Selepas Luka

Selepas Luka
Aku Sudah Lama Menantikanmu!


__ADS_3

Sudah dua hari ini Rama tak bisa tidur. Sejak pertemuannya dengan Ale dua hari lalu, Rama selalu memikirkan wanita itu. Tentu saja dengan putranya juga. Rasanya ia masih belum percaya jika sekarang ia sudah memiliki putra sebesar itu. Ada rasa senang, terharu dan perasaan hangat namun penyesalanlah yang lebih menyerang bathin Rama. Kepergian Ale yang tiba-tiba beberapa tahun lalu nyatanya bukan tanpa alasan. Dan sekarang terjawablah sudah semua pertanyaan yang ada dalam benak Rama saat itu. Ale pergi karena sedang mengandung darah dagingnya. Putranya.


Rama tersenyum miris, ia menertawakan dirinya sendiri. Lihatlah, betapa brengseknya dia sebagai seorang laki-laki. Tidak hanya menghancurkan Ale jiwa dan raga, Rama juga membuat putranya kehilangan sosok seorang ayah. Pantas jika Ale lebih memilih pergi. Wanita itu menghukum Rana dengan caranya sendiri. Meski kecewa karena Ale tak mengatakan hal ini lebih awal padanya, nyatanya Rama tak bisa menuntut apapun. Mau marah? Bukankah salahnya yang selalu bersikap jahat pada Ale? Tidak salah jika Ale memilih jalan ini. Dan lagi - lagi, penyesalanlah yang tersisi.


"Kamu pasti kesusahan melewati semuanya sendiri kan, Al? Apalagi kamu hamil diusia yang masih belia. Pasti sulit menjalani kehamilanmu saat itu. Siapa yang mencarikan apa yang kamu inginkan saat kamu ngidam? Siapa yang membuatkanmu susu sebelum tidur? Siapa yang menemani kamu saat melahirkan putra kita?" Rama tak mampu menahan air matanya, "Aku menyesal Al. Aku sangat menyesal!"


Penyesalan memang selalu datang ketika kenyataan sebenarnya datang. Lalu apa yang bisa dilakukan selain meminta maaf? Rama menghela nafas. Menyesali semuanya sekarang, rasanya sudah tidak ada gunanya. Namun, bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.


"Kamu sudah sangat besar, Nak. Dan Ayah telah melewatkan semua perkembanganmu" lirih Rama, jika melihat Zayn, Rama memperkirakan jika usia putranya itu mungkin sudah tujuh tahunan.


"Aku akan mencari keberadaan mereka. Aku akan meminta maaf dan menebus semuanya. Tidak peduli sesulit apa rintangan yang akan aku hadapi, yang jelas aku harus bertanggung jawab!"


Rama mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas kemudian segera turun ke lantai bawah


"Loh Ram, kamu mau langsung berangkat? Nggak sarapan dulu?" kata Bunda Ina


Rama menggeleng, "Aku ada urusan penting Bunda, nanti aku makan di kantor saja"


Bunda Ina mendekati sang putra sambil membawa kotak bekal, "Bunda tahu, kamu sudah menjadi seseorang yang sukses. Kamu sudah mencapai impianmu. Tapi kalau boleh Bunda mengingatkan, tetaplah jaga kesehatan. Kamu terlihat semakin kurus"


Rama mengangguk, ia menerima kotak bekal yang Bunda berikan, "Aku akan selalu ingat pesan Bunda", Rama mencium tangan Bundanya kemudian pergi


"Ram!", Panggil Bunda Ina. Rama menatap Bundanya, "Jika kamu ada masalah, Bunda siap menjadi pendengar"


Rama hanya membalas pernyataan Bundanya dengan senyuman, "Aku pergi dulu, Bunda"


"Hati-hati, Nak"

__ADS_1


Rama segera menaiki mobilnya. Sebelum menyalakan mesin, hal yang pertama yang Rama lakukan adalah menelpon orang suruhannya yang ia perintahkan untuk mencari tahu keberadaan Ale dan putranya.


Beruntung hari ini Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Orang suruhannya berhasil menemukan alamat tempat tinggal Ale dan Zayn. Tanpa membuang-buang waktu, Rama segera menuju ke alamat yang anak buahnya berikan.



Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Rama tiba di salah satu perumahan elit Ibukota. Jika melihat penampilan dan kesuksesan Ale saat ini, Rama tidak heran jika wanita itu memiliki tempat tinggal di kawasan mewah. Rama jelas merasa miris, hidup putranya baik - baik saja bahkan sangat baik dan itu tanpa campur tangannya sama sekali.



Mobil Rama masih melaju mencari nomor rumah sesuai yang Ia dapatkan dari anak buahnya. Kini mobilnya berhenti tepat di depan rumah mewah berwarna putih, berlantai dua. Pintu gerbang menjulang tinggi membuat Rama tidak bisa melihat apapun dari luar. Tak mau gegabah dan membuat Ale kembali menolaknya, Rama memilih menunggu di dalam mobil sambil memperhatikan rumah Ale.



Hampir satu jam menunggu, belum ada tanda-tanda pintu gerbang akan dibuka. Rama yang sudah menaruh harapan tinggi mulai psimis. Sepertinya ia belum memiliki keberuntungan hari ini.




Mobil itu menuju ke salah satu Mall Kota. Begitu tiba di basement dan memarkirkan mobilnya, Rama masih memperhatikan mobil Ale. Tak lama kemudian, terlihat Ale keluar bersama putranya dan seorang pria muda. Rama mengingat-ingat wajah pemuda itu. Jika tidak salah, pemuda itu adalah salah satu Adik kembar Ale. Ale dan Zayn tampak masuk lebih dulu kedalam mall, sementara Gavriel, ia justru menatap mobil yang sejak tadi mengikutinya. Ya ... Gav menyadari jika mobil mereka diikuti, jadi ia sengaja meminta kakaknya masuk lebih dulu agar ia bisa menyelesaikan masalahnya.


Dua keberuntungan yang berpihak pada Rama kali ini sepertinya tidak bertahan lama. Sebab, sepertinya adik Ale menyadari jika ia mengikuti mereka. Pemuda Tampan itu segera menghampiri mobil Rama dan mengetuk kaca mobil


"Keluar", pintanya


Mau tak mau, akhirnya Rama keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


Bug


Bug


Bug


Rama tersungkur karena belum siap saat adik Ale memukulnya. Pria itu berusaha bangun, sayangnya adik Ale malah kembali menyerangnya membabi buta.


Tak mau babak belum lebih banyak, Rama mulai membalas pukulan itu. Sayangnya, tenaga Adik Ale begitu besar. Rama hampir tak mampu mengimbangi kekuatan adiknya Ale


"Kenapa kamu menyerangku?"


Gavriel menatap Rama dengan mata berkilat, "Kau pantas mendapatkan itu! Bahkan harusnya kau sudah mati ditanganku sejak dulu! Bajingan sepertimu, tidak pantas hidup di dunia ini!!"


Gavriel kembali memukuli Rama, membuat ayah dari Zayn itu hampir tak sadarkan diri. "Kau ... Harus mari ditanganku!! Karena aku ... Sudah lama menantikanmu!!"


"Gav! Hentikan! Kamu bisa membunuhnya!" cegah Ale yang baru datang. Ponselnya ketinggalan didalam mobil, jadi ia kembali ke parkiran. Sayangnya, ia malah melihat adiknya memukuli Rama


"Jangan membela dia, Kak. Dia pantas mati!"


Rama menatap mata Ale, berharap wanita itu akan menolongnya. Mata keduanya bertemu sejenak, hingga Ale memutus tatapan mereka.


"Hentikan, Gav!"


Rama merasa senang karena ia mengira Ale akan menolongnya, namun sedetik kemudian, Rama menyadari jika Ale malah tersenyum sinis ke arahnya, "Jangan kotori tanganmu untuk bajingan sepertinya! Kita pergi sekarang!"


Deg

__ADS_1


__ADS_2