Selepas Luka

Selepas Luka
Teman


__ADS_3

"Nih!", Kamil menyodorkan minuman kepada Ale


"Terima kasih" jawab Ale menerima minuman dari Kamil. Jujur, dia memang haus setelah latihan beberapa lagu. Ya, setelah dengan terpaksa masuk ke Grenada, kini Ale juga terpaksa harus latihan karena Rama memintanya jadi teman duetnya untuk lomba bulan depan. Awalnya Ale enggan, namun lagi - lagi Rama membuatnya tak punya pilihan.


Keduanya duduk di kursi tepat di depan ruang musik. "Kayaknya kamu capek banget ya?"


Ale menatap Kamil sekilas, pemuda itu mengganti panggilan loe - gue padanya. Dan itu terasa sedikit aneh menurutnya, pasalnya mereka bukan siapa - siapa.


"Maaf. Aku ... Aku hanya ingin kita berteman" ucap Kamil sambil tersenyum tulus


Ale terdiam. Berteman? Dengan lawan jenis? Sebenarnya bukan hal aneh jika memiliki teman seorang pria. Namun pesan dari Papanya terus terngiang. Selama beberapa waktu belakangan, Kamil memang intensif mendatanginya. Bahkan meski terus diacuhkan, Kamil tetap gigih mendekatinya. Tak ada yang salah dengan Kamil, dia baik, sopan dan juga tampan. Bahkan Ale bisa menilai, jika Kamil memang tulus padanya. Hanya saja Ale paham betul, tidak ada pertemanan biasa antara pria dan wanita. Dan ia takut, hal itu justru akan mengganggu fokus belajarnya.


"Lupakan", ucapan Kamil membuat Ale kembali menatap pria itu, Kamil lagi - lagi tersenyum, "Kita baru kenal bukan? Pasti aneh jika kita tiba - tiba berteman" ucapnya lagi


"Kenapa kamu ingin berteman denganku?"


Kamil tersenyum, "Jawabannya karena kamu berbeda dengan gadis pada umumnya"


Jawaban Kamil membuat Ale terkekeh, "Apa yang berbeda? Aku juga sama - sama perempuan"


"Tentu saja berbeda. Kamu ... Apa adanya"


Ale tersenyum lalu berdiri, "Sepertinya berteman denganmu tidak ada salahnya"


"J- jadi kamu mau berteman denganku?" tanya Kamil tak percaya


"Ya. Kita bisa berteman" jawab Ale lalu pergi


"Yes!!", teriak Kamil kegirangan, "Terima kasih, Al!!"


Apa yang mereka lakukan nyatanya tak luput dari penglihatan Rama, Eros dan Devan. Kebetulan ketiganya masih berada di ruang musik dan tentu saja mereka melihat semuanya.


"Teman. Awal yang cukup baik" ucap Eros


"Bener banget loe. Dari teman, jadi gebetan" sahut Devan


Rama berlalu begitu saja mendengar cuitan Eros dan Devan.


"Lah, kenapa lagi ruh anak? Loe ngerasa nggak sih? Belakangan Rama rada aneh?" tanya Devan pada Eros


"Loe emang lemot ya. Gue rasa, akan ada bau - bau persaingan"


"Hebat! Semoga saja persahabatan kita nggak pecah cuma gara - gara cewek!"


Eros mengedikkan bahu, "Itulah bahayanya cewek. Satu cewek bisa merusak persahabatan dua cowok"


"Ya jangan sampai lah, Ros. Kalau bisa, salah satu kudu ngalah"


Eros hanya mengedikkan bahu,


"Untung si Rachel lagi nggak masuk. Kalau fia masuk, bisa kebakaran jenggot tuh anak" monolog Devan sendirian, "Woy, Ros. Tungguin!!"


🌻🌻🌻

__ADS_1


Rama berjalan menyusuri lorong sekolah menuju ke area belakang, tempat favoritnya untuk menenangkan diri. Siapa sangka, tempat yang biasa ia duduki telah di duduki oleh seseorang. Pemuda tampan itu duduk disamping gadis yang sedang menyantap pop mie dengan santai. Dan ia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Rama. Keduanya sama - sama diam. Mereka menikmati semilir angin dibawah pohon Tanjung yang menaungi mereka dari teriknya matahari. Suasana yang tidak terlalu ramai membuat keduanya merasa tenang.


"Loe emang secuek itu ya?"


Ale menoleh sekilas, ia asyik menikmati makan siangnya tanpa menghiraukan pertanyaan Rama.


"Jangan terlalu dekat dengan Kamil!"


Ale membuka botol air mineral lalu meneguknya hingga tersisa setengah. "Kamu tidak berhak mengatur dengan siapa saja aku harus berteman!"


"Bukankah Papamu melarangmu berteman dengan lawan jenis?"


Ale menatap Rama tak suka, "Selain pemaksa. Aku curiga kalau kamu juga seorang psikopat!"


Rama tergelak, "Terserah kamu mau menganggapku apa! Yang jelas, aku tahu semua tentangmu!"


"Kalau kamu tahu semua tentangku, artinya kamu juga harus jaga jarak denganku! Papaku juga tidak akan suka jika kita berteman"


"Aku bukan temanmu!"


"Ah ya, aku lupa. Pria otoriter sepertimu tidak akan mau berteman dengan sembarang orang!" sindir Ale


"Jangan menguji kesabaranku, Al. Jika aku bilang jauhi Kamil, kamu harus menjauhinya!"


"Katakan apa alasan yang tepat kenapa aku harus menuruti perkataanmu! Dengarkan aku Kak. Kamu bukan siapa - siapaku. Kamu bukan keluargaku. Kita juga bukan teman. Kita tidak dekat. Jadi jangan pernah kamu bersikap seolah - olah kamu bisa mengatur hidupku!"


Rama menatap Ale dengan serius, "Aku hanya ingin kamu fokus pada Grenada"


"Terserah kamu mau mengatakan apa! Yang jelas, kamu harus fokus pada Grenada!"


"Tidak perlu khawatir! Aku orang yang profesional!" sahut Ale lalu pergi meninggalkan Rama


Pemuda tampan itu hanya memandangi Ale hingga wanita itu menghilang dari pandangan.


🌻🌻🌻


Ale bergegas menuju ke kelas karena bel sudah berbunyi.


"Al, darimana aja? Gue nyariin loe dari tadi" Icha memberenggut karena sang sahabat menghilang begitu saja sejak pagi


"Sorry, Cha. Biasalah, gue diharusin latihan terus"


"Iya juga sih. Gimana tadi latihannya, lancar?"


Belum sempat menjawab, guru yang akan mengajar datang.


"Selamat pagi anak - anak?"


"Selamat pagi, Bu"


Pelajaran pun dimulai. Semua siswa fokus mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Setelah mengikuti pelajaran hampir dua jam lamanya, bel pulang sekolah berbunyi.


"Oke, kita akhiri pelajaran hari ini. Jangan lupa tugasnya dikumpulkan paling lambat lusa jam delapan lagi"

__ADS_1


"Baik, Bu"


Semua siswa bersiap untuk pulang.


"Loe dijemput Papa Eza?"


"Iya. Seperti biasa" sahut Ale


"Ya udah, yuk bareng keluarnya"


Keduanya berjalan beriringin menuju ke depan sekolah. Sayangnya, Ale harus berhenti di parkiran saat Rama memanggilnya


"Ya udah kalau gitu, gue duluan ya"


"Hati - hati, Cha"


Icha memberikan jempolnya kemudian berlalu


"Ada apa?" tanya Ale tanpa basa - basi


"Kita harus latihan"


"Belum cukup tadi berjam - jam udah latihan? Suaraku bisa habis kalau nyanyi terus - terusan" protes Ale


"Oke. Kalau gitu sekarang loe ikut gue. Kita perlu mempersiapkan beberapa hal sebelum perlombaan"


"Memangnya apa yang perlu kita persiapkan?"


"Kostum"


Ale memutar bola matanya malas, "Kakak bilang saja kriteria kostumnya seperti apa. Nanti aku beli sendiri"


"Nggak bisa! Loe harus beli sama gue biar serasi"


Ale berdecak, "Kakak duluan saja. Aku nanti bareng sama Papa"


"Nggak bisa. Loe harus jalan sama gue! Cepetan naik!"


"Nggak mau!"


"Jangan sampai gue nyeret loe buat duduk di motor gue!"


"Ck. Iya - iya!"


Ale dengan terpaksa naik ke motor Rama.


"Pakai helmnya dengan benar!"


"Hm!"


Rama menghidupkan motornya kemudian segera pergi dari parkiran. Kamil yang kebetulan baru selesai rapat dengan team basketnya tak sengaja melihat Rama dan Ale berboncengan.


"Sejak kapan mereka dekat?" Kamil tampak berfikir, "Apa mungkin ... Rama menyukai Ale?"

__ADS_1


__ADS_2