
Saat Ambrosia masih tenggelam dalam kebingungan, Roxanne menceritakan pengalamannya bertemu tunangan putranya tanpa ragu.
Seolah wanita itu menganggap Ambrosia adalah bagian dari keluarganya. Menyiratkan betapa besar kepercayaan yang Roxanne Levine berikan terhadap sekretarisnya itu.
"Kau ingat beberapa bulan lalu saat aku ke California untuk urusan bisnis?" tanya Roxanne dengan tatapan kosong.
Matanya tertuju lurus ke arah Ambrosia, tetapi seperti tidak benar-benar melihat sekretarisnya itu. Seolah-olah bukan Ambrosia yang dilihatnya disana. Ambrosia buru-buru menjawab dengan anggukan kepala.
Roxanne menghela napas sebelum meneruskan ceritanya, "Saat itu aku memang mengunjungi putraku di apartemennya tanpa pemberitahuan sebelumnya, karena memang aku tidak merencanakannya. Kau tahu kan kalau jadwalku di sana sangat padat. Bahkan, Alex tidak tahu kalau aku sedang berada di California karena aku tidak sempat memberitahunya."
Ambrosia masih sabar mendengarkan cerita Roxanne, sambil mengamati perubahan yang terjadi pada raut wajah atasannya itu.
"Ketika tiba-tiba saja salah satu pertemuanku dibatalkan sepihak—kau ingat saat itu kan, Ana?—aku langsung kepikiran untuk memberi kejutan pada Alex dengan mengunjunginya secara mendadak."
Ambrosia menggali ingatannya tentang peristiwa itu. Dan tak butuh waktu lama baginya untuk mengingat, walaupun saat itu bukan dirinya sekeretaris yang menemani Roxanne ke California—melainkan Elsa—tetapi Elsa memberinya laporan secara detil tentang perubahan jadwal Roxanne yang terjadi waktu itu.
"Saat itulah, aku tidak sengaja bertemu tunangan Alex di apartemennya," sambung Roxanne.
"Apa anda kecewa setelah mengetahui bahwa Mr. Alex dan tunangannya sudah tinggal bersama?" tanya Ambrosia, berusaha menjaga intonasi ucapannya sepelan yang ia bisa demi tidak membuat atasannya lebih emosional.
"Bukan itu masalahnya, sayang," balas Roxanne cepat. "Tapi tidak, Alex tidak tinggal bersama dengan tunangannya itu. Aku tahu pasti, karena Alex bukan pria seperti itu. Dia termasuk kolot dalam urusan asmara. Hanya kebetulan saja wanita itu juga sedang berkunjung kesana. Dan kau tahu, Ana? Wanita itu melihatku bagai serangga penggangu saat Alex justru dengan bangga memperkenalkanku sebagai ibunya."
Roxanne menghela napasnya lagi, kali ini lebih dalam. "Aku tidak tahu apakah kedatanganku yang tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan membuatnya terganggu—mengganggu waktunya yang berharga untuk bisa berduaan dengan Alex, atau memang wanita itu selalu bersikap jijik terhadap wanita tua sepertiku," Roxanne bertanya-tanya dengan tatapan nanar.
"Maaf, mam. Tapi saya tidak mengerti... " ucapan Ambrosia terputus dan menggantung, lidahnya terlalu kelu untuk meneruskan kalimatnya setelah melihat tatapan nanar di kedua bola mata Roxanne yang renta.
"Entah bagaimana, aku merasa tunangan putraku merasa terganggu karena saat itu penampilanku sangat sederhana? Dia bahkan bertanya pada Alex sambil tertawa sinis darimana aku mendapatkan gaun yang sedang kupakai saat itu," lanjut Roxanne lagi.
Sebelah alis Ambrosia terangkat tinggi. Apa-apaan wanita itu, pikir Ambrosia kesal.
"Sekali lihat aku bisa tahu bahwa dia adalah wanita yang glamour, Ana. Dari ujung kepala sampai ujung kakinya dipenuhi barang-barang mahal keluaran designer terkenal. Aku sungguh tidak masalah jika itu memang seleranya, aku bisa menghargai itu. Hanya saja caranya menatapku yang saat itu cuma menggunakan dress sederhana yang nyaman—yang kubeli secara impulsif di Mall, membuatku bergidik." Roxanne bersedekap. Mencoba menyembunyikan getaran pada tubuhnya akibat mengingat tatapan sinis dan menghina dari calon menantunya.
"Apa dia menghina anda, Roxy?" Empati Ambrosia terhadap Direkturnya seketika berubah menjadi amarah.
__ADS_1
TIDAK! pekik Ambrosia dalam hati. Jangan wanita ini! Jangan wanita yang sangat berharga ini! pintanya. Ambrosia sungguh tak ingin Roxanne Levine merasa merana barang sedikitpun. Baginya, wanita itu sudah seperti pengganti mendiang ibunya. Kebaikan yang Roxanne berikan padanya selama dua tahun ini, begitu berarti bagi Ambrosia yang sebatang kara.
Keinginan untuk melindungi wanita paruh baya yang sangat ia hormati itu menguat begitu cepat. Ingin rasanya Ambrosia bertemu langsung dengan tunangan si putra mahkota dan mengungkap fakta siapa Roxanne Levine yang sebenarnya.
"Entah kenapa hatiku merasa yakin, Ana. Wanita itu, pasti akan membuat Alex-ku terluka. Jauh di lubuk hatiku mengatakan wanita itu tidak mencintai putraku dengan tulus," imbuh Roxanne. "Aku takut, Ana. Aku sangat takut Alex terjebak dengan wanita yang salah sepanjang hidupnya."
Getar pilu dalam suara Roxanne membuat Ambrosia tak sanggup lagi. Ia tak sanggup mendengar dan melihat kekalutan pada seorang Roxanne Levine. Maka saat dilihatnya Roxanne menunduk untuk menyembunyikan emosinya, Ambrosia menarik napas dalam-dalam lalu kembali pada mode sekretaris profesionalnya.
"Apa anda yakin mengizinkan saya yang orang luar ini untuk ikut campur atas urusan pribadi putra anda, Nyonya Roxanne?" tanya Ambrosia dengan tegas.
Ia sengaja menekankan panggilan resmi kepada Roxanne demi sebuah formalitas yang dibutuhkannya. Formalitas dari seorang atasan yang memerintahkan bawahannya.
Roxanne mendongak cepat. Mata tuanya langsung berbinar takjub melihat postur Ambrosia yang seolah menyatakan 'Anda bisa mengandalkanku!' itu.
"Ya! Aku mengandalkanmu, Ambrosia Heart," seru Roxanne dengan penuh ketegasan. "Dan terima kasih karena kau bersedia menerima tugas ini."
Roxanne akhirnya tak dapat lagi menutupi keharuannya, wanita tua itu kemudian kembali menundukkan wajahnya, menghadap ke meja kerjanya, dengan bahu yang nampak berguncang perlahan.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun masa kerjanya di Levine Enterprises, Ambrosia ikut campur pada urusan pribadi seorang Alex Levine, si putra mahkota, pria yang bahkan belum pernah ditemuinya. Dan untuk pertama kalinya pula, Ambrosia melihat wanita nomor satu di tempatnya bekerja itu menangis.
Ambrosia keluar dari ruangan Presiden Direktur dengan kaki gemetar dan nyaris lunglai. Ia bersandar sebentar di daun pintu yang telah ditutupnya itu sambil melakukan exhale-inhale beberapa kali.
Curahan hati Roxanne Levine yang tiba-tiba dan sangat tak terduga membuat jantungnya bagai diremas-remas. Meski emosinya kacau balau, untungnya ia masih ingat untuk menyerahkan map berisi laporan hasil rapatnya hari ini sebelum keluar dari ruangan.
Setelah merasa dirinya cukup normal untuk kembali bekerja dan menghadapi para rekan kerjanya, Ambrosia menuruni tangga dengan yakin ke lantai kesekretariatan. Menuju meja kerjanya yang tepat berada di bawah kantor milik wanita yang baru saja menyuruhnya mencari senjata rahasia untuk menghancurkan pertunangan putra semata wayangnya.
Belle kembali dari pantry dengan membawa dua cangkir kopi panas saat Ambrosia sudah duduk di kursinya. Meja sekretariat khusus untuk Direktur Utama di Levine Enterprise sangat panjang dan melengkung.
Bentuknya hampir setengah lingkaran dengan sekat yang membagi menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk Ambrosia, dan dua bagian lain untuk Belle dan Elsa yang merupakan sekretaris junior yang membantu meringankan tugas Ambrosia sebagai sekretaris utama Roxanne Levine.
"Aku dapat pesan dari Elsa kalau ia akan datang sekitar jam sepuluh. Ia harus mengantri di perusahaan ekspedisi untuk menyelesaikan pengiriman parcel-parcel rutin untuk panti asuhan yang kita sponsori," lapor Belle pada seniornya itu.
Ambrosia mengiyakan dengan acungan jempolnya sambil meringis, "Lalu bagaimana dengan laporan triwulananmu?" tanya Ambrosia.
__ADS_1
"Aku sudah mengirimnya ke emailmu sebelum aku ke pantry untuk membuat kopi tadi," jawab Belle tegas.
Ambrosia langsung membuka email via komputernya yang memang sudah menyala dari tadi dan menyeringai. "Good job!" serunya puas.
"Lalu? Adakah tugas tambahan untukku hari ini, Ana?" tanya Belle sambil menyodorkan salah satu dari cangkir kopi itu kepada seniornya.
Ambrosia menerima kopi itu dari tangan Belle lalu gantian menyerahkan notepad-nya kepada gadis yang hampir setahun menjadi asistennya itu.
"Pilihlah salah satu dari dua poin itu! Pilih yang menurutmu paling bisa kau lakukan," titah Ambrosia sebelum menyesap kopinya dalam-dalam.
Belle menerima notepad andalan seniornya itu setelah tangannya melepas cangkir kopi jatah Ambrosia yang ia buatkan sebelumnya. Belle nampak mempertimbangkan lebih dulu perintah yang tertulis pada gadget canggih itu dan berakhir memilih poin yang kedua.
"Aku tidak pernah bisa membuat para perwakilan kita di New York untuk mendengarkan saranku, jadi biar aku yang mengurus tentang kalung zamrud itu," Belle menyodorkan kembali notepad milik Ambrosia.
"Dan aku rasa jika kau pergi ke Pawn Stone sekarang juga, kau bisa nebeng si Tampan Luke dari divisi IT, karena seharusnya saat ini ia akan ke The Logins— yang berada tepat di sebelah Pawn Stone—untuk mengambil laptopnya yang diservis di sana."
Ambrosia menyarankan Belle dengan cangkir kopi yang masih berada di tangan kanannya.
Belle memicingkan matanya penuh curiga, "Bagaimana kau bisa tahu jadwal Luke Anderson si IT tampan itu? Jangan bilang kalau kalian bertemu setelah jam kerja?" tuduh Belle.
Ambrosia kembali menyesap kopinya sambil menggeleng, "Dia bilang padaku saat kami kebetulan berada dalam satu lift yang sama tiga hari lalu," jawab Ambrosia santai.
"Oh, Ana... andai saja penampilanmu semenakjubkan daya ingatmu, kau pasti akan menjadi wanita paling menawan di Levine Enterprises," ucap Belle ketika memandang ke arah Ambrosia dengan mata berbinar.
Gadis itu lalu memasukkan ponsel serta buku catatannya yang bersampul kulit ke dalam tas tangannya dan bergegas pergi menuju lift yang kebetulan sedang kosong.
"Aku anggap ucapanmu itu sebagai pujian, jadi terima kasih, Belle. Hati-hati di jalan!" Ambrosia membalas ucapan Belle dengan sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya dengan mulut yang masih menempel di bibir cangkir.
Ambrosia masih dapat melihat lambaian tangan Belle sebelum menghilang di balik pintu lift yang tertutup otomatis.
Ia menyesap kopinya beberapa kali lagi, lalu meletakkan cangkir keramik putih itu ke atas meja kosong yang sedikit jauh dari jangkauannya. Jaga-jaga kalau-kalau ia lupa akan cangkir itu lalu tanpa sengaja menyenggolnya saat sedang serius bekerja.
"Oke, Ana. Waktunya menyelesaikan PR kecil sebelum mengerjakan tugas besar yang sebenarnya," gumam Ambrosia pada diri sendiri sebelum meraih gagang telepon dan mulai menelepon manager perwakilan Levine Enterprises yang ada di New York.
__ADS_1
...****************...