Selepas Luka

Selepas Luka
Prolog


__ADS_3

"Hah! Bagaimana bisa? Kalian tidak bisa seenaknya begini!" seru Haidar. Asisten Rama


"Ada apa, Dar?" tanya Rama


Wajah Haidar tampak ragu untuk mengatakannya. Ia yakin, bosnya itu akan marah jika mendengar berita darinya.


"Dar!" seruan Rama membuat Haidar menghela nafas


"Mereka membatalkan rencana kerjasama dengan kita, Ram"


Wajah Rama berubah dingin. "Rupanya mereka mau main - main denganku! Mereka belum tahu siapa aku!"


Rama Alendra Salim, merupakan pengusaha muda yang cukup terkenal. Wajahnya yang tampan, hidung mancung dengan bibir tebal yang terlihat seksi membuat Rama digandrungi banyak wanita. Rama sendiri adalah pengusaha dibidang WO (Wedding Orgenaizer) Usaha yang dia bangun sendiri itu sudah meroket dan sukses meski baru berjalan lima tahun. Di usianya yang baru genap dua puluh lima tahun, Rama sudah menjadi pengusaha yang sukses. Clientnya bukan hanya anak para pejabat dan pengusaha. Beberapa artis juga banyak yang menggunakan jasanya. Dari usahanya itu, Rama mampu meraup keuntungan hingga ratusan juta dalam sebulan. Sebab, tidak hanya disatu kota, RaS WO memiliki cabang diberbagai kota diseluruh Indonesia.


Saat ini, pria tampan itu sedang menunggu calon rekan kerjanya. Dimana dia akan menandatangani kontrak kerja dengan seorang perusahaan catering yang selalu menjadi request-an para calon customernya. Sebagai seorang pengusaha, tentu Rama akan berusaha untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan catering itu, tentu saja agar usahanya semakin berkembang dan maju. Tapi siapa sangka, tiba - tiba calon partnernya itu malah membatalkan rencana kerja sama mereka.


"Kita akan temui mereka. Setidaknya, mereka harus tahu tengah berhadapan dengan siapa!" Rama baru saja akan beranjak, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara ketukan dari pantulan sepatu yang berjalan ke arahnya.


Deg


Jantung Rama berdetak begitu cepat saat matanya menatap si pemilik sepatu yang berdiri tepat di hadapannya sekarang. Rindu, sesal dan marah bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak, wanita yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Ale. Namira Alesya Triyoga. Wanita yang pernah dia hancurkan delapan tahun yang lalu.


"Nona Mira, Anda tidak bisa membatalkan begitu saja kesepakatan yang sudah di sepakati. Anda-"


"Anda terlambat, saya sudah lebih dulu bekerja sama dengan perusahaan lain. Dan tentunya, dengan keuntungan yang jauh lebih besar dari yang perusahaan Anda tawarkan!" Ale memotong protesan Haidar dengan cepat


Deg


Lagi - lagi jantung Rama berdetak tak karuan saat Ale meliriknya dingin dan terlihat enggan menatapnya. Ada rasa nyeri yang ia rasakan. Rama yakin, semua yang dikatakan Ale hanya alasan karena sebelumnya mereka sudah sepakat akan bekerja sama. Rama yakin, alasan Ale pasti dirinya. Siapa juga yang mau bekerja sama dengan orang yang pernah mengancurkan dirinya.


"Tapi kita sudah sepakat"


"Kesepakatan bisa berubah kapan saja. Ini tahun 2023, Tuan Haidar. Yang harus Anda tahu, bisnis itu kejam! Jadi, siapa yang memberikan keuntungan lebih baik, dialah pemenangnya. Bukankah begitu, Tuan Rama?"


Jika biasanya Rama akan langsung menjawab lawan bicaranya, kini lidahnya terasa kelu. Bahkan untuk berkata satu kalimat saja, dia tak mampu.


"Tapi-"


"Mom, kalau sudah sebaiknya pergi. Kita sudah sangat terlambat menemui Opa" seru seorang bocah kepada Ale


Mata Rama melebar seiring dengan jantungnya yang semakin terpacu begitu kencang. Bukan hanya Rama yang terkejut melihat anak itu, Haidar juga sama. Bocah tampan yang memanggil Mommy pada Ale atau Mira itu terlihat begitu mirip dengan Rama. Wajahnya, mata elangnya, hidung bahkan cara berjalannya pun persis dengan Rama. Hanya bibirnya yang sama dengan Ale. Haidar menatap Rama yang tak berkedip menatap bocah itu. Apa mungkin?


"Aku akan mengirimkan seperempat dari penalty yang kita sepakati. Anggap saja itu tanda maaf dariku! Bukankah itu sudah cukup? Toh kita belum tanda tangan kerjasama!" ucap Ale mulai angkuh

__ADS_1


Ale menggandeng bocah tampan itu, "Ayo boy. Urusan Mommy sudah selesai"


Perempuan itu berbalik, lalu berjalan sejajar dengan putranya. Rama yang melihat perempuan itu menjauh segera tersadar dari lamunannya saat Haidar menyenggol lengannya. Rama menatap Haidar sekilas. Asisten sekaligus sahabatnya sejak kuliah itu sepertinya memiliki pemikiran yang sama dengannya.


"Kejar Ram!" perintah Haidar


Rama segera berlari mengejar Ale. "Al ... Tunggu!"


Ale dan putranya berhenti, ia berbalik lalu menatap Rama sambil bersedekap dada. "Kita tidak punya urusan lagi Tuan Rama! Jadi aku rasa, sebaiknya Anda jangan ganggu saya!"


Rama hendak memegang tangan Ale, tapi langsung ditepis oleh Ale sendiri. Melihat hal itu, jelas Rama kecewa. Ia menatap lekat manik mata indah itu begitu dalam, "Al ... Dia" Rama menatap putra Ale sekilas. Mata Rama berkaca - kaca. Penyesalan dalam hatinya semakin besar. Rupanya, dia bukan hanya jadi pria brensek dimasa lalu. Tapi juga menghancurkan hidup wanita itu sehancur - hancurnya.


"Sebaiknya Anda segera pergi, Tuan! Jangan ganggu Mommyku! Atau Anda akan berhadapan denganku" ucap Zayn dingin


Rama kembali terhenyak, ia semakin yakin jika bocah ini adalah anaknya. Selain wajahnya mirip, tingkah dan arogannya juga persis dengan dirinya. Rama seperti berkaca. Ia seolah menatap dirinya versi kecil.


"Nak aku-"


"Zayn, tunggu Mommy di mobil. Mommy tidak akan lama", Zayn menatap Rama tajam, lalu berlalu begitu saja.


Kini hanya ada Rama dan Ale, Rama kembali menatap Ale begitu lekat. Jika delapan tahun lalu, Ale akan menatapnya penuh cinta, maka tatapan wanita itu sekarang seolah menyimpan luka dan kebencian.


"Al ... Dia putraku?" tanya Rama lirih


Ale tertawa hambar dan menatap Rama sinis, "Putramu?" tanyanya begitu dingin, "Bagaimana bisa Anda dengan tidak tahu dirinya, mengatakan jika Zayn adalah putra Anda?!!"


"Dia ... Sangat mirip denganku"


Ale tersenyum sinis, "Jangan hanya karena dia mirip dengan Anda, itu artinya dia anak Anda! Bahkan jika ada kucing yang mirip dengan Anda, apa Anda akan mengatakan jika kucing itu juga anak Anda?!"


"Tapi kita-"


"Kita?!" Ale memotong ucapan Rama, "Ada apa dengan kita? Apa kita pernah mengenal dimasa lalu?"


"Al ... Aku ... Minta maaf"


Ale menatap Rama dengan raut wajah yang tak bisa diartikan. "Maaf untuk apa? Untuk luka yang Anda berikan dimasa lalu? Atau untuk penyesalan yang Anda rasakan sekarang?!!" dada Ale naik turun menahan emosi,


Rama bungkam. Jujur, dia merasa dirinya adalah manusia paling brensek dimuka bumi ini.


"Aku ingatkan sekali lagi, Tuan Rama. Kita batal melakukan kerjasama jadi, kita tidak punya urusan lain setelah ini. Jadi, jangan pernah menganggu aku lagi!"


Ale berbalik,

__ADS_1


"Aku akan bertanggung jawab!"


Deg


Ale mengepalkan tangan, dia berbalik lalu menatap Rama tajam, "Apa kau bilang?! Tanggungjawab?" Ale tersenyum sinis, "Aku ... Aleysha Namira Prayoga, tidak akan pernah menerima tanggungjawab apapun darimu! Kau lihat bukan, aku berhasil melalui semuanya dengan baik! Aku berhasil menjadi Ayah dan Ibu yang baik sekaligus! Bahkan aku bisa memberikan kehidupan yang sangat layak untuk putraku! Jadi, kalau kau mengatakan ingin bertanggungjawab sekarang, semua sudah sangat terlambat! Sangat - sangat terlambat!!"


Rama kembali bungkam mendengar apa yang Ale katakan,


"Dan satu lagi!"


Rama menatap Ale yang terlihat santai, namun dengan sorot mata yang penuh luka


"Kami, tidak membutuhkanmu! Jadi, yang perlu kau lakukan hanyalah enyah dari hadapan kami selamanya!!"


Deg


Ale berlalu pergi, sementara Rama hanya bisa mematung dengan segala penyesalan didalam dirinya.


Ini baru permulaan, Ram. Aku akan membuatmu jauh lebih tersiksa setelah ini. Luka dibayar luka, sakit dibalas sakit, dan penderitaan, juga harus dibayar dengan penderitaan! Jadi, tunggu saja kejutan dariku selanjutnya!


🌻🌻🌻


Rama memasuki rumahnya dengan lesu. Lengan kemeja tergulung hingga siku. Dasi yang sudah di lepas serta jas yang bersandar di pundaknya, sungguh penampilan Rama terlihat begitu kusut. Meski sudah sukses dan mampu membeli rumah sendiri, nyatanya Rama masih memilih tinggal dirumahnya. Tentu saja karena dirumah ada keluarganya. Ada Ayah, Bunda serta adik perempuannya yang begitu Rama sayangi.


"Nak, kamu sudah pulang?" tanya Inara, Bundanya


"Iya Bun"


"Kamu terlihat begitu lelah. Segeralah mandi, lalu makan malam bersama. Setelah itu, kamu bisa langsung beristirahat"


Rama menatap Bundanya dengan senyum, lalu hendak menaiki tangga


"Ram, jangan terlalu lelah bekerja. Kamu juga harus pikirkan kesehatan dan kebahagiaanmu"


Langkah Rama sempat terhenti, ia berbalik menatap sang Bunda, "Aku tahu. Bunda tidak perlu khawatir", usai mengucapkan itu, Rama melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya. Rama bukan tidak paham apa yang wanita itu katakan. Pasalnya, setelah kejadian dimasa lalu, Rama jadi gila kerja dan kerja.


Rama duduk ditepi ranjang. Pikirannya masih tertuju pada Ale dan juga putranya. Bayangan dimana dulu dirinya menghancurkan Ale berseliweran dengan jelas. Kejam, ia akui dirinya amatlah kejam. Tanpa alasan yang jelas, lebih tepatnya hanya karena hasutan mendiang sang nenek, Rama berhasil membuat hidup Ale hancur sehancur - hancurnya. Dan itu Rama sesali hingga saat ini.


"Aku janji akan menebus semuanya. Bahkan jika kau meminta nyawaku sekalipun, dengan senang hati aku akan memberikannya asal kamu bisa memberiku maaf"


🌻🌻🌻


Hallo semuanya

__ADS_1


*Ini cerita terbaru aku ya. Novel ini sequel dari novel Rose. Jadi yang belum baca Rose, bisa mampir dulu ya. *


Semoga kalian suka ceritanya, jangan lupa like dan komennya juga. πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2