
"Bleeehhh..." Alex membuat suara aneh sambil menjulurkan lidahnya. "Teh jahe ini tidak manis sama sekali, Jake." Alex merajuk dari atas sofa ruang tengah apartemennya.
"Like i care, boozer*! Aku membuatnya untuk meredakan hangovermu, bukan untuk menuruti seleramu," balas Jake bersungut-sungut. (*sebutan untuk pemabuk dalam bahasa Inggris-Amerika.)
Saking kesalnya pada sahabatnya itu, seakan Jake ingin memasukkan gulungan tissue toilet yang sedang dipegangnya ke dalam mulut Alex yang cerewet.
"Hei, aku bukan tukang minum tau," sahut Alex tidak terima.
"So what? Memangnya apalagi sebutan yang pantas untuk orang bodoh yang minum delapan kaleng Blue Moon* sen-di-ri-an, hah? Bersyukurlah kau tidak mengalami keracunan dan masih hidup hingga detik ini." (*Merk bir terpopuler kedua di Amerika selain merk 805.)
Jake mengomel sambil membuang gumpalan tissue berisi pecahan gelas yang baru dibersihkannya dari kamar Alex ke tempat sampah.
"Diam, dan habiskan itu," perintah Jake tegas. "Awas saja jika selesai aku memvakum kamarmu cairan itu masih belum juga habis," ancam Jake melotot pada Alex.
"Tapi ini sama sekali tidak enak, dan pedas, aku tidak bisa meminumnya, bla.. bla.. bla.." Sementara Alex terus menggerutu, Jake mencoba hanya memutar bola matanya sebal.
Jake mengambil vacum cleaner dari lemari sambil mendengus tatkala teringat saat dirinya baru saja tiba di kediaman sahabatnya itu semalam.
Malam sebelumnya,
Jake Chiper meluncur ke apartemen Alex secepat yang ia bisa. Kabar yang ia dengar dari manajernya membuat Jake semakin khawatir, dan juga penasaran tentang apa yang sebenarnya telah terjadi pada Alex di pesta.
Tidak, pikir Jake, sebelum berangkat ke pesta pun Alex sudah bersikap aneh. Sial. Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku menyadarinya. Seharusnya aku tidak meninggalkannya sendirian di pesta itu.
Jake terus menyesali semua yang telah terjadi sambil menekan nomor sandi kunci pembuka pintu apartemen Alex, begitu dirinya tiba di sana. Dibukanya pintu itu dengan hati-hati dan rasa was-was, khawatir dirinya mungkin menemukan Alex dalam kondisi terburuk dari sahabatnya itu.
Dapur bersih yang kosong menyambut Jake saat membuka pintu utama, dilihatnya ruang tengah dari sela mini bar, juga kosong. Jake semakin ketar-ketir ketika melangkah masuk lebih jauh, ia tak melihat Alex di manapun.
__ADS_1
Dimana bocah itu? tanya Jake dalam hati. Ia menoleh dan melihat daun pintu kamar utama—kamar Alex, yang terbuka sedikit dengan berkas cahaya lampu yang mengintip dari dalam. Apa Alex ada di kamarnya? Sendiriankah? Atau bersama Luna?Batin Jake bertanya-tanya.
Tanpa sadar Jake berjingkat mendekati pintu kamar Alex, lalu mengintip dari sela pintu yang terbuka. Jake lega karena tidak ada Luna di dalam sana, yang artinya dirinya tidak sedang menganggu Alex dengan tunangan pria itu.
Jake memberanikan diri mendorong pintu agar lebih terbuka. Pelan dan hati-hati. Dilihatnya kaleng-kaleng bir berserakan saat Jake melangkah masuk. Satu, dua, tiga, empat, lima... Jake terus menghitung kaleng-kaleng itu sembari berjalan mendekati Alex yang terbaring telentang di atas kasur super king milik Alex.
"What the heck, berapa kaleng bir yang diminum bocah ini. Memangnya apa yang sedang dipikirkannya?" Gerutu Jake sambil berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala.
Setelah memastikan bahwa Alex hanya tertidur dan tidak ada gejala demam atau apapun, Jake bergegas kembali ke dapur untuk mengambil plastik sampah. Lebih baik aku bereskan kekacauan ini dulu sambil menunggu pangeran tidur satu ini bangun, niat Jake dalam hati.
Jake sudah sangat sering menginap di apartemen Alex yang memiliki dua kamar tidur. Itu karena lokasi apartemen Alex yang berada di pusat kota jauh lebih mudah dijangkau setelah mereka berdua pulang kerja larut malam, daripada rumahnya sendiri yang berada lebih ke pinggiran kota.
Alex juga sudah beberapa kali menawarinya untuk tinggal bersama di apartemen itu, tetapi Jake menolak dengan tegas. Karena Jake tidak sendirian di rumah yang ia tinggali saat ini. Ia tinggal bersama saudara kembarnya Roy Chiper—seorang aktor rookie* yang sedang naik daun. (*pendatang baru)
Meskipun jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, tetapi Jake tidak ingin membiarkan Roy merasa sendiri dan terabaikan olehnya. Jelas sekali dua saudara kembar itu memiliki hubungan persaudaraan yang baik.
Kembali ke masa sekarang,
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi padamu di pesta itu?" Jake yang baru selesai membersihkan kamar Alex dari pecahan gelas pun akhirnya ikut bergabung di ruang tengah.
Memilih duduk di sofa yang berseberangan dengan Alex membuat Jake bisa melihat ekspresi sahabatnya dengan jelas. Sementara itu, Alex yang menyadari bahwa dirinya tak mungkin bisa menyembunyikan apapun dari Jake memutuskan untuk menceritakan perihal putusnya hubungan pertunangan antara dirinya dengan Luna Gross.
"Begitu saja?" tanya Jake dengan santai setelah Alex bercerita panjang lebar tentang alasan sakit hatinya.
"Apa ini? Kau sama sekali tidak terkejut?" Alex cukup bingung menyadari ketidak pedulian Jake terhadap kabar yang membuatnya begitu marah dan kecewa.
"Sorry to say, tapi di sini yang buta akan cinta hanya kau, teman, bukan aku. Dan aku tahu pasti wanita seperti apa Luna Gross itu," balas Jake cuek sambil menyeruput kopinya sendiri.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Jadi selama ini kau tahu kalau tunanganku berselingkuh? Dan kau tidak mengatakan apapun pada sahabatmu ini, Jake? Apa kau tidak punya empati sedikitpun padaku?" Alex tak percaya dengan respon yang Jake berikan, ia pun menduga Jake tidak seperhatian itu padanya sebagai seorang sahabat.
Tanpa peringatan Jake melempar sandal ruangan yang dipakainya ke arah Alex. Untungnya Alex sudah cukup mendingan untuk bisa menghindari serangan dadakan itu.
"Hei, kau gila ya?" teriak Alex kesal.
"Kau yang gila," balas Jake sambil melempar sandal ruangan yang sebelah lagi ke arah Alex, dan kali ini Alex tak cukup gesit untuk menghindarinya. Alhasil sandal bekas pakai kaki kiri Jake itupun mendarat tepat di pundak kanannya. Alex langsung melempar kembali sandal itu sembarangan dengan kesal.
"Aku bukannya sudah tahu jika tunanganmu berselingkuh, aku hanya sudah menduganya. Aku sudah mencoba memperingatkanmu, wanita seperti apa Luna Gross itu, bahkan sejak awal saat kau pertama kali mengatakan padaku niatmu untuk mengencaninya. Tapi apa? Telingamu tersumbat oleh suara sumbang khas Luna, jadi kau tak pernah mendengar apapun nasehatku." Jake mengoceh dengan menggebu-gebu.
"Tapi kau..." Alex mencoba menyela.
"Diam dan dengarkan aku dulu," bentak Jake tajam yang langsung membuat Alex menciut dan menuruti pria pirang itu untuk diam.
"Lalu saat kau bilang padaku bahwa kau akan melamar wanita itu, aku kan sudah menyuruhmu untuk memikirkan ulang keputusanmu, kalau perlu kenalkan dulu Luna kepada ibumu dan mintalah pendapat beliau tentang Luna. Tapi apa? lagi-lagi kau tidak mendengarku, kau bahkan tidak mengundangku dalam acara lamaran brengsek itu, seakan persahabatan kita selama ini tidak berarti apa-apa bagimu sejak kau dibutakan oleh Luna Gross. Kau pikir berapa kali aku ingin memaki Luna atas ketidak sopanan wanita itu terhadapku, Lex. Hanya kau di sini yang melihatnya sebagai bidadari yang turun dari khayangan."
Jake kehabisan napas setelah nyerocos panjang lebar demi memarahi Alex, sementara Alex justru terdiam. Ini pertama kali dalam hidupnya sejak persahabatan mereka dimulai, Jake menggila di hadapannya.
"Begitukah?" jawab Alex lirih. Seluruh ocehan Jake bagai rekaman yang berputar berulang-ulang di kepalanya. "Tapi saat ibuku datang kesini beberapa waktu lalu dan bertemu Luna, mengapa ibuku tidak mengatakan apa-apa jika Luna memang bukan wanita yang pantas untukku?" Alex semakin bingung.
"Pertanyaannya, apakah kau dengan jelas pernah meminta pendapat ibumu tentang Luna?" Jake balas bertanya setelah berhasil mengatur napas.
Alex kembali terdiam, mencoba mengingat-ingat hingga ia pun menjawab, "Tidak."
"Kau memang bodoh," celetuk Jake sambil geleng-geleng kepala.
...****************...
__ADS_1