira berasal dari sebuah tembakan.


Wanita paruh baya itupun refleks merundukkan tubuh sambil berteriak kepada sopir pribadinya, "Apa yang terjadi, Miles?" tanya Roxanne panik.


Miles Brown adalah contoh klasik pria tua yang setia pada pekerjaannya sebagai sopir keluarga Levine. Usianya yang hampir setua Roxanne menjadikannya tidak hanya sebagai sopir yang berdedikasi tetapi juga teman ngobrol yang menyenangkan bagi Roxanne.


Namun saat ini, pria tua itu justru merasa satu kesalahan yang dibuatnya minggu lalu berakibat fatal bagi majikan terbaiknya—Roxanne. Iapun menoleh ke arah kursi penumpang dengan wajah menyesal. "Maaf, Nyonya. Sepertinya ban mobil kita pecah."


"Apa kau yakin itu suara ban pecah, Miles?" Roxanne merasa ragu.


"Yes, mam. Saya sangat yakin. Seharusnya saya mengganti bannya minggu lalu, tapi karena saat itu saya sedang tidak enak badan jadi saya berencana ke bengkel hari ini. Tapi ternyata saya terlambat, bannya terlanjur pecah lebih dulu. Maafkan saya, merusak senin pagi anda yang sibuk ini," jelas Miles penuh sesal.


Kepanikan di wajah Roxanne seketika menghilang, berganti dengan kelegaan, "Oh, kukira ada stray bullets* di pagi hari yang cerah ini."


(stray bullet [peluru nyasar]; di luar Indonesia, ada negara-negara dimana sebagian penduduknya mengantongi ijin kepemilikan senjata secara legal, menjadikan insiden serangan penembakan dan peluru nyasar biasa terjadi. Itulah sebabnya tidak hanya pejabat pemerintah yang menggunakan armored car [mobil anti peluru] tetapi juga para pengusaha dan juga selebriti.)


"Tidak apa-apa, Miles. Tidak semua hal bisa kita prediksi dan itu wajar. Bukan salahmu kalau kau sakit di hari yang mengharuskanmu melakukan sesuatu yang penting, jadi tidak ada yang perlu disesali oke," balas Roxanne sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Kalau begitu aku akan turun disini saja, kebetulan aku jadi ingin mampir ke cafe di seberang jalan itu, tolong kau urus mobilnya ya, dan jangan lupa menjemputku nanti sore."


Tanpa menunggu jawaban dari sang sopir pribadi, Roxanne bergegas turun dari mobil dan mulai berjalan menyusuri trotoar menuju zebra cross terdekat. Selama menunggu lampu untuk penyeberang jalan menyala, Roxanne sangat bersemangat memikirkan apa yang akan dibelinya untuk sarapan pagi ini.


Lantai kesekretariatan Direktur Utama Levine Enterprise,

__ADS_1


Ambrosia sedang serius membagi tugas kepada kedua juniornya ketika terdengar sapaan renyah dari Direktur Utama di perusahaan tempatnya bekerja itu, "Morning, ladies," sapa Roxanne sambil melenggang dengan anggun setelah keluar dari lift.


Tiga kepala milik tiga gadis yang duduk di balik meja kesekretariatan pun menoleh ke arah pemilik suara secara serempak.


"Pagi juga, Roxy." Ambrosia yang pertama kali tanggap untuk membalas sapaan wanita nomor satu di perusahaan itu.


"Morning, mam." Belle dan Elsa yang baru tersadar dari keterkejutan mereka buru-buru turut membalas sapaan sang nyonya besar.


"Pagi yang indah iya kan?" tanya Roxanne saat berhenti tepat di depan meja para sekretarisnya, "dan ini ada kopi juga croissant untuk para sekretarisku yang cantik dan berharga," lanjutnya sambil meletakkan sebuah paper bag besar berlogo Bertoni ke atas meja yang panjang melingkar itu.


"Seharusnya anda tak perlu repot-repot," ucap Ambrosia yang langsung berdiri dan menerima pemberian bosnya. "Tapi bagaimana anda bisa lewat lift karyawan dan tidak menggunakan lift pribadi anda langsung ke atas?" tanyanya kemudian dengan heran.


"Oh, tidak repot sama sekali kok, Ana. Dan tadi kebetulan ban mobilku pecah tepat sebelum masuk ke tempat parkir bawah tanah, jadi aku memilih turun di depan gedung lalu menyeberang sebentar ke cafe ini, karena kupikir aku sedang ingin sarapan croissant, jadi sekalian saja aku membeli beberapa untuk kalian."


"Sama-sama, sayangku. Ngomong-ngomong bisakah kau naik denganku sekarang, Ana?" tanya Roxanne pada Ambrosia.


"Sure, mam. Tentu," jawab Ambrosia cepat dan tanpa ragu.


Roxanne tersenyum senang, "Well, kalau begitu kita ke atas sekarang. Semoga hari kalian menyenangkan, ladies." Ucapan itu Roxanne tujukan untuk Belle dan Elsa yang langsung membalas dengan senyuman lebar.


Roxanne lalu kembali melenggang menuju tangga untuk naik ke kantornya sendiri diikuti oleh Ambrosia yang sudah siap bekerja dengan notepad andalan dalam pelukannya.

__ADS_1


Sesampainya mereka berdua di dalam kantor Direktur Utama, ibunda Alex itu tak lantas duduk di kursi kebesarannya melainkan memilih duduk di sofa ruang tamu khusus di kantor itu.


"Duduklah, Ana." Roxanne mempersilahkan Ambrosia duduk di sofa kosong yang tepat berseberangan dengannya setelah meletakkan tas dan paper bag berisi sarapannya sendiri di atas meja.


Sementara Ambrosia langsung menuruti perintah sang atasan tanpa mengucapkan sepatah kata. Hanya anggukan kepala yang dilakukan Ambrosia untuk mengiyakan perintah Roxanne.


Namun, bukannya langsung mengatakan maksud dan tujuannya memanggil Ambrosia, Roxanne malah fokus mengeluarkan satu persatu makanan dan minuman yang dibelinya dari dalam paper bag sambil bersenandung kecil.


Dan entah bagaimana, keceriaan bos besarnya justru membuat Ambrosia menjadi gugup. Mungkin karena Ambrosia tahu pasti bahwa satu-satunya hal yang mampu membuat Direktur Utamanya seriang ini hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan sang putra mahkota—Alex Levine.


"Jadi, apa ada tugas khusus untuk saya hari ini, Roxy?" tanya Ambrosia tak sabar namun tetap dalam taraf sopan.


"Tentu, sayang, tentu... Dan percayalah, ini tugas yang sangat menyenangkan dan spesial. Dan hanya kau satu-satunya yang aku percayai mampu melakukan tugas spesial ini dengan sangat baik," jawab Roxanne dengan wajah berbinar-binar.


Entah kenapa Ambrosia semakin gugup mendengar jawaban dari bosnya itu, "Lalu apa yang harus saya lakukan, mam?" Ambrosia bertanya lagi setelah berhasil menelan gumpalan tak nyata yang tiba-tiba terasa menyumbat tenggorokannya.


Roxanne melebarkan matanya bagai anak kecil yang gembira, "Apalagi kalau bukan tentang membuatkan kantor baru untuk Alexku, Ana. Bukankah itu menyenangkan?" tanya Roxanne polos.


Tidak, sama sekali tidak. Batin Ambrosia dengan senyum canggung yang terukir di wajahnya saat ini. Dan tanpa ia sadari, seluruh tubuhnya menjadi kaku sesaat setelah nama Alex meluncur dari bibir Roxanne. Namun sayangnya, Roxanne terlalu bahagia untuk menyadari kegelisahan yang dirasakan sekretaris andalannya itu.


Selanjutnya, tanpa mengetahui perasaan Ambrosia yang sebenarnya, Roxanne dengan lancar memberikan arahan demi arahan kepada sekretarisnya itu tentang pembuatan kantor baru yang akan ditempati putra semata wayangnya—Alex, selama pria itu mempelajari pekerjaan sebagai Direktur trainee. Dengan pasrah, Ambrosia mencatat arahan dari Roxanne meski moodnya untuk bekerja saat itu, sudah sangat berantakan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2