
"Sayang, kamu sudah siap?"
Ale mengangguk, ia menatap sekali lagi rumahnya. Rumah yang menyimpan semua kenangan masa kecilnya hingga sekarang. Mulai hari ini, dia akan memulai hidup baru. Memulai semuanya dari awal, berdua dengan calon anaknya.
"Ayo, pesawatnya akan berangkat satu jam lagi" ucap Mama Rose
Selamat tinggal semua kenangan masa lalu. Kita akan berjumpa dilain kesempatan. Bathin Ale
Mama Rose menatap putrinya sedih. Keputusan untuk pergi dan meninggalkan negeri ini bukanlah keputusan yang diambil tanpa pemikiran panjang. Ia dan suaminya sengaja melakukan ini demi kewarasan Ale. Mama Rose masih ingat percakapannya dengan sang suami dua hari yang lalu.
"Mas, lakukan sesuatu. Kita tidak mungkin membiarkan Ale seperti ini terus. Ini sudah seminggu berlalu. Dia sama sekali tidak mau melakukan apapun. Bahkan makanannyapun, jarang ia makan. Meski kesalahan yang Ale perbuat sangatlah fatal. Tapi bayi dalam kandungannya tidak bersalah." ucap Mama Rose sedih. Sebagai seorang ibu, tentu dia khawatir melihat keadaan putrinya seperti itu. Apalagi, Ale sedang hamil. Darimana calon bayi itu akan mendapatkan nutrisi jika ibunya saja jarang memberinya makan.
"Aku sudah menemukan pria itu"
Mama Rose menatap suaminya. Perkara mencari pria bajingan yang sudah menghancurkan putrinya memang bukan perkara sulit bagi Papa Eza. Tapi ... Yang membuatnya takut adalah mengetahui siapa pria itu. "S-siapa dia, Mas?"
Papa Eza menghela nafas berat, "Rama"
Mata mata Rose terbelalak, "T-tidak mungkin!"
Papa Eza memejamkan mata, "Aku bisa saja menghabisinya jika tidak mengingat siapa dia. Aku juga bisa menyuruh orangku untuk membunuhnya tanpa meninggalkan jejak. Namun sepertinya, hukum karma akan jauh lebih membuatnya menderita. Anak itu tidak akan mengenal siapa Ayahnya. Bahkan mungkin, akan membencinya jika mereka bertemu suatu saat nanti", Papa Eza menatap istrinya dengan mata berkaca - kaca. "Aku marah Rose, aku hancur. Putri yang aku jaga seperti berlian, dengan tidak tahu dirinya dihancurkan begitu saja oleh orang yang baru ia kenal"
"Apa semua ini karma atas perbuatanku dulu?" lirih Mama Rose
"Tidak, Sayang. Tidak. Semua yang terjadi bukanlah salahmu. Jadi, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri", Papa Eza memeluk istrinya, "Dan alasan terbesarku tidak membalas Rama, karena aku tidak mau melihat Ale melakukan hal nekat lagi"
Kejadian Seminggu Yang Lalu
Pyar
"Ale!!"
Mama Rose dan Papa Eza berlari ke lantai atas.
Tok Tok Tok
"Sayang, buka pintunya!" teriak Mama Ale khawatir
"Al, Jangan nekat Sayang. Buka pintunya!"
Papa Eza berusaha mendobrak pintu kamar Ale. Sekuat tenaga, pria paruh baya itu berusaha membuka pintu.
Brak
Kamar Ale terlihat berantakan. Semua barang - barang yang biasanya rapi, kini berserakan kemana - mana.
"Al!"
"Jangan mendekat!" ancam Ale. Tangannya memegang pecahan vas yang ia arahkan ke pergelangan tangannya
"Sayang, jangan lakukan itu. Mama mohon hentikan"
__ADS_1
"Sayang, kami tidak akan melakukan apapun. Tapi tolong, jangan berbuat nekat. Jangan sampai kamu melukai dirimu sendiri. Ingat, ada nyawa yang tidak berdosa didalam tubuhmu. Kamu juga harus memikirkannya" Papa Eza memohon
Ale luruh ke lantai, "Aku kotor, Pa. Aku kotor. Aku sudah mempermalukan kalian. Aku tidak tahu diri. Aku ... Aku-"
"Tidak, Nak. Jangan bicara seperti itu. Apapun yang terjadi. Kami tetap menyayangi kamu"
Saat Ale lengah, Papa Eza segera berlari ke arah Ale. Dia membuat pecahan vas yang Ale pegang lalu memeluk putrinya erat. "Papa sudah hancur melihatmu seperti ini, Sayang. Jangan buat Papa semakin hancur dengan kamu melakukan hal nekat seperti ini"
*Mama Rose ikut memeluk putrinya, "Jangan takut, Sayang. Kami tetap menyayangimu apapun yang terjadi", *
*Tangis ketiganya pecah, tidak ada hal yang lebih membuat mereka nelangsa saat ini. *
"Maafkan aku, Ma, Pa"
Mama Rose mengangguk, "Kami memaafkanmu. Kami memaafkanmu", Mama Rose menciumi kepala putrinya, "Sekarang katakan pada kami. Siapa dia, Nak. Siapa yang sudah melakukan semua ini padamu"
Ale menggeleng keras, "Jangan paksa aku mengatakannya, Pa. aku ... Akulah yang salah. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Aku tidak mau!"
"Tapi, Nak. Dia tetap harus bertanggung jawab"
"Kalau kalian masih ingin melihatku hidup. Maka jangan paksa aku mengatakan siapa dia!"
"Ma, ayo kita berangkat"
Ucapan Papa Eza membuat lamunan Mama Rose buyar. Dia segera masuk ke dalam mobil. Dan mereka segera menuju ke bandara.
Dibalik pintu, dua remaja yang memiliki wajah serupa tampak sedih karena ditinggal orang tua dan Kakaknya. Gavriel dan Gabriel ikut terpukul melihat kondisi Kakaknya. Sedikit banyak, mereka tahu dengan apa yang menimpa Kakaknya. Keduanya terpaksa tetap tinggal disini karena baru masuk sekolah menengah pertama. Papa Eza sengaja meminta orang tuanya untuk menjaga Gab dan Gav.
"Aku pasti akan membunuh bajingan itu jika aku menemukannya!" sahut Gavriel
π»π»π»
"Ada apa loe ngajak gue ketemuan?" tanya Rama pada Kamil. Tadi, sahabatnya itu mengirim pesan. Kamil memintanya bertemu di gudang sekolah
"Apa yang udah loe lakuin sama Ale?"
Rama tersenyum sinis, "Jadi loe ngajak gue ketemuan cuma buat ngebahas cewek murahan itu?"
"Brensek!!"
Bug
Bug
Bug
Kamil memukul Rama berulang kali. Mendengar Rama menyebut Ale murahan, darah Kamil seketika mendidih. Jika saja Rama bukan sahabatnya, sudah sejak lama Kamil membuat perhitungan dengannya. Bukan sekali dua kali Kamil melihat sikap buruk yang Rama berikan pada gadis yang ia sukai. Namun kali ini, ia tak bisa tinggal diam lagi. Sudah seminggu Ale tak ada kabar. Dan pagi ini, Icha mengabarinya dan mengatakan bahwa Ale pindah ke luar negeri. Hati siapa yang tidak sakit? Meski perasaannya ditolak oleh Ale, namun Kamil tetap menjaga pertemanan mereka. Setidaknya, meski tak mendapat orangnya, Kamil masih bisa bersama dengan Ale sebagai teman. Tapi apa sekarang? Gadis itu telah pergi dan entah kapan akan kembali lagi. Dan semua itu pasti ada hubungannya dengan Rama.
"Kenapa loe mukul gue?!!"
"Loe pantes dapat pukulan itu! Pukulan itu nggak seberapa dengan sakit yang loe kasih buat Ale!!", Kamil mengacak rambutnya frustasi, "Apa salah Ale sampai loe sejahat itu sama dia, Ram?"
__ADS_1
Pertanyaan Kamil membuat Rama bungkam,
"Gue nggak tahu ada dendam apa loe sama Ale. Tapi gue cuma mau ngucapin selamat sama loe. Loe ... Udah berhasil membuat dia pergi!"
Deg
"Apa maksud ucapan loe?"
Kamil menatap Rama dengan senyum kecut, "Ale udah pindah keluar negeri tadi pagi"
Rama mematung, dia menatap Kamil tak percaya
"Loe pasti bohong kan?"
"Gue kecewa sama loe, Ram. Gue harap setelah ini loe nggak akan menyesal. Dan maaf ... Gue nggak bisa berteman dengan loe lagi"
Rama menatap kepergian Kamil dengan nanar. Benarkah yang Kamil katakan? Tapi jika di ingat, sudah lama Rama tidak melihat Ale disekolah. Tepatnya sejak ia dan Rachel berciuman di apartemen minggu lalu.
Rama mencoba menghubungi Ale, namun ponsel gadis itu tidak aktif. Rama segera berlari ke parkiran, ia bahkan tak memperdulikan teriakan Rachel yang memanggil namanya.
Dengan mengendarai motor sport miliknya, Rama membelah jalanan begitu cepat. Ia bahkan tak memperdulikan keselamatannya. Dalam benaknya sekarang hanyalah Ale. Dia ingin bertemu gadis itu.
Begitu tiba dirumah Ale, satpam mengatakan jika Ale dan keluarganya sudah pindah. Namun mereka tak tahu kemana keluarga itu pindah. Seketika, penyesalan menghantui hati Rama. Dialah pria brensek yang sudah menghancurkan gadis itu.
"Arrrggghhh!!!! Apa yang sudah loe lakuin Ram!! Bodoh! Bodoh! Loe bodoh!!"
π»π»π»
Rama baru saja sampai dirumahnya saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia melangkah dengan gontai, namun, sayup - sayup ia mendengar obrolan Ayan dan Bundanya
"Jadi mereka sudah pindah ke luar negeri?", Bunda Ina mengangguk, "Ke negara mana?"
"Mereka tidak mengatakan apapun. Bahkan pesanku tidak dibalas. Aku jadi khawatir, kenapa mereka pindah secara tiba - tiba? Apa terjadi sesuatu pada mereka?"
"Semoga saja tidak, Bun. Semoga kepergian mereka tidak karena ada masalah"
Bunda Inara tersenyum, "Jujur saja, Yah. Sampai saat ini aku masih merasa bersalah pada Eza. Meski hubungan kita sekarang baik - baik saja, tapi tetap saja, rasa bersalah itu terus ada"
Rama tertegun, kenapa Bundanya malah merasa bersalah? Padahal kata Omanya dulu, Tante Rose lah yang merusak rumah tangga bundanya.
"Sudahlah, Bun. Yang lalu biarlah jadi kenangan. Toh sekarang semua sudah baik - baik saja. Kita sudah menemukan kebahagiaan masing - masing"
"Kalau bukan karena jebakan Mama. Eza tidak mungkin menikahi aku. Dan dia tidak harus menderita karena hidup dengan wanita yang tidak dia cintai"
Deg
Kenyataan yang baru saja Rama dengar membuat jiwanya terguncang. Jadi, selama ini ia salah paham? Jadi semua yang Omanya katakan sebelum wanita itu meninggal hanyalah fitnah
Kau hebat Ram. Kau sudah menghancurkan hidup seseorang karena sebuah kesalahpahaman. Lihatlah, betapa brenseknya kamu saat ini!
Al, maafkan aku. Maaf karena dendam tak beralasanku sudah membuatmu terluka. Aku janji, aku akan mencarimu dan menebus semua kesalahan yang sudah aku perbuat
__ADS_1
Flash Back Off