
Alex Levine berjalan santai sambil menyeret koper yang sudah diambilnya dari tempat pengambilan bagasi. Langkahnya mantap dengan kemaskulinan seorang model profesional yang tak perlu diragukan lagi.
Diantara kerumunan orang-orang yang sama-sama baru turun dari pesawat, Alex termasuk dari segelintir penumpang pria yang eye catching. Menarik perhatian.
Bagaimana tidak, dengan tinggi badan seratus delapan puluh delapan sentimeter, bentuk tubuh proposional, ditambah wajah yang mampu membuat setiap wanita yang melihatnya menoleh dua kali secara spontan, Alex sangat mudah terlihat.
Meski demikian, Alex terlalu terbiasa menjadi pusat perhatian sehingga dirinya tidak merasa perlu menghiraukan bagaimanapun cara orang lain menatapnya selama itu tidak mengganggunya.
Dalam perjalanannya mengikuti arus manusia yang sama-sama menuju lobi penjemputan, tatapan mata Alex tampak fokus pada layar ponselnya sambil sesekali melihat ke arah depan untuk memastikan dirinya tidak akan menabrak orang yang berjalan di depannya.
📩ROXANNE LEVINE
Alex sayang, ibu sudah mengirim sekretaris terbaikku untuk menjemputmu. Namanya Ambrosia Heart, tapi panggil saja Ana seperti caraku dan yang lainnya memanggil gadis itu. Dia sangat baik dan cantik, tapi yang terpenting dia sangat kompeten dalam pekerjaannya. Aku yakin kau akan menyukai Ana seperti kami semua menyukainya. Baik-baiklah padanya, Okey!
Begitulah bunyi pesan yang dikirimkan Roxanne kepada Alex sesaat sebelum putranya itu terbang menuju Sydney. Pesan yang saat ini baru saja sempat dibaca oleh Alex setelah dirinya tiba di Sydney Kingsford Smith Airport.
Setelah beberapa minggu dari hari dimana Alex berjanji kepada sang ibu untuk belajar mengambil alih perusahaan, akhirnya hari kepulangan Alex ke Sydney pun telah tiba, yaitu hari ini. Tentu saja, Roxanne meminta sekretaris andalannya—Ambrosia, secara khusus untuk menjemput putra kesayangannya itu dari Bandara.
Sesampainya di lobi penjemputan, Alex memelankan laju kakinya sambil mengedarkan pandangan demi mencari utusan ibunya yang mungkin bisa ia kenali, sesuai deskripsi tak lengkap yang tertulis di pesan singkat sang ibu.
Namun, ekspresi Alex yang tadinya cool tiba-tiba berubah bingung saat ia melihat seorang wanita sedang berdiri di salah satu deretan penjemput dengan membawa sebuah kertas putih besar bertuliskan 'MR. A LEVINE'.
__ADS_1
Alex menghentikan langkahnya tanpa sadar, lalu mengerutkan kening sambil mengecek ulang layar ponselnya yang tetap menampilkan pesan dari sang Ibu. Jelas-jelas Alex membaca kata 'cantik' tertulis pada pesan itu, tapi apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri justru jauh dari kata cantik menurut Alex.
What the??? rutuk batin Alex bertanya-tanya.
Bagi Alex, wanita yang menjemputnya itu tampak terlalu tua untuk bisa disebut gadis. Dengan wajah pucat yang Alex yakin tidak dipoles make up apapun, dan kacamata lebar yang juga terlihat tebal, membuat bola mata wanita itu tampak sangat kecil. Belum lagi setelan kerja yang dikenakan wanita itu, sangat konservatif dan serba kelabu. Kesimpulannya, wanita itu jelas-jelas tidak bisa disebut 'cantik'.
Bagaimana mungkin Ibuku yang begitu fashionable menyebut 'yang seperti itu' dengan sebutan 'cantik'? pikir Alex. Dia bahkan tidak modis, entah dari toko loak mana wanita itu mendapatkan setelan yang dipakainya itu? nyinyir Alex dalam hati.
Alex celingukan. Memindai dengan lebih hati-hati dan teliti ke deretan orang-orang yang berjajar di balik tali pembatas untuk para penjemput sambil berharap dalam hati—sangat berharap, menemukan seseorang yang lebih sesuai dengan deskripsi yang dibeberkan ibunya, yang juga memegang kertas bertuliskan namanya.
Namun akhirnya Alex harus pasrah menerima kenyataan karena tidak ada siapapun lagi di sana yang memegang kertas bertuliskan namanya kecuali 'makhluk itu'. Sambil mendengus kecewa, Alex lalu melangkah mendekati sekretaris ibunya itu meski dengan langkah berat.
Ambrosia mendengus keras-keras, entah sudah yang keberapa kali, dan dirinya tidak peduli jika orang-orang yang turut berdiri di sisi kanan dan kirinya menyadari kekesalan yang menguar kuat dari seluruh tubuh gadis itu.
Sekretaris andalan Roxanne Levine itu bahkan sudah memasang wajah juteknya sejak dirinya berangkat dari kantor untuk menjemput sang putra mahkota menggunakan mobil pribadi milik Roxanne.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tampil profesional memegang kertas bertuliskan nama orang yang sedang dijemputnya meski dengan berat hati. Saking beratnya sampai-sampai Ambrosia rela bertukar tugas dengan salah satu dari asistennya dengan tambahan traktiran makan siang jika bisa, asal tidak harus menghadapi secara langsung pria bernama Alex Levine ini.
Sayangnya, karena sang Nyonya Besar sendiri yang menyuruhnya, ia tak punya pilihan selain menurutinya. Padahal Ana lebih senang untuk tidak berurusan dengan pria ini. Pria yang menurut Ana sangat berpotensi merusak kedamaian dalam lingkungan kerja yang begitu dicintainya selama hampir dua tahun terakhir.
Ambrosia yang nyaris merobek-robek kertas di tangganya tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah suara rendah yang maskulin,
__ADS_1
"Kau yang bernama Ambrosia? Sekretaris Ibuku? Dari Levine Enterprise?" tanya Alex dengan wajah dan intonasi yang datar, sedatar landasan pacu pesawat yang baru saja dilintasinya saat landing beberapa menit lalu.
Dilihatnya wanita itu menoleh ke arahnya lalu memindai posturnya dari atas kepala hingga ujung kaki sambil membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot. Alex merasa diabaikan sekaligus tersinggung dengan apa yang dilakukan wanita itu.
"Dengar....." belum sempat Alex meminta wanita itu untuk tidak membuang-buang waktunya, lalu mendadak sekretaris itu menyelanya dengan sebuah pertanyaan.
"Anda siapa?" tanya si sekretaris dengan wajah tanpa ekspresi.
JLEB!!! Ulu hati Alex seolah baru saja tertikam belati. Hampir saja Alex menjatuhkan rahangnya jika ia tidak cepat-cepat mengontrol diri dan mengalihkan keterkejutannya dengan berdehem beberapa kali.
"Apakah anda sedang menunggung pria bernama Alex Levine?" tanya Alex masih dengan kepalan tangan yang menempel di bibirnya setelah berdehem.
"Benar? Apakah anda Tuan Levine?" Ambrosia balas bertanya masih dengan ekspresi yang sama.
Alex mengangguk satu kali. Postur luarnya masih terlihat tenang dan cool meski dalam hatinya ia begitu kesal dengan sikap sekretaris ibunya yang satu ini.
"Apakah anda punya bukti bahwa anda Tuan Levine?"
"Ap-apa?" kini Alex tak mampu lagi menutupi rasa kagetnya. Dan itu membuatnya tergagap begitu saja. "Kau... meminta bukti... padaku?" tanyanya tak percaya.
"Benar. Bolehkah saya melihat paspor anda?" tanya Ambrosia dengan tegas.
__ADS_1
Alex memejamkan matanya sambil menggertakkan giginya diam-diam. Ini benar-benar gila! pikir Alex. Bagaimana mungkin seorang karyawan biasa seperti dia bisa bersikap begitu tidak sopan pada anak atasannya sendiri. Gerutu Alex dalam hatinya.
...****************...