
Kenyataan bahwa tunangannya berbohong membuat Alex kesal, dan Alex lebih tidak menyukai cara Luna berbincang dengan para pria perlente itu, Luna seakan-akan mengabaikan statusnya sebagai wanita yang telah bertunangan—sebagai tunangan Alex.
"Miss Luna Gross, bisa kita bicara?" tanya Alex pelan namun tegas.
"Silahkan saja, Lex. Pesta ini memang tempatnya orang-orang untuk berbincang, bukan begitu gentlements?" balas Luna berusaha menanggapi permintaan Alex dengan santai.
"Aku ingin kita bicara berdua saja, Luna," Alex menambah kalimat ajakannya dengan raut wajah datar dan intonasi setajam mungkin. Hingga Luna terpaksa menyadari ketegangan yang dirasakan Alex.
"Oh, ayolah... kenapa harus tegang begitu? Kita kan sudah berteman lama," Luna berusaha mengurai ketegangan yang Alex rasakan.
Namun sikap Luna justru membuat Alex semakin tak sabar. Ekspresi wajahnya yang semakin keras akhirnya membuat Luna mengalah, "Alright-alright, baiklah... kita bisa bicara berdua. Permisi gentlements, sepertinya Mr. Levine tidak sabar untuk segera memonopoliku," pamit Luna kepada para perlente di hadapannya, kemudian melangkah menuju sebuah lorong secara elegan.
Alex mengikuti langkah kaki Luna yang ringan dengan sebelah alis yang ia naikkan kala mendengar tunangannya itu menyebut ungkapan 'berteman lama' dan bukannya 'bertunangan'.
Dan ketika mereka sudah benar-benar berdua saja di sebuah lorong yang entah terhubung kemana, Alex segera menghujani Luna dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Aku ingat kau bilang padaku seminggu yang lalu jika kau akan ada di San Fransisco sampai hari minggu besok. Lalu kenapa tiba-tiba kita bisa bertemu di sini? Dan siapa seseorang yang mengundangmu ke acara amal ini? Kau bilang aku tidak kenal? Hah, yang benar saja! Aku kenal semua orang yang diundang di pesta ini, Luna, karena aku ambassadornya," cecar Alex menggebu-gebu.
"Woooww, wow... tenanglah, Lex! Chill out! Jangan tunjukkan rasa cemburumu di tempat umum begini," balas Luna masih dengan santai sambil menempelkan kedua telapak tangannya di atas dada bidang Alex, yang terbalut setelan pesta Armani keluaran terbaru.
Alex buru-buru menampik tangan Luna dari atas dadanya, setelah menyaksikan sikap centil wanita itu di hadapan para pria tadi, entah kenapa Alex menjadi sensitif dan risih pada sentuhan tunangannya sendiri.
"Cemburu? Aku? Pada siapa? Ucapanmu itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku tadi, Luna," Alex memojokkan Luna ke dinding lorong dan menghadang gerakan wanita itu dengan tubuhnya yang tinggi menjulang. Demi menghindari bersentuhan dengan Luna, Alex memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Meski sudah terpojok tapi Luna tetap tenang. Sebelah tangannya kembali terangkat, kali ini mencoba merayap naik ke rahang Alex yang mengeras karena amarah. Lagi-lagi Alex menghindarinya dengan cepat, membuat Luna tersinggung dan terpaksa menurunkan tangannya lagi sambil menahan malu.
"Baiklah jika kau tidak cemburu. Aku senang, karena mungkin perasaanmu terhadapku tidak sedalam yang kukira," ucap Luna Gross dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"Aku tidak sedang cemburu, Luna. Tapi aku sedang marah. Aku tidak senang kau berbohong padaku. Kau berbohong tentang jadwalmu dan kau berbohong tentang hubungan kita di depan semua orang. Apa maksudmu kita berteman lama? Kita ini bertunangan, apa kau lupa?" suara Alex meninggi seiring emosinya yang terus naik.
Luna menggeleng, ekspresinya berubah dari pura-pura ramah menjadi sinis. Perubahan raut wajah Luna yang jelas kentara di matanya membuat Alex bertanya-tanya apakah tunangannya memang wanita yang semunafik itu?
"Sebenarnya setelah pesta ini aku bermaksud menemuimu di apartemen dan membicarakannya, tapi kurasa mumpung kita sedang bertemu, mungkin lebih baik aku katakan saja sekarang," balas Luna lalu bersedekap dengan gestur yang menantang.
"Katakan! Apa maumu?" timpal Alex.
"Aku ingin membatalkan pertunangan kita," seru Luna Gross dengan ekspresi acuh tak acuh.
"Apa?" gigi-gigi Alex gemeretak.
"Aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita akhir tahun ini, Lex," imbuh Luna sambil mendengus pelan.
"Kenapa? Aku harap kau bisa memberiku alasan yang sangat masuk akal, Luna Gross," nada suara Alex begitu mengancam.
"Aku hamil, Lexi," jawab Luna singkat. Dan mengakhiri jawabannya dengan seringai penuh kemenangan. "Apa kau puas dengan jawabanku?" Luna balas bertanya.
Luna tertawa kecil melihat reaksi Alex yang tampak kebingungan, dan itu sungguh menyenangkan bagi Luna, "Jangan takut, Sayang. Aku tidak akan meminta pertanggung jawabanmu kok. Kau kan tidak pernah menyentuhku, jadi mana mungkin kau bertanggung jawab atas bayiku ini," ujung bibir Luna terangkat sedikit.
Alex memang tidak pernah tidur dengan Luna sejak mereka resmi pacaran, bahkan bertunangan. Alex ingin malam pertamanya terasa sempurna hingga ia selalu menahan diri untuk tidak menyentuh Luna sebelum malam pernikahan mereka.
Sayangnya tidak demikian dengan Luna Gross. Wanita dengan gaya hidup liberal itu kebingungan dengan prinsip sang kekasih. Awalnya ia menerima pernyataan cinta Alex Levine dengan dugaan bahwa pria itu pasti sangat berpengalaman di tempat tidur.
Membayangkan tubuh maskulin seorang Alex Levine membuat Luna Gross menerima cinta lelaki itu tanpa ragu. Namun nyatanya ia salah duga, sebab Alex yang menjunjung tinggi kehormatan wanita selalu membuatnya kecewa saat dengan sopan pria itu menolak rayuannya untuk tidur bersama.
Kesal dengan penolakan Alex yang tiada henti, membuat Luna berusaha memenuhi kebutuhan biologisnya dari pria lain. Dan kini hasilnya, ia pun hamil dengan salah seorang pria yang menawarinya kehangatan yang ia butuhkan.
__ADS_1
Alex begitu shock sekaligus geram mendengarnya. Firasat buruknya terjawab sudah. Dan ternyata semua itu karena Luna Gross. Wanita yang begitu dicintainya, wanita yang begitu dipujanya selama ini.
"Jadi kau selingkuh di belakangku?" tanya Alex dengan geram.
"Kau yang salah," teriak Luna. "Kau selalu menolak setiap kali aku menginginkanmu. Setiap kali aku merayumu."
"Itu kulakukan karena aku menghormatimu sebagai wanita, Luna. Kenapa tidak bisa kau pahami niat baikku itu?" balas Alex cepat.
"Kau pikir ini abad keberapa, Lexi? Aku wanita modern, aku punya kebutuhan yang lebih dari sekedar kecupan singkat yang biasa kau berikan. Seharusnya kau bertunangan dengan biarawati jika menginginkan hubungan yang platonik hingga malam pernikahan. Konyol sekali," cecar Luna bersungut-sungut.
Alex tak percaya semua yang didengarnya barusan keluar dari mulut wanita yang ingin ia nikahi. Seolah-olah tabir yang selama ini menutupi mata dan telinganya telah terbuka lebar. Menguak sifat asli seorang Luna Gross yang selama ini entah ia abaikan tanpa sadar, atau memang tidak mampu dilihatnya karena dibutakan oleh satu perasaan yang disebut cinta.
"Siapa pria itu?" tanya Alex setelah memikirkan hikmah dari nasib sial yang sedang menimpanya. "Siapa pria yang telah menghamilimu?" tambahnya.
"Dia seorang Direktur perusahaan perfilman terkemuka di California. Aku tidak akan menyebut namanya. Aku takut kau tidak bisa menghentikan rasa dendammu lalu membuat perhitungan dengannya."
Alex melepaskan kungkungannya terhadap Luna. Ia mundur beberapa langkah lalu berkacak pinggang dan menatap wanita di hadapannya itu dengan angkuh. "Kau pikir aku serendah itu? Aku malah ingin berterima kasih padanya karena telah melepaskanku dari wanita sepertimu," balas Alex tak kalah sinis.
Ekspresi Luna berubah marah, "Apa maksudmu dengan wanita sepertiku? Hanya karena kau model papan atas, bukan berarti kau bisa merendahkanku. Aku adalah calon istri seorang Direktur perusahaan besar. Lagipula apa yang bisa kau berikan padaku selain cinta, cintamu tak bisa memberiku status dan kemewahan yang kuinginkan, Tuan Levine," ejek Luna.
Luna memang tak tahu menahu bahwa Alex adalah putra mahkota Levine Enterprises, sebab Alex tak pernah mengungkapkannya. Ia tak ingin didekati wanita hanya karena statusnya sebagai anak konglomerat. Hanya Jake Cipher yang tahu siapa Alex sebenarnya.
Alex tersenyum sinis mendengar ejekan Luna padanya, "Benarkah?" balasnya. "Dan kau merasa pria yang menghamilimu itu mampu memberikan segala yang kau inginkan, begitu?"
"Tentu saja!" jawab Luna dengan penuh percaya diri. "Tidak hanya kehangatan di tempat tidurku, tapi pria itu pun bisa memberiku segalanya. Se-ga-la-nya, kau dengar?" mata Luna menyala-nyala menatap Alex yang tak kalah berangnya.
"Well... kita lihat saja bagaimana endingnya nanti, Miss Gross, dan terima kasih telah mengakhiri hubungan kita sampai disini. Selamat tinggal." balas Alex sambil berlalu pergi meninggalkan lorong itu. Meninggalkan Luna Gross yang masih berdiri dengan penuh emosi di sudut sana.
__ADS_1
Alex murka, tidak hanya merasa dikhianati, tapi ia juga merasa ditipu. Karena wanita yang akan dinikahinya, diam-diam telah berselingkuh dan tidur dengan laki-laki asing di luar sana. Alex yang sangat marah akhirnya pergi meninggalkan pesta itu sendirian. Tanpa Jake Cipher sahabatnya.
...****************...