Sekretaris Buruk Rupa

Sekretaris Buruk Rupa
Senyum Sejuta Dollar


__ADS_3

Lift yang membawa Ambrosia dan Alex berdenting menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju—yakni lantai kesekretariatan.


Hanya ada dua cara untuk mencapai ruangan Direktur Utama Levine Enterprises, yang pertama melalui lift khusus—satu-satunya lift di gedung itu yang hanya memiliki dua lantai tujuan; dari lantai parkir basement langsung menuju ke lantai 41 dimana ruangan Direktur Utama berada, atau sebaliknya.


Sedangkan cara yang kedua adalah dengan melewati lobi utama, menggunakan lift umum menuju ke lantai kesekretariatan yang berada di lantai 40 lebih dahulu, setelah itu baru menaiki tangga manual menuju satu lantai di atasnya lagi yaitu lantai ruangan Direktur.


Keluar dari lift, Ambrosia kembali memimpin langkah menyusuri koridor. Dalam perjalanannya, Ambrosia melihat ke arah meja sekretaris di depan sana dan mencari-cari sekretaris lainnya yang seharusnya berada di balik meja yang sedang kosong itu.


Kemana Elsa dan Belle? Ambrosia bertanya dalam hati. Karena seharusnya paling tidak salah satu dari mereka tinggal untuk menjaga meja sekretaris demi efisiensi pekerjaan kesekretariatan Direktur Utama.


Itulah mengapa Roxanne Levine mempekerjakan dua orang sekretaris lainnya untuk membantu Ambrosia, agar kantor sekretaris Direktur Utama tidak kosong seperti ini sesibuk apapun tugas sekretaris utama.


Padahal Ambrosia yakin dirinya sudah membagi tugas hari ini secermat mungkin hingga mustahil ada penumpukan agenda yang menyebabkan kosongnya meja itu. Kecuali... ada tamu yang datang tanpa janji temu lebih dulu, sehingga entah Belle atau Elsa sibuk di ruangan Direktur sementara yang lainnya menyelesaikan tugas hari ini.


Enggan dihantui rasa penasaran, Ambrosia akhirnya sengaja berhenti tepat di depan meja para sekretaris demi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Alex yang terus mengikuti langkah Ambrosia mau tak mau turut berhenti tak jauh di belakang wanita itu.


"Permisi, Mr. Levine, jika anda tidak keberatan saya harus menelepon ke ruangan Direktur lebih dulu untuk memastikan apakah beliau siap menerima anda di kantornya," tanya Ambrosia sopan namun kaku.


Giliran Alex yang hanya mengangguk menanggapi pertanyaan sekretaris itu. Ambrosia segera melesat ke balik meja sekretaris lalu menarik gagang telepon, namun belum sempat dirinya menekan tombol khusus yang langsung menyambung ke ruangan Direktur, terdengar suara cekikikan dari arah pintu pantry.


Ambrosia dan Alex kompak menoleh ke sumber suara dan keduanya melihat Belle dan juga Elsa yang sama-sama baru keluar dari ruangan yang letaknya paling ujung koridor itu.


"Oh, ya ampun..." Belle terpekik lirih sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat kedua matanya menangkap sosok tampan yang tengah berdiri di depan meja sekretaris.

__ADS_1


"Hai, Ana, kau sudah kembali?" sapa Elsa sambil melangkah mendekat. Walaupun berbicara pada seniornya, namun tampak jelas ke arah mana sorot mata Elsa tertuju, yang sama sekali bukan ke arah Ambrosia.


Belle pun mengikuti langkah Elsa mendekati meja sekretaris, meski dengan sorot mata yang juga terkunci pada pria paling tampan yang pernah ditemuinya.


"Kukira kalian kemana sampai membiarkan meja kita kosong, kalau sampai ada telepon penting atau darurat bagaimana?" protes Ambrosia dengan nada tegas sambil mengembalikan gagang telepon ke tempatnya semula.


"Maaf, maaf, seharusnya giliran Belle yang jaga tapi mendadak tadi perutnya sakit jadi dia buru-buru ke toilet," sembur Elsa tanpa menghiraukan reaksi Belle yang langsung merah padam setelah merasa aibnya terbongkar.


"Heii, Elsa. Lebih baik kau diam," bisik Belle yang langsung menyikut pinggang rekan kerjanya itu karena malu.


"Ngomong-ngomong, jika kau sudah kembali dari menjemput putra mahkota, berarti pria inikah.."


Belum sempat Belle menyelesaikan kalimatnya, Ambrosia langsung memotong ucapan rekannya agar tidak membuang-buang waktu kerja mereka, "Saat ini status beliau masih tamu, jadi bersikaplah profesional seperti biasanya. Sekarang, kembali bekerja," perintah Ambrosia dengan tegas.


Mereka memanggilku putra mahkota? Manis sekali, pikir Alex senang. Setelah menyaksikan bagaimana reaksi dua orang sekretaris lainnya ketika melihat dirinya, Alex jadi teringat kembali bagaimana reaksi Ambrosia saat mereka bertemu pertama kali di bandara tadi.


Ternyata memang yang tidak normal di sini hanya si Sekretaris Ketus itu, nyatanya dua rekannya memperlihatkan reaksi yang sama seperti para wanita lain saat menatapku, pikir Alex bangga sekaligus heran.


Memang seharusnya tatapan mata seperti itulah yang terlihat dari mereka, bukan tatapan mata penuh dendam seperti yang ditunjukkan makhluk yang satu itu. Alex geram sendiri.


"Silahkan ikuti saya, Mr. Levine, nyonya Roxanne sudah menunggu anda," ucap Ambrosia yang tanpa Alex sadari tiba-tiba saja sudah berada di bawah tangga menuju lantai Direktur.


Ternyata disaat Alex sibuk mengkritik sikap sekretaris ibunya di dalam pikirannya sendiri, Ambrosia justru sigap menelepon Roxanne melalui saluran internal perusahaan untuk mengabarkan kehadiran Alex.

__ADS_1


"Ba, baiklah," jawab Alex lagi-lagi tergagap karena tenggelam dalam lamunannya sendiri. Pria itu pun buru-buru mengejar Ambrosia yang langsung naik tangga lebih dulu tanpa menunggunya. Meskipun tergesa, tetapi Alex masih sempat memberikan senyum sejuta dollarnya saat melewati Belle dan Elsa yang ia lewati.


"Ya Tuhan, apakah aku baru saja bermimpi," seru Belle yang tak percaya pada penglihatannya sendiri setelah menyaksikan senyum pamungkas seorang Alex Levine.


"Kalau ini memang mimpi berarti kita berada di mimpi yang sama, Belle," sahut Elsa yang tak kalah terpesona.


Kedua sekretaris itu kemudian memekik kegirangan hingga menimbulkan keributan kecil di ruang sekretaris. Kehebohan yang dihasilkan dari dua pengagum baru Alex itu sontak saja membuat si pemilik senyum yang sengaja tebar pesona makin sumringah saat menaiki tangga menuju kantor ibundanya.


"Aleexx, putraku," Roxy menghampiri Alex dengan senyum lebar begitu melihat kehadiran putra kesayangannya di dalam ruang kerjanya. "Apa kabarmu, Nak?" tanya Roxy sembari memberikan pelukan erat serta ciuman pada kening Alex.


Roxanne Levine adalah wanita yang mungil. Ramping semampai, tetapi mungil. Jika disandingkan dengan Ambrosia saja ubun-ubun wanita paruh baya itu hanya mencapai pundak sekretarisnya, lain halnya ketika Roxanne berhadapan dengan sang putra. Tubuh wanita itu seakan langsung tenggelam ke dalam bumi karena hanya setengah dari tinggi Alex Levine yang begitu menjulang.


"Saya akan ambilkan teh dan cemilan," pamit Ambrosia setelah puas melihat rona kegembiraan di wajah Direkturnya itu.


"Terima kasih, Ana, kau baik sekali," balas Roxy sambil menoleh ke arah Ambrosia berdiri.


Di luar dugaan Alex, ia melihat dengan jelas bahwa Ambrosia tersenyum lebih dulu sebelum membalas pujian dari sang ibu.


"Sudah tugasku, Roxy," jawab Ambrosia masih dengan senyum.


Namun senyum itu langsung menghilang kala bola mata Ambrosia, di balik kacamata tebalnya, tanpa sengaja bertemu pandang dengan mata Alex. Tatapan gadis itu tiba-tiba kembali tajam sebelum akhirnya ia berbalik untuk keluar dari ruangan.


Alex langsung terperangah melihatnya. Bagaimana mungkin? pekik batin Alex. Bagaimana mungkin sikapnya begitu berbeda ketika ia bicara dengan ibu dan ketika ia melihatku? Waahhh, wanita itu benar-benar bermuka dua. Gerutu Alex dalam hati.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2