
Pagi pagi buta lily bangun seperti biasanya. Dia harus mengurus ibunya dulu sebelum pergi bekerja. Dibukanya pintu kamar sang ibu dan betapa kagetnya dia ketika lily tidak menemukan sang ibu berada di atas kasurnya.
" Bu ibu dimana bu" sambil monoleh kesana kemari berharap menjumpai sosok ibunya.
" Ly ibu dari kamar mandi nak, jadi kamu jangan terlalu khawatir ya. Ibu sudah bisa kalau hanya dipakai untuk jalan sebentar, apalagi hanya untuk ke kamar mandi. Ibu kasian melihat kamu yang selau merawat ibu mulai pagi hingga menjelang malam".
Lily hanya tersenyum ketika melihat sang ibu kondisinya sudah semakin membaik.
" Bu lily ingin pergi ke kota untuk bekerja disana apa ibu tidak keberatan jika ibu lily tinggalkan disini sendirian" tanya lily dengan hati hati karena takut jika sang ibu tidak memperbolehkan dirinya bekerja jauh, apalagi sampai meninggalkan dirinya.
" Ly ibu tidak pernah melarang kamu untuk bekerja kemana pun yang kamu mau nak, apalagi jika iti untuk masa depan kamu. Ibu juga menginginkan yang terbaik untuk masa depan kamu nak".
" Tapi apa ibu tidak apa apa jika harus tinggal sendirian di rumah bu. Lily takut jika ibu nanti akan kesepian jika tinggal di rumah sendiri".
__ADS_1
Sang ibu hanya tersenyum mendengar ucapan lily yang menurutnya seperti menghawatirkan seorang gadis kecil yang akan di tinggalkan pergi oleh sang ibu.
" Ly ibu ini sudah tua, ibu bisa menjaga diri ibu sendiri. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan ibu. Lagi pula ibu juga sudah lebih baik kan jadi lebih baik kamu pergi untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan yang kamu inginkan".
Lily berusaha tersenyum kecil di bibirnya. Sejujurnya lily juga tidak tega. Tapi apa boleh buat kondisi juga mangharuskan lily untuk mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan gaji yang tinggi.
Dipeluknya sang ibu dengan sangat erat. Menyalurkan energi positif dan sama sama saling menguatkan satu sama lain. Sembari mengedip ngedipkan mata berusaha dengan kerja menyembunyikan agar air matanya tidak jatuh.
Setelah melepaskan pelukan dari sang ibu lily beranjak menuju dapur untuk memasak sarapan pagi. Tidak banyak yang harus dia masak karena lily hanya memasak nasi goreng serta telor ceplok.
" Bu ayo kita sarapan dulu" ujar lily kepada sang ibu.
Suara sendok dan garpu memecahkan kehingan yang terjadi di antara mereka.
__ADS_1
" Lily berangkat kerja dulu ya bu, ibu jaga diri baik baik selama lily tinggal bekerja".
Lily mengamit tangan ibunya. hal yang selalu dilakukan lily sebelum pergi menginggalkan sang ibu.
......................
Sementara di tempat lain Alexander yang sedang memimpin sebuah meeting nampak serius memperhatikan presentasi seorang kepala bagian keuangan.
Nampak nya alexander sangat puas dengan hasil kinerja dari semua karyawannya. Namun bukan alexander namanya jika sudah puas dengan apa yang sudah dia capai. Alexander selalu menginginkan berada di puncak dan menginginkan nama perusahaannya dihormati dan ditakuti oleh semua orang. Sehingga tidak akan ada yang berani untuk bermain main dengan dirinya.
Suara dering ponsel alexander memecahkan keheningan yang terjadi di dalam ruangan kerjanya. Alexander melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
" Hallo ma tumben nih nelpon alexander, ada perlu apa ni ma" jawab alexander kepada sang mama.
__ADS_1
" Ya ampun alex kamu ini mama telepon bukannya tanya kabar mama dulu malah langsung nanyain mama perlu apa. Memang nya kamu gag kangen apa sama mama. Mama ini punya anak laki laki tapi kayak ga pernah diperhatikan gitu" omel sang mama.
" Hehehe ya kan emang biasanya begitu ma, kalo gitu nanti malam alex pulang ke rumah deh biar mama gag ngomel ngomel mulu. Jangan sering sering ngomel ma bisa visa nanti cepet tua" ledek alexander kepada mamanya dan berhasil membuat sang mama menjadi tambah sewot.