
Hubungan Ale dan Rama semakin buruk. Fakta yang di utarakan Rama membuat hidup Ale terpuruk. Keceriaan yang biasanya terpancar diwajah Ale sekarang sirna. Kepercayaan diri tinggi yang dimiliki Ale seketika luntur. Rasanya, dunia Ale burubah seratus delapan puluh derajat. Ia masih berusaha menyadari dan menerima kenyataan. Haruskah ia bertanya langsung pada orang tuanya? Bagaimana jika semua yang dikatakan Rama benar. Kemudian semua yang Rama ucapkan, terucap kembali dari mulut Papanya secara langsung. Tidak, Ale tidak siap akan hal itu. Meski kenyataannya benar, Ale tidak siap dengan semuanya. Biarlah semua seperti ini dulu, pikirnya.
Ale secara resmi mengundurkan diri dari Grenada. Kesempatan itu dimanfaatkan Rachel untuk menggantikan posisinya sebagai teman duet Rama. Sikap Rama juga semakin acuh padanya. Bahkan Rama tak melarang atau menghentikannya saat ia mengundurkan diri. Padahal sebelumnya, pria itulah yang menahannya. Juga, tatapan mencemooh yang Rama berikan setiap kali mereka berpapasan membuat Ale seolah dikuliti hidup - hidup. Maka dari itu, sebisa mungkin Ale menghindar dari Rama.
"Al, kamu ada masalah dengan Rama?" tanya Kamil
Tadi begitu jam istirahat berbunyi, Kamil segera menghampiri Ale ke kelasnya. Hubungan pertemanan mereka semakin dekat. Dan tentu saja, Kamil bisa merasakan perubahan sikap Ale belakangan ini.
"Tidak ada masalah kok"
"Al, dari sekian banyak orang, kamu tidak bisa membohongi aku dan Kak Kamil" imbuh Icha
Ale menghela nafas, sudah sebulan sejak pertemuan terakhirnya dengan Rama dirumahnya dulu. Ale sama sekali belum menceritaan hal ini pada siapapun. Ia merasa hal ini adalah rahasia keluarganya. Dan Ale, tidak mau orang luar tahu
"Al, kamu sudah tidak mempercayaiku sebagai sahabatmu?" tanya Icha
"Aku ... Maaf. Tapi hal ini benar - benar privasi. Aku tidak bisa mengatakannya padamu, Cha"
Icha yang sudah mengenal Ale sejak lama, tentu paham. Jika Ale mengatakan itu privasi, artinya memang Ale tak bisa menceritakannya pada siapapun termasuk dirinya.
"Tidak masalah. Tapi jika nanti kamu butuh teman cerita, kami siap mendengarkanmu"
Ale tersenyum, ia menatap Icha dan Kamil bergantian, "Terima kasih"
Suasana mulai riuh saat Rama dan teman - temannya memasuki kantin. Rama melirik sekilas ke arah Ale, sementara Rachel ia sengaja memamerkan kemesraannya dengan Rama pada semua orang.
"Mil, loe nggak mau gabung sama kita?" tanya Devan yang kebetulan duduk disamping meja yang Ale dan Kamil tempati
"Nggak. Gue nemenin Ale aja"
"Loe emang cocok sih Mil sama dia. Sama - sama munak!" cibir Rachel
Kamil tersenyum, "Lebih baik terlihat munak. Daripada nempel terus tanpa status yang jelas. Kasihan"
__ADS_1
Rachel mengepalkan tangan, sementara yang lain menahan tawa. Baru kali ini Kamil melawan omongan Rachel.
"Loe berani ketawa, gue siram mulut loe pake cabe!" ancam Rachel pada Eros dan Devan
"Cabut yuk, nongkrong di rooftop enak kayaknya. Disini ada nini lampir" ucap Icha
"Oke yuk, Al" ajak Kamil
"Sialan! Awas aja loe!!" teriak Rachel
🌻🌻🌻
Cuaca terasa dingin, sepertinya akan turun hujan. Langit juga mulai mendung. Bel jam pulang sekolah baru saja berbunyi, semua siswa segera pulang sebelum terjebak hujan.
"Al, sebaiknya kamu ikut aku aja ya" pinta Icha
"Kamu pulang duluan aja, Cha. Lagian aku mau duduk dimana, kamu kan dijemput pakai motor"
"Tapi bentar lagi hujan. Daripada kena hujan"
"Kalo aja Kak Kamil nggak tanding hari ini. Dia pasti mau banget nganterin kamu"
"Udahlah, sana buruan pulang. Udah mulai gerimi nih"
Icha sebenarnya khawatir pada sahabatnya, namun mau bagaimana lagi, Kakaknya menjemput pakai motor.
"Maaf ya Al, kalau gitu aku duluan"
"Iya. Hati - hati"
Setelah kepergian Icha, Ale masih berdiri di depan pos satpam.
"Pulang sama gue!" titah Rama yang berhenti didepan Ale
__ADS_1
Entah karena rasa bersalah atas masa lalu orang tua mereka. Atau Ale yang sudah ada rasa pada Rama. Gadis itu merasa lemah jika berhadapan dengan Rama.
"Cepetan! Udah mau hujan!"
Tanpa kata, Ale segera naik ke atas motor Rama. Sedetik kemudian, Rama mulai membelah jalanan. Ditengah jalan, hujan turun begitu deras. Keduanya basah kuyub. Ale merasa mulai kedinginan, namun Rama tetap tak menghentikan kendaraan.
Setelah cukup lama diguyur derasnya hujan, mereka tiba disalah satu kawasan apartemen yang cukup elit. Rama turun lebih dulu setelah memarkirkan motornya. Tanpa diperintah, Ale mengekori Rama dibelakang pemuda itu. Mereka naik ke lantai sepuluh. Setibanya disana, Rama kembali melangkah dan berhenti di unit nomor seratus lima.
"Masuk!"
Bagai anak ayam yang patuh pada induknya, Ale menuruti semua perkataan Rama. Ruangan yang begitu dingin membuat Ale semakin menggigil. Melihat hal itu, Rama menarik tangan Ale menuju ke kamar lantai atas.
Begitu tiba di kamar, Rama menatap Ale begitu dingin.
"Apa maumu sebenarnya?" pertanyaan Ale membuat Rama tertawa sinis
"Aku ingin kamu sama hancurnya dengan Bundaku!"
Deg
Badan Ale hampir terhuyung jika saja Rama tak menahannya. "Bukankah setiap perbuatan memiliki konsekuensi? Jika Mamamu dengan sadar, berani menghancurkan kebahagiaan orang tuaku. Maka aku juga bisa membalasnya dengan sangat mudah!"
Ale menatap Rama dengan mata berkaca - kaca, "Tapi kenapa harus aku? Bukankah orang tuamu sekarang sudah bahagia? Hubungan mereka dengan orang tuaku juga terlihat baik - baik saja"
"Baik - baik saja bukan berarti tidak terluka! Dan kenapa harus kamu? Tentu saja karena kamu putri kesayangan Eza! Dia menjagamu seperti berlian! Aku tentu ingin tahu, bagaimana perasaannya jika aku berhasil menghancurkan putri tercintanya!"
"LAKUKAN! LAKUKAN APAPUN ASAL KAMU PUAS!!"
Rama menyambar bibir Ale lalu ********** kasar. Menerima serangan tanpa aba - aba, Ale jelas terkejut. Ciuman pertamanya telah hilang ditangan direnggut paksa oleh Rama. Ale merasa seperti wanita gampangan. Ia tak berdaya menolak semua perlakuan Rama. Hanya air mata yang mewakili perasaannya sekarang.
"Kau akan menjadi milikku, Al. Kau tidak akan bisa lepas dariku sampai aku sendiri yang melepasmu!"
Deg
__ADS_1
Ale lemah. Ale tak bisa menolak semua perlakuan Rama. Hari ini, adalah hari dimana ia kehilangan semuanya. Kesucian, harga diri bahkan perasaan. Semua sudah hancur hanya karena sebuah dendam dari masa lalu.
Maafkan aku, Pa, Ma. Semua sudah terlambat. Aku sudah hancur. Aku harap, semua akan baik - baik saja setelah ini