Sekretaris Buruk Rupa

Sekretaris Buruk Rupa
Reuni Ibu dan Anak


__ADS_3

Ini gila, batin Alex tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya.


Dengan jelas Alex melihat kelembutan di mata Ambrosia saat menatap ibunya, kelembutan yang dalam sekejap berubah menjadi tajam penuh kesinisan saat tatapan sekretaris itu bersiborok dengannya.


Bagaimana dia bisa begitu baik pada ibuku sementara dia justru galak padaku? Dasar penjilat, atau jangan-jangan wanita itu punya kepribadian ganda? Alex menggelengkan kepalanya tak mengerti.


"Kenapa, Lex? Kau jetlag? Duduklah disini kalau begitu," pinta Roxanne sambil membimbing putranya ke sofa.


Alex mengangguk secara otomatis, padahal telinganya tak cukup fokus untuk mendengar reaksi khawatir Roxanne terhadapnya. Tubuh Alex juga refleks menuruti bimbingan sang ibu menuju sofa, tanpa kata-kata. Karena di dalam pikirannya, Alex sedang sibuk menganalisa sikap seorang Ambrosia Heart.


Alex masih bertanya-tanya dalam hati, tapi kalau si Sekretaris Ketus itu memang seorang penjilat, seharusnya wanita itu juga bersikap baik padaku. Di masa depan, akulah orang yang akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Seharusnya dia tahu itu, lalu kenapa dia hanya baik pada ibuku?


Roxanne semakin khawatir terhadap putranya ketika Alex tak kunjung memberi respon bahkan setelah mereka berdua duduk dengan nyaman. Ia menatap wajah putranya lekat dan penuh antisipasi. Mencari-cari ekspresi lelah maupun jejak kesedihan yang mungkin tertinggal setelah Alex memutuskan pertunangannya dengan wanita yang Roxanne ketahui sangat dicintai putra semata wayangnya itu.


Sayangnya, hingga saat ini dirinya masih belum mendengar alasan putusnya pertunangan itu karena Alex seperti enggan membahasnya. Menjadikan kekhawatiran Roxanne semakin memuncak.


Naluri keibuan Roxanne terbelah menjadi dua, di satu sisi ia tak ingin melihat Alex merana, tapi di sisi lain Roxanne lega mengetahui Alex telah putus dengan wanita yang menurutnya tidak baik untuk putranya itu.


Tanpa menghiraukan raut keheranan sang ibu yang melihatnya tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, Alex justru sedang membanding-bandingkan bagaimana perilaku Ambrosia terhadap ibunya, terhadap dirinya, dan juga orang lain yang mereka temui sebelum ini.


Tidak, kalau dipikir-pikir, wanita itu bersikap normal pada orang lain, Alex mengingat-ingat.


Jelas sekali sekretaris itu sangat baik pada ibuku, dan tadi dia juga baik pada si tukang parkir, kalau kepada dua sekretaris lainnya dia cukup tegas tetapi tidak bisa dibilang galak juga. Lalu kenapa hanya padaku dia begitu ketus, seolah menganggapku sebagai musuh. Apa aku melakukan sesuatu yang menyinggungnya? Tapi kami bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Sial! Wanita itu benar-benar membuatku gila.


Semakin memikirkan Ambrosia, Alex justru semakin frustasi. Dan itu membuatnya kesal.


"Lex," panggil Roxanne sekali lagi, "apa kau mendengarku?" tanya Roxanne sambil menjentik-jentikkan jari tepat di depan wajah Alex demi menarik perhatian putranya itu.

__ADS_1


"Oh, eh, ya Bu?" kali ini Alex langsung tersadar.


"Aku hanya penasaran bagaimana perjalananmu kemari?" tanya Roxanne bersiap untuk memulai obrolan panjang sebelum mengorek lebih dalam tentang apapun alasan Alex memutuskan pertunangannya dengan Luna.


Mendengar pertanyaan sang ibu, Alex seperti mendapat kesempatan untuk berkeluh kesah, kesempatan yang tak akan ia lewatkan untuk mengadukan sikap sekretaris ibunya yang sudah membuatnya kesal.


"Well, awalnya semuanya baik-baik saja hingga aku turun dari pesawat dan menemui orang yang menjemputku di bandara tadi. Tiba-tiba saja semuanya jadi menjengkelkan," gerutu Alex terus terang.


Roxanne mengerutkan keningnya yang masih nampak mulus meski di usianya yang sudah kepala lima. Semua itu karena perawatan tubuh dan wajah yang mahal dan rutin ia lakukan tentu saja.


"Memangnya apa yang membuatmu kesal, Lex?" Roxanne bertanya karena tak mengerti sumber kekesalan putranya.


"Siapa lagi kalau bukan karena sekretaris andalanmu itu, Bu. Dia yang telah membuatku kesal," jawab Alex jujur. "dan bagaimana mungkin kau bisa mengatakan jika dia itu wanita yang cantik?" tanya Alex tak habis pikir.


"Tapi di mataku Ana memang gadis yang cantik, Lexi. Selain itu dia juga cerdas dan kompeten. Apa yang tidak kau sukai darinya?" bela Roxanne masih tidak mengerti.


"Apa yang salah dengan tatapan Ambrosia? Dia itu gadis yang selalu bersikap lembut," Roxanne masih mencoba membela sekretarisnya.


"Lembut apanya? Sejak awal pertemuan kami tadi, tatapannya tak pernah lembut padaku, dan lagi... bagaimana mungkin ibu memperkerjakan wanita seperti itu, dia sama sekali tidak cantik. Dia itu bagaikan seorang itik buruk rupa di antara kumpulan angsa jika dibandingkan dengan para staf wanita lainnya di Levine enterprises." Alex berbicara dengan berapi-api.


Seketika ekspresi Roxanne mengeruh. Ia sangat tidak menyukai setiap kalimat yang keluar dari mulut Alex barusan. Di telinganya, ucapan Alex itu terdengar seperti ejekan bagi Ambrosia. Roxanne baru akan memprotes cara bicara Alex tentang Ambrosia, ketika sekretarisnya itu tiba-tiba masuk setelah mengetuk dua kali seperti biasa.


Ambrosia muncul dengan membawa troli berisi teh dan beberapa camilan. "Maaf menunggu lama," ucap Ambrosia dengan sopan.


Alex dan ibunya sama-sama terdiam dengan canggung. Keduanya hanya saling lirik saat Ambrosia memindahkan cangkir-cangkir teh dari atas troli ke atas meja di hadapan Roxanne dan Alex.


Roxanne khawatir kalau-kalau Ambrosia mendengar ucapan Alex barusan. Dan tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Alex, pria itu tiba-tiba saja merasa tak enak jika komentar buruknya tadi sampai terdengar ke telinga Ambrosia. Namun melihat ekspresi wajah Ambrosia yang begitu tenang, ibu dan anak itu sedikit merasa lega karena berpikir bahwa Ambrosia tidak mendengar apa-apa.

__ADS_1


Setelah memindahkan seluruh isi troli yang di bawanya ke atas meja, Ambrosia kembali pamit undur diri dengan wajar untuk melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan Roxanne serta Alex di dalam ruangan Direktur dengan kekhawatiran mereka masing-masing.


"Alex Levine!" bentak Roxanne sambil melipat kedua lengannya di depan dada, yang seketika menunjukkan pada Alex posisi superior yang dimiliki ibunya sebagai orang yang lebih tua.


Alex terkesiap. Dirinya lupa kapan terakhir kali ibunya bersikap setegas itu padanya. Namun saat ini, ibunya memarahinya seolah dirinya bukanlah pria dewasa, melainkan seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah. Alex langsung terdiam. Sechildish itukah sikapku? tanya Alex dalam hati.


"Beraninya kau mengejek seorang gadis baik-baik seburuk itu. Bagaimana jika tadi Ana mendengarnya dan dia sakit hari karena ucapanmu?" Roxanne memarahi Alex atas komentarnya yang tidak sopan.


Secuil penyesalan yang sempat tumbuh di relung hati Alex—sejak dirinya was-was jikalau Ambrosia mendengar ejekannya—kini semakin berkembang. Ia pun menyadari bahwa ucapannya tadi itu keterlaluan. Bagaimana ia akan menghadapi wanita itu dikemudian hari, jika ternyata Ambrosia benar-benar mendengarnya? Bagaimana ia akan meminta maaf kepada wanita itu?


"Tapi, dia memang menjengkelkanku, Bu?" Alex berusaha membela diri, meski takut-takut.


"Lalu? Apakah karena alasan itu kau jadi punya hak untuk mengejeknya? Tidak sopan sekali. Apa itu yang kuajarkan padamu, Lexi?" Roxanne kini menatap tajam ke arah Alex.


Alex hanya menunduk mendengar ucapan ibunya itu. Ibunya benar, meski ia kesal, meski ia tidak terima atas perlakuan Ambrosia padanya, tidak seharusnya dirinya memberikan julukan yang buruk terhadap wanita itu.


Tapi jika dipikir-pikir lagi, Ambrosia tidak pernah berbuat salah secara sengaja padanya. Dia saja yang terlalu meninggikan egonya. Dan merasa kesal karena pikirannya sendiri. Jadi tidak ada alasan pula baginya untuk mengejek penampilan wanita itu.


Roxanne melembutkan kembali tatapannya saat menyadari raut wajah penyesalan pada wajah tampan putra tunggalnya. "Dengar, Lex. Ibu minta kau bisa akur dengan Ambrosia. Karena selain dirimu dan mendiang ayahmu, gadis itu adalah salah satu orang favoritku di muka bumi ini," tegas Roxanne.


Alex mendengus keras, namun akhirnya menjawab, "Akan kucoba, Bu."


"Baiklah, Ibu percaya padamu. Jadi ibu yakin kau pun tidak akan keberatan, jika ibu percayakan Ana untuk menjadi tutormu dalam misi belajar memimpin perusahaan," ucap Roxanne dengan tegas.


Alex yang terkejut. Hanya bisa mengumpat dalam hati, Holy ****!


...****************...

__ADS_1


__ADS_2